Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Mengenang Syekh Yusuf Al-Makassari

Mengenang Syekh Yusuf Al-Makassari

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Sabtu, 9 Mei 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Ulama yang Diasingkan ke “Ujung Dunia”

KALBAR kanal31.com — Betapa bahayanya ulama ini di mata Belanda. Yang lain diasingkan paling seputaran nusantara. Ini diasingkan sampai ke ujung dunia, tepatnya di Afrika Selatan. Kebetulan hari Jumat, yok kita mengenang ulama asal Makassar ini sambil seruput Koptagul, wak!

 

Nama ulama itu adalah Syekh Yusuf Al-Makassari. Ia bukan hanya seorang ulama, bukan pula sekadar pejuang. Ia adalah peristiwa itu sendiri. Pertemuan antara ilmu, iman, dan keberanian yang membuat kekuatan kolonial sebesar VOC memilih langkah paling ekstrem, membuangnya sejauh mungkin dari pusat dunia yang mereka kuasai.

 

Lahir pada 3 Juli 1626 di Gowa, Syekh Yusuf tumbuh dalam lingkungan bangsawan sebagai keponakan Sultan Alauddin. Namun darah biru tidak membuatnya terlena. Ia memilih jalan panjang pencarian ilmu, menempuh perjalanan ke Mekkah, Yaman, hingga pusat-pusat keilmuan Islam lainnya. Di sana ia berguru kepada tokoh besar seperti Ahmad al-Qushashi dan Ibrahim al-Kurani. Ia tidak hanya pulang membawa ilmu, tetapi juga visi, kezaliman harus dilawan, dan iman harus berdiri tegak di tengah tekanan kekuasaan.

 

Sekitar tahun 1664, ketika kembali ke Nusantara, ia mendapati tanah kelahirannya telah berubah. Makassar tak lagi bebas. Ia kemudian berlabuh di Banten, di bawah kepemimpinan Sultan Ageng Tirtayasa. Di sana, ia dipercaya sebagai mufti, penasihat kerajaan, menjadi bagian keluarga istana. Namun Syekh Yusuf bukan tipe ulama yang puas dengan kehormatan istana. Ketika penjajahan semakin menekan, ia memilih jalan yang berat, turun langsung ke medan perlawanan.

 

Ia memimpin perjuangan bersenjata. Bergerilya di wilayah Jawa Barat. Lalu, mengobarkan semangat rakyat dengan kekuatan spiritual yang jarang dimiliki seorang panglima. Ia berhasil lolos dari penangkapan lebih dari sekali. Ini sebuah bukti, perlawanan bukan hanya soal kekuatan fisik, tetapi juga kecerdikan dan keyakinan. Bagi VOC, Syekh Yusuf bukan sekadar musuh. Ia adalah simbol. Simbol, jika dibiarkan hidup, bisa menjadi api yang membakar seluruh bangunan kekuasaan.

 

Maka VOC mengambil langkah yang tidak biasa. Tahun 1684, Syekh Yusuf diasingkan ke Ceylon (Sri Langka). Harapannya sederhana, memutus pengaruhnya dari Nusantara. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Di tanah pengasingan, ia tetap menulis kitab-kitab tasawuf, yang kemudian dikirim kembali ke Nusantara melalui jaringan jamaah haji. Ide-idenya tetap mengalir, tanpa kehadiran fisiknya.

 

Merasa gagal, VOC mengambil keputusan yang lebih drastis, langkah yang jika dilihat hari ini terasa hampir tidak masuk akal. Pada tahun 1694, Syekh Yusuf bersama 49 orang, termasuk dua istri, dua selir, dua belas anak, dua belas imam, serta para pengikutnya, diangkut menggunakan kapal De Voetboog menuju Cape of Good Hope. Mereka ditempatkan di Zandvliet, lokasi terpencil yang diharapkan menjadi titik akhir dari segala pengaruhnya.

 

Namun sejarah kembali menunjukkan keindahan ironi. Di tempat yang dirancang sebagai pengasingan total, Syekh Yusuf justru membangun pusat dakwah baru. Ia mengajarkan Islam kepada budak-budak dari Nusantara, masyarakat lokal, dan siapa saja yang mencari makna hidup. Sedikit demi sedikit, komunitas Muslim tumbuh. Zandvliet berubah dari tempat sunyi menjadi ruang peradaban.

 

Ia wafat pada 23 Mei 1699 dalam usia sekitar 72–73 tahun. Pada tahun 1705, jenazahnya dipulangkan ke Gowa dan dimakamkan di tanah kelahirannya. Namun jejaknya di Afrika Selatan tidak pernah hilang. Wilayah Macassar menjadi saksi sejarah, namanya diabadikan sebagai penghormatan. Komunitas Cape Malay pun tumbuh sebagai warisan hidup, dengan budaya, bahasa, dan tradisi yang menjadi jembatan antara Nusantara dan Afrika.

 

Dari kisah ini, kita belajar sesuatu yang sering dilupakan zaman, kekuasaan bisa menguasai ruang, tetapi tidak selalu mampu menguasai makna. VOC memiliki kapal, senjata, dan peta dunia. Namun mereka tidak mampu membendung gagasan seorang ulama yang berjalan dengan keyakinan.

