Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Mahasiswa Tidak Membaca, Dosen Juga Tidak Menulis 

Mahasiswa Tidak Membaca, Dosen Juga Tidak Menulis 

  • account_circle Syahiduz Zaman, dosen TI UIN Malang
  • calendar_month Sabtu, 5 Sep 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MALANG, kanal31.com — Pada pertemuan pertama mata kuliah Sistem Informasi, saya mencoba melakukan hal sederhana: bertanya kepada mahasiswa tentang buku.

 

Saya mengajar empat kelas. Saya menunjukkan buku Principles of Information Systems, buku teks yang selama ini menjadi salah satu rujukan utama bidang Sistem Informasi. Saya bertanya, “Menurut kalian, berapa harga buku ini?”

 

Jawabannya menarik. Ada yang menjawab Rp100.000, Rp120.000, Rp200.000. Saya kemudian memberi tahu harga bukunya: sekitar Rp1,95 juta. Versi ebook-nya sekitar Rp1,5 juta.

 

Mereka terkejut.

 

Saya kemudian bertanya kapan terakhir kali mereka pergi ke toko buku. Jawabannya: setahun lalu. Tidak pernah. Bahkan sebagian besar tidak tahu toko buku yang cukup dikenal di Kota Malang, apalagi pasar buku bekas di kawasan Wilis.

 

Saya lanjut bertanya tentang perpustakaan.

 

“Kapan terakhir ke perpustakaan?”

 

“Semester lalu, Pak.”

 

“Seberapa sering?”

 

“Sebulan sekali.”

 

Ada pula yang menjawab belum pernah sama sekali.

 

Saya mulai curiga bahwa persoalannya bukan sekadar mahasiswa malas membaca.

 

Saya bertanya lagi: kapan terakhir mencari ebook di internet? Apakah mereka tahu sumber-sumber buku digital gratis yang legal? Mereka tidak tahu. Ketika saya bertanya apakah dosen pernah memberikan buku ajar dalam bentuk ebook, mereka menggeleng.

 

Ketika saya bertanya tentang jurnal ilmiah, jawabannya lebih menarik lagi: membaca jurnal ketika ada tugas.

 

Saya bahkan bertanya apakah ada yang berlangganan layanan AI berbayar. Tidak ada satu pun.

 

Empat kelas, dengan variasi jawaban yang kurang lebih sama.

 

Tentu saja ini bukan penelitian. Saya tidak bermaksud menggeneralisasi seluruh mahasiswa Indonesia hanya berdasarkan percakapan di ruang kelas. Tetapi sebagai dosen, saya merasa cukup terganggu oleh apa yang saya dengar.

 

Sebab ada sesuatu yang salah.

 

Mahasiswa berada di universitas, tetapi tidak akrab dengan buku. Mereka mempunyai akses internet, tetapi tidak terbiasa mencari buku. Mereka mempunyai perpustakaan, tetapi tidak merasa perlu datang. Mereka hidup di tengah ledakan informasi, tetapi kesulitan mencari sumber pengetahuan yang lebih serius daripada materi yang diberikan dosen.

 

Lalu kita bertanya-tanya mengapa budaya akademik kita tidak berkembang.

 

Mungkin kita perlu bercermin.

 

Saya menawarkan kepada mereka beberapa buku digital yang tersedia secara gratis dan legal di internet. Sebagian saya terjemahkan ke bahasa Indonesia agar lebih mudah dipahami. Ada yang tebalnya 600 sampai 800 halaman.

 

Mereka langsung menggeleng ketika saya bertanya apakah sanggup menuntaskannya dalam satu semester.

 

Kemudian saya sodorkan buku ajar saya sendiri, sekitar 300 halaman.

 

Mereka menjawab sanggup.

 

Di titik ini saya justru melihat peluang.

 

Mahasiswa mungkin tidak membutuhkan ceramah panjang tentang pentingnya membaca. Mereka membutuhkan ekosistem yang memaksa mereka membaca.

 

Ya, memaksa.

 

Saya kira sudah waktunya universitas berhenti menganggap perpustakaan sebagai fasilitas yang cukup disediakan lalu mahasiswa dipersilakan datang kalau mau.

 

Kalau universitas serius membangun budaya akademik, kunjungan perpustakaan semestinya menjadi bagian dari aktivitas akademik yang terukur. Bukan sekadar imbauan “mari rajin membaca”. Mahasiswa dapat diwajibkan mengunjungi perpustakaan sejumlah tertentu setiap semester, membaca buku tertentu, membuat catatan bacaan, atau mengikuti kegiatan literasi yang dirancang perpustakaan.

