Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

Merawat Percakapan yang Hampir Hilang

  • account_circle Radea Juli A Hambali, Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung
  • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG kanal31.com —

14 Maret 2026 lalu Jurgen Habermas wafat di usia 96 tahun. Kabar meninggalnya filsuf yang konon ditahbis sebagai penjaga modernisme ini menjadi penutup satu kisah penting dalam album sejarah intelektual dunia.

Kepergian Jurgen Habermas tidak hanya menutup perjalanan seorang filsuf, tetapi meninggalkan gema panjang tentang satu hal yang semakin jarang kita rawat: kesediaan untuk memahami sebelum menilai. Dari tulisan juga pemikirannya yang terserak di panggung pemikiran dunia, Habermas tidak mewariskan sistem yang kaku, sebaliknya ia meninggalkan jejak etos. Sebuah cara berada di dunia sebagai makhluk yang berbicara, mendengar, dan bertanggung jawab atas kata-katanya.

Dalam dunia yang semakin cepat menghakimi, warisan yang ditinggalkan Habermas itu terasa seperti ajakan yang pelan namun sangat mendesak.

Dari yang saya mengerti, Habermas sejak awal menyadari bahwa krisis masyarakat modern bukan sekadar krisis institusi, melainkan krisis komunikasi. Konon, ia pernah menulis dengan sangat tegas: “Only those norms can claim to be valid that meet (or could meet) with the approval of all affected in their capacity as participants in a practical discourse” (Hanya norma-norma yang dapat dianggap sah adalah norma-norma yang memenuhi (atau setidaknya dapat memenuhi) persetujuan dari semua pihak yang terdampak, dalam kapasitas mereka sebagai peserta dalam suatu diskursus praktis).

Pada pernyataannya itu, Habermas tidak hanya berbicara tentang hukum atau politik, tetapi tentang legitimasi hidup bersama. Sesuatu hanya layak dianggap sah jika dapat dipertanggungjawabkan di hadapan semua yang terdampak, melalui percakapan yang terbuka, bukan paksaan yang tersembunyi.

Keberanian Moral

Warisan ini terasa berat, karena ia menuntut lebih dari sekadar kecerdasan intelektual. Ia menuntut keberanian moral. Dalam pandangan Habermas, berbicara bukanlah tindakan netral. Setiap ujaran membawa klaim-klaim akan kebenaran, ketulusan, dan keadilan. Ia menyebutnya sebagai “validity claims,” dan menegaskan bahwa komunikasi sejati hanya mungkin jika klaim-klaim itu dapat diuji bersama. Dalam salah satu refleksinya yang tajam, ia menulis: “The unforced force of the better argument is the only force that should prevail” (Kekuatan yang tak dipaksakan dari argumen yang lebih baik adalah satu-satunya kekuatan yang seharusnya berlaku). Sebuah kalimat yang diucap secara sederhana, tetapi mengandung tuntutan yang nyaris utopis, bahwa dalam percakapan, yang menang seharusnya bukan yang paling kuat, melainkan yang paling masuk akal.

Namun justru di situlah letak kekuatan sekaligus kerapuhan pemikirannya. Habermas tidak naif. Ia tahu bahwa dunia tidak selalu berjalan seperti itu. Ia hidup dalam bayang-bayang sejarah yang memperlihatkan bagaimana bahasa dapat dipelintir menjadi alat dominasi. Karena itu ia memperingatkan tentang apa yang ia sebut sebagai kolonisasi dunia kehidupan: ketika logika pasar dan kekuasaan merembes masuk ke dalam ruang-ruang yang seharusnya menjadi milik percakapan manusia. Dalam The Theory of Communicative Action, ia menulis: “The more complex modern societies become, the more they depend on steering media such as money and power… but these cannot replace mutual understanding as a mechanism for coordinating action” (Semakin kompleks masyarakat modern, semakin besar ketergantungannya pada media pengarah seperti uang dan kekuasaan… namun hal-hal itu tidak dapat menggantikan saling pengertian sebagai mekanisme untuk mengoordinasikan tindakan).