 

Jika kita melihat ke masa kini, sindiran sejarah itu terasa semakin relevan. Dulu, penjajah begitu takut pada satu orang berilmu hingga harus membuangnya ke ujung bumi. Hari ini, kadang kekuasaan justru sibuk membungkam suara kritis dengan cara yang lebih halus, melalui narasi, framing, atau sekadar membuat publik lupa. Metodenya berubah, tapi ketakutannya tetap sama. Takut pada kesadaran yang tidak bisa dikendalikan.

 

Syekh Yusuf Al-Makassari membuktikan satu hal yang abadi, jarak tidak mampu mengalahkan ide, pengasingan bukan akhir dari perjuangan, dan manusia yang berpegang pada nilai akan selalu menemukan jalannya untuk memberi makna pada dunia.

 

Ia dibuang ke ujung dunia. Tapi dari sanalah, ia justru menyalakan cahaya yang menerangi dua benua, dan membuat sejarah, sekali lagi, tersenyum kagum.

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Peace Education AFI UIN Bandung, Ruang Aman bagi Dialog dan Keberagaman

    Peace Education AFI UIN Bandung, Ruang Aman bagi Dialog dan Keberagaman

    • calendar_month Kamis, 28 Mei 2026
    • account_circle Jun
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Mata kuliah Peace Education Jurusan Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) semester 6 UIN Sunan Gunung Djati Bandung yang diampu oleh Dr. Neng Hannah, M.Ag., telah sukses menyelenggarakan rangkaian project perdamaian berbasis dialog lintas perbedaan sepanjang 4–25 Mei 2026.   Project ini merupakan implementasi langsung dari pedoman pembelajaran yang menekankan pentingnya membangun ruang […]

  • Layani Pemudik Nataru di Pantura, Masjid Jami Hidayatullah 24 Jam Tak Pernah Dikunci

    Layani Pemudik Nataru di Pantura, Masjid Jami Hidayatullah 24 Jam Tak Pernah Dikunci

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    SUBANG Kanal31.com — Masjid Jami Hidayatullah yang berada di Jalan Pantura Ciwaringin, Kecamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat menjadi salah satu masjid ramah pemudik. Masjid ini membuka layanan 24 jam selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Masjid ini melayani ratusan pemudik yang melintas di jalur Pantura dengan menyediakan ruang ibadah, toilet, tempat wudu, serta area istirahat […]

  • UIN Bandung Gelar Seminar Fiqh Jurnalistik

    UIN Bandung Gelar Seminar Fiqh Jurnalistik

    • calendar_month Senin, 25 Nov 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM BANDUNG — Program Studi Ilmu Komunikasi Konsentrasi Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali menggelar rangkaian acara seminar My Ilkom dengan tema “Fiqh Jurnalistik”. Seminar ini diadakan di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Senin (25/11/2024). Seminar ini menghadirkan Dr. Bahrudin, M.Ag. (Dosen Ilmu Komunikasi UIN Bandung) sebagai pembicara […]

  • Benchmarking Fakultas Sains dan Teknologi UIN Bandung ke Universitas Negeri Malang, Cara Jitu Tingkatan Sistem Penjaminan Mutu

    Benchmarking Fakultas Sains dan Teknologi UIN Bandung ke Universitas Negeri Malang, Cara Jitu Tingkatan Sistem Penjaminan Mutu

    • calendar_month Jumat, 29 Nov 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM, MALANG — Upaya meningkatkan system penjaminan mutu Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UIN Sunan Gunung Djati Bandung melakukan benchmarking ke Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Malang (UM), Selasa (26/11/2024). Ketua Unit Penjaminan Mutu (UPM), Dr. Rina Mardiati M.T., didampingi oleh sekretaris unit Dr. Tina Dewi Rosahdi, M.Si., beserta tim Dr. Esih […]

  • IoT dan AI Membuka Era Baru Inovasi Teknologi Jadi Bahasan SENTER IX 2024

    IoT dan AI Membuka Era Baru Inovasi Teknologi Jadi Bahasan SENTER IX 2024

    • calendar_month Rabu, 9 Okt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Bandung) — Seminar Nasional Teknik Elektro (SENTER) IX 2024 bertajuk “IoT dan AI Membuka Era Baru Inovasi Teknologi” sukses diselenggarakan secara hybrid di Aula Abjan Soelaeman, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Kamis, (3/10/2024). Dengan menghadirkan dua narasumber: Dr. Hamonangan Situmorang, M.T., Dosen Sekolah Teknik Elektro dan Informatika ITB; Edi Mulyana, M.T., Dosen UIN Bandung […]

  • Proyek Urugan Tanah sudah Selesai, Kok tidak Dibayar?

    Proyek Urugan Tanah sudah Selesai, Kok tidak Dibayar?

    • calendar_month Selasa, 11 Feb 2025
    • account_circle Jun
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Penyuplai tanah urugan asal Cimincrang Kecamatan Gedebage Kota Bandung, Nandar, menarik kembali tanah urugan di Kampus II UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Selasa (11/02/2025). Ia melakukan hal itu, karena supply tanah sebanyak 8.600 kubik itu belum dibayar. “Nilai uang yang mesti saya terima sebesar Rp. 542 juta. Pekerjaan urugan kan sudah selesai, tapi kami […]

expand_less