Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Kebanyakan Tampil Bicara Kehilangan Wibawa

Kebanyakan Tampil Bicara Kehilangan Wibawa

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month Jumat, 31 Jul 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, kanal31.com — Ada satu hukum tua dalam dunia kepemimpinan: kekuasaan dapat dipaksakan, tetapi kewibawaan hanya dapat dipelihara.

 

Dan kewibawaan memiliki rahasia yang sering dilupakan oleh mereka yang memegang kuasa: ia membutuhkan “jarak”.

 

Bukan jarak yang berarti menjauh dari rakyat, bukan pula jarak yang lahir dari kesombongan. Tetapi jarak simbolik—ruang yang membuat seseorang tetap memiliki bobot, membuat kehadirannya tidak menjadi sesuatu yang biasa, dan membuat setiap kata yang keluar memiliki nilai.

 

Sebab sesuatu yang selalu hadir sering kali kehilangan keistimewaannya. Suara yang terdengar setiap saat perlahan berubah menjadi kebisingan. Wajah yang muncul di setiap ruang lama-lama kehilangan daya pesonanya.

 

Dalam dunia kepemimpinan, terlalu dekat pun bisa menjadi bahaya. Ketika seorang pemimpin kehilangan ruang antara dirinya dan massa, ia berisiko kehilangan aura yang membuatnya dihormati.

 

Rahasia inilah yang menarik ketika membaca karya Emrys L. Peters, The Bedouin of Cyrenaica. Dalam penelitiannya tentang masyarakat Badui Cyrenaica dan tradisi tarekat Sanusiyah di Libya, Peters menggambarkan bagaimana kewibawaan seorang syekh tidak semata-mata berasal dari jabatan atau garis keturunan, melainkan dari pengakuan masyarakat terhadap kualitas yang melekat padanya: barakah.

 

Barakah bukan sekadar popularitas. Ia bukan hasil dari seringnya tampil. Ia lahir dari reputasi, kesalehan, kebijaksanaan, dan kemampuan menjaga keseimbangan sosial.

 

Karena itu, seorang syekh sepuh yang telah matang tidak membangun wibawanya dengan memenuhi setiap ruang. Ia tidak perlu menjawab semua persoalan. Ia tidak perlu menjelaskan setiap langkah. Ia tidak perlu hadir dalam setiap keramaian.

 

Justru karena ia tidak selalu terlihat, kehadirannya menjadi bernilai.

 

Orang datang menunggu. Orang mendengar dengan penuh perhatian. Ketika ia berbicara, kata-katanya memiliki bobot karena tidak setiap hari dibagikan.

 

Dalam logika simbol, kelangkaan menciptakan penghormatan.

 

Namun seorang pewaris menghadapi ujian yang berbeda. Ia mungkin menerima kedudukan, tetapi tidak otomatis menerima wibawa yang sama. Jabatan dapat diwariskan, tetapi barakah tidak dapat diwariskan begitu saja.

 

Ia harus diperoleh melalui laku.

 

Di sinilah sering muncul godaan seorang penerus: karena ingin membuktikan diri, ia merasa harus semakin sering hadir, semakin banyak berbicara, semakin sering menjelaskan dirinya kepada publik.

 

Padahal, semakin seseorang sibuk meyakinkan orang lain tentang dirinya, semakin terbuka ruang bagi orang untuk mempertanyakan dirinya.

 

Sebab wibawa tidak tumbuh dari banyaknya kata. Wibawa tumbuh dari keyakinan bahwa ketika seseorang berbicara, ada sesuatu yang memang layak didengar.

 

Peters menunjukkan bahwa dalam masyarakat Badui, kekuasaan bukan hanya soal siapa yang menduduki posisi tertinggi, tetapi bagaimana masyarakat mengakui dan merasakan kualitas kepemimpinannya.

 

Dan pengakuan itu membutuhkan seni menjaga jarak.

 

Terlalu jauh membuat rakyat lupa. Tetapi terlalu dekat membuat rasa hormat terkikis.

 

Pemimpin yang bijaksana memahami seni hadir tanpa menjadi kebiasaan. Ia mendekat tanpa kehilangan ruang. Ia berbicara tanpa membanjiri. Ia menunjukkan kerja, bukan sekadar menunjukkan diri.

 

Sebab seorang pemimpin tidak menjadi besar karena selalu terdengar.

 

Ia menjadi besar ketika rakyat tahu: setiap kali ia berbicara, ada alasan untuk mendengarkan.

 

Matahari tidak menyentuh bumi setiap saat, tetapi seluruh kehidupan bergantung kepadanya. Ia memberi manfaat justru karena berada pada jarak yang tepat.

 

Barangkali itulah pelajaran tua dari padang pasir:

 

Jangan biarkan kata-kata pemimpin menghabiskan wibawa yang seharusnya dipelihara oleh tindakan.

