Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » RA Kartini dan Persilangan Mentalitas

RA Kartini dan Persilangan Mentalitas

  • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
  • calendar_month Sel, 21 Apr 2026
  • comment 0 komentar

Sebuah Spiritualitas di Titik Balik

BANDUNG kanal31.com

 

Sosok Raden Ajeng Kartini (selanjutnya ditulis RA Kartini) merupakan sebuah entitas korpus utuh yang memiliki dimensi yang kompleks. Oleh karen itu, untuk menyusun narasinya dengan kacamata sejarah sosial berarti kita tidak boleh melihatnya sekadar sebagai pahlawan emansipasi yang terisolasi (the isolated women). Pengkajiannya harus memandangnya sebagai sebuah “titik temu” (carrefour) dari berbagai lapisan sejarah yang membentuk mentalitas perempuan (dan manusia) Jawa (dan Nusantara).

 

Misalnya, untuk memahami spiritualitas RA Kartini, narasinya tidak dapat hanya terpaku pada surat-suratnya sebagai curahan hati seorang perempuan yang terkurung. Kita harus meletakkannya dalam kerangka “Silang Budaya” yang menjadi ciri khas ruang etnografis Jawa (dan Nusantara). Karenanya, spiritualitas RA Kartini bukanlah sebuah entitas tunggal yang muncul dari ruang hampa atau “ujug-ujug” jatuh dari langit. Ia sebuah hasil dari ketegangan dialektis antara tradisi “priyayi” yang berakar dalam, pengaruh Islam yang tengah mengalami purifikasi dan modernisasi, dan hembusan angin Modernitas kolonialisme Eropa di bumi Hindia Belanda (Nusantara).

 

1. Lapisan Tradisi dan “Mistisisme” yang Bertransformasi

 

Dalam silsilah “longue durée” (jangka panjang) sejarah Jawa, Kartini adalah pewaris etiket dan tata krama tinggi “krama inggil”. Namun, spiritualitasnya menunjukkan pergeseran dari sekadar ketaatan pada “kosmos feodal” menuju pencarian makna yang lebih personal. Jika para leluhurnya mencari kesempurnaan melalui “tapa brata” yang pasif, Kartini mentransformasikan energi spiritual tersebut menjadi “keprihatinan sosial”.

 

Ia tidak mencari “manunggaling kawula gusti” di dalam gua dan penyendirian melainkan dalam upaya memanusiakan sesama. Di sini, kita melihat bagaimana struktur mentalitas lama (asketisme) diisi dengan konten baru (altruisme modern). Pergeserannya bersifat “sunyi”, yakni bertransisi secara evolutif dalam “wadag” (bungkus) kultural yang masih mirip, tetapi dengan pemaknaan baru (neologism).

 

Dalam kerangka naratologi Gérard Genette, surat-surat Kartini berfungsi sebagai ruang di mana focalisation atau sudut pandang sang narator berpindah-pindah dengan lincah, dari seorang putri ningrat yang terikat adat menjadi seorang pemikir universal yang menyerap gagasan Teosofi mengenai persaudaraan sejagat. Melalui jaringan korespondensi yang luas, ia membangun sebuah laboratorium batin yang menghubungkan Jepara dengan pusat intelektual di Eropa, memanfaatkan teknologi literasi untuk menciptakan sebuah subjektivitas “Aku” yang mandiri—sesuatu yang sebelumnya hampir mustahil dalam struktur sosial feodal Jawa yang kolektif.

 

2. “Perjumpaan” dengan “Tuhan”

 

Melalui Literasi Braudel atau Lombard, kita akan menyoroti pentingnya “jaringan” dan “teks”. Spiritualitas RA Kartini mengalami titik balik yang krusial saat ia bersentuhan dengan pemikiran Islam yang lebih rasional melalui pertemuannya dengan “Kiai Sholeh Darat”. Permintaannya agar Al-Qur’an diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa adalah sebuah tindakan revolusioner dalam sejarah mentalitas dan pergeseran literasi.

 

Ini adalah upaya untuk meruntuhkan tembok “mitos” dan menggantinya dengan “logos”. Tuhan bagi RA Kartini tidak lagi hadir melalui bahasa Arab yang tidak dipahami, melainkan melalui pemahaman intelektual. Inilah yang disebut sebagai “spiritualitas yang tercerahkan” (isyraqiyah), di mana iman harus selaras dengan rasio—sebuah pengaruh jelas dari semangat “Enlightenment” (atau Aufklärung) yang merembes melalui pendidikan feodalisme kebupatian dan kolonial.