 

Sebab sesuatu yang dianggap penting tetapi tidak pernah diwajibkan sering kali hanya menjadi slogan.

 

Hal yang sama berlaku untuk dosen.

 

Saya bahkan ingin mengusulkan kebijakan yang lebih mengganggu: setiap dosen wajib menghasilkan buku ajar untuk mata kuliah yang diampunya.

 

Bukan berarti setiap dosen harus menjadi penulis buku populer. Tidak. Buku ajar dapat sederhana, sepanjang memenuhi standar akademik, relevan dengan mata kuliah, diperbarui secara berkala, dan benar-benar dapat digunakan mahasiswa.

 

Bayangkan jika setiap dosen memiliki buku ajarnya sendiri.

 

Mahasiswa tidak lagi hanya mendapatkan slide presentasi. Mereka memiliki buku yang ditulis oleh orang yang mengajar mereka, menggunakan bahasa yang sesuai dengan karakter mahasiswanya, memuat contoh-contoh yang relevan dengan konteks Indonesia, dan terus diperbaiki berdasarkan pengalaman mengajar.

 

Bukankah itu jauh lebih masuk akal?

 

Seorang dosen yang sudah mengajar mata kuliah yang sama selama lima, sepuluh, bahkan dua puluh tahun semestinya memiliki pengetahuan yang cukup untuk menghasilkan buku ajar.

 

Kalau selama bertahun-tahun yang diwariskan hanya PowerPoint, kita patut bertanya: sebenarnya apa yang sedang dibangun oleh universitas?

 

Masalahnya tidak berhenti di buku.

 

Universitas juga perlu memaksa dosen menulis untuk publik.

 

Setiap fakultas seharusnya mempunyai website yang hidup, bukan website yang hanya aktif ketika ada akreditasi atau penerimaan mahasiswa baru. Dosen dapat dijadwalkan bergiliran menulis artikel populer, ulasan buku, gagasan akademik, hasil penelitian, atau penjelasan suatu persoalan yang berkaitan dengan bidang keilmuannya.

 

Satu dosen menulis bulan ini. Dosen lain bulan berikutnya. Begitu seterusnya sepanjang tahun.

 

Bayangkan sebuah fakultas yang menghasilkan dua atau tiga tulisan berkualitas setiap minggu. Dalam setahun akan terkumpul ratusan tulisan.

 

Itulah jejak intelektual.

 

Bukan sekadar daftar nama dosen, foto kegiatan, dan berita seminar.

 

Universitas terlalu sering mengukur aktivitas akademik dari apa yang mudah dihitung: jumlah penelitian, jumlah publikasi, jumlah seminar, jumlah sertifikat.

 

Padahal ada sesuatu yang lebih sederhana: apakah kampus itu menghasilkan gagasan yang bisa dibaca masyarakat?

 

Mahasiswa membutuhkan contoh.

 

Tidak masuk akal meminta mahasiswa rajin membaca sementara dosennya jarang menulis. Tidak cukup menyuruh mahasiswa mengunjungi perpustakaan jika dosennya sendiri tidak pernah membawa buku ke ruang kelas. Sulit menuntut mahasiswa mencintai pengetahuan jika kultur akademiknya hanya berputar pada slide, tugas, ujian, dan nilai.

 

Karena itu saya kira persoalan literasi mahasiswa tidak boleh diserahkan kepada mahasiswa.

 

Universitas harus turun tangan.

 

Wajibkan mahasiswa membaca.

 

Wajibkan mereka menggunakan perpustakaan.

 

Wajibkan dosen membuat buku ajar.

 

Wajibkan dosen menulis secara rutin.

 

Buat sistemnya. Ukur pelaksanaannya. Evaluasi hasilnya.

 

Tentu saja akan ada yang keberatan. Dosen akan mengatakan beban kerja sudah banyak. Mahasiswa akan mengatakan tugas sudah terlalu banyak. Pengelola universitas mungkin mengatakan anggaran terbatas.

 

Tetapi pertanyaan sederhananya: kalau universitas tidak mampu membangun budaya membaca dan menulis, sebenarnya apa yang sedang kita selenggarakan?

 

Jangan sampai kampus hanya menjadi tempat mahasiswa datang untuk kuliah, kemudian pulang.

 

Kuliah-pulang. Kuliah-pulang.

 

Mahasiswa generasi kupu-kupu.

 

Kita menyebutnya pendidikan tinggi.