Di titik ini, warisan Habermas menjadi semakin relevan sekaligus semakin menantang. Kita hidup dalam dunia di mana uang dan kekuasaan tidak hanya mengatur sistem, tetapi juga memengaruhi cara kita berbicara dan berpikir. Percakapan publik sering kali tidak lagi diarahkan untuk memahami, melainkan untuk mempengaruhi. Bahasa menjadi alat, bukan jembatan. Dan ketika itu terjadi, sesuatu yang mendasar dalam kemanusiaan kita perlahan terkikis.

Rasionalitas Komunikatif

Namun Habermas tidak berhenti pada diagnosis. Ia tetap menyisakan harapan, meski bukan harapan yang mudah. Ia percaya bahwa dalam diri manusia masih ada kapasitas untuk rasionalitas komunikatif, sejenis kemampuan untuk melampaui kepentingan sempit dan mencari titik temu melalui alasan. “Rationality is not a possession of individuals but a potential embedded in communication” (Rasionalitas bukanlah milik individu, melainkan sebuah potensi yang tertanam dalam komunikasi), bagitu katanya. Dengan kata lain, rasionalitas bukan sesuatu yang kita miliki secara pribadi, melainkan sesuatu yang lahir di antara kita, dalam ruang di mana kita bersedia saling mendengar.

Di sinilah warisan itu menjadi sangat personal. Habermas seakan mengalihkan tanggung jawab dari sistem ke diri kita masing-masing. Demokrasi tidak hanya bergantung pada institusi, tetapi pada kualitas percakapan sehari-hari. Pada cara kita menanggapi perbedaan. Pada kesediaan kita untuk berkata, “aku mungkin salah.” Sebab tanpa itu, semua prosedur demokrasi akan menjadi kosong. Sekadar mekanisme tanpa jiwa.

Namun begitu, Habermas juga mengingatkan bahwa kebebasan berbicara saja tidak cukup. Dalam refleksinya yang dalam tentang ruang publik, ia menulis: “The public sphere must be protected from being overwhelmed by mass media and market forces that distort communication” (Ruang publik harus dilindungi agar tidak dikuasai oleh media massa dan kekuatan pasar yang mendistorsi komunikasi). Bagi saya, kalimat yang diucap Habermas terasa seperti nubuat bagi zaman ini, di mana arus informasi begitu deras hingga kebenaran sering tenggelam di dalamnya. Sungguh, di zaman ini kita memiliki lebih banyak suara dari sebelumnya, tetapi tidak selalu memiliki lebih banyak pemahaman.

Penutup

‘Ala kulli hal, peninggalan Habermas, barangkali, bukanlah jawaban yang menenangkan, melainkan panggilan yang menuntut kesabaran. Ia mengajarkan bahwa hidup bersama adalah proses yang rapuh, yang harus terus dirawat melalui percakapan yang jujur. Ia tidak menjanjikan bahwa manusia akan selalu rasional, tetapi ia menolak menyerah pada keyakinan bahwa manusia pasti gagal.

Setelah kepergiannya, yang tersisa bukan hanya karya-karya besar atau pemikirannya yang dibincangkandan menjadi rujukan banyak orang, tetapi sebuah tanggung jawab yang diam-diam berpindah ke tangan kita hari ini. Setiap kali kita memilih untuk mendengar alih-alih memotong, setiap kali kita menimbang alih-alih menghakimi, di situlah warisan Habermas menemukan bentuknya yang paling nyata.

Dan mungkin, di tengah dunia yang semakin bising ini, warisan itu tidak akan hadir sebagai suara yang keras. Ia hadir sebagai refleksi, sebuah keheningan kecil di antara dua kalimat, di mana kita diingatkan bahwa “kata-kata seharusnya tidak digunakan untuk mengalahkan, tetapi untuk menemukan satu sama lain”.

Requiem aeternam Habermas. Allahu a’lam bishowab.[]

  • Penulis: Radea Juli A Hambali, Wakil Dekan Fakultas Ushuluddin UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Wisuda 94-95, UIN Bandung Berikan 10 Anugerah Tahfidz Al-Quran 30 Juz. Ini Daftarnya!

