Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Iran dan Umat Islam Abad 21

Iran dan Umat Islam Abad 21

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Selasa, 24 Jun 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG kanal31.com — Penasihat Parlemen Iran: “Tangan Amerika Harus Dipotong, Jalannya Lewat Leher Netanyahu!” Whaaaw ….

Saya ingin membongkar psikologi ucapan itu dan memberi makna untuk renungan umat.

Apa yang menarik dari ucapan itu yang dikatakan Iran pada Amerika dan Netanyahu? Jawabannya: Dignity! Self-pride, self-esteem alias harga diri. Harga diri umat. Harga diri umat otomatis berarti harga diri agamanya sebagai agama yang benar (dîn al-haq) dan umat yang terbaik (khaira ummah).

Pantaskah pengikut ‘agama yang benar’ dan ‘umat yang terbaik’ selama ini miskin, terbelakang, ketinggalan, sikap mentalnya lemah, kesadarannya rendah, direndahkan, dipermainkan, dilecehkan oleh umat lain? Tentu saja semuanya tak pantas.

Harga diri berkaitan dengan banyak hal: Kualitas umat, kemajuan, prestasi, kemandirian ekonomi yang tak ngemis dan gemar ngutang, terutama kesadaran moral dan sikap mental. Kurang lebih tiga abad, umat, semuanya ketinggalan, yang tersisa tinggal ajarannya yang paling agung, paling luhur dan paling mulia. Dan selama tiga abad, semua itu tak matching dengan kualitas umatnya yang sedang berada dalam kemunduran.

Harga diri. Inilah yang umat Islam kehilangan beberapa abad sejak mengalami kemunduran dan dominasi peradaban berpindah ke Barat. Kemundurannya sendiri sebagai siklus peradaban, sebagai sunatullah, tak bisa dihindari, harus dialami sebagai pelajaran. Tapi umat harus segera sadar dan mudah-mudahan mulai akan kembali melalui keberanian Iran itu. Kuncinya, umat Islam harus memenangkan perang dan kekuasaan global.

Berkuasanya umat Islam bukan ‘karena,’ ‘untuk’ dan ‘sebagai’ dendam, tapi untuk memenangkan kebenaran dan membuktikan keagungan agamanya sebagai rahmatan lil ‘alamin. Tak seperti selama ini, dunia kacau balau dan rusak oleh human greedy (kerakusan) yang merusak manusia dan alam karena yang berkuasanya bukan ‘ajaran agama yang diturunkan Tuhan sebagai petunjuk keselamatan’ tapi kapitalisme, demokrasi, hedonisme, liberalisme, sekularisme. Semua tumpuannya satu: Syahwat kesenangan dan memuja kesenangan dunia!! Wajar, karena semuanya tak memiliki ajaran hisab di akhirat. Semua ideologi itu hanya untuk kepuasan dunia dan tak ada hubungannya dengan keselamatan di akhirat.

Wajar semua itu menyesatkan, maka umat Islam harus kembali kepada ajaran agamanya. Kembali pada kesadaran agama bukanlah hal yang mudah karena menyangkut kesadaran. Kesadaran ini mahal, untuk memilikinya pun harus berproses lama dengan banyak melakukan perenungan dan berulang-ulang proses kegagalan. Maka, kembali kepada agama, atau umat Islam pada ajaran Islam, tak bisa dipaksakan.

Bila Iran memenangkan perang melawan Amerika Serikat dan Israel di abad ke-21 ini, tak juga otomatis bahwa umat Islam akan mengembalikan harga dirinya. Karena kemenangan perang atau kembalinya dominasi politik hanyalah salah satunya. Itu hanya instrumen kekuasaan. Yang lebih penting adalah kesadaran moral. Tapi, bukan berarti kemenangan politik dan kekuasaan bukan tak penting. Sangat penting! Karena ajaran kebenaran, salah satunya harus dipaksa melalui penguasaan dan kekuasaan. Misalnya, bagaimana para ulama, para ustadz, para mubaligh dan para pendakwah selama ini terus-terusan mengajarkan kebaikan, kesadaran dan kebenaran, tapi sistem sosial, budaya, ekonomi dan politiknya, semua bertentangan dengan seruan dan ajakan kebenaran itu. Disinilah dominasi politik dan kekuasaan menjadi penting yang bisa mengimplementasikan ajaran kebenaran melalui struktur kekuasaan.

Harapan kemenangan Iran, sebagai representasi politik Muslim, atas AS dan Israel, dan katakanlah Islam menjadi penguasa dunia di abad 21, pasti akan akan berdampak pada banyak hal (lepaskan dulu soal Sunni Syi’ah). Maka, dengan dominasi kekuasaan globalnya, secara proses sejarah, tentu kapitalisme akan mengalami koreksi, demokrasi akan mengalami revisi, sekularisme akan dilucuti, hedonisme akan berganti, dst. Akhirnya, seperti yang sudah terjadi dalam sejarah berabad-abad, dunia ini lebih baik berada di tangan kaum Muslimin atas bimbingan wahyu Al-Qur’an dan ajaran Nabi Muhammad SAW, ketimbang dunia modern sekarang yang dikuasai oleh hawa nafsu kekuasaan dan syahwat duniawi yang merusak manusia dan alam: Al-Qur’an sudah menjelaskannya 15 abad yang lalu: “Telah terjadi kerusakan di daratan dan di lautan, disebabkan oleh tangan-tangan manusia.”

Pertanyaannya, akankah umat Islam sekarang ini akan menerima pikiran seperti ini? Jawabannya, tergantung penghayatannya masing-masing pada agamanya yang selama ini dipeluknya. Apakah Islam itu hanya formalitas? Hanya status? Hanya di mulut? Hanya studi dan profesionalisme kajian ilmiah? Hanya tradisi akademik? Hanya karir? Hanya KTP, beriman hanya setengah-setengah? Atau, Islam dihayati sebagai way of life alias jalan hidup? Sistem kehidupan atau sistem peradaban?

