Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Masa Depan Duh, Emak-emak Lampung, Kenapa Jokowi Ekonomi

Masa Depan Duh, Emak-emak Lampung, Kenapa Jokowi Ekonomi

  • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
  • calendar_month Minggu, 28 Jun 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Baginda Pemuka Bangsa” Kok Didemo?

LAMPUNG, kanal31.com — Ras terkuat, emak-emak asal Lampung gelar demo. Yang didemo mantan orang terkuat di negeri ini, Jokowi. Padahal, para raja di sana menganugerahi ayah Gibran ini dengan gelar “Baginda Pemuka Bangsa”. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!

 

Demo emak-emak ini bukan di stadion, bukan pula di arena UFC, melainkan di Bundaran Tugu Adipura, Bandar Lampung, Sabtu, 27 Juni 2026. Tempat yang mendadak berubah menjadi panggung opera politik, festival budaya, sekaligus sinetron baru “Merebut Singasana 2029.”

 

Di satu sisi, lima kerajaan adat Lampung dengan khidmat, sakral, penuh aura mistis level serial kerajaan Turki, menganugerahkan gelar adat tertinggi “Baginda Pemuka Bangsa” kepada Joko Widodo. Ada prosesi adat, ada tarian, ada simbol-simbol kebesaran. Bahkan, ada ritual menginjak kepala kerbau. Untunglah kerbaunya tidak mengajukan gugatan ke pengadilan hewan. “Kok kerbau sih, Bang?” “Udah ente diam jak, ikuti sinetronnya.” Ups

 

Jokowi berdiri gagah memakai pakaian adat Lampung. Wibawanya seperti raja yang baru pulang dari ekspedisi menaklukkan tujuh samudra, delapan gunung, dan sembilan grup WA ormas yang isinya ngakak ngopi mulu.

 

Eh, di bawah tugu yang sama, muncul pemandangan yang membuat Isaac Newton mungkin bangkit dari kuburnya hanya untuk memastikan hukum gravitasi masih berlaku.

 

Ratusan emak-emak berbaju gamis hitam berbaris rapi seperti pasukan elite Avengers cabang pengajian. Mereka membawa spanduk bertuliskan, “Pak Jokowi, tunjukkan ijazahmu!” Nuan bayangkan betapa bingungnya semesta.

 

Di atas panggung ada seseorang baru saja dinobatkan menjadi Baginda Pemuka Bangsa.

 

Di bawah panggung ada emak-emak yang berkata, “Baginda boleh, tapi rapor SD mana?”

 

Ini seperti seseorang baru menang Nobel Fisika, lalu tetangga sebelah bertanya, “Ijazah TK masih ada, Bang?”

 

Aksi tersebut digelar oleh Forum Suara Masyarakat Lampung (FSML). Dipimpin Gunawan Parikesit dan Meri, mereka datang membawa satu mobil komando dan tiga bus besar. Komposisinya persis rombongan arisan akbar yang salah belok dan nyasar ke konferensi geopolitik.

 

Orasi berkumandang. Roy Suryo diteriakkan. dr. Tifa disebut-sebut. KM 50 dibahas. Peristiwa 21-22 Mei 2019 diangkat kembali.

 

Pokoknya lengkap. Tinggal kurang diskusi tentang black mamba, malam Jumat, dan mengapa kaleng Khonguan isinya rengginang.

 

Mereka menilai safari politik Jokowi merupakan agenda terselubung menuju Pemilu 2029. Padahal bisa jadi Jokowi cuma ingin keliling, makan seruit, foto-foto, dan pulang sebelum magrib sambil memikirkan kapan Pertamax turun.

 

Namun di negeri ini, orang membeli bakso saja bisa dicurigai sedang menyusun strategi kudeta. Yang membuat cerita ini yang suka mojok di warkop bisa saja dituduh buzzer.

 

Kalau kelompok pertama membawa spanduk tuntutan ijazah, kelompok kedua justru membawa senyum, ponsel, dan niat suci mencari selfie bersama Jokowi.

 

Terjadilah apa yang bisa disebut sebagai Perang Saudara Emak-emak Jilid Lampung.

 

Satu kubu berteriak, “Tunjukkan ijazah!”

 

Kubu lain menjawab, “Pak, sini dulu selfie!”

 

Polisi yang berjaga sampai ratusan personel mungkin mulai mempertanyakan pilihan karier mereka. Karena menghadapi demonstran biasa masih ada SOP.

 

Menghadapi emak-emak? SOP-nya mungkin hanya satu, “Tetap tenang, jangan menyela, jangan membantah, dan jangan sekali-kali mengatakan, iya, Bu.”

 

Lalu lintas pun tersendat. Bukan semata-mata karena jalan sempit.

 

Tetapi karena warga sengaja memperlambat kendaraan demi menyaksikan tontonan gratis yang lebih seru daripada sinetron prime time.

 

Di kiri ada prosesi adat. Di kanan ada demonstrasi. Di tengah ada polisi. Di belakang ada pedagang es.

 

Lengkap. Tinggal masukin komentator Pildun. “Baginda bergerak dari sisi kiri lapangan! Emak-emak menekan tinggi! Spanduk dinaikkan! Polisi bertahan! Penonton bersorak! Ini luar biasa!”

 

Puncak ironi memang terasa nikmat. Seseorang baru saja memperoleh gelar Baginda Pemuka Bangsa, gelar yang lahir dari adat, simbol kehormatan, dan legitimasi budaya.

 

Tetapi sebagian masyarakat tetap berkata, “Baginda nanti dulu, Pak. Fotokopi legalisirnya mana?”

 

Mungkin inilah negeri MBG. Negeri yang bisa menggabungkan kerajaan adat, demokrasi jalanan, teori konspirasi, nostalgia politik, budaya selfie, kemacetan, dan semangat emak-emak menjadi satu paket hiburan nasional.

