Lolos PIMNAS 39, Mahasiswa Unpad Kembangkan Larvix: Biolarvasida dari Limbah Sekam Padi untuk Basmi Jentik Nyamuk
- account_circle Admin Kanal31
- calendar_month Selasa, 20 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
SUMEDANG, kanal31.com– Berawal dari kepedulian terhadap ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) dan penumpukan limbah pertanian, tim mahasiswa lintas disiplin ilmu Universitas Padjadjaran (Unpad) berhasil menciptakan inovasi bernama Larvix.
Inovasi ini tidak hanya menjadi solusi ramah lingkungan untuk membasmi jentik nyamuk, tetapi juga mengantarkan mereka lolos ke ajang bergengsi Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS) ke-39 di Universitas Diponegoro (UNDIP) melalui Program Kreativitas Mahasiswa bidang Kewirausahaan (PKM-K).
”Melalui Larvix, tim berupaya menghadirkan produk yang tidak hanya berorientasi pada fungsi kesehatan, tetapi juga memberikan nilai tambah bagi limbah pertanian,” ujar Chief Operating Officer (COO) Tim Larvix, Rhassya Athaayaa Lusaid, melalui siaran persnya yang diterima redaksi, Selasa (20/10/2026) .
Dijelaskan, Larvix dikembangkan dalam bentuk blok padat dengan memanfaatkan Bacillus thuringiensis israelensis (Bti) sebagai agen aktif biologis, sekam padi sebagai material matriks, serta asam stearat sebagai bahan pengikat (binder). Formulasi produk terdiri atas 2% Bti, 20% sekam padi, dan 78% asam stearat. Bentuk blok dipilih untuk memudahkan aplikasi, sehingga pengguna tidak perlu melakukan penakaran bahan aktif secara terpisah.
Salah satu aspek inovasi Larvix terletak pada penerapan sistem slow-release, yaitu mekanisme pelepasan bahan aktif secara bertahap ketika produk digunakan di lingkungan perairan. Sistem ini dikembangkan untuk mempertahankan ketersediaan Bti dalam periode yang lebih panjang, sekaligus mendukung penggunaan produk yang praktis. Dengan memanfaatkan sekam padi sebagai bagian dari matriks, Larvix juga mengusung pendekatan pemanfaatan kembali limbah pertanian menjadi produk bernilai tambah.
Hasil Quality Control, Efektif hingga 28 Hari
“Pengembangan Larvix tidak berhenti pada tahap formulasi. Tim juga melakukan quality control laboratorium untuk mengevaluasi kerapatan spora Bti, mekanisme pelepasan bahan aktif, dan efektivitas produk terhadap larva nyamuk,” jelas Rhassya, dari bidang Agroteknologi.
Berdasarkan hasil quality control laboratorium, lanjut Rhassya, Larvix menunjukkan efektivitas hingga hari ke-28. Pengujian efikasi juga mencatat kematian 100% larva nyamuk pada wadah perlakuan dalam rangkaian pengujian yang dilakukan, termasuk melalui penambahan larva secara berkala pada hari ke-7, ke-14,ke-21, dan ke-28. Hasil tersebut menjadi salah satu dasar evaluasi teknis tim terhadap kinerja produk.
Selain pengujian laboratorium, tim melaksanakan pilot testing untuk memperoleh respons awal pengguna terhadap produk. Hasil kegiatan tersebut menunjukkan respons awal yang positif. Masukan yang diperoleh menjadi bahan evaluasi untuk menyempurnakan produk dan strategi pengembangan usaha.
Hasil pengujian tersebut merupakan capaian dalam tahap pengembangan Larvix. Pengujian lanjutan dan pemenuhan persyaratan regulasi tetap menjadi bagian penting sebelum produk dapat dikembangkan dan dipasarkan secara lebih luas.

Mengubah Limbah Menjadi Inovasi yang Bernilai
Menurut Rhassya, di luar aspek teknis, Larvix membawa misi untuk menghubungkan inovasi kesehatan dengan prinsip ekonomi sirkular. Sekam padi yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah dapat dimanfaatkan sebagai bagian dari formulasi produk, sehingga memiliki nilai guna dan nilai ekonomi baru.
Pendekatan ini juga menjadi dasar pengembangan Larvix sebagai usaha mahasiswa. Tim menjalankan serangkaian kegiatan yang mencakup analisis pasar, pengembangan formulasi, penyusunan prosedur operasional standar, produksi, pengemasan, pengujian kualitas, pemasaran, hingga evaluasi usaha.
Pengembangan legalitas dan kesiapan regulasi produk turut menjadi perhatian dalam rencana keberlanjutan. Larvix diarahkan untuk menjangkau rumah tangga, khususnya yang membutuhkan solusi pengendalian larva nyamuk, serta berpotensi dikembangkan untuk mendukung kegiatan pengendalian vektor di lingkungan masyarakat.
”Meski demikian, penggunaannya tetap perlu mengikuti petunjuk produk dan ketentuan yang berlaku, serta menjadi bagian dari upaya pemberantasan sarang nyamuk secara menyeluruh,” katanya.
Kolaborasi Lintas Disiplin Mengantarkan Larvix ke PIMNAS
Tim Larvix terdiri atas lima mahasiswa lintas disiplin: Muhammad Ghazy Akbar, Fakultas Kedokteran, sebagai Chief Executive Officer (CEO); Fawzan Hazman Syira Tsaqofi, Fakultas Kedokteran, sebagai Chief Technology Officer (CTO); Rhassya Athaayaa Lusaid, bidang Agroteknologi, sebagai Chief Operating Officer (COO); Tamara Herda Oktavidia, bidang Agroteknopreneur, sebagai Chief Marketing Officer (CMO); dan Qurrata Aurellia Veaho, Agribisnis sebagai Chief Financial Officer (CFO). Tim mendapatkan pendampingan dari Prof. Dr. Ir. Dini Rochdiani, M.P.
Kolaborasi lintas disiplin ini menjadi bagian penting dalam pengembangan Larvix, mulai dari aspek kesehatan dan formulasi produk, proses produksi, hingga strategi pemasaran serta pengelolaan usaha.
”Keberhasilan lolos ke PIMNAS ke-39 menjadi pencapaian penting bagi tim sekaligus kesempatan untuk memperkenalkan inovasi yang mengintegrasikan kesehatan masyarakat, pemanfaatan limbah, dan kewirausahaan mahasiswa,” katanya.
Atas nama tim, Rhassya berharap dapat terus menyempurnakan inovasi yang dikembangkan, memperkuat keberlanjutan usaha, dan menghadirkan alternatif pengendalian larva nyamuk yang praktis dengan tetap memperhatikan aspek efektivitas, keamanan, serta kepatuhan terhadap regulasi.
”Partisipasi dalam PIMNAS ke-39 menjadi langkah lanjutan bagi tim untuk membawa Larvix ke tahap pengembangan berikutnya. Lebih dari sekadar produk, Larvix merepresentasikan upaya mahasiswa untuk mengubah potensi limbah menjadi inovasi yang memiliki nilai guna bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan,” pungkasnya.*
- Penulis: Admin Kanal31
