Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Media dan Pesantren 

Media dan Pesantren 

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Jumat, 17 Okt 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG Kanal31.com –Ketika melihat tayangan “Xpose Uncensored” di Trans7 yang memicu kontroversi dan kegaduhan di media sosial, sebagai santri, saya geram, marah, tidak terima, sosok Kiai yang sangat dimuliakan di kalangan pesantren, dinarasikan secara tidak proporsional dan direndahkan dengan intonasi dan diksi suara bernada sinis negatif.

Saya menduga, orang-orang yang berada di belakang program tersebut tidak mengenal Kiai dan pondok pesantren secara utuh. Sebagai orang pesantren, saya tahu betul bahwa perjalanan pesantren adalah cerita tentang khidmah, kemandirian, perjuangan bertahan hidup (survival) dan terus berkembang tanpa mengandalkan dan terlalu berharap bantuan pihak lain, termasuk dari negara.

Mendirikan dan mengajar di pesantren adalah perjalanan “hening”. Para kyai melakukan kerja sukarela, berjuang sepenuh hati tanpa terlalu berharap imbalan materi. Di lingkungan pesantren ada satu prinsip nilai yang dipegang teguh oleh para kyai yaitu: “jika kyai berhadap diberi (toma), maka padanya tidak melekat kehormatan ilmu dan dia tidak akan mampu menyuarakan kebenaran”.

Di tengah pergaulan bisnis, politik, dan akademik yang semakin bising dengan hiruk pikuk transaksi dan hitung-hitungan royalti dan remunerasi, saya semakin kagum dan hormat pada para “kiai kampung” yang sudah mengamalkan prinsip voluntarisme dan kerja “pro bono”, sebelum para “aktivis kota” mempopulerkannya.

Namun, bukan berarti kiai tidak mempunyai sisi lemah dan tidak boleh dikritik. Pondok pesantren juga mempunyai kekurangan yang perlu dibenahi. Saat ini, tidak ada lembaga pendidikan yang moderen sekalipun yang sempurna. Kritik juga perlu. Tapi kritik seharusnya dilakukan dengan niat tulus untuk memperbaiki, bukan untuk mempermalukan dan mencari sensasi.

Dalam tayangan kontroversial itu, ada adegan santri memberi amplop kepada kiai dan dinarasikan seolah tradisi itu bersifat “eksploitatif-transaksional”. Padahal dalam tradisi pesantren, hal itu lebih dimaknai sebagai bentuk penghormatan, ekspresi rasa syukur, khidmah, dan adab kepada guru.

Di kalangan pesantren dan orangtua santri ada satu ajaran nilai yang cukup kuat diyakini bahwa keberhasilan belajar seorang anak (santri) tidak hanya ditentukan oleh ikhtiar belajar si anak, tapi juga oleh usaha orang tuanya. Seseorang yang menginginkan anak cucunya menjadi orang berilmu (‘alim) maka dia harus memerhatikan dan menyantuni ahli ilmu (kyai, guru, atau para pengembara yang sedang menuntut ilmu) dan ahli ibadah.

Satu ajaran yang sangat penting dan relevan saat ini, di tengah fenomena pragmatisme orangtua, berkurangnya kepedulian dan partisipasi orangtua dalam pendidikan, serta hilangnya rasa hormat orangtua kepada para pendidik (guru).

Bentuk perhatian dan santunan tersebut, pada beberapa pesantren antara lain diekspresikan dengan pemberian amplop (uang), barang, makanan dari orangtua santri kepada kiai/ustadz, baik diberikan secara langsung atau dititipkan kepada santri. Biasanya pada saat orangtua santri berkunjung ke pesantren atau saat santri kembali ke pesantren setelah liburan.

Pesantren bukan hanya tempat belajar agama. Ia juga ruang sosial yang menanamkan moral, disiplin, solidaritas, dan nilai kemanusiaan. Gus Dur menyebutnya sebagai sub kultur yang unik, yang memiliki tradisi dan tata nilai tersendiri yang “khas”. Tradisi pesantren tidak dapat dipahami hanya lewat potongan video atau wawancara singkat. Dibutuhkan waktu, pendalaman makna, plus rasa hormat untuk benar-benar memahami.

Dalam mengkaji tradisi dan nilai-nilai pesantren, seorang jurnalis harus netral, agar informasinya objektif dan tidak bias. Jurnalisme milenial bukanlah sebatas kerja-kerja jurnalistik yang beradaptasi dengan piranti teknologi digital, berani memproduksi berita provokatif yang viral dan “nakal”. Jurnalisme milenial adalah cara kerja jurnalistik yang menghargai tradisi, nilai, dan kearifan lokal, serta mampu memadukan keterampilan teknis, pengetahuan dan nilai-nilai spiritual.