 

Kalau Shakespeare hidup di Indonesia, dia mungkin pensiun jadi penulis drama. Karena negeri ini sudah menulis naskahnya sendiri.

 

Kita semua, suka tidak suka, hanyalah penonton yang kebagian kursi paling depan sambil menyeruput kopi malam minggu.

 

Selamat datang di republik yang tidak pernah kekurangan bahan tertawaan. Besok mungkin ada lagi.

 

Siapa tahu gelar berikutnya adalah Baginda Pemuka Semesta, tetapi tetap ditanya, “Pak, ijazah pramukanya masih ada, kan?”

 

Begitulah negeri +62. Selalu berhasil membuktikan, politik kita bukan sekadar kontestasi kekuasaan. Tetapi juga festival komedi terbesar di Asia Tenggara.

 

“Bang, siapa sih yang gerakkan emak-emak demo Jokowi tu?”

 

“Saya sih tahu, wak. Cuma pura-pura tak tahu aja.” Ups

 

Foto Ai hanya ilustrasi

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Top! Terapkan Konsep Ekonomi Biru, UI Beri Pelatihan Literasi Keuangan bagi Nelayan Pesisir Kepulauan Seribu

    Top! Terapkan Konsep Ekonomi Biru, UI Beri Pelatihan Literasi Keuangan bagi Nelayan Pesisir Kepulauan Seribu

    • calendar_month Kamis, 22 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Sebagai negara maritim, Indonesia dapat memanfaatkan peningkatan kualitas ekonomi dengan menyerap konsep blue economy (ekonomi biru). Menurut Bank Dunia, ekonomi biru adalah pemanfaatan sumber daya laut yang berwawasan lingkungan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kesejahteraan, dan mata pencaharian sekaligus pelestarian ekosistem laut. Ada berbagai sektor yang termasuk di dalamnya, seperti perikanan, energi terbarukan, pariwisata, transportasi […]

  • Konferensi Internasional dan Simponas ke-13 ASAI

    Konferensi Internasional dan Simponas ke-13 ASAI

    • calendar_month Jumat, 15 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA kanal31.com — Perhelatan tahunan, Konferensi Internasional dan Simposium Nasional (Simponas) ke-13 ASAI tahun 2025 telah selesai dilaksanakan. Kegiatan ini berlangsung dari tanggal 12 sampai 14 Agustus 2025 di Hotel Grand Keisha Yogyakarta. Konferensi Internasional dan Simponas ke-13 ASAI, mengusung tema:”Religion. Love, and Humanity: Transforming the World Through Compassion and Empathy”. Tema ini diambil, karena Agama-Agama […]

  • Yudi Latif : Pendidikan Berkebudayaan dan Kesadaran Keragaman Harus Terus Digaungkan

    Yudi Latif : Pendidikan Berkebudayaan dan Kesadaran Keragaman Harus Terus Digaungkan

    • calendar_month Senin, 26 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Pendidikan berkebudayaan dan kesadaran keragaman di kalangan anak-anak muda Indonesia harus terus digaungkan. Ini diperlukan agar masa depan Indonesia tetap diisi nalar sehat dengan penghargaan terhadap kemanusiaan. Demikian disampaikan dua cendekiawan muda, Yudi Latif Ph.D dalam seminar bertajuk Pendidikan Berkebudayaan: Melawan Intoleransi, Perundungan, dan Kekerasan di Kalangan Muda. Seminar digelar di Gedung FITK UIN Jakarta, Rabu […]

  • Publikasi Artikel Ilmiah Jadi Jalan Kelulusan Dua Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Bandung

    Publikasi Artikel Ilmiah Jadi Jalan Kelulusan Dua Mahasiswa Ekonomi Syariah UIN Bandung

    • calendar_month Jumat, 12 Jun 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — Prestasi membanggakan ditorehkan dua mahasiswa (Hakiki Ramadhan, Sabila Syifa Noorazlina) Jurusan Ekonomi Syariah Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Keduanya dinyatakan lulus munaqasah melalui skema tugas akhir berbasis publikasi artikel ilmiah pada jurnal terakreditasi nasional. Ketua Jurusan Ekonomi Syariah FEBI UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Evi Sopiah, […]

  • Keren! York College of Pennsylvania Berikan Dean’s List ke Santi Agustin, Peserta MOSMA Kemenag 2023

    Keren! York College of Pennsylvania Berikan Dean’s List ke Santi Agustin, Peserta MOSMA Kemenag 2023

    • calendar_month Kamis, 4 Jan 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — MORA Overseas Student Mobility Awards (MOSMA) terbukti memberi ruang bagi para mahasiswa Perguruan Tinggi Keagamaan (PTK) untuk unjuk prestasi di kampus luar negeri. Prestasi itu antara lain diraih Santi Agustin, mahasiswi Program Studi Sastra Inggris Fakultas Humaniora UIN Maliki Malang. Setelah menjalani kuliah lebih kurang enam bulan, dia meraih Dean’s List untuk semester […]

  • Ayo Ikutan Beasiswa S1 bagi Santri Hafal 10 Juz Al-Qur’an

    Ayo Ikutan Beasiswa S1 bagi Santri Hafal 10 Juz Al-Qur’an

    • calendar_month Senin, 17 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JOMBANG kanal31.com — Ada satu lagi kabar gembira dibagi Kementerian Agama untuk para santri pesantren. Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) pada Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Ruchman Basori mengatakan, pihaknya telah siapkan sejumlah beasiswa, termasuk bagi para santri penghafal Al-Qur’an. Hal ini disampaikan Ruchman Basori saat memberikan Sosialisasi Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB) […]

expand_less