Edisi Malam Jumat “Cantik-cantik Tidak Mau Menikah”
- account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
- calendar_month Kamis, 22 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KALBAR kanal31.com — Malam Jumat (Maljum) datang lagi. Malam yang membuat hidup bergairah. Kelambu menjadi tempat destinasi utama. Semua dalam kondisi jreng. Black mamba dalam kondisi prima, dan landasan bersih dan wangi. Nah, tema kali ini soal cewek-cewek Korea. Mereka terkenal cantik dan glowing. Cuma, mereka banyak tak mau menikah. Mari kita ungkap sambil seruput Koptagul, wak!
Cewek-cewek Korea Selatan, negerinya Nohran. Cantik, glowing, wajah kinclong, rambut berkilau. Klinik operasi plastik di Gangnam berjejer seperti warung kopi di Pontianak. Namun, ketika ditanya soal menikah, sebagian malah menjawab, “Terima kasih. Saya masih bahagia dengan hidup sendiri.”
Black mamba lokal langsung kehilangan sinyal GPS.
Menurut survei Statistik Korea tahun 2024, hanya 26 persen perempuan milenial yang belum menikah menganggap pernikahan sebagai kewajiban. Sementara itu, laki-laki mencapai 41,6 persen. Artinya, semangat menikah kaum Adam masih menyala, sedangkan sebagian kaum Hawa sudah memasang papan: Bandara tutup sampai pemberitahuan berikutnya.
Survei terhadap 2.000 orang dewasa muda juga menemukan 55,4 persen perempuan belum menikah tidak berniat menikah atau belum memutuskan. Alasan yang mencuat antara lain budaya keluarga patriarkis dan ketakutan karier terputus.
Nuan bayangkan, wak! Perempuan sudah bekerja, membangun karier, membayar cicilan, dan mengurus kehidupan sendiri. Begitu menikah, jangan-jangan pekerjaannya bertambah menjadi koki, pencuci piring, pengasuh anak, manajer rumah tangga, sekaligus petugas pengingat suami. Gajinya satu, pekerjaannya seperti satu kementerian.
Seorang peneliti Yale, Meera Choi, mewawancarai 130 perempuan Korea dan mengidentifikasi fenomena “heterosexual refusal”, yakni penolakan hubungan heteroseksual sebagai formasi politik kolektif. Sebagian perempuan bukan sekadar belum menemukan jodoh, tetapi menolak sistem yang dianggap menuntut tenaga emosional dan reproduktif tanpa menjamin keamanan serta kesetaraan.
Bahasa warung kopinya begini. Perempuan bukan takut naik pesawat. Mereka cuma tidak mau menjadi landasan, teknisi, pramugari, petugas kebersihan, sekaligus kasir. Pilot datang, mendarat, makan, tidur, lalu pergi tanpa membantu membersihkan pesawat.
Muncul pula ungkapan yang bikin urusan asmara tambah ruwet: “Untuk apa menikah kalau akhirnya bercerai? Lebih baik tidak menikah sekalian!”
Waduh! Kalau logika ini diterapkan ke seluruh kehidupan, untuk apa makan kalau akhirnya lapar lagi? Untuk apa mandi kalau besok berkeringat? Untuk apa membeli mobil kalau akhirnya dijual? Kalau begitu, manusia cukup duduk di rumah sampai ajal menjemput. Tidak perlu berbuat apa-apa karena semuanya akan berakhir.
Memang, pernikahan tidak menjamin kebahagiaan abadi. Ada hidup harmonis sampai tua, ada pula bertengkar seperti dua negara berebut perbatasan. Namun, kemungkinan bercerai tidak berarti semua pernikahan pasti berakhir di pengadilan agama.
Ada lagi ungkapan tak kalah menohok, “Untuk apa tampil cantik dan menawan, kalau akhirnya tidak bisa dinikahi?”