 

3. “Humanitas” sebagai Agama Baru

 

Argumen utama yang muncul adalah bahwa Kartini sedang membangun sebuah pemahaman “Agama Kemanusiaan”. Dalam surat-suratnya, ia sering menyebut “Pena” dan “Pikiran” dengan nada yang hampir sakral. Ia berada di persimpangan jalan: di satu sisi ia tetap menghormati eksistensi Ilahi (yang ia sebut sebagai Allah, Tuhan, atau Semesta), namun di sisi lain, ia menolak dogmatisme agama yang mengekang perempuan.

 

Spiritualitasnya bersifat eklektik. Ia menyerap etika “Kristiani” tentang “kasih sayang” tanpa harus menjadi Kristen, dan ia memegang teguh nilai Islam-Jawa tentang kesabaran (sabar-tawakal) tanpa harus menjadi budak tradisi. Kartini adalah prototipe “Manusia Jawa Modern” yang berhasil melakukan sinkretisme tingkat tinggi: menggabungkan kedalaman batin Timur dengan kedinamisan Barat.

 

Intertekstualitas dalam pemikiran Kartini semakin terlihat ketika kita membedah “Efek Multatuli” yang meresap kuat ke dalam sanubarinya. Ia mengambil perangkat semantik dari para pemikir liberal Belanda untuk melakukan serangan balik terhadap borok feodalisme di sekitarnya. Kata-kata seperti “adat” dan “hormat” didekonstruksi sedemikian rupa sehingga maknanya bergeser dari sekadar etiket luhur menjadi simbol belenggu yang mematikan martabat manusia.

 

Pengadopsian istilah “Insulinde” bukan sekadar soal penamaan geografis, melainkan sebuah pernyataan politik yang melampaui identitas etnisitas Jawa menuju kesadaran nasionalitas yang masih dalam bentuk embrio. Di sini, Kartini berperan sebagai arsitek infrastruktur mental yang meletakkan dasar bagi kebangkitan bangsa jauh sebelum gerakan politik formal lahir, dengan menyadari sepenuhnya bahwa bangsa yang tengah “tidur” hanya bisa dibangunkan melalui transformasi intelektual yang dimulai dari kaum perempuan.

 

 

Pemberdayaan perempuan dalam visi Kartini pada akhirnya bukanlah sekadar urusan domestik, melainkan sebuah strategi sosiologis yang radikal untuk memutus rantai penjajahan dan kebodohan. Ia menempatkan perempuan sebagai pendidik peradaban, karena baginya, ibu adalah sekolah pertama bagi karakter suatu bangsa. Dengan mengubah wajah domestikasi menjadi ruang agensi, ia membuktikan bahwa pendidikan bagi perempuan adalah prasyarat mutlak bagi kemajuan sebuah bangsa secara organik.

 

Kartini berhasil melakukan sintesis tingkat tinggi antara kedalaman batin Timur dan kedinamisan Barat, menciptakan sebuah model nasionalisme yang tidak ekspansif namun tetap perkasa melalui kekuatan gagasan. Sebagai penutup dari narasi ini, kita melihat Kartini bukan sekadar sebagai simbol emansipasi, melainkan sebagai bukti nyata bahwa sebuah pemikiran yang ditulis dengan kejujuran batin mampu melintasi batas zaman dan menjadi mata air bagi metodologi pendidikan yang tetap berpijak pada akar budaya sekaligus menatap cakrawala dunia.

 

4. Epilog: Sebuah Sintesis Budaya

 

Sebagai “end note”, spiritualitas Kartini dapat diposisikan sebuah “jembatan mental. Ia tidak membuang Tuhan untuk menjadi modern, dan ia tidak membuang akal untuk menjadi beriman. Spiritualitasnya adalah sebuah bentuk “pemberontakan yang santun”—sebuah upaya untuk mencari wajah Tuhan dalam wajah anak-anak didik dan rakyatnya yang tertindas.

 

Bagi kita yang memandang dari masa kini, Kartini adalah bukti bahwa di bawah lapisan formalitas kolonial dan feodal, terdapat arus bawah (sous-jacent) pemikiran yang berusaha mencari sintesis baru bagi identitas manusia Indonesia. Ia bukan sekadar simbol emansipasi wanita, melainkan simbol “emansipasi jiwa” dari belenggu zaman yang sempit.

