Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Hikayat Pacinan di Kuningan

Hikayat Pacinan di Kuningan

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Rabu, 29 Jan 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

KUNINGAN KANAL31.COM — Pacinan, kami menyebutnya begitu, nama yang tersemat pada sebuah pedukuhan kecil hanya sepelemparan batu dari rumah saya. Dipisahkan sungai yang bila debit airnya meninggi di musim penghujan, menjadi momen menggembirakan bermain perahu yang dibuat dari batang pisang, berlayar menuju satu titik pertemuan dua sungai, tempat kami bermain air sepuasnya hingga mata memerah dan kulit berbalur lumpur coklat. Pedukuhan serupa ada di wilayah lain desa, namun hanya terdiri dari beberapa rumah saja dan penghuninya yang tidak banyak.

Pacinan – di beberapa wilayah menyebutnya Pecinan — secara fisik penghuni pedukuhan tidak jauh berbeda, namun tetua dan anak-anaknya memiliki nama ras Tionghoa. Teman perempuan satu kelas bernama Chung Sin, teman main saya bernama Chung Wan, seorang wanita tua ramah, kami memanggilnya Nyonya Pa, rumahnya selangkah dari sekolah, kami tidak sungkan untuk minta kue dan bebas minum dingin dari kendi tanah miliknya.

Ada Babah Kantoa, pengepul gabah dan palawija yang biasa bertandang ke rumah saya dan hadir menyimak bila ada kenduri warga yang memanggil Kyai sebagai penceramah. Ada pemilik toko bernama Kui Chi, dan seseorang bernama Eng Shang. Nama-nama itu yang kami panggil di desa kami. Hegemoni orde baru yang represif seperti tidak menyentuh eksistensi identitas personal mereka.

Pedukuhan itu dihuni oleh 20-an kepala keluarga, beberapa rumah dengan pasad bangunan berarsitektur Tionghoa, salah satunya berada persis di samping ruang kelas saya waktu SD. Sekolah saya memang terletak di tengah pedukuhan itu, saya harus menyeberangi sungai ke sekolah bersandal jepit dengan tiga buku tulis bersampul biru tua merk Lecces, dibungkus plastik. Menurut hikayatnya, pedukuhan Pacinan sudah ada sejak dahulu dan menjadi bagian dari kehidupan desa, mereka berkeyakinan beda dari kami yang Muslim. Meski berbeda keyakinan, syahdan tidak pernah terdengar cerita kami berselisih dalam perbedaan itu, semuanya melebur dalam harmoni dan menghormati keyakinan masing-masing.

Laiknya anak kecil, saya sangat antusias bila Imlek tiba. Pedukuhan itu menjadi ramai, rumah-rumah berhias lampion, kertas-kertas kuning dan merah bertaburan. Di rumah salah satu teman, ada patung kecil – kami menyebutnya tapekong – yang dikelilingi sesaji. Aroma pedupaan menguar tajam dari altar sederhana tempat mereka beribadat. Di hari Imlek itu, saya dan teman-teman berebut mendapatkan bingkisan berupa angpau, kue-kue Bakpau, dan penganan lainnya. Seluruh penduduk desa ikut bersuka cita di hari itu, pun bila waktu Ramadhan dan Lebaran, mereka pun larut dalam suka cita dan saling bersilaturahim.

Keragaman dan perbedaan yang di miliki bangsa ini merupakan rahmat tidak terpermanai dari Tuhan. Bila warga desa yang bertahun hidup berdampingan, Saya meyakini mereka memahami esensi ajaran agamanya dengan benar, mengikuti teladan Nabi Muhammad SAW, Sahabat-Sahabatnya, dan pemimpin-pemimpin mulia Islam yang menghormati entitas lain yang berbeda keyakinan. Setiap agama tentu memiliki prinsip-prinsip penghargaan dan penghormatan terhadap perbedaan, karena memang itu mutlak adanya yang diberikan Tuhan, termasuk berbeda suku, warna kulit, dan perbedaan lainnya.

Bila ada perbedaan paham, itu harus dimaknai dengan bijak karena Tuhan juga memberikan pengetahuan dan kemampuan nalar tidak sama bagi setiap mahlukNya. Kemampuan menerima sebuah perbedaan, menjadi parameter sejauhmana orang tersebut menginternalisasi esensi keber-agama-annya dalam ranah kehidupan sosialnya. Dibutuhkan kekuatan menerima sebuah perbedaan, karena dalam setiap diri manusia tertanam sifat antagonis, meyakini ras atau agamanya lebih superior, dan pihak lain dalam posisi inferior.

Warga desa saya dan tempat lain di Nusantara ini yang harus hidup dalam perbedaan, dan mereka kokoh berdampingan dalam ikatan budaya dan harmoni, sesungguhnya mereka telah memberi makna pada Indonesia, negeri kita. Lebaran lalu, saya berkesempatan menjejakkan kaki di pedukuhan itu, setelah bertahun tidak lagi ke sana.

