Kamis, 9 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Media dan Pesantren 

Media dan Pesantren 

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jum, 17 Okt 2025
  • comment 0 komentar

BANDUNG Kanal31.com –Ketika melihat tayangan “Xpose Uncensored” di Trans7 yang memicu kontroversi dan kegaduhan di media sosial, sebagai santri, saya geram, marah, tidak terima, sosok Kiai yang sangat dimuliakan di kalangan pesantren, dinarasikan secara tidak proporsional dan direndahkan dengan intonasi dan diksi suara bernada sinis negatif.

Saya menduga, orang-orang yang berada di belakang program tersebut tidak mengenal Kiai dan pondok pesantren secara utuh. Sebagai orang pesantren, saya tahu betul bahwa perjalanan pesantren adalah cerita tentang khidmah, kemandirian, perjuangan bertahan hidup (survival) dan terus berkembang tanpa mengandalkan dan terlalu berharap bantuan pihak lain, termasuk dari negara.

Mendirikan dan mengajar di pesantren adalah perjalanan “hening”. Para kyai melakukan kerja sukarela, berjuang sepenuh hati tanpa terlalu berharap imbalan materi. Di lingkungan pesantren ada satu prinsip nilai yang dipegang teguh oleh para kyai yaitu: “jika kyai berhadap diberi (toma), maka padanya tidak melekat kehormatan ilmu dan dia tidak akan mampu menyuarakan kebenaran”.

Di tengah pergaulan bisnis, politik, dan akademik yang semakin bising dengan hiruk pikuk transaksi dan hitung-hitungan royalti dan remunerasi, saya semakin kagum dan hormat pada para “kiai kampung” yang sudah mengamalkan prinsip voluntarisme dan kerja “pro bono”, sebelum para “aktivis kota” mempopulerkannya.

Namun, bukan berarti kiai tidak mempunyai sisi lemah dan tidak boleh dikritik. Pondok pesantren juga mempunyai kekurangan yang perlu dibenahi. Saat ini, tidak ada lembaga pendidikan yang moderen sekalipun yang sempurna. Kritik juga perlu. Tapi kritik seharusnya dilakukan dengan niat tulus untuk memperbaiki, bukan untuk mempermalukan dan mencari sensasi.

Dalam tayangan kontroversial itu, ada adegan santri memberi amplop kepada kiai dan dinarasikan seolah tradisi itu bersifat “eksploitatif-transaksional”. Padahal dalam tradisi pesantren, hal itu lebih dimaknai sebagai bentuk penghormatan, ekspresi rasa syukur, khidmah, dan adab kepada guru.

Di kalangan pesantren dan orangtua santri ada satu ajaran nilai yang cukup kuat diyakini bahwa keberhasilan belajar seorang anak (santri) tidak hanya ditentukan oleh ikhtiar belajar si anak, tapi juga oleh usaha orang tuanya. Seseorang yang menginginkan anak cucunya menjadi orang berilmu (‘alim) maka dia harus memerhatikan dan menyantuni ahli ilmu (kyai, guru, atau para pengembara yang sedang menuntut ilmu) dan ahli ibadah.

Satu ajaran yang sangat penting dan relevan saat ini, di tengah fenomena pragmatisme orangtua, berkurangnya kepedulian dan partisipasi orangtua dalam pendidikan, serta hilangnya rasa hormat orangtua kepada para pendidik (guru).

Bentuk perhatian dan santunan tersebut, pada beberapa pesantren antara lain diekspresikan dengan pemberian amplop (uang), barang, makanan dari orangtua santri kepada kiai/ustadz, baik diberikan secara langsung atau dititipkan kepada santri. Biasanya pada saat orangtua santri berkunjung ke pesantren atau saat santri kembali ke pesantren setelah liburan.

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Ia juga ruang sosial yang menanamkan moral, disiplin, solidaritas, dan nilai kemanusiaan. Gus Dur menyebutnya sebagai sub kultur yang unik, yang memiliki tradisi dan tata nilai tersendiri yang “khas”. Tradisi pesantren tidak dapat dipahami hanya lewat potongan video atau wawancara singkat. Dibutuhkan waktu, pendalaman makna, plus rasa hormat untuk benar-benar memahami.

