Breaking News:
Beranda » NETIZEN » 5 Indikasi Orang yang Menjual Ayat dengan Harga Murah 

5 Indikasi Orang yang Menjual Ayat dengan Harga Murah 

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month Jumat, 6 Nov 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG kanal31.com — Dalam Al-Qur’an, beberapa kali Allah memperingatkan kaum Muslimin tentang larangan menjual ayat dengan harga murah: “… tasytarû biâyâti tsamanan qalîlâ” (menjual/menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang murah).

 

Allah sangat murka dengan perilaku menjual ayat secara murah ini dan Allah mengancamnya dengan siksa yang keras di akhirat kelak. Mengapa diancam dengan siksa-Nya? Karena itu sama dengan merendahkan-Nya dan merendahkan Al-Qur’an yang Agung.

 

“Menjual ayat dengan harga murah” selama ini, belum ada yang menjelaskan ciri-cirinya secara konkrit, rinci dan jelas, mungkin juga dalam kitab-kitab tafsir. Apa sajakah indikasi “menjual ayat dengan harga murah?” Inilah ciri-cirinya.

__________

 

PERTAMA, Menyediakan ayat untuk tujuan salah

 

Menyediakan disini ada tiga pengetian:

 

Pertama, menyediakan atau memberitahu ayat untuk kepentingan orang tanpa mengetahui untuk apa penggunaannya. Padahal, mungkin seseorang ingin mengetahui sebuah ayat untuk tujuan yang salah.

 

Kedua, menyediakan ayat-ayat Qur’an dalam berbagai kesempatan untuk kepentingan materi dan uang termasuk ceramah agama dengan memasang tarif honor. Kalau tidak memenuhi tarif yang dipasang, ia tidak mau.

Ceramah agama yang niat utamanya karena honor, bukan berdakwah lillâhi ta’âla, termasuk menjual ayat. Inilah makna pertama “menjual ayat dengan harga murah.”

 

Ketiga, mengungkapkan ayat untuk melegitimasi tindakan, pikiran, situasi dan persoalan seseorang dengan tidak melihat benar salahnya. Pokoknya agar simpatik, pembicaraan orang walaupun salah didukung dengan ayat Al-Qur’an.

 

Ini adalah perilaku yang dimaksudkan Al-Qur’an: “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.”

_______

 

KEDUA, Menjelaskan ayat secara samar-samar

 

Ciri kedua perilaku “menjual ayat” adalah mengutip atau menyebutkan sebuah ayat Al-Qur’an secara samar-samar demi menyenangkan hadirin atau agar orang tidak tersinggung. Arti yang “sebenarnya” disembunyikan, agar enak kedengarannya, agar mendapat simpatik.

 

“Tasytaru” (menjual/menukarkan) adalah perilaku memilih-milih ayat Al-Qur’an dalam berdakwah atau dalam berkomunikasi. Agar tidak menyinggung orang dipilihlah ayat-ayat yang lunak, yang menghibur dan menyenangkan, sementara ayat-ayat yang terdengar keras, pahit dan isinya ancaman Allah tidak diungkapkan. Dengan begitu, ia tetap laris dan disukai orang lain sebagai mubaligh.

 

“Tasytaru” juga bermakna melegitimasi tindakan, pikiran, situasi dan persoalan seseorang dengan ayat Qur’an tanpa melihat benar salahnya. Pokoknya, agar simpatik, pembicaraan orang (biasanya pemimpin, penguasa, orang bepengaruh atau teman) kita dukung dengan ayat Al-Qur’an.

 

Ini adalah bentuk perilaku menjual ayat dengan harga murah. Ayat Al-Qur’an yang agung dan luhur kita suguhkan tapi dipilih-pilih yang menyenangkannya saja. Akhirnya, benar-benar harga murah atau kerendahan derajatlah yang kita dapatkan yaitu kesenangan orang, pujian orang kepada kita dan sebutan orang bahwa kita ustadz yang bijak dan sebagainya.

 

Padahal kebenaran dalam Al-Qur’an harus ditunjukkan dan diikuti tanpa pilih-pilih, kecuali pertimbangan ketepatan situasi bukan selera dan kepentingan duniawi. Inilah makna kedua yang dimaksudkan Al-Qur’an: “Mereka menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka kerjakan itu.”

