Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Aktivis, Turunkan Presiden! 

Aktivis, Turunkan Presiden! 

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month Kamis, 23 Apr 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

“Tenang Pak Prabowo, Ada Saya Disini!”

BANDUNG kanal31.com — Ada satu garis tipis yang sering luput dibaca: antara kritik yang sehat dan kritik yang tanpa sadar sedang “ditunggangi”. Di situ medan bermainnya bukan lagi idealisme, tapi kepentingan.

 

Kekuasaan memang wajib dikontrol. Itu bukan debat—itu fondasi demokrasi. Kritik pada pemerintah, termasuk pada Prabowo Subianto, adalah bagian dari menjaga agar kekuasaan tidak liar. Tapi di saat yang sama, kita juga harus jujur: tidak semua gelombang kritik lahir murni dari kesadaran publik. Ada yang didorong, diarahkan, bahkan dipelihara.

 

Narasi “turunkan presiden” itu bukan sekadar ekspresi kekecewaan. Itu adalah pintu. Dan setiap pintu pasti ada yang menunggu di baliknya.

 

Di sinilah otokritiknya. Rakyat sering merasa sedang melawan kekuasaan, padahal bisa jadi sedang membuka jalan bagi kekuasaan lain yang lebih halus cara bermainnya.

 

Oligarki tidak bekerja dengan cara kasar. Mereka tidak perlu turun ke jalan. Mereka cukup meniupkan arah. Membiarkan suara-suara kritis tumbuh, lalu memperkuatnya di titik tertentu, sampai terlihat seperti arus besar yang “alami”. Padahal, arah arusnya sudah didesain.

 

Kalau skenarionya adalah mendorong figur seperti Gibran Rakabuming Raka naik lebih cepat dari seharusnya, maka cara paling efektif bukan menyerangnya secara frontal. Tapi melemahkan yang sedang berkuasa, pelan-pelan, lewat legitimasi publik.

 

Dan di sinilah jebakannya: Kritik yang awalnya tulus bisa berubah fungsi—dari kontrol menjadi alat.

 

Bukan berarti rakyat harus diam. Itu justru berbahaya. Tapi ada satu hal yang lebih penting dari sekadar “berani bersuara”: sadar arah suara itu dibawa ke mana.

 

Beberapa pertanyaan sederhana yang jarang ditanyakan:

 

Kritik ini memperbaiki atau menjatuhkan?

Kalau jatuh, siapa yang paling diuntungkan?

Apakah ada pola narasi yang sama, diulang-ulang, di banyak tempat?

 

Kalau jawabannya mengarah ke satu titik kekuatan tertentu, maka kemungkinan besar itu bukan sekadar kebetulan.

 

Refleksi pahitnya adalah rakyat sering merasa sedang menjadi aktor perubahan, padahal hanya jadi pengeras suara.

 

Jadi sikap paling cerdas hari ini bukan sekadar kritis—tapi kritis terhadap kritik itu sendiri.

 

Kalau tidak begitu, kita bukan sedang mengontrol kekuasaan, kita hanya sedang membantu menggantinya: “Tenang Pak Prabowo, Ada Saya Disini!” Katanya 😊☕🚬

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemenag, BAZNAS, dan BWI Ajak Warga Olahraga Sambil Beramal dalam Wakaf Zakat Fun Run 2024

    Kemenag, BAZNAS, dan BWI Ajak Warga Olahraga Sambil Beramal dalam Wakaf Zakat Fun Run 2024

    • calendar_month Sabtu, 23 Nov 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM JAKARTA –Kementerian Agama (Kemenag), Badan Wakaf Indonesia (BWI), dan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) akan menggelar Wakaf Zakat Fun Run 2024 pada 22 Desember 2024 di Jakarta. Dengan tema “Sehat Bersama, Wakaf dan Zakat untuk Sesama”, acara ini bertujuan mengajak masyarakat berolahraga sekaligus meningkatkan literasi tentang wakaf dan zakat. Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam […]

  • LibraBet Canada Your Winning Edge Now

    LibraBet Canada Your Winning Edge Now

    • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    Auto-generated post_excerpt

  • Setara OJK, Menag Usulkan Otoritas Khusus Dana Keagamaan

    Setara OJK, Menag Usulkan Otoritas Khusus Dana Keagamaan

    • calendar_month Sabtu, 27 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengusulkan pembentukan otoritas khusus yang mengawasi dan mengelola dana keagamaan lintas agama, mirip dengan fungsi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di sektor keuangan. Gagasan ini ia sampaikan dalam Rapat Tingkat Menteri Perencanaan Kartu Kesejahteraan dan Kartu Usaha di Jakarta.   “Kami mengusulkan adanya semacam otoritas khusus, semacam OJK bagi […]

  • Pelatihan, Penulisan Artikel Ilmiah Standar dan Cara Bergabung

    Pelatihan, Penulisan Artikel Ilmiah Standar dan Cara Bergabung

    • calendar_month Kamis, 14 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    Dr. Wahyudin Darmalaksana, M.Ag., Pegiat Kelas Menulis di UIN Sunan Gunung Djati Bandung Selama ini kami bergerak di bidang pelatihan penulisan artikel ilmiah standar. Disebut standar mengingat secara umum artikel ilmiah memiliki pola yang baku. Karena polanya yang baku ini sehingga dipastikan pelatihan penulisan artikel ilmiah berlangsung efektif. Kami telah berusaha mencari model pelatihan yang […]

  • Layani Pemudik Nataru di Pantura, Masjid Jami Hidayatullah 24 Jam Tak Pernah Dikunci

    Layani Pemudik Nataru di Pantura, Masjid Jami Hidayatullah 24 Jam Tak Pernah Dikunci

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    SUBANG Kanal31.com — Masjid Jami Hidayatullah yang berada di Jalan Pantura Ciwaringin, Kecamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat menjadi salah satu masjid ramah pemudik. Masjid ini membuka layanan 24 jam selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Masjid ini melayani ratusan pemudik yang melintas di jalur Pantura dengan menyediakan ruang ibadah, toilet, tempat wudu, serta area istirahat […]

  • Nadiem Makarim, Tumbal Politik Kekuasaan? 

    Nadiem Makarim, Tumbal Politik Kekuasaan? 

    • calendar_month Sabtu, 16 Mei 2026
    • account_circle Alimudin Garbiz, Share Creator, Pemerhati Sosial Politik
    • 0Komentar

    GARUT kanal31.com — Nama Nadiem Makarim belakangan ini kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena inovasi pendidikan. Bukan karena Merdeka Belajar. Bukan karena transformasi digital sekolah. Tetapi karena pusaran isu hukum, tekanan opini, dan berbagai narasi yang terus menggiring publik untuk melihatnya sebagai pihak yang harus dipersalahkan. 🔥⚖️   Dan di titik itulah, akal sehat rakyat mulai […]

expand_less