Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Jari dan Kebenaran

Jari dan Kebenaran

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 9 Nov 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG kanal31.com — Ini zaman “post truth”, begitu para pemikir menyebutnya. Sebuah zaman ketika emosi lebih dipercaya ketimbang fakta. Kebenaran objektif dikesampingkan, ukuran benar dan salah disepelekan. Dalam lanskap ini, budaya “berbagi” (share) menemukan lahannya yang paling subur.

Hanya dalam hitungan detik, sebuah informasi bisa tersebar luas, bukan karena ia benar, tapi karena ia menyentuh emosi. Karena ia menguatkan keberpihakan. Karena ia meneguhkan bisikan keyakinan kita.

Konon, di masa lalu, berbicara di hadapan publik adalah privilese yang terbatas. Setiap kata dan kalimat yang keluar ditimbang dengan perhitungan yang matang. Narasi dibangun dengan penuh kehati-hatian.

Tapi hari ini, semua orang adalah penyiar, dan jari adalah mikrofon. Tombol “share” telah menggantikan proses berpikir yang seharusnya mendahului komunikasi. “Kebenaran dan politik jarang berjalan seiring, tetapi di zaman sekarang, kebohongan bahkan lebih cepat berlari,” begitu kata Hannah Arendt.

Kita sering membagikan sesuatu bukan karena kita telah memeriksa kebenarannya, melainkan karena ia selaras dengan perasaan kita. Ketika kita marah, terharu, atau takut, segera saja kita ingin orang lain juga merasakan ikhwal serupa. Dalam ekosistem media sosial, emosi adalah bahan bakar utama. Semakin emosional sebuah konten, semakin besar peluangnya untuk menjadi viral. Kebenaran menjadi subordinat.

Barangkali, di sinilah bahayanya: ketika berbagi dilakukan bukan karena keyakinan akan kebenaran, tetapi karena kenyamanan psikologis. Kita membangun “ruang gema” (echo chamber) di mana satu-satunya suara yang kita dengar adalah suara yang memantul dari diri sendiri.

Kita memilih hanya apa yang ingin kita dengar. Kita membagikan hanya apa yang mendukung keyakinan kita. Maka, lahirlah masyarakat yang terfragmentasi, bukan karena kekurangan informasi, tapi karena kelebihan disinformasi yang tidak disaring.

Berbagi informasi tanpa berpikir adalah bentuk lain dari kelalaian bahkan kebodohan. Dalam post-truth society, kelalaian semacam ini bukan hanya persoalan etis, tapi juga politis. Sebuah berita palsu yang dibagikan ribuan kali bisa membentuk opini publik, bahkan kebijakan. Kita menjadi bagian dari pusaran, dan tanpa sadar ikut menyumbang bahan bakar bagi kebohongan yang dibungkus sebagai “narasi alternatif”.

Lalu bagaimana seharusnya kita hidup di zaman ini? Barangkali jawabannya sederhana, sekalipun tidak mudah: jeda. Menunda satu detik sebelum membagikan sesuatu. Lalu bertanya: Apakah ini benar? Apakah ini adil? Apakah ini akan membangun atau malah menyulut kerusuhan?

Di zaman ketika semua orang ingin didengar, sepertinya kekuatan sejati terletak pada kemampuan untuk mendengarkan, terutama mendengarkan suara hati sebelum jari menekan tombol share. Karena mungkin, satu-satunya cara “melawan” era post-truth bukanlah dengan lebih banyak bicara, tapi menolak tergesa, dan berusaha menemukan kembali ruang refleksi di antara notifikasi untuk kemudian khusu’ dalam berpikir dan menimbang ulang. Allahu a’lam.