 

_______

 

KETIGA, Menyampaikan kebenaran tidak tegas

 

Makna ketiga “menjual ayat denga harga murah” adalah menyatakan kebenaran dengan tidak tegas agar tidak terdengar galak. Menyampaikan kebenaran dengan diplomatis dan bijaksana itu perlu dalam konteks tertentu tapi tidak dengan menghindari ketegasan, kebenaran dan menyembunyikan ancaman Allah.

 

Kebenaran harus disampaikan apa adanya, tidak ada yang disembunyikan. Menyampaikan kebenaran tidak boleh takut resiko, kalau takut resiko ya jangan berdakwah, itu artinya belum siap. Dakwah menyeru kepada kebenaran adalah perilaku luhur dan mulia, tapi tentu ada resikonya. Nabi saja banyak yang membencinya apalagi manusia biasa.

 

Seorang penyeru kebenaran (da’i) harus lebih takut kepada Allah ketimbang takut pada manusia. Dalam menyampaikan kebenaran, yang dituju semata-mata ridha Allah bukan simpati manusia. Rasulullah SAW mengingatkan:

 

“Qulil haqqa walau kâna murran” (sampaikanlah kebenaran walaupun terasa pahit). Orang yang memilih ayat yang lunak-lunak, yang lembut, agar mendapat simpati, agar ceramahnya dipakai lagi, agar tetap laku sebagai ustadz, adalah perilaku “menjual ayat dengan murah” yang disebutkan dalam Al-Qur’an.

_______

 

KEEMPAT, Tidak mau mengingatkan dan menyampaikan kebenaran

 

Ini adalah indikasi keempat dari orang yang menjual ayat dengan harga murah. Ia tidak mau, jarang bahkan tidak pernah mengingatkan orang, menolak menyampaikan kebenaran yang ia tahu karena tidak biasa, merasa kagok, segan, atau takut tidak diberi jabatan dan kedudukan dll. Tahu kebenaran tapi tidak menyampaikan. Ini pun termasuk menjual ayat dengan harga yang sedikit atau murah. Perasaan takut menyinggung dan “tidak enak” (yang tidak proporsional) lebih diikuti daripada menyampaikan kebenaran.

 

Ini termasuk indikasi menjual ayat dengan harga murah. Menukarkan yang mahal (memberikan nasehat kebenaran) dengan yang murah (pertemanan, persahabatan atau relasi yang tidak saling mengingatkan). Seharusnya, bila tak mampu mengingatkan (adh’âful îman), hindari, jangan bergaul dengan orang yang perlu diingatkan tapi kita tidak mampu. Pertemanan dan persahabatan itu akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah kelak di akhirat.

_______

 

KELIMA, Tidak mau belajar ilmu agama

 

Ini adalah orang-orang tidak punya pengetahuan agama untuk meluruskan orang lain berbuat salah dan keliru. Ia biarkan semua, ia maklumi, karena ia sendiri memang tidak punya pengetahuan agama untuk menegurnya. Apalagi bila sama-sama sebagai pelaku keburukan, pemelihara kesalahan dan dosa. Ia tidak tahu mana yang salah dan mana yang benar menurut agama. Orang seperti ini mengaku Muslim tapi tidak pernah mau belajar agama dan bila sengaja tidak mau belajar agama termasuk kepada “menjual ayat dengan harga murah” karena ia lebih memilih yang murah yaitu kebodohannya, ketaktahuan agamanya dan ketakmampuan saling menegur dan memberikan nasehat dalam pergaulannya.***

 

(Kitab Paradigma Hikmah Lima)

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Rekomendasi Untuk Anda

  • Puan Ajak Masyarakat Nyalakan Lentera Kasih Perdamaian dan Toleransi

    Puan Ajak Masyarakat Nyalakan Lentera Kasih Perdamaian dan Toleransi

    • calendar_month Kamis, 26 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA, KANAL31.COM — Ketua DPR RI Dr. (H.C.) Puan Maharani mengajak seluruh masyarakat memperkuat toleransi antar-umay beragama di momen Hari Raya Natal 2024. Ia menekankan toleransi adalah kunci membangun bangsa yang damai.   “Dalam semangat persaudaraan dan menyongsong Tahun Baru, saya ingin mengucapkan selamat merayakan Hari Natal kepada seluruh umat Kristiani di Indonesia. Ini momen yang […]

