Bahasa AI
- account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
- calendar_month Selasa, 13 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG kanal31.com —ย Saya sudah paham bahas AI, dari pola kalimat sampai pola tanda baca. Membaca sebuah tulisan, dalam satu paragraf pertama saja, saya sudah bisa mengidentifikasi ini bahasa AI atau bukan.
Sahabat saya, intelektual kahot di Indonesia, rutin mengirim tulisan-tulisannya ke saya, saya paham bahasanya dari dulu. Saya juga tahu, ketika dia mulai memakai AI. “Ini tulisan AI hehe …” Kata saya dalam hati. Saya tak mengatakan itu kepadanya, dalam hati saja.
Membaca tulisan di bawah ini pun, saya tahu ini bahasa AI. Bagusnya, ini diakui sendiri oleh penulisnya. Antara pengakuannya dengan pola tulisannya memang nyambung, ini bahasa AI. Dari penulisnya, adalah idenya, bahasanya AI, tentu tak 100 persen, ada editing dan revisi.
Tren AI memang mengkhawatirkan, dampaknya luar biasa. Tulisan-tulisan akademis sekarang semua dilibas oleh AI. Dari makalah, skripsi, tesis, hingga disertasi dan menulis buku, sekarang semua bisa dikerjakan AI. Dari menulis refleksi pendek, puisi, cerpen hingga menulis novel juga bisa dikerjakan AI. Kita cukup memberikan idenya, AI bisa mengerjakannya.
Ratusan iklan di media sosial menawarkan aplikasi AI untuk mengerjakan karya ilmiah. Dari membuat latar belakang masalah, teori, metodologi hingga referensinya, bisa lengkap dibuatkan AI. Walaupun perlu diedit dan direvisi seusai kepentingan penulisnya.
AI ada plus minusnya. Diantara dampak positifnya, sekarang para penulis merasa sangat terbantu. Menulis menjadi sangat mudah, tapi ya itu, buatan AI. Dampak negatifnya, berpikir logis rasional dan kemampuan menulis akademik, yang dulu harus didapatkan puluhan tahun melalui proses belajar di kuliah, sekarang menjadi tak perlu. Teknologi AI sudah menggantikan proses belajar puluhan tahun itu dalam sekejap.
Maka saya pernah memprediksi, kampus bakal bubar, profesi dosen bakal bubar, bila tak ada kebijakan pemerintah yang revolusioner tentang AI. Selain mengkhawatirkan, AI juga memberikan misteri. Masa depan kita akan seperti apa?
AI memang mengkhawatirkan tapi saya tak mau memikirkannya harus bagaimana. Saya hanya berpijak pada dua pikiran sederhana.
Pertama, kehidupan ini milik Tuhan bukan milik saya. Saya merasa tak perlu mengkhawatirkan AI ke depannya atau memikirkan masa depan. Saya takut Gusti Allah berkata: “Ah, kayak punya kamu aja kehidupan ini? Emangnya kamu siapa?” ๐. Kedua, setiap zaman pasti ada solusi-solusinya sendiri atas masalah-masalahnya. Saya jadi tenang, jadi tak ge-er sok pahlawan superhero memikirkan masa depan kehidupan. Para Nabi saja tak ditugaskan begitu.
Apakah tulisan ini bahasa AI? Kalau tak ketebak, tampaknya kita perlu ngopi bareng ๐โ๐ฌ
- Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