Untuk jawaban ini, sebagian umat yang belum menghayati Islam sebagai jalan hidup, tampaknya harus introspeksi bahkan malu, paling tidak pada dua orang yang keduanya bukan Muslim: Orientalis besar H.A.R Gibb dan Rocky Gerung.

Gibb terkenal dalam sejarah mengatakan: “Islam is indeed much more than a system of theology, it is a complete civilization” (Islam sesungguhnya lebih dari sekadar ajaran teologis, tapi sebuah peradaban yang lengkap). Dan Rocky Gerung mengatakan: “Saya ingin negara Islam karena ‘justice,’ konsep keadilannya, lebih mudah dibayangkan ketimbang di ajaran lain termasuk dalam Pancasila.” Dia juga mengatakan, “ideologi saya Islam, muamalah saya adalah Islam.” Apa arti kedua ucapan kedua orang ini? Itulah penghayatan!! Yang jutaan umat Islam justru tak menghayati agamanya seperti kedua “orang kafir” ini. Ya gak masalah, pertanggungjawabannya kelak masing-masing di akhirat, apa arti agama yang kita anut selama ini?

Hubungannya dengan Iran? Ah masa belum paham juga. Ngopilah 😊☕🚬

Moeflich H. Hart, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Rahmatan Lil Alamin Pilar Integrasi Ilmu dan Agama ala UIN Bandung

    Rahmatan Lil Alamin Pilar Integrasi Ilmu dan Agama ala UIN Bandung

    • calendar_month Kamis, 1 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Konsorsium Wahyu Memandu Ilmu (WMI) kembali menggelar Forum Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari rangkaian diskusi ilmiah dalam rangka memperkuat arah dan prinsip keilmuan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Pimpinan (Rapim) lantai 2 Gedung Pascasarjana UIN Bandung. Forum yang mengangkat tema Paradigma Rahmatan Lil […]

  • Pentingnya Platform Digital dalam Dakwah

    Pentingnya Platform Digital dalam Dakwah

    • calendar_month Selasa, 11 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com –Dirjen Pendidikan Islam Suyitno menegaskan komitmennya dalam meningkatkan literasi Al-Qur’an di Indonesia. Hal ini disampaikan saat memberi sambutan pada launching Gerakan Nasional Literasi Qur’an (GNLQ) dengan tajuk “Tahun Membaca Al-Qur’an”. Helat ini berlangsung di Auditorium H.M. Rasjidi Kemenag RI, Jakarta Pusat, Selasa (11/3/2025). Suyitno menyoroti perkembangan metode pembelajaran Al-Qur’an dari masa ke masa […]

  • 328 Paper Terpilih untuk AICIS 2024 di UIN Semarang, Ini Daftarnya

    328 Paper Terpilih untuk AICIS 2024 di UIN Semarang, Ini Daftarnya

    • calendar_month Rabu, 24 Jan 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — JAKARTA — Call for Paper pada Annual Internatioal Conference on Islamic Studies (AICIS) ke 23 banjir peminat. Panitia mencatat hampir 2.000 paper yang didaftarkan untuk diseleksi sebagai peserta AICIS 2024. Para penulis berasal dari berbagai negara. AICIS kali ini akan berlangsung di UIN Walisongo Semarang, 1 – 4 Februari 2024. Kegiatan ini mengangkat […]

  • Sekecil Apa pun Musibah

    Sekecil Apa pun Musibah

    • calendar_month Sabtu, 4 Jan 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, KANAL31.COM — Sekecil apa pun musibah pasti ada hikmah. Bahkan agama Islam (sebuah riwayat) menyebutkan sebagai penggugur dosa. Kira-kira dosa apa yang digugurkan dengan musibah? Ini perlu digali kembali dan ditemukan relevansinya. Jumat pagi berangkat menuju tempat kerja. Sampai di perempatan Mochammad Toha Kota Bandung. Karena lampu merah, motor pun direm. Tak disangka ban […]

  • Tradisi Baru Pascasarjana UIN Bandung, Biar Tembus Jurnal Internasional Terindeks Scopus

    Tradisi Baru Pascasarjana UIN Bandung, Biar Tembus Jurnal Internasional Terindeks Scopus

    • calendar_month Sabtu, 18 Nov 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM – Keterbacaan manuskrip menjadi parameter publikasi jurnal internasional reputasi global. Tinjauan sejawat (peer review) diperlukan sebelum pengiriman manuskrip ke sasaran jurnal skala internasional bereputasi global index Scopus. Prof. Mohammad Taufiq Rahman, Ketua Program Studi (Prodi) Studi Agama-Agama (SAA) Jenjang Magister (S2) Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar tinjauan manuskrip yang berlangsung di Ruang […]

  • Yuk Ikutan Daftar Seleksi Nasional Madrasah Unggulan Dibuka hingga Februari 2026

    Yuk Ikutan Daftar Seleksi Nasional Madrasah Unggulan Dibuka hingga Februari 2026

    • calendar_month Kamis, 8 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Kementerian Agama (Kemenag) resmi membuka pendaftaran Seleksi Nasional Murid Baru (SNMB) Madrasah Unggulan untuk tahun ajaran 2026/2027. Proses pendaftaran dilakukan secara daring dan dibuka sejak 2 Januari 2026. Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Kemenag, Nyayu Khodijah, mengatakan pendaftaran dibuka melalui dua jalur, yakni jalur prestasi dan jalur tes. Jalur prestasi […]

expand_less