 

Radea Juli A Hambali Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kebanyakan Tampil Bicara Kehilangan Wibawa

    Kebanyakan Tampil Bicara Kehilangan Wibawa

    • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    JAKARTA, kanal31.com — Ada satu hukum tua dalam dunia kepemimpinan: kekuasaan dapat dipaksakan, tetapi kewibawaan hanya dapat dipelihara.   Dan kewibawaan memiliki rahasia yang sering dilupakan oleh mereka yang memegang kuasa: ia membutuhkan “jarak”.   Bukan jarak yang berarti menjauh dari rakyat, bukan pula jarak yang lahir dari kesombongan. Tetapi jarak simbolik—ruang yang membuat seseorang tetap […]

  • 25 Guru Madrasah dan Pesantren Ikuti English Language Teacher Training

    25 Guru Madrasah dan Pesantren Ikuti English Language Teacher Training

    • calendar_month Rabu, 17 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Sebanyak 25 guru madrasah dan pesantren se-Kota Salatiga dan sekitarnya antusias mengikuti English Language Teacher Training (ELTT) yang pertama bertajuk 1st Orientation Workshop yang diselenggarakan oleh Unit Pelaksana Teknis Pengembangan Bahasa (UPTPB) UIN Salatiga, di Gedung KH. Ahmad Dahlan, Jumat (12/08/22). Master Trainer dan Kepala Pusat UPTPB, Dr. Hanung Triyoko mengatakan bahwa pelatihan tersebut bertujuan untuk mengajarkan […]

  • MPLS 2025, Farhan Ajak Anak-Anak Menjadi Pelajar Sejati dan Berkarakter

    MPLS 2025, Farhan Ajak Anak-Anak Menjadi Pelajar Sejati dan Berkarakter

    • calendar_month Senin, 14 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2025 di Kota Bandung resmi dimulai. Pada momen ini, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, berharap MPLS menjadi langkah awal yang bermakna bagi seluruh peserta didik baru. “Di sinilah anak-anak akan memulai perjalanan panjang untuk menemukan jati dirinya sebagai insan pembelajar sejati,” ujar Farhan saat membuka […]

  • Dosen UIN Bandung Dukung Wacana Rektor Perempuan, Tapi Nilai Faktor Kultur Tak Bisa Diabaikan

    Dosen UIN Bandung Dukung Wacana Rektor Perempuan, Tapi Nilai Faktor Kultur Tak Bisa Diabaikan

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, Kanal31.com– Wacana Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, agar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dipimpin oleh seorang rektor perempuan terus mendapat respons dari kalangan sivitas akademika. Salah satu dukungan datang dari dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Mochammad Alfan, M.A. Kepada Kanal31.com, Alfan menyatakan sepakat dengan gagasan […]

  • Bukan Legitimasi Kekerasan: Riset Dr. E. Hasbi Nasaruddin Bongkar Salah Kaprah Teks Agama Soal KDRT

    Bukan Legitimasi Kekerasan: Riset Dr. E. Hasbi Nasaruddin Bongkar Salah Kaprah Teks Agama Soal KDRT

    • calendar_month Rabu, 8 Jul 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) bukan lagi sekadar urusan dapur yang tabu untuk dibicarakan. Kehadiran Undang-undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan dalam Rumah Tangga (UU PKDRT) sejatinya telah meruntuhkan dinding pembatas tersebut, mengubah paradigma dari wilayah privat yang otonom menjadi domain publik yang wajib diintervensi oleh negara demi melindungi hak asasi […]

  • Roadshow Multifinance Syariah : Sarana Literasi & Inklusi Keuangan di Sektor Jasa Sukses Digelar PD MES Kabupaten Cianjur

    Roadshow Multifinance Syariah : Sarana Literasi & Inklusi Keuangan di Sektor Jasa Sukses Digelar PD MES Kabupaten Cianjur

    • calendar_month Sabtu, 13 Jul 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Cianjur) — Pengurus Daerah Masyarakat Ekonomi Syariah (PD-MES) Kabupaten Cianjur mengelar acara Roadshow Multy Finance Syariah bertajuk Pembiayaan Syariah Lebih Mahal, Emang Iya! yang berlangsung di Grand Bydel Hotel, Kamis, (11/7/2024). Roadshow ini menghadirkan empat pembicara yang kompeten di bidangnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), diwakili oleh ibu Sri Wahyuni, SH dari OJK Perwakilan Jawa […]

expand_less