Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Antara Anak yang “Sukses” dengan Orang Tua yang Terabaikan

Antara Anak yang “Sukses” dengan Orang Tua yang Terabaikan

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung
  • calendar_month Jumat, 27 Feb 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG kanal31.com — Anak yang “gagal” di keluarga dan “tidak menjadi apa-apa,” ada di rumah mengurus orang tuanya sampai tua, seringkali lebih bermakna dan terasa manfaatnya ketimbang anak-anak yang “sukses” di kota-kota besar, jabatannya tinggi dan mentereng, jadi ini itu, tapi sulit pulang dan tak ada waktu sering menengok orang tuanya yang sudah report apalagi sakit-sakitan.

Akhirnya, banyak orang tua merasakan, anak yang ada di rumahlah, yang tak pernah jauh, yang tak sulit dipanggil dan disuruh karena selalu hadir di sisi orang tuanya, yang merawat fisik orang tuanya, yang tangannya sering menyentuhnya, yang terasa sebagai anak yang berbakti ketimbang anak-anaknya yang sukses nun jauh disana tapi orang tuanya merasa asing dengan mereka.

Kenyataan ini telah mendefinisikan ulang tentang “anak yang sukses” di dunia modern terutama di masyarakat Muslim. Buat apa anak-anaknya sukses material duniawi di kota besar, di luar negeri, tapi orang tuanya kesepian bahkan tak terurus maksimal ketika mereka membutuhkan kehadiran fisik anaknya, bukan uangnya, jabatannya dan fasilitasnya.

Bila ini dilematis antara tuntutan profesi dengan orang tua yang terabaikan, itu karena lingkungan hidup kita yang ukuran suksesnya adalah kesibukan, materi, jabatan tinggi dan hal-hal duniawi.

Banyak orang tua yang menyesal telah mendidik anak-anaknya dengan konsep modern, tapi ketika orang tua sakit repot, anak-anaknya sulit dihubungi, sulit pulang dan jarang datang, bahkan hingga ibunya atau bapaknya meninggal dunia.

Anak-anak yang sukses itu tak ada, tak hadir, hatinya jauh dan gagap ketika harus membaca do’a untuk ibunya di depannya. Pengetahuan agamanya nihil karena kesibukan dunia yang telah merampas waktunya dan hidupnya. Hidupnya habis untuk perusahaan tempat kerjanya, karena dipikirannya, itulah yang telah memberikan rizkinya bukan Tuhannya.***

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Selamat! Menag Terima Penghargaan Tokoh Kerukunan Umat Beragama

    Selamat! Menag Terima Penghargaan Tokoh Kerukunan Umat Beragama

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar, menerima penghargaan sebagai Tokoh Kerukunan Umat Beragama kategori Indeks Kerukunan Umat Beragama Tertinggi sejak survei 2015. Penghargaan diberikan sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusi Kemenag dalam memelihara kerukunan antar umat beragama. Apresiasi ini diberikan dalam Penganugerahan Indoposco kepada Staf Khusus Bidang Komunikasi dan Kebijakan Publik Ismail Cawidu yang hadir […]

  • Rakernas ASIKOPTI Periode 2023-2026 : Pentingnya Sinergi dan Kolaborasi Perguruan Tinggi Islam

    Rakernas ASIKOPTI Periode 2023-2026 : Pentingnya Sinergi dan Kolaborasi Perguruan Tinggi Islam

    • calendar_month Jumat, 14 Jun 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — Asosiasi Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Islam (ASIKOPTI) sukses menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Shakti Hotel, Kamis (13/6/2024). Acara yang dipimpin oleh Dr. Rika Lusri Virga, M.A. ini mengusung agenda penting berupa pembahasan dan penetapan program kerja ASIKOPTI untuk periode 2023-2026. Dalam RAKERNAS ini, ASIKOPTI menetapkan beberapa program kerja strategis yang terbagi dalam […]

  • Integritas Intelektual

    Integritas Intelektual

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    JAKARTA, kanal31.com –Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Gazali (Al-Gazali) pernah menyusun rantai kerusakan dengan kalimat yang nyaris seperti belati: rusaknya rakyat karena rusaknya penguasa; rusaknya penguasa karena rusaknya ulama; dan rusaknya ulama karena cinta harta dan kedudukan. Berabad-abad berlalu, sebutan bagi orang berilmu terus berganti. Tetapi pertaruhannya tetap sama: apakah pengetahuan menjadi jalan menuju kebenaran, atau […]

  • Para Dosen Merasa Jengkel, Setiap Hari Mahasiswa Lakukan Aktivitas tak Pantas

    Para Dosen Merasa Jengkel, Setiap Hari Mahasiswa Lakukan Aktivitas tak Pantas

    • calendar_month Rabu, 11 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com  – Sebuah video yang diduga memperlihatkan aktivitas tak pantas sejumlah mahasiswa di area kampus memicu perbincangan hangat kalangan sivitas akademika UIN Bandung. Video tersebut beredar di sebuah grup WhatsApp dosen dan pegawai, disertai narasi yang menyoroti perilaku mahasiswa yang dianggap tidak pantas itu. Di grup WA tersebut, salah seorang –yang identitasnya dirahasiakan– membagikan […]

  • PSGA LP2M UIN Bandung Hadirkan Dr. Claire-Marie Hefner Bahas Etika Digital di Pesantren

    PSGA LP2M UIN Bandung Hadirkan Dr. Claire-Marie Hefner Bahas Etika Digital di Pesantren

    • calendar_month Rabu, 5 Agt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — Pesatnya perkembangan teknologi digital tidak hanya membawa kemudahan, tetapi juga menghadirkan tantangan baru dalam pembentukan etika dan moral generasi muda, khususnya perempuan muslim di lingkungan pendidikan Islam. Merespons dinamika tersebut, Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) LP2M UIN Bandung menggelar International Public Lecture #4 di Aula LP2M, Selasa (04/08/2026), dengan narasumber antropolog […]

  • Dosen USU, Perjuangan Riset Daun Teh Gaharu, Si Tanaman Surga

    Dosen USU, Perjuangan Riset Daun Teh Gaharu, Si Tanaman Surga

    • calendar_month Minggu, 24 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-SUMATRA Siapa yang tidak mengenal gaharu? Tanaman kayu berpohon tinggi menjulang yang mashyur disebut tanaman surga ini merupakan tumbuhan tropis yang memiliki banyak manfaat, terutama pada bagian getah membeku dari batang, yang disebut gubal. Komposisi kimia dalam gubal gaharu memberikan manfaat tersendiri, antara lain sebagai parfum, obat batuk, anti bakteri, anti jamur, dan insektisida. Kayu […]

expand_less