Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Takut Dibunuh Iran, Trump Malah Membully Abdul Al-Sayed

Takut Dibunuh Iran, Trump Malah Membully Abdul Al-Sayed

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Kamis, 13 Agt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KALBAR, kanal31.com — Dunia sedang menertawakan Donald Trump. Bukan karena Amerika kalah perang, bukan karena ekonomi ambruk, tetapi karena Trump terbirit-birit takut dibunuh Iran. Saking takutnya, ia tega menjadikan 100 lebih staf dan wartawan sebagai umpan. Untuk menghibur diri, ia malah membully Abdul Al-Sayed. Ternyata salah pilih lawan. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Si rambut jagung itu sedang menghibur diri. Bukan main golf. Bukan makan steak. Bukan memeluk Melania. Ia membully Abdul El-Sayed sebagai hiburan di hadapan pendukungnya.

 

Abdul adalah dokter lulusan Oxford dengan Rhodes Scholarship, mantan pejabat kesehatan masyarakat pada era Barack Obama. Kini sedang naik daun sebagai kandidat Demokrat untuk Senat Amerika Serikat dari Michigan.

 

Pada primary Demokrat 4 Agustus 2026, Abdul mengalahkan petahana Haley Stevens dengan selisih sekitar 15.000 suara, kurang dari satu poin persentase. Padahal sebelumnya Emerson College memberi Abdul keunggulan 54 persen berbanding 39 persen. Rata-rata RealClearPolitics juga memberinya keunggulan 10,2 poin. Bahkan pasar prediksi Polymarket sempat memberikan peluang kemenangan sekitar 97–98 persen.

 

Jadi survei sudah bilang Abdul menang. Pasar prediksi sudah bilang Abdul menang. Kotak suara kemudian berkata, “Iya, tapi tipis-tipis saja biar dramatis.”

 

Kini Abdul menghadapi kandidat Republik Mike Rogers dalam pemilu November. Namun sebelum pertarungan itu, Trump datang membawa senjata paling canggih dalam arsenal politiknya, kolase foto.

 

Trump memasang foto dirinya bersama Melania dalam pose formal. Di sebelahnya, foto Abdul dan istrinya, Sarah, sedang duduk santai menikmati pancake.

 

Lalu muncul tulisan, “Two Very Different America’s.”

 

Waduh. Amerika punya Pentagon, rudal, kapal induk, satelit mata-mata, dan senjata nuklir. Tetapi perdebatan peradabannya sekarang ditentukan oleh pancake. Trump mungkin ingin mengatakan, “Lihat, inilah dua Amerika yang berbeda.”

 

Tetapi Abdul justru membalas dengan gaya yang membuat internet terjungkal. Ia menyindir, setidaknya dirinya tidak membuang “omong kosong” di tengah Ruang Oval. Boom! Trump membawa foto. Abdul membawa pisau verbal.

 

Belum cukup, Abdul juga menyentil hubungan Trump dan Melania. Ia mengatakan dirinya dan Sarah saling menyukai. Sementara hubungan Trump dan Ibu Negara, berdasarkan apa yang ia dengar, agak “berombak”.

 

Kalimat itu bukan balasan. Itu operasi bedah tanpa anestesi. Yang semakin menarik, Abdul kerap dibandingkan dengan Zohran Mamdani, wali kota New York yang juga Muslim dan progresif. Mamdani pernah diserang Trump sebagai “ancaman sosialis”.

 

Abdul pun dijuluki “Michigan Mamdani.” Keduanya membawa agenda progresif, termasuk perluasan layanan kesehatan, reformasi pendanaan kampanye, serta kritik terhadap kebijakan Amerika mengenai Israel dan Gaza.

 

Maka muncul pertanyaan yang lebih besar, mengapa Trump begitu alergi terhadap politisi Muslim progresif? Amerika katanya tanah kebebasan. Tetapi setiap kali muncul politisi Muslim naik panggung, sebagian politikus konservatif seperti melihat hantu keluar dari lemari.

 

Abdul justru santai. Ia dokter. Ia suami. Ia Muslim. Ia calon senator. Ia makan pancake. Tidak ada lebih berbahaya bagi politikus yang ingin menakut-nakuti publik dari seorang lawan terlihat normal, manusiawi, kompeten, dan disukai.

 

Trump ingin menunjukkan “dua Amerika”. Tetapi internet malah menemukan dua gaya politik. Satu sibuk membuat kolase. Satu lagi sibuk memenangkan suara. Satu berdiri kaku di depan kamera. Satu duduk sarapan bersama istri. Ketika diserang, yang satu mengunggah lagi.

