Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Memaknai Kata-kata Zahra di Saat RK – Atalia Proses Cerai

Memaknai Kata-kata Zahra di Saat RK – Atalia Proses Cerai

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KALBAR Kanal31.com — Ketika ayah dan ibu sudah tidak ada lagi aura kasih, anak selalu menjadi korban. Begitulah yang dirasakan oleh Zahra, anak dari Ridwan Kamil dan Atalia Praratya. Ia menulis puisi mencurahkan isi hatinya. Simak ungkapan hati Zahra sambil seruput Koptagul, wak!

 

Ada kata-kata yang lahir bukan dari pikiran, melainkan dari reruntuhan batin. Ia tidak disusun untuk indah, tidak dirancang agar rapi, tetapi mengalir seperti darah dari luka yang terlalu lama ditutup senyum. Unggahan Zahra adalah jenis tulisan yang tidak mengetuk pintu nurani, melainkan mendobraknya, lalu duduk di tengah puing-puing dengan tenang, seolah berkata, inilah sisa-sisa yang kalian minta untuk kulihatkan.

 

Tulisan itu tidak berisik, tetapi menggelegar. Tidak panjang, tetapi beratnya seperti kitab pengakuan dosa. Setiap kalimat terasa seperti palu yang dipukulkan ke dinding sunyi bernama keluarga, hukum, dan keadilan. Zahra tidak sedang menulis status. Ia sedang menggelar pengadilan batin, tanpa hakim, tanpa pembela, tanpa hukum acara, hanya ada luka dan Tuhan.

 

“Ayah, jika keadilan bumi enggan menghukummu.”

 

Kalimat ini seperti pintu yang ditutup pelan, tetapi meninggalkan gema panjang. Di sana, ada pengakuan getir, keadilan dunia kerap lelah berjalan, tertatih ketika harus mengejar mereka yang punya nama, kuasa, dan sejarah panjang jasa. Zahra seakan berkata, bumi ini punya hukum, tapi tidak selalu punya keberanian. Maka ia berhenti berharap pada palu hakim, lalu mengangkat wajah ke langit.

 

“Maka biarlah setiap helai rambutku yang terbuka menjadi saksi.”

 

Di titik ini, kesedihan berubah menjadi ironi yang kejam. Tubuh perempuan, yang selama ini paling mudah dijadikan objek moral, sasaran dosa, dan panggung penghakiman, ia jadikan arsip perlawanan. Rambut, yang kerap diperdebatkan, dipolitisasi, dan diseret ke mimbar-mimbar moral, justru dihadirkan sebagai saksi bisu. Zahra seolah berkata, jika aku selalu disalahkan, biarlah kesalahanku menjadi bukti. Jika aku selalu dituding, biarlah tudingan itu kubalikkan menjadi cermin.

 

“Menyeretmu ke pengadilan Tuhan.”

 

Inilah klimaks spiritual dari keputusasaan. Ketika dunia terlalu kecil untuk menampung kebenaran, manusia sering kali melemparkannya ke akhirat. Tuhan menjadi hakim terakhir, tempat keadilan tidak bisa disuap, tidak bisa ditunda, tidak bisa dinegosiasikan. Tetapi kalimat ini juga mengandung tragedi, betapa seorang anak harus sejauh itu melangkah, melewati ayahnya, melewati hukum, melewati dunia, hanya untuk berharap pada keadilan.

 

“Nikmatilah dunia sebagaimana kau menikmati pengkhianat yang merobek keluarga kita.”

 

Kalimat ini tidak marah. Ia dingin. Justru karena itu ia menusuk. Kata keluarga di sini tidak hadir sebagai rumah, melainkan sebagai medan perang. Ada pengkhianatan, ada luka, ada sesuatu yang hancur dari dalam. Ini bukan drama sinetron, tetapi tragedi klasik: rumah yang megah dari luar, tetapi retak di fondasi. Seperti semua tragedi besar, yang paling menderita justru mereka yang tidak pernah memilih peran.

 

“Sementara aku perlahan menenun jubah api untukmu, melalui tiap-tiap dosaku yang sengaja kupamerkan pada dunia.”

 

Ini adalah hiperbola paling menyedihkan. Zahra menjadikan dirinya altar pengorbanan. Dosanya, atau apa pun yang dunia cap sebagai dosa, dirajut menjadi jubah api. Ia sadar, publik gemar menyaksikan kehancuran personal sebagai hiburan. Maka ia menyuguhkannya, dengan pahit, dengan sadar, seolah berkata, jika lukaku adalah tontonan, maka saksikan sampai kalian lelah.

 

Unggahan itu pun viral. Media sosial berubah menjadi ruang sidang dadakan. Ada yang bersimpati, ada yang menghakimi, ada yang pura-pura bijak sambil tetap menikmati dramanya. Semua bicara, semua menafsir, semua merasa paling tahu. Padahal, yang berbicara sesungguhnya hanyalah seorang anak yang lelah memikul konflik orang dewasa.

 

Sampai hari ini, tidak ada klarifikasi. Tidak ada penjelasan. Keheningan itu justru menjadi gema paling keras. Diam, dalam konteks ini, bukan netral. Ia adalah ruang kosong yang diisi prasangka, spekulasi, dan luka yang semakin membusuk.

 

Zahra, atau lengkapnya Camillia Laetitia Azzahra. Ia lahir di Bandung, 17 Agustus 2004. Ia tumbuh di persimpangan yang tidak pernah ia pilih. Antara privasi dan sorotan, antara menjadi anak biasa dan simbol keluarga publik. Ia menekuni seni, bernyanyi di The Voice Kids, belajar arsitektur di ITB dan Newcastle University, Inggris. Ia peka, kreatif, dan seperti tampak dalam tulisannya, memiliki kepekaan filosofis yang lahir dari kehilangan, termasuk kepergian sang kakak, Eril, yang lebih dulu meninggalkan duka mendalam.