 

Padahal jangan-jangan kita hanya sedang mengelola gedung yang kebetulan diisi mahasiswa dan dosen.

 

 

  • Penulis: Syahiduz Zaman, dosen TI UIN Malang

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengungkap Sejarah Qurban Versi Yahudi dan Islam

    Mengungkap Sejarah Qurban Versi Yahudi dan Islam

    • calendar_month Selasa, 26 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR kanal31.com — Esok (27/5/2026), seluruh umat Islam merayakan Hari Raya Idul Adha, atau hari raya qurban. Esok juga negeri ini akan bau sate. Karena, semua pada Pesta Ba..ups, Pesta Sate. Saya tak membahas soal itu, melainkan sejarah qurban. Ternyata, sejarah pemotongan domba atau kambing itu ada kemiripan antara Yahudi dan Islam. Mari kita ungkap sambil […]

  • Wakil Wali Kota Bandung Ajak Jurnalis Junjung Kejujuran dan Integritas

    Wakil Wali Kota Bandung Ajak Jurnalis Junjung Kejujuran dan Integritas

    • calendar_month Minggu, 21 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Wakil Wali Kota Bandung, Erwin, mengajak para jurnalis untuk senantiasa menjunjung tinggi kejujuran dan integritas dalam menjalankan profesinya. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri Pengukuhan dan Rapat Kerja Periode 2025–2028 Pengurus Ikatan Keluarga Alumni (IKA) Jurnalistik UIN Sunan Gunung Djati Bandung di Aula Fakultas Dakwah dan Komunikasi (FDK), Sabtu (20/9/2025). Jurnalis memiliki […]

  • Tak Sekadar Ormawa, MAHAPEKA Jadi Rumah Tempat Pulang

    Tak Sekadar Ormawa, MAHAPEKA Jadi Rumah Tempat Pulang

    • calendar_month Selasa, 18 Feb 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Kegiatan pendidikan dan pelatihan dasar (Diklatsar)  bagi kader muda MAHAPEKA (Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam) UIN Bandung tiada lain bertujuan mengembangkan pemahaman, keterampilan, dan integritas sebagai pecinta alam yang disiplin. Demikian penegasan Kasubtim Pranata Humas Bagian Kemahasiswaan UIN SGD Bandung, Muhammad Helmi Kahfi –mewakili Wakil Rektor III Prof. Husnul Qodim– saat penutupan Diklatsar XXXIX […]

  • Menakar Kesiapan UIN Bandung Menyambut Era Rektor Perempuan Play Button

    Menakar Kesiapan UIN Bandung Menyambut Era Rektor Perempuan

    • calendar_month Sabtu, 4 Jul 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    Oleh: Nanang Sungkawa* Jika Anda melangkah ke koridor utama gedung rektorat UIN Sunan Gunung Djati Bandung, lalu menatap deretan bingkai foto para pemimpin tertinggi dari masa ke masa, Anda akan menangkap sebuah garis linier yang belum retak oleh sejarah. Seluruh nakhoda yang pernah memimpin universitas ini adalah laki-laki. ———— KINI, menjelang momentum suksesi kepemimpinan (2027), […]

  • Melawan Mental Noise dengan Khalwah

    Melawan Mental Noise dengan Khalwah

    • calendar_month Rabu, 6 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Kebisingan mental (mental noise) merupakan fenomena psikologis yang kian meningkat pada era modern akibat tekanan duniawi, informasi berlebih, dan kecemasan masa depan. Dalam perspektif Islam, kondisi ini berakar dari dominasi cinta dunia, godaan syaitan, dan kelemahan hubungan spiritual dengan Allah SWT. Tulisan ini mengkaji praktik khalwah (menyendiri untuk mendekatkan diri kepada Allah) […]

  • Ekonom UGM: Pemerintah Sebaiknya Tak Naikkan Harga Pertalite, Solar dan Tarif Listrik

    Ekonom UGM: Pemerintah Sebaiknya Tak Naikkan Harga Pertalite, Solar dan Tarif Listrik

    • calendar_month Jumat, 22 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-YOGYAKARTA Pemerintah baru-baru ini menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax hingga 30 persen per 1 April lalu. Kebijakan menaikkan harga Pertamax ini dalam rangka menekan angka subsidi BBM di tengah lonjakan harga minyak dunia sepanjang tahun ini. Namun demikian, kenaikan harga BBM ini menambah daftar panjang kenaikan harga barang kebutuhan masyarakat setelah sebelumnya […]

expand_less