Dalam mengkaji tradisi dan nilai-nilai pesantren, seorang jurnalis harus netral, agar informasinya objektif dan tidak bias. Jurnalisme milenial bukanlah sebatas kerja-kerja jurnalistik yang beradaptasi dengan piranti teknologi digital, berani memproduksi berita provokatif yang viral dan “nakal”. Jurnalisme milenial adalah cara kerja jurnalistik yang menghargai tradisi, nilai, dan kearifan lokal, serta mampu memadukan keterampilan teknis, pengetahuan dan nilai-nilai spiritual.

***
Entah disengaja atau tidak, masalah utama narasi tentang kiai dan pesantren dalam program “Xpose Uncensored” Trans7 itu adalah hilangnya “konteks”. Potongan video tidak pernah netral. Ketika disunting dengan cara tertentu, maknanya dapat bergeser sangat jauh dari konteks-nya. Setiap gambar dan kalimat dalam berita, mempunyai makna dan dampak. Tradisi yang seharusnya dimaknai sebagai etika menjadi tampak aneh bagi yang tidak mengenalnya secara utuh.

Sangat disayangkan, framing seperti itu berisiko menciptakan “jarak” antara publik dan pesantren, lembaga pendidikan indigenous (khas) yang diakui sebagai local genius dalam pendidikan nasional karena kemandirian dan keunggulannya—dengan tradisi keilmuannya yang spesifik, melakukan transmisi dan internalisasi nilai-nilai moral kepada masyarakat.

Saya tahu, media mempunyai kebebasan, ada prinsip kebebasan pers untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi tanpa tekanan dari pihak manapun. Namun, kebebasan itu datang bersama tanggung jawab. Sebagai mantan aktivis pers mahasiswa, saya tidak habis mengerti, ada produk jurnalistik sebodoh dan seceroboh itu.

Dari pilihan nama program “Xpose Uncensored” sepertinya mereka ingin disebut sebagai kelompok jurnalis “kritis-pemberani” melawan “sensor” dengan menyematkan kata “uncensored”. Namun, sepertinya mereka belum khatam belajar “jurnalisme kritis” karena mengabaikan riset kritis, prinsip verifikasi, komprehensif, seimbang dan proporsional dalam kerja-kerja jurnalistiknya.

Saya mengerti bahwa cara kerja media terkadang serba cepat dan penuh tekanan, namun hal itu tidak lantas mengabaikan etika jurnalistik, profesionalisme dan idealisme dalam berkarya. Ketika jurnalis mengabaikan prinsip-prinsip itu, tanpa disadari ia sedang menggali kuburnya sendiri.

***
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Jika hendak membuat program tentang Pesantren, redaksi sebaiknya melibatkan tokoh pesantren sejak riset dan pra-produksi. Wartawan harus datang langsung ke lapangan, ikut “mengaji”, memahami dan mendalami pesantren dari dalam. Kiranya dirasa perlu juga ada semacam panduan khusus “etika peliputan” untuk lembaga keagamaan.

Jurnalis harus belajar dari para kiai tentang adab dan konteks. Para kiai juga perlu memahami cara kerja media. Pesantren juga perlu terbuka. Dunia digital tidak dapat dihindari. Banyak pesantren yang sudah mulai mengelola narasinya sendiri. Ada yang membuat film dokumenter, menulis kisah santri, bahkan membuat kanal YouTube yang menampilkan kegiatan pesantren. Langkah-langkah kecil tersebut akan membantu publik melihat pesantren secara utuh.

Peristiwa ini harus menjadi pelajaran bersama. Media harus belajar lebih sensitif dan teliti. Pesantren belajar lebih terbuka dan komunikatif. Masyarakat belajar untuk tidak cepat bereaksi tanpa memahami konteks. Kalau semua pihak mau belajar, luka ini dapat berubah menjadi ruang perbaikan bersama.

Media harus menjadi jembatan penghubung antara publik dan pesantren, merekognisi dan mengamplifikasi setiap jejak pengabdian, peran, dan kontribusi pesantren bagi bangsa dan negara. Cara media memperlakukan dan memberitakan pesantren, menunjukkan seberapa besar media menghargai sejarah, aset, akar budaya, dan nilai spiritual bangsanya sendiri, tanpa kehilangan nalar kritisnya.

