Rocky Gerung Tidak Berubah
- account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
- calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kritikus bukan berarti harus selalu mengkritik.
Pemikir bebas tidak harus mengikuti selera publik.
BANDUNG kanal31.com — Ada sesuatu yang menarik dari kegaduhan terakhir tentang Rocky Gerung. Selama bertahun-tahun Rocky dikenal sebagai salah satu suara paling tajam dalam mengkritik kekuasaan. Ia menjadi semacam ikon kritik: setiap kali pemerintah melakukan sesuatu, publik menunggu apa yang akan dikatakannya. Karena itu ketika belakangan Rocky justru menyatakan dukungan terhadap Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, sebagian orang segera bingung. Bahkan ada yang menuduhnya telah berubah, melunak, atau menjadi penjilat kekuasaan. Di sinilah sebenarnya persoalan yang lebih menarik daripada MBG itu sendiri muncul: masyarakat ternyata sering lebih mengenal reputasi seseorang daripada cara berpikir orang tersebut.
Rocky sendiri sudah menjelaskan posisi itu. Dalam sebuah forum pada Juni 2026, ia menyatakan bahwa dukungannya terhadap MBG dan koperasi bukan karena membela pemerintah atau Presiden Prabowo, melainkan karena ia melihat gagasan tersebut berkaitan dengan amanat konstitusi. Ia bahkan menegaskan bahwa yang ia bela adalah konstitusi. Jika terdapat korupsi atau penyimpangan dalam pelaksanaannya, menurutnya yang harus diberantas adalah korupsi dan pelakunya, bukan otomatis membatalkan programnya.
Ini sebenarnya logika yang sangat sederhana. Tetapi justru karena sederhana, ia sering tidak dipahami. Seorang kritikus bukanlah manusia yang pekerjaannya membenci pemerintah. Seorang kritikus adalah orang yang menguji kekuasaan dengan akal sehat, argumentasi, prinsip dan ukuran tertentu. Kalau pemerintah melakukan sesuatu yang salah, ia kritik. Kalau pemerintah melakukan sesuatu yang menurut ukuran pikirannya benar atau memiliki dasar konstitusional, ia bisa mendukung. Kalau sebuah program mempunyai tujuan yang baik tetapi pelaksanaannya buruk, ia dapat membela tujuannya sekaligus mengkritik pelaksanaannya. Kritik dan dukungan bukan dua agama yang haram dipertemukan.
Justru di sinilah Rocky Gerung tampaknya konsisten. Ia tidak sedang mengatakan bahwa semua yang dilakukan pemerintahan Prabowo benar. Bahkan dalam pernyataannya pada September 2026, ketika membahas MBG dan koperasi, Rocky masih mendorong kritik dan bahkan menyebut perlunya perubahan radikal terhadap konstruksi kebijakan agar lebih berpijak pada apa yang ia sebut sebagai genealogi konstitusi. Jadi, mendukung suatu gagasan tidak otomatis berarti menyerahkan fungsi kritis.
Yang berubah mungkin bukan Rocky. Yang berubah adalah objek penilaian publik terhadap Rocky. Selama Rocky mengkritik pemerintah, ia dianggap sebagai Rocky yang asli. Ketika ia mendukung sebuah program pemerintah, tiba-tiba sebagian orang menganggap Rocky telah kehilangan prinsip. Seolah-olah identitas seorang kritikus ditentukan oleh seberapa sering ia mengatakan “tidak” kepada pemerintah. Ini cara berpikir yang aneh. Dengan logika semacam itu, kalau seorang kritikus melihat matahari terbit dari timur, ia harus mengatakan matahari terbit dari barat hanya supaya tetap konsisten sebagai kritikus.
Kritik bukanlah ritual penolakan. Kritik adalah kerja akal. Karena itu seorang kritikus sejati justru harus memiliki kemampuan mengatakan “ya” dan “tidak” secara proporsional. Ia mengatakan tidak ketika menemukan kesalahan, tetapi ia juga harus mampu mengatakan ya ketika menemukan sesuatu yang sesuai dengan prinsip yang ia yakini. Orang yang selalu berkata tidak bukan otomatis kritis. Bisa jadi ia hanya terjebak dalam oposisi psikologis. Sebaliknya, orang yang sesekali mengatakan ya kepada pemerintah juga tidak otomatis menjadi pendukung kekuasaan. Yang menentukan adalah alasan di balik “ya” dan “tidak” tersebut.
Di sinilah publik sering terjebak oleh politik identitas. Rocky sudah terlalu lama ditempatkan dalam kotak bernama “kritikus pemerintah”. Akibatnya, setiap pendapatnya dibaca bukan berdasarkan argumentasinya, tetapi berdasarkan labelnya. Begitu ia mendukung MBG, sebagian orang tidak lagi bertanya: apa alasan Rocky mendukung MBG? Apa dasar konstitusional yang ia maksud? Apakah ia mendukung programnya sekaligus mengkritik pelaksanaannya? Apakah dukungannya bersifat personal kepada Prabowo atau substantif terhadap gagasan ekonomi rakyat? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu justru yang seharusnya diajukan oleh masyarakat yang ingin memahami seorang intelektual.
