Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Al-Munqidz Minal Muslim wa Syiah 

Al-Munqidz Minal Muslim wa Syiah 

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

(Kekacauan Berpikir tentang Muslim dan Syiah)

BANDUNG kanal31.com — Menyebut Muslim atau bukan Muslim itu harus jelas. Caranya, tentukan kategorinya atau konteksnya. Dalam kategeori atau konteks apa kita bicara atau menyebut Muslim? Kategori akidah, madzhab fiqh, politik atau sosiologis?

 

Madzhab pun macam-macam bisa dirinci lagi. Ada madzhab aqidah, madzhab fiqih dan madzhab pemikiran.

 

Kalau kategorinya jelas, tidak akan ada keributan diakibatkan kekacauan berpikir tentang Muslim dan Syi’ah (Al-Munqiz minal Muslim wa Syi’ah). Keributan disebabkan tidak jelasnya kategori pembicaraan.

 

Kalau kita mengatakan Syiah itu bukan Muslim, dan menyebut diri kita Muslim, itu pernyataan yang salah.

 

Melawankan Syiah dengan Muslim itu menyalahi kategori. Harusnya, Syi’ah dilawankan dengan Sunni, bukan dengan Muslim.

 

Kalau kita mengatakan orang lain Syi’ah untuk membedakan dengan kita, kita harus menyebut diri Sunni, bukan Muslim. Begitu yang benar. Muslim itu lawannya non-Muslim, beriman lawannya kafir, Syi’ah “lawannya” Sunni.

 

Dalam kategori sosiologis, semua orang yang KTP-nya Islam, keluarga Islam atau kelompok dan aktifis organisasi Islam ya Muslim, mau shalat atau tidak shalat, mau Sunni atau Syiah, mau Ahmadiyah atau Sunda Empire.

 

Sosiologis itu artinya bicaranya kelompok sosial. Disini jangan bicara benar tidaknya keimanan, lurus tidak keimanan. Jadi kacau nanti. Evaluasi kebenaran itu bukan kategori sosiologis.

 

Kalau Syiah itu imannya sesat karena menganggap wahyu itu harusnya turun kepada Ali bin Abi Thalib bukan kepada Muhammad,

 

atau para sahabat dekat Nabi, Abu bakar dan Umar bin Khattab, itu ahli neraka,

 

atau Abu Bakar merebut hak Ali untuk jadi khalifah pertama,

 

atau syahadat dan shalatnya beda, ya sudah itu keyakinan kelompok Syiah saja.

 

Menilai keislaman dan kemuslimannya itu haknya Allah, tapi secara sosiologis mereka adalah Muslim, artinya mereka itu orang² Islam bukan orang Barat, Bule, Cina atau orang Mexico.

 

Soal keimanan yang aneh, kita bisa mengatakan Syiah itu ngaco, tapi menilai kemusliman sebagai kualitas, problemnya bisa ke diri sendiri.

 

Soal Muslim yang benar, kita sendiri saja belum tentu benar iman dan akidahnya. Betapa banyak yang ngakunya Muslim tapi yang disembahnya uang, harta, jabatan, posisi dan kekuasaan.

 

Kalau ke substansi, kita yang mengakui Muslim juga di mata Allah belum tentu Muslim. Betapa banyak yang mengaku Muslim, aslinya munafik.

 

Substansi itu wilayah esensi atau inti. Wilayah substansi itu berat, kebanyakan kita tidak sanggup mencapainya.

 

Muslim tapi tak suka nasehat, Muslim tapi sering ingkar janji dan mudah berdusta, Muslim tapi munafik, Muslim tapi pelit, Muslim tapi korupsi, Muslim tapi hatinya kotor dan keras membatu, Muslim tapi ngomong yang benar takut dipecat dari jabatan, itu semuanya menunjukkan kebelum-musliman kita.

 

Atau rajin shalat berjamaah tapi termasuk “fawailul lil mushallin” (celakalah bagi orang-orang yang shalat!),

 

atau betapa banyak pembaca Al-Qur’an tapi Al-Qur’an justru melaknat pembacanya karena Qur’annya hanya di mulut, di kerongkongan atau hanya di pikirannya, tidak masuk ke hati dan jiwanya.

 

Itu semua kemusliman di wilayah substansi, Muslim yang sebenarnya.

 

Muslim di kategori ini, berani kita menyebut diri sebagai Muslim?

 

Kalau pengakuan sebagai identitas dan percaya diri, itu perlu, tapi bila sebagai pengakuan sudah menjadi Muslim yang benar, itu bisa jadi kesombongan, belum tentu di mata Allah.