Aduhai, wak! Skincare sudah 12 langkah, wajah glowing mengalahkan lampu stadion, rambut dirawat seperti aset negara. Namun, calon suami tak kunjung datang. Yang datang malah tagihan kartu kredit.
Padahal, kecantikan bukan kuitansi bisa ditukar dengan akad nikah. Perempuan tidak wajib menikah hanya karena cantik. Laki-laki pun tidak otomatis layak menjadi suami hanya karena tampan, kaya, atau punya black mamba yang merasa dirinya aset strategis nasional.
Sementara itu, Korea Selatan menghadapi persoalan demografi serius. Angka fertilitasnya hanya 0,75 pada 2024, lalu naik menjadi 0,80 pada 2025. Jumlah bayi lahir mencapai 254.500, meningkat 6,8 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Ini sekaligus menjadi kenaikan terbesar dalam 15 tahun. Namun, angka fertilitas tersebut masih jauh dari tingkat penggantian penduduk sekitar 2,1 anak per perempuan.
Pada 2024, terdapat 5.135 pernikahan perempuan Korea dengan laki-laki asing, naik dari 5.007 pada 2023. Suami asing itu terutama berasal dari Amerika Serikat (28,8 persen), China (17,6 persen), dan Vietnam (15 persen).
Pada 2025, sebanyak 13.416 bayi lahir dari pasangan internasional, naik 10,4 persen dan menyumbang 5,6 persen dari seluruh kelahiran Korea Selatan.
Lho, bandara ternyata tidak tutup total! Penerbangan internasional masih diterima. Black mamba lokal langsung membuka aplikasi belajar bahasa Inggris. Ada belajar Mandarin, ada pula mendadak ingin menguasai bahasa Vietnam. Bukan mau menjadi diplomat, tetapi takut kalah bersaing dengan pilot impor.
Namun, data itu tidak membuktikan, perempuan Korea lebih menyukai laki-laki asing. Pernikahan lintas negara hanyalah salah satu bagian dari gambaran kehidupan masyarakat Korea.
Sekarang kita sedikit serius. Dalam Islam, Rasulullah menganjurkan menikahi perempuan penyayang dan subur agar umat beliau bertambah banyak. Hadis ini diriwayatkan antara lain oleh Abu Dawud. Islam juga menetapkan kewajiban nafkah pada suami. Rumah tangga bukan tempat perempuan bekerja 24 jam. Sementara suami merasa tugasnya selesai setelah menyerahkan uang belanja.
Jodoh memang berada dalam ketentuan Allah, tetapi manusia tetap perlu berikhtiar. Tidak ada tahu kapan bertemu jodoh, dengan siapa, dan bagaimana perjalanan rumah tangganya. Belum menikah bukan berarti gagal menjadi manusia. Namun, jangan pula menolak semua kemungkinan bahagia hanya karena takut mengalami perceraian.
Soal operasi plastik, Islam tidak menyamaratakan seluruh prosedur. Memperbaiki cacat atau gangguan fungsi berbeda dari mengubah tubuh semata-mata demi standar kecantikan. QS. An-Nisa ayat 119 memperingatkan tentang godaan setan untuk mengubah ciptaan Allah, sementara penerapan hukumnya perlu mempertimbangkan tujuan dan ketentuan fikih.
Kesimpulannya, cantik bukan jaminan menikah, tampan bukan garansi menjadi suami, dan kaya bukan tiket otomatis menuju pelaminan.
Wahai para black mamba, jangan cuma memoles badan dan menyemprot parfum sampai satu RT pusing. Poles juga tanggung jawab, empati, dan kemampuan mencuci piring.
Selamat Maljum! Seruput Koptagul. Jodoh memang di tangan Tuhan, tetapi memilih pasangan tetap membutuhkan akal sehat. Jangan sampai berharap mendapatkan imam rumah tangga, malah memperoleh penumpang gelap yang minta dilayani seumur hidup. Kalau cuma mau mendarat tanpa membantu mengurus bandara, lebih baik nonton Drakor saja!
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
- Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