Bahkan gagasan koperasi yang dibicarakan Rocky bukanlah sesuatu yang tiba-tiba lahir dari pemerintahan sekarang. Dalam kerangka ekonomi Indonesia, koperasi memang memiliki sejarah panjang dan secara eksplisit ditempatkan dalam perdebatan mengenai demokrasi ekonomi dan Pasal 33 UUD 1945. Pemerintah Prabowo sendiri menempatkan MBG dan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih sebagai bagian dari agenda ekonomi rakyat. Rocky kemudian membaca kedua gagasan itu melalui perspektif konstitusi dan ekonomi kerakyatan. Orang boleh setuju atau tidak dengan pembacaan tersebut. Tetapi berbeda pendapat terhadap argumentasi tidak sama dengan menuduh bahwa seseorang telah kehilangan prinsip.
Maka, persoalannya bukan apakah Rocky harus mendukung atau mengkritik Prabowo. Persoalannya adalah apakah kita masih mampu memahami perbedaan antara membela kekuasaan dan membela sebuah gagasan. Dua hal itu tidak selalu sama. Pemerintah dapat menjalankan program yang secara prinsip layak didukung, tetapi pelaksanaannya tetap harus diawasi. Sebaliknya, pemerintah dapat memiliki program yang secara administratif tampak bagus tetapi secara substansial bermasalah. Seorang intelektual tidak boleh kehilangan kemampuan membedakan keduanya hanya karena takut dicap tidak konsisten.
Ada paradoks yang menarik. Orang-orang yang selama ini mengagumi Rocky karena keberaniannya mengkritik kekuasaan justru bisa menjadi kecewa ketika Rocky menggunakan kebebasan berpikirnya untuk tidak mengikuti ekspektasi mereka. Mereka menginginkan Rocky tetap menjadi Rocky yang mereka kenal: kritik, serang, bongkar, hantam. Tetapi bukankah kalau Rocky hanya mengatakan apa yang diharapkan pengikutnya, ia justru telah kehilangan kebebasan berpikirnya? Kritikus yang harus selalu memenuhi ekspektasi massa bukan lagi kritikus. Ia telah menjadi pelayan selera publik.
Karena itu, mungkin justru di sinilah karakter Rocky yang sebenarnya terlihat. Ia tidak mengatakan bahwa karena Prabowo berkuasa maka semua kebijakannya harus ditolak. Ia juga tidak mengatakan karena sebuah program pemerintah bernama MBG dan koperasi maka semuanya harus diterima. Ia mencoba menilai gagasan berdasarkan prinsip yang menurutnya lebih tinggi daripada siapa yang sedang berkuasa. Dalam konteks MBG dan koperasi, ia melihat ada alasan konstitusional untuk mendukung gagasannya, sementara pada saat yang sama ia tetap menuntut perubahan dan koreksi terhadap konstruksi kebijakan pemerintah.
Mungkin inilah pelajaran paling penting dari kontroversi Rocky Gerung: jangan menjadikan seorang intelektual sebagai idol yang harus selalu berbicara sesuai harapan kita. Kalau kita benar-benar menghargai intelektualitasnya, biarkan ia berpikir, termasuk ketika pikirannya membawa dia ke kesimpulan yang tidak kita sukai. Kita boleh membantah argumentasinya, menunjukkan kelemahannya, bahkan menolak kesimpulannya. Tetapi jangan mengganti perdebatan gagasan dengan tuduhan bahwa ia telah berubah menjadi penjilat hanya karena sekali ia mengatakan sesuatu yang kebetulan sejalan dengan pemerintah.
Rocky tidak harus selalu mengkritik pemerintah. Rocky harus selalu mengkritik apa yang menurut akalnya layak dikritik. Dan kalau pada suatu saat akal sehatnya mengatakan bahwa sebuah kebijakan pemerintah layak didukung, maka mengatakan “ya” justru merupakan bagian dari kebebasan intelektualnya. Seorang kritikus yang hanya boleh berkata “tidak” sebenarnya bukan manusia merdeka. Ia hanya memiliki seragam oposisi.
Masyarakat seharusnya belajar satu hal dari Rocky Gerung: jangan membaca manusia melalui labelnya. Bacalah argumennya. Jangan menilai pendapat dari siapa yang diuntungkan oleh pendapat itu. Nilailah alasan yang melahirkannya. Sebab kekuasaan bisa melakukan kesalahan, tetapi kekuasaan juga bisa melakukan sesuatu yang benar. Dan seorang kritikus yang waras harus mampu membedakan keduanya.
Kalau setiap dukungan kepada kebijakan pemerintah dianggap sebagai penjilatan, maka kritik telah berubah menjadi fanatisme. Tetapi kalau setiap kritik terhadap pemerintah dianggap sebagai kebencian, maka kekuasaan telah berubah menjadi dogma. Dua-duanya sama-sama berbahaya. Demokrasi membutuhkan manusia yang mampu mengatakan “tidak” kepada kekuasaan ketika kekuasaan salah, tetapi juga cukup merdeka untuk mengatakan “ya” ketika kekuasaan melakukan sesuatu yang benar.
Rocky Gerung tidak sedang berubah. Kita saja yang selama ini salah memahami arti seorang kritikus.*** 😊☕🚬
- Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