 

Tulisan Zahra bukan sekadar curahan emosi. Ia adalah potret generasi yang tumbuh di era di mana luka pribadi mudah menjadi konsumsi publik. Ia adalah kritik diam-diam terhadap dunia yang gemar menuntut klarifikasi, tetapi malas mendengarkan rasa sakit.

 

Pada akhirnya, ini bukan soal siapa yang benar dan siapa yang salah. Ia tentang betapa rapuhnya keadilan ketika berhadapan dengan kuasa. Tentang keluarga yang bisa runtuh tanpa suara. Tentang seorang anak yang terpaksa berbicara karena diam tidak lagi cukup.

 

Mungkin, di sanalah makna terdalamnya bersemayam. Di balik nama besar, jabatan tinggi, dan citra yang dibangun bertahun-tahun, selalu ada manusia yang bisa terluka. Ketika luka itu akhirnya berbicara, ia tidak meminta pengadilan. Ia hanya meminta didengar, sebelum berubah menjadi api yang tak lagi bisa dipadamkan.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

Rosadi Jamani

Ketua Satupena Kalbar

 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Raker FAH 2026, Diawali Momen Spesial “The Humanis Awards”

    Raker FAH 2026, Diawali Momen Spesial “The Humanis Awards”

    • calendar_month Selasa, 20 Jan 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com – Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung Dr. H. Dedi Supriadi, M.Hum secara resmi membuka Rapat Kerja (Raker) dan Rapat Koordinasi (Rakor) tahun 2026 di Aula FAH, Selasa (20/01/2026). Acara ini diawali dengan momen spesial bertajuk “Humanis Award”, sebuah bentuk apresiasi nyata terhadap prestasi mahasiswa. Dalam ajang “Humanis […]

  • Indomaret dan Alfamart Lebih Tahu Hidup Kita

    Indomaret dan Alfamart Lebih Tahu Hidup Kita

    • calendar_month Minggu, 5 Jul 2026
    • account_circle Budhiana Kartawijaya, geopolitics enthusiast.
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — Lagi rame ya soal Koperasi Desa Merah Putih dengan latihan militernya buat para calon manajernya. Tapi saya tak mau ngedongeng soal KDMP. Mau cerita tentang bisnis ritel saja. Sewaktu masih jurnalis muda, pernah menganalisis bisnis ritel Indonesia. Disclaimer dulu ya: saya tidak sedang mempromosikan Afamart dan Indomaret, dan juga tak menerima bayaran dalam […]

  • Akreditasi Prodi Psikologi 2025, Fase Awal Buka Program Pendidikan Profesi dan S2

    Akreditasi Prodi Psikologi 2025, Fase Awal Buka Program Pendidikan Profesi dan S2

    • calendar_month Senin, 28 Apr 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Fakultas Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung disarankan untuk segera membuka program pendidikan profesi, guna menghasilkan psikolog profesional dan kompeten. Kehadiran program ini sangat penting, untuk memenuhi kebutuhan praktisi bidang psikologi dan meningkatkan kualitas layanan publik. Saran ini dikemukakan oleh Asesor Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) dari Universitas Airlangga, Prof. Dr. Seger […]

  • Jadikan Peran Guru Sebagai Jalan Ibadah Menuju Surga

    Jadikan Peran Guru Sebagai Jalan Ibadah Menuju Surga

    • calendar_month Senin, 12 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Wakil Walikota Bandung, Erwin, mengajak para guru menjadikan profesinya sebagai jalan ibadah menuju surga. Seruan ini disampaikan saat membuka Workshop dan Seminar Pendidikan bertema “Memperkuat Peran Guru dalam Mewujudkan Pendidikan Karakter dan Pembelajaran yang Berkesadaran, Bermakna, dan Menyenangkan” di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia, Kota Bandung Erwin menyampaikan rasa hormat dan harunya terhadap […]

  • Delegasi UIN Bandung Gaungkan Inovasi dalam INCOILS V dan Forum Direktur Pascasarjana se-Indonesia

    Delegasi UIN Bandung Gaungkan Inovasi dalam INCOILS V dan Forum Direktur Pascasarjana se-Indonesia

    • calendar_month Sabtu, 22 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA, kanal31.com — Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta bersama Forum Direktur Pascasarjana (FODIPAS) PTKIN se-Indonesia menyelenggarakan International Conference on Islam, Law, and Society (INCOILS) V pada 21–23 November 2025 bertempat di Grand Rohan Jogja Hotel, Yogyakarta. Kegiatan ini dihadiri oleh para Direktur, Wakil Direktur, Ketua dan Sekretaris Program Studi, serta akademisi Pascasarjana dari seluruh Indonesia. Hadir pula […]

  • Kemenag Latih Fasilitator untuk Wujudkan Kurikulum Berbasis Cinta

    Kemenag Latih Fasilitator untuk Wujudkan Kurikulum Berbasis Cinta

    • calendar_month Senin, 11 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    GARUT kanal31.com — Kementerian Agama telah merilis panduan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC). Tahap selanjutnya, Kemenag siapkan para fasilitator untuk percepatan implementasi KBC. Puluhan fasilitator digembleng dalam Pra-Pelatihan Fasilitator (Training of Facilitator) pada 7–10 Agustus 2025 di Peacesantren Welas Asih Garut Jawa Barat. Kepala Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BMBPSDM), Ali Ramdhani menyatakan […]

expand_less