 

Foto: Prodi PMI UIN UIN Sunan Gunung Djati Bandung

  • Penulis: Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Begini Cara Jitu PSGA Ciptakan UIN Bandung Aman dari Tindak Kekerasan Seksual 

    Begini Cara Jitu PSGA Ciptakan UIN Bandung Aman dari Tindak Kekerasan Seksual 

    • calendar_month Sen, 11 Nov 2024
    • account_circle Jun
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (BANDUNG) — Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Pelatihan Pencegahan Kekerasan berbasis Gender dan Konseling untuk Satgas PPKS dan Gender Focal Point yang berlangsung di Gedung Lecture Hall. Dengan menghadirkan dua narasumber: Dr. Istiadah, MA, Ketua PSGA UIN Malang dan Gusriyeni, […]

  • KPK : Publikasi Pencegahan Korupsi Masih Minim

    KPK : Publikasi Pencegahan Korupsi Masih Minim

    • calendar_month Kam, 7 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-DENPASAR Edukasi pencegahan korupsi melalui publikasi melalui pemerintah daerah (pemda) termasuk Provinsi Bali ditengarai masih minim dan belum optimal. Publikasi bermuatan edukasi dan sosialisasi tentang korupsi ini diharapkan secara aktif dan kontinu dilakukan oleh bagian hubungan masyarakat (humas) masing-masing pemda. Hal tersebut diungkapkan Deputi Pendidikan dan Peran Serta Masyarakat KPK Wawan Wardiana di Kuta, Kabupaten […]

  • Selamat! Kemenag Sabet Penghargaan di Ajang 5th Indonesia PR Summit 2024

    Selamat! Kemenag Sabet Penghargaan di Ajang 5th Indonesia PR Summit 2024

    • calendar_month Sab, 10 Agu 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (JAKARTA) — Kementerian Agama meraih penghargaan Most Popular Government Institution 2024. Penghargaan yang diberikan dalam acara 5 th Indonesia PR Summit 2024 ini diterima Kepala Biro Humas Data dan Informasi (Karo HDI) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Akhmad Fauzin di Jakarta. “Alhamdulillah, ini menjadi kabar baik bagi segenap keluarga besar Kementerian Agama. Ini sekaligus jadi […]

  • UU Pesantren Wujud Rekognisi Negara terhadap Tradisi, Kemandirian, dan Keilmuan Ponpes

    UU Pesantren Wujud Rekognisi Negara terhadap Tradisi, Kemandirian, dan Keilmuan Ponpes

    • calendar_month Sel, 7 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    MALANG, kanal31.com — Kehadiran Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2019 tentang Pesantren menjadi tonggak penting dalam sejarah pendidikan Islam di Indonesia. Regulasi ini dinilai tidak hanya memberikan kepastian hukum bagi penyelenggaraan pesantren, tetapi juga menjadi bentuk rekognisi negara terhadap tradisi keilmuan, kemandirian, dan kontribusi pesantren dalam membangun karakter bangsa. “Undang-Undang Pesantren mengakhiri panjangnya fase ketika pesantren […]

  • Pakar Kesehatan UGM Berikan Tips Kelola, Konsumsi Buah dan Sayuran

    Pakar Kesehatan UGM Berikan Tips Kelola, Konsumsi Buah dan Sayuran

    • calendar_month Sab, 2 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-YOGYAKARTA Hari Buah Sedunia diperingati pada 1 Juli tiap tahunnya. Berdasarkan laman International Fruit Day, Hari Buah Sedunia pertama kali dirayakan 1 Juli 2007 di Berlin dimana terdapat beberapa orang berbagi buah favorit mereka dengan orang-orang. Tujuannya adalah untuk berbagi buah dalam simpati dan kegembiraan dengan keluarga, teman atau orang yang membutuhkan. Kemudian, Perserikatan Bangsa-Bangsa […]

  • KDM: Persib Juara, Jabar Istimewa

    KDM: Persib Juara, Jabar Istimewa

    • calendar_month Sel, 6 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, menyampaikan rasa bangganya atas kembalinya Persib Bandung meraih gelar Juara Liga 1 musim 2024-2025. KDM sapaan akrabnya menyebut kemenangan ini sebagai momen istimewa bagi Jawa Barat. “Persib juara, Jawa Barat istimewa,” ucap KDM kepada awak media, di Gedung Sate, Senin, 5 Mei 2025 Malam. Pemerintah Provinsi Jawa […]

expand_less