 

Jangankan kita, yang kita sebut ulama saja, belum tentu di mata Allah, dia ulama.

 

Jangan-jangan sedang memalingkan umat dari kebenaran dengan penguasaan ayat-ayat Qur’an dan haditsnya.

 

Jadi, lawankanah Syi’ah dengan Sunni bukan dengan Muslim. Kalau dilawankan dengan Muslim pasti akan bermasalah terus, perdebatan terus gak beres-beres, melelahkan, karena memang salah kategori.

 

“Dia Syi’ah, saya Sunni.” “Dia non Muslim, saya Muslim.” Begitu yang benar. Itu namanya tertib pikiran, akal sehat, sehat wal wal afiat.***

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mama Sempur (KH Tubagus Bakri), Simpul Jaringan Haramyn di Tatar Sunda

    Mama Sempur (KH Tubagus Bakri), Simpul Jaringan Haramyn di Tatar Sunda

    • calendar_month Selasa, 7 Apr 2026
    • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Pagi ini, saat udara masih terasa dingin karena Tatar Pasundan telah diguyur hujan semalaman, mari kita menyeduh “kopi sejarah” sebentar, sembari memandangi kabut tipis yang menyelimuti ingatan tentang sebuah kampung bernama Sempur di Purwakarta. Di titik itulah, seorang tokoh bernama Mama Tubagus Bakri, atau yang lebih akrab kita sebut Mama Sempur, berdiri […]

  • Pelepasan Calon Wisudawan Psikologi UIN SGD, Prof. Ulfi: Syukur sebagai Kunci Kesuksesan

    Pelepasan Calon Wisudawan Psikologi UIN SGD, Prof. Ulfi: Syukur sebagai Kunci Kesuksesan

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com–  Suasana haru sekaligus bangga menyelimuti Auditorium Psikologi UIN Sunan Gunung Djati Bandung pada Jumat (10/04/2026). Di hadapan 46 calon alumni ke-107, Dekan Fakultas Psikologi, Prof. Dr. Hj. Ulfiah, M.Si., membeberkan “resep rahasia” untuk menaklukkan dunia pascakampus yang penuh tantangan. Bukan sekadar IPK tinggi, Prof. Ulfi menekankan bahwa kunci utama pembuka gerbang kesuksesan adalah […]

  • Menag, Pesantren Pilar Peradaban Bangsa

    Menag, Pesantren Pilar Peradaban Bangsa

    • calendar_month Kamis, 16 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com –Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut pondok pesantren sebagai lembaga yang telah mengabdikan diri untuk membangun peradaban bangsa selama berabad-abad lamanya. Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi narasumber utama dalam kegiatan Dialog Interaktif dan Podcast bersama Pro 3 Radio Republik Indonesia (RRI) secara virtual. Dialog ini membahas peran strategis Program Prioritas (Protas) Kementerian Agama […]

  • 533 Finalis dari Seluruh Indonesia Siap Rebut Juara di Grand Final Olimpiade PAI 2025

    533 Finalis dari Seluruh Indonesia Siap Rebut Juara di Grand Final Olimpiade PAI 2025

    • calendar_month Minggu, 30 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Kawasan Mercure Convention Center Ancol, Jakarta Utara, hari ini (30/11) berubah menjadi lautan kafilah Pendidikan Agama Islam. Sebanyak 533 finalis terpilih dari 38 provinsi di Indonesia resmi melakukan registrasi ulang untuk mengikuti babak Grand Final Olimpiade PAI Nasional dan Anugerah PAI 2025.   Ratusan peserta yang datang silih berganti sejak siang hari […]

  • Tuuri Casino bonuskoodin mahdollisuudet

    Tuuri Casino bonuskoodin mahdollisuudet

    • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    Auto-generated post_excerpt

  • Dari Desa, Pesisir hingga Kota: Ketua Asprodi MKS Bicara Cetak Biru Pengentasan Kemiskinan

    Dari Desa, Pesisir hingga Kota: Ketua Asprodi MKS Bicara Cetak Biru Pengentasan Kemiskinan

    • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA kanal31.com — Program Studi Manajemen Keuangan Syariah (MKS) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menggelar Studium Generale dengan tema “Peran Keuangan Syariah dalam Pengentasan Kemiskinan di Wilayah Pedesaan, Pesisir, dan Perkotaan”, Selasa, 30 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Teatrikal FEBI Lantai 5 UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini menghadirkan sejumlah […]

expand_less