  • Inilah 6 Jurnal PTKI Masuk Peringkat 10 Besar Asia

    Inilah 6 Jurnal PTKI Masuk Peringkat 10 Besar Asia

    • calendar_month Kamis, 12 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Jurnal ilmiah Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) terus unjuk prestasi. Ada enam jurnal yang kini menduduki peringkat 10 besar tingkat Asia dalam bidang religious studies atau kajian keagamaan. Empat di antaranya meraih peringkat tertinggi pada Q1 (Quartile 1). Selain itu, ada dua jurnal yang berada di peringkat Q2 dan dua jurnal di Q3. Sedang […]

  • Sunan Ampel di Persimpangan Budaya

    Sunan Ampel di Persimpangan Budaya

    • calendar_month Rabu, 13 Mei 2026
    • account_circle Dadan Rusmana, Wakil Rektor I UIN Bandung
    • 0Komentar

    Objektivitas Etika dan Arsitektur Literasi Islam di Nusantara  Kanal31.com — Menapaki tinggalan sejarah cukup memberikan nuansa dan makna tersendiri bagi penelusurnya. Tentunya, Sejarah bukan sekadar deretan angka mati atau kronologi linear yang harus dihapal untuk ujian, melainkan sebuah struktur yang bernapas dalam bentangan “longue durée” (bentangan durasi panjang).   Jika kita memandang Jawa melalui lensa Denys […]

  • Layani Pemudik Nataru di Pantura, Masjid Jami Hidayatullah 24 Jam Tak Pernah Dikunci

    Layani Pemudik Nataru di Pantura, Masjid Jami Hidayatullah 24 Jam Tak Pernah Dikunci

    • calendar_month Rabu, 31 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    SUBANG Kanal31.com — Masjid Jami Hidayatullah yang berada di Jalan Pantura Ciwaringin, Kecamatan Patokbeusi, Subang, Jawa Barat menjadi salah satu masjid ramah pemudik. Masjid ini membuka layanan 24 jam selama libur Natal dan Tahun Baru (Nataru). Masjid ini melayani ratusan pemudik yang melintas di jalur Pantura dengan menyediakan ruang ibadah, toilet, tempat wudu, serta area istirahat […]

  • Rakor Baznas Kaltim: Waryono Pamerkan Praktik Baik Program Kampung Zakat

    Rakor Baznas Kaltim: Waryono Pamerkan Praktik Baik Program Kampung Zakat

    • calendar_month Rabu, 23 Okt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Kalimantan) — Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) provinsi dan kabupaten/kota di Kalimantan Timur menggelar rapat koordinasi terkait pemberdayaan zakat di daerah. Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama Waryono Abdul Ghafur, bercerita bahwa program Kampung Zakat bisa menjadi contoh baik dalam penyaluran zakat yang tepat sasaran. Rakor ini dihadiri 50 perwakilan BAZNAS Provinsi dan […]

  • Luar Biasa! IAIN Kendari Pecahkan Rekor Tercepat Tuntas Penulisan Artikel Ilmiah Mahasiswa

    Luar Biasa! IAIN Kendari Pecahkan Rekor Tercepat Tuntas Penulisan Artikel Ilmiah Mahasiswa

    • calendar_month Minggu, 3 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-KENDARI Mahasiswa tengah didorong untuk melakukan penguatan skills dalam penulisan akademik. Sebab, penulisan akademik merupakan ruh utama mercusuar pendidikan tinggi. Sebagai bentuk komitmen Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah (FUAD) IAIN Kendari untuk penguatan skills akademik mahasiswa maka digelar acara bertajuk Seminar Nasional dan Pendampingan Kelas Menulis. Acara tersebut bertujuan untuk membentuk Kelas Menulis, pelatihan penulisan […]

expand_less