Tatang Astarudin, Pimpinan Pondok Pesantren Universal Al-Islamy Bandung dan Pesantren Al-Kahfi Cirebon, Direktur Program Pasca Sarjana Universitas KH Ruhiat (UNIK) Cipasung, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prof Azra : Pendorong Transformasi PTKIN Berpulang

    Prof Azra : Pendorong Transformasi PTKIN Berpulang

    • calendar_month Rab, 21 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM- Innalillahi wa Inna Ilaihi Rojiun, UIN Jakarta kembali berduka. Guru Besar sekaligus Rektor UIN Jakarta periode 1998-2006 Prof. Dr. Azyumardi Azra M.Phil., MA., CBE., wafat di Malaysia hari ini, Ahad (18/9/2022). Almarhum wafat setelah dirawat para dokter RS Serdang Malaysia pasca dinyatakan sakit dalam perjalanannya memenuhi undangan Angkatan Belia Islam Malaysia (ABIM). Informasi wafatnya Profesor […]

  • Kesantunan Bangsa Indonesia Lahir dari Tradisi Pesantren

    Kesantunan Bangsa Indonesia Lahir dari Tradisi Pesantren

    • calendar_month Rab, 22 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menegaskan bahwa kesantunan dan keramahan bangsa Indonesia yang kerap dipuji oleh masyarakat dunia tidak muncul secara tiba-tiba. Nilai-nilai luhur tersebut lahir dari tradisi pesantren dan pendidikan karakter yang diwariskan para kiai serta lembaga keagamaan di Tanah Air.   Pernyataan itu Menag sampaikan saat memberikan amanat dalam Apel […]

  • Aksi Nyata Mahasiswa Manajemen UIN Bandung: 450 Pohon untuk Sumedang

    Aksi Nyata Mahasiswa Manajemen UIN Bandung: 450 Pohon untuk Sumedang

    • calendar_month Ming, 22 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    SUMEDANG Kanal31.com — Mahasiswa Jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali membuktikan bahwa dunia kampus bukan hanya tentang ruang kelas dan teori. Melalui program rutin unggulan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ Manajemen) bertajuk Manajemen Bermasyarakat (MABAR) 2026, mahasiswa turun langsung ke Desa Bugel, kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang untuk melakukan aksi […]

  • Ujang Komarudin : Parpol Harus Rela Jika Penjabat Gubernur DKI Orangnya Presiden

    Ujang Komarudin : Parpol Harus Rela Jika Penjabat Gubernur DKI Orangnya Presiden

    • calendar_month Sel, 6 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Ahli politik dari Universitas Al Azhar Ujang Komarudin mengatakan partai politik (parpol) harus rela, berlapang dada menerima keputusan jika nantinya, Presiden Jokowi memilih Direktur Jenderal (Dirjen) Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri Bahtiar sebagai Penjabat Gubernur DKI Jakarta. “Bagaimana dengan parpol, saya melihatnya harus rela bahwa Pj Gubernur adalah orangnya Presiden Jokowi karena memang penentuannya dilakukan […]

  • Waspada Angin Kencang di Sebagian Besar Jawa Barat!   

    Waspada Angin Kencang di Sebagian Besar Jawa Barat!  

    • calendar_month Kam, 6 Feb 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas 1 Bandung mendeteksi keberadaan Siklon Tropis Taliah yang berpotensi memicu angin kencang di sebagian besar wilayah Jawa Barat. Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung Teguh Rahayu menjelaskan siklon tropis tersebut terpantau berada di Samudra Hindia selatan Jawa Tengah tepatnya di 15,7°LS, 108,2°BT atau sekitar 920 […]

  • Top! Penguatan Moderasi Beragama, Kemenag Gandeng 8 Insan Perbukuan

    Top! Penguatan Moderasi Beragama, Kemenag Gandeng 8 Insan Perbukuan

    • calendar_month Sel, 27 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAl31.COM Kementerian Agama (Kemenag) menggandeng insan perbukuan dalam rangka Penguatan Moderasi Beragama (MB). “Insan perbukuan menjadi bagian penting dalam penguatan Moderasi Beragama. Untuk memastikan mereka terlibat dalam penguatan MB ini, Kemenag melaksanakan sejumlah kegiatan,” ungkap Kepala Puslitbang Lektur, Khazanah Keagamaan dan Manajemen Organisasi (LKKMO) Badan Litbang dan DIklat Kemenag Arskal Salim, di Jakarta, Senin (26/9/2022). […]

expand_less