Saat ini, pedukuhan sepi, hanya beberapa rumah yang masih berpenghuni. Rumah Nyonya Pa hanya tersisa perapian tanah yang tertutup ilalang, rumah itu telah roboh oleh waktu sejak dia meninggal. Rumah kayu di samping kelas juga sudah lapuk tak berpenghuni. Teman saya, Chung Sin, Chung Wan dan sederet nama yang dikenal sudah tidak ada di pedukuhan itu, mereka merantau entah ke mana. Pedukuhan itu kini sunyi, lampu lampion dan kertas kuning itu tidak lagi ada bila Imlek tiba. Waktu telah menepikan pedukuhan dalam putarannya bersama kenangan manis menikmati kue Imlek.

Dodo Murtado, Bekerja di Kemenag RI

 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • FEBI Siapkan Generasi Cerdas untuk Indonesia Emas 2045

    FEBI Siapkan Generasi Cerdas untuk Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Rabu, 12 Jun 2024
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag kembali menegaskan komitmennya membangun kapasitas keilmuan di kalangan mahasiswa. Ini penting, agar kemampuan mereka terus meningkat, baik dari sisi ilmu pengetahuan, soft skill, atau hard skill. Dalam rangka menyiapkan generasi muda, yang nantinya menjadi tonggak […]

  • Targetkan Akreditasi Unggul, Prodi HPI Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Jalani Asesmen Lapangan

    Targetkan Akreditasi Unggul, Prodi HPI Fakultas Syariah UIN KHAS Jember Jalani Asesmen Lapangan

    • calendar_month Minggu, 22 Sep 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Jember) —   Program Studi Hukum Pidana Islam (HPI) Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq (UIN KHAS) Jember menjalani serangkaian asesmen lapangan dalam rangka akreditasi prodi dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Hadir sebagai asesor BAN-PT yaitu Dr. Siti Rochmiyatun, SH., M.Hum dari UIN Raden Fatah Palembang dan Prof. Dr. Ahmad Musyafiq, […]

  • Cara Deteksi Typo dalam Karya Ilmiah

    Cara Deteksi Typo dalam Karya Ilmiah

    • calendar_month Minggu, 17 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    Karya ilmiah tidak boleh ada typo atau kesalahan teknis penulisan. Di dalam penulisan skripsi atau tugas akhir, kesalahan teknis penulisan bukan bagian dosen pembimbing, melainkan tugas penulis untuk menghindari, mencermati, dan memperbaikinya. Saat ini, era konten sehingga dosen pembimbing lebih fokus melihat konten meliputi kedalaman isi. Apabila naskah karya ilmiah ditemukan banyak kesalahan teknis dalam […]

  • Ingat! Mahasiswa Magang di DPR RI Wajib Pahami Konstitusi Negara

    Ingat! Mahasiswa Magang di DPR RI Wajib Pahami Konstitusi Negara

    • calendar_month Jumat, 20 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, KANAL31.COM –Program Magang Di Rumah Rakyat (MDRR) DPR RI merupakan bagian dari program Merdeka Belajar dari Pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Oleh karena itu, kedepannya setiap para mahasiswa magang MDRR DPR RI wajib dibekali pemahaman konstitusi negara atau 4 Pilar MPR RI yaitu Undang-Undang Dasar, Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, dan […]

  • Wamenag Beberkan Inovasi Mushaf Al-Qur’an Isyarat kepada Menteri Besar Kelantan

    Wamenag Beberkan Inovasi Mushaf Al-Qur’an Isyarat kepada Menteri Besar Kelantan

    • calendar_month Senin, 25 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Wakil Menteri Agama Romo Muhammad Syafi’i memaparkan inovasi Mushaf Al-Qur’an Isyarat bagi Penyandang Disabilitas Sensorik Rungu Wicara (PDSRW) saat menerima kunjungan Menteri Besar Kelantan Malaysia, Mohd Nassuruddin Bin Haji Daud, di Kantor Pusat Kemenag RI.   “Kami memiliki mushaf Al-Qur’an yang belum ada di dunia, yakni Mushaf Al-Qur’an Isyarat bagi Penyandang Disabilitas […]

  • Inilah Keutamaan Berpuasa di Bulan Rajab

    Inilah Keutamaan Berpuasa di Bulan Rajab

    • calendar_month Minggu, 5 Jan 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TARUNA, KANAL31.COM — Rajab adalah bulan Allah, menurut Hadist Nabi Muhammad SAW, amalan puasa yang dikerjakan pada bulan ini memiliki keutamaan. Barang siapa berpuasa satu hari karena iman dan ikhlas, akan mendapat keridhaan Allah yang terbesar. Jika berpuasa dua hari, maka diperolehnya kemuliaan disisi Allah SWT. Hal tersebut disampaikan oleh Pimpinan Taman Pengajian Al-Qur’an Darunnajah […]

expand_less