***
Entah disengaja atau tidak, masalah utama narasi tentang kiai dan pesantren dalam program “Xpose Uncensored” Trans7 itu adalah hilangnya “konteks”. Potongan video tidak pernah netral. Ketika disunting dengan cara tertentu, maknanya dapat bergeser sangat jauh dari konteks-nya. Setiap gambar dan kalimat dalam berita, mempunyai makna dan dampak. Tradisi yang seharusnya dimaknai sebagai etika menjadi tampak aneh bagi yang tidak mengenalnya secara utuh.

Sangat disayangkan, framing seperti itu berisiko menciptakan “jarak” antara publik dan pesantren, lembaga pendidikan indigenous (khas) yang diakui sebagai local genius dalam pendidikan nasional karena kemandirian dan keunggulannya—dengan tradisi keilmuannya yang spesifik, melakukan transmisi dan internalisasi nilai-nilai moral kepada masyarakat.

Saya tahu, media mempunyai kebebasan, ada prinsip kebebasan pers untuk mencari, menerima, dan menyampaikan informasi tanpa tekanan dari pihak manapun. Namun, kebebasan itu datang bersama tanggung jawab. Sebagai mantan aktivis pers mahasiswa, saya tidak habis mengerti, ada produk jurnalistik sebodoh dan seceroboh itu.

Dari pilihan nama program “Xpose Uncensored” sepertinya mereka ingin disebut sebagai kelompok jurnalis “kritis-pemberani” melawan “sensor” dengan menyematkan kata “uncensored”. Namun, sepertinya mereka belum khatam belajar “jurnalisme kritis” karena mengabaikan riset kritis, prinsip verifikasi, komprehensif, seimbang dan proporsional dalam kerja-kerja jurnalistiknya.

Saya mengerti bahwa cara kerja media terkadang serba cepat dan penuh tekanan, namun hal itu tidak lantas mengabaikan etika jurnalistik, profesionalisme dan idealisme dalam berkarya. Ketika jurnalis mengabaikan prinsip-prinsip itu, tanpa disadari ia sedang menggali kuburnya sendiri.

***
Ada beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali. Jika hendak membuat program tentang Pesantren, redaksi sebaiknya melibatkan tokoh pesantren sejak riset dan pra-produksi. Wartawan harus datang langsung ke lapangan, ikut “mengaji”, memahami dan mendalami pesantren dari dalam. Kiranya dirasa perlu juga ada semacam panduan khusus “etika peliputan” untuk lembaga keagamaan.

Jurnalis harus belajar dari para kiai tentang adab dan konteks. Para kiai juga perlu memahami cara kerja media. Pesantren juga perlu terbuka. Dunia digital tidak dapat dihindari. Banyak pesantren yang sudah mulai mengelola narasinya sendiri. Ada yang membuat film dokumenter, menulis kisah santri, bahkan membuat kanal YouTube yang menampilkan kegiatan pesantren. Langkah-langkah kecil tersebut akan membantu publik melihat pesantren secara utuh.

Peristiwa ini harus menjadi pelajaran bersama. Media harus belajar lebih sensitif dan teliti. Pesantren belajar lebih terbuka dan komunikatif. Masyarakat belajar untuk tidak cepat bereaksi tanpa memahami konteks. Kalau semua pihak mau belajar, luka ini dapat berubah menjadi ruang perbaikan bersama.

Media harus menjadi jembatan penghubung antara publik dan pesantren, merekognisi dan mengamplifikasi setiap jejak pengabdian, peran, dan kontribusi pesantren bagi bangsa dan negara. Cara media memperlakukan dan memberitakan pesantren, menunjukkan seberapa besar media menghargai sejarah, aset, akar budaya, dan nilai spiritual bangsanya sendiri, tanpa kehilangan nalar kritisnya.

Tatang Astarudin, Pimpinan Pondok Pesantren Universal Al-Islamy Bandung dan Pesantren Al-Kahfi Cirebon, Direktur Program Pasca Sarjana Universitas KH Ruhiat (UNIK) Cipasung, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI)

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Guru MTsN 1 Labura Bikin Taman Mini Madrasah dari Botol Bekas

    Guru MTsN 1 Labura Bikin Taman Mini Madrasah dari Botol Bekas

    • calendar_month Selasa, 23 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    LABURA kanal31.com — Namanya Ernita, guru sekaligus Kepala Perpustakaan