 

Yang satu menjawab, “Silakan, Pak. Pancakenya sudah habis, tetapi sindirannya masih banyak.”

 

Mungkin inilah Amerika 2026. Negara adidaya bisa mengancam dunia dengan nuklir, tetapi perang politiknya bisa dimulai dari sepiring pancake. Trump mungkin ingin membully Abdul. Sayangnya, internet malah membuat Abdul semakin disukai. Itu barangkali hukuman paling menyakitkan dalam politik. Ketika serangan terhadap lawan justru menjadi iklan gratis untuk lawan tersebut. Saya pun tahu jadinya siapa itu Abdul.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dari Keraguan Menuju Kepastian

    Dari Keraguan Menuju Kepastian

    • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Ketika dunia lama sedang runtuh dan dunia baru tengah mencari pijakan, lahirlah seorang pemikir yang kemudian disebut sebagai Bapak Filsafat Modern, Rene Descartes (1596- 1650).   Pemikiran Descartes tumbuh di tengah situasi Eropa sedang berada dalam masa transisi besar: sebuah dunia lama yang berakar pada otoritas Gereja dan filsafat skolastik Aristotelian mulai […]

  • Tingkatkan Intelektual, Ilmu Hukum UIN Bandung Gelar Kuliah Umum Rimba 2025

    Tingkatkan Intelektual, Ilmu Hukum UIN Bandung Gelar Kuliah Umum Rimba 2025

    • calendar_month Kamis, 9 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Dalam rangka meningkatkan kapasitas intelektual dan reflektif mahasiswa, Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Kuliah Umum Rimba 2025 bertajuk “Membangun Kesadaran Reflektif, Kritis, dan Kontekstual: Modal Intelektual Mahasiswa Hukum di Era Transformasi Sosial.” Kuliah umum yang berlangsung di Aula Fakultas Syariah dan Hukum […]

  • Dr H Usep Dedi Rustandi, MA: Silakan Tanya, Siapa yang Memotong Uang Serdos!

    Dr H Usep Dedi Rustandi, MA: Silakan Tanya, Siapa yang Memotong Uang Serdos!

    • calendar_month Jumat, 24 Feb 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com- Kabar tentang pemotongan uang sertifikasi dosen (Serdos) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Swasta (PTKIS) membuat Sekretaris Koordinatorat Perguran Tinggi Keagamaan Islam Swasta (Kopertais) Wilayah II Jawa Barat Dr H Usep Dedi Rustandi, MA angkat bicara. Dan, Dr Usep membantah kabar adanya pemotongan uang serdos, saat dikonfirmasi di ruang kerjanya di Jl Soekarno-Hatta Bandung, Kamis, […]

  • Dosen USU, Perjuangan Riset Daun Teh Gaharu, Si Tanaman Surga

    Dosen USU, Perjuangan Riset Daun Teh Gaharu, Si Tanaman Surga

    • calendar_month Minggu, 24 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-SUMATRA Siapa yang tidak mengenal gaharu? Tanaman kayu berpohon tinggi menjulang yang mashyur disebut tanaman surga ini merupakan tumbuhan tropis yang memiliki banyak manfaat, terutama pada bagian getah membeku dari batang, yang disebut gubal. Komposisi kimia dalam gubal gaharu memberikan manfaat tersendiri, antara lain sebagai parfum, obat batuk, anti bakteri, anti jamur, dan insektisida. Kayu […]

  • Da’i Hadir sebagai Penggerak Sosial di Akar Rumput

    Da’i Hadir sebagai Penggerak Sosial di Akar Rumput

    • calendar_month Jumat, 8 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar menyambut baik dan mengapresiasi peran dan kontribusi Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) selama lebih dari setengah abad membina da’i (juru dakwah) dan menggerakkan dakwah di berbagai pelosok negeri. Hal tersebut disampaikan Direktur Jaminan Produk Halal Kementerian Agama Muhammad Fuad Nasar yang hadir mewakili Menteri Agama pada Pelepasan Da’i […]

  • Keren! 99 Artikel Mahasiswa Sastra Inggris UIN Bandung Tembus Dunia Publikasi

    Keren! 99 Artikel Mahasiswa Sastra Inggris UIN Bandung Tembus Dunia Publikasi

    • calendar_month Sabtu, 12 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Program Studi Sastra Inggris Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung mencatat capaian membanggakan dari Mata Kuliah Academic Writing. Hingga Juli 2025, tercatat 99 artikel mahasiswa berhasil terbit di jurnal nasional terindeks Sinta, Moraref, dan Google Scholar. Jumlah ini dipastikan akan terus bertambah, mengingat sejumlah mahasiswa semester IV dari […]

expand_less