 

Karena pada akhirnya rakyat tidak menghitung berapa kali seorang pemimpin tampil dan berbicara, melainkan menyimpan ingatan tentang apa yang berubah setelah ia hadir. Wibawa tidak tumbuh dari banyaknya penampakan, tetapi dari jejak kebaikan yang tetap terasa bahkan ketika seorang pemimpin memilih untuk berada dalam diam. (Edulatif, No. 57)

  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Rekomendasi Untuk Anda

  • MBG dan Sekolah Rakyat Sejalan Semangat Kemerdekaan

    MBG dan Sekolah Rakyat Sejalan Semangat Kemerdekaan

    • calendar_month Jumat, 1 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan pesan kemerdekaan dalam “Zikir dan Doa Kebangsaan 80 Tahun Indonesia Merdeka”. Acara di Taman Proklamasi Jakarta, Jumat (1/8/2025), ini digelar dalam rangka memperingati 80 Tahun Indonesia Merdeka. Acara ini menjadi momentum spiritual dan kebangsaan untuk merefleksikan perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan dan merawat keberagaman. Merdeka […]

  • Upacara HUT ke-79 RI di IKN: Menag Doakan Nusantara Baru Indonesia Maju Terwujud

    Upacara HUT ke-79 RI di IKN: Menag Doakan Nusantara Baru Indonesia Maju Terwujud

    • calendar_month Minggu, 18 Agt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (PENAJAM) — Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas didaulat membacakan doa dalam Upacara Peringatan HUT ke-79 Republik Indonesia, yang digelar perdana di Ibu Kota Nusantara (IKN). Dalam upacara yang dipimpin Presiden Joko Widodo ini, Menag berdoa agar cita-cita Nusantara Baru Indonesia Maju dapat terwujud tanpa rintangan. “Bimbing dan pandu kami melewati masa-masa peralihan ini, agar […]

  • Inilah Cara Fordek FST PTKIN 2022, Kuatkan Rekognisi Internasional

    Inilah Cara Fordek FST PTKIN 2022, Kuatkan Rekognisi Internasional

    • calendar_month Sabtu, 16 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG UIN Sunan Gunung Djati Bandung menjadi tuan rumah penyelenggaraan Forum Dekan (Fordek) Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) bertajuk sinergi saintek dalam upaya mencapai rekognisi internasional yang berlangsung di Hotel Holiday Inn sejak Jumat-Ahad (15-17/07/2022). Prof. Dr. Hj. Evi Fatimatur Rusydiyah, M.Ag, Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya, Prof. Wasilah […]

  • Hikmah Silaturahmi Idul Fitri: Perspektif Psikologis-Religius

    Hikmah Silaturahmi Idul Fitri: Perspektif Psikologis-Religius

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle S. Miharja, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Idul Fitri merupakan momentum spiritual yang menandai keberhasilan umat Islam dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Dimensi penting dari Idul Fitri adalah silaturahmi, yaitu mempererat hubungan kekerabatan, memperbaiki komunikasi sosial, serta membangun kembali harmoni kehidupan. Dalam perspektif akademik, silaturahmi tidak hanya dipahami sebagai tradisi budaya, tetapi sebagai mekanisme penguatan struktur sosial, kesejahteraan psikologis, dan internalisasi […]

  • 5 Tempat yang Cocok untuk Staycation di Bandung

    5 Tempat yang Cocok untuk Staycation di Bandung

    • calendar_month Senin, 5 Sep 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Bandung merupakan salah satu kota yang banyak dikunjungi wisatawan, selain warga Bandung sendiri, wisatawan dari luar Bandung pun banyak yang menjadikannya sebagai tujuan wisata. Selain menghabiskan waktu untuk liburan dengan menjelajahi berbagai pesona wisata di Bandung, staycation di Bandung bisa jadi alternatif kegiatan seru yang bisa dilakukan saat berkunjung ke Bandung. Inilah beberapa rekomendasi tempat […]

  • Pesan Rektor UIN Bandung: Lulusan harus Berkarakter, Adaptif, dan Bermanfaat bagi Masyarakat

    Pesan Rektor UIN Bandung: Lulusan harus Berkarakter, Adaptif, dan Bermanfaat bagi Masyarakat

    • calendar_month Sabtu, 12 Sep 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

      BANDUNG, kanal31.com — Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. H. Rosihon Anwar, M.Ag. menyampaikan pesan mendalam kepada 1.500 wisudawan dan wisudawati dalam prosesi wisuda yang digelar di Auditorium Anwar Musaddad, (12/09/2026). Dalam amanatnya, ia menekankan pentingnya menjadi lulusan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berkarakter, berakhlak mulia, serta mampu memberikan manfaat nyata […]

expand_less