    Jelang Wisuda 94-95, UIN Bandung Berikan 10 Anugerah Tahfidz Al-Quran 30 Juz. Ini Daftarnya!

    • calendar_month Kamis, 7 Des 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Bandung) Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung memberikan anugerah Tahfidz Al-Qur’an 30 Juz. Ini disampaikan di acara pelepasan wisudawan dan wisudawati Fakultas Ushuluddin untuk pelaksanaan Wisuda ke-94 dan 95 UIN Bandung. Acara berlangsung di Aula Anwar Musaddad Kampus I UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Rabu, (6/12/2023). Seluruh penerima anugerah Tahfidz Al-Qur’an 30 Juz merupakan […]

  • Luar Biasa! Zahran Juara 2 Musabaqah Hafalan Al-Qur’an Internasional

    Luar Biasa! Zahran Juara 2 Musabaqah Hafalan Al-Qur’an Internasional

    • calendar_month Jumat, 23 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Hafiz Al-Qur’an asal Langkat, Sumatera Utara, Zahran Auzan meraih juara 2 pada Musabaqah Hafalan Al-Qur’an (MHQ) Tingkat Internasional di Arab Saudi. Musabaqah bertajuk ‘King Abdul Aziz Internasional Holy Qur’an Contest’ ini berlangsung pada pertengahan September 2022 dan diikuti peserta lebih dari 50 negara. “Alhamdulillah, satu lagi prestasi internasional diraih anak kita. Prestasi ini mengharumkan […]

  • Telisik Pemilihan Rektor UIN Bandung Periode 2023-2027

    Telisik Pemilihan Rektor UIN Bandung Periode 2023-2027

    • calendar_month Jumat, 9 Des 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    SIAPA SETELAH MAHMUD? BANDUNG, kanal31.com— Agustus 2019, Prof Dr Mahmud M.Si dilantik sebagai Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, masa bakti 2019 -2023. Pelantikan kala itu adalah yang kedua kalinya bagi Mahmud menduduki jabatan rektor setelah sebelumnya dilantik pada Agustus 2015 untuk masa Bakti 2015-2019. Pasal 9 Peraturan Menteri Agama Republik Indonesia […]

  • Memahami Komunisme, Kenapa Dilarang di Indonesia?

    Memahami Komunisme, Kenapa Dilarang di Indonesia?

    • calendar_month Rabu, 30 Sep 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR kanal31.com — Ketika saya membahas Iran, pasti ada bilang, “Syiah lho!” Ketika membahas Israel, “Dasar zionist.” Ketika membahas LDII kemarin, “Udah masuk LDII ni.” Terbaru saya membahas majalah misterius “Forum” tak sedikit mencap saya “Intel, BIN, agen, CIA.” Kali ini saya mau membahas komunisme. Mudah-mudahan tak dicap “PKI.” Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   […]

  • Hukumnya Makan dan Minum Sambil Berdiri Dalam Islam

    Hukumnya Makan dan Minum Sambil Berdiri Dalam Islam

    • calendar_month Senin, 5 Sep 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Agama Islam telah mengatur tatanan dalam menjalani kehidupan. Mulai dari hal-hal kecil seperti memakai baju, makan, dan minum pun dalam Islam diatur dengan sedemikian rinci agar sesuai dengan hukum syariat dan tentunya sesuai dengan norma-norma adab yang berlaku di kalangan manusia pada umumnya. Jika berbicara mengenai makan dan minum, seringkali kita mendapati seseorang yang makan […]

  • MPLS 2025, Farhan Ajak Anak-Anak Menjadi Pelajar Sejati dan Berkarakter

    MPLS 2025, Farhan Ajak Anak-Anak Menjadi Pelajar Sejati dan Berkarakter

    • calendar_month Senin, 14 Jul 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2025 di Kota Bandung resmi dimulai. Pada momen ini, Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, berharap MPLS menjadi langkah awal yang bermakna bagi seluruh peserta didik baru. “Di sinilah anak-anak akan memulai perjalanan panjang untuk menemukan jati dirinya sebagai insan pembelajar sejati,” ujar Farhan saat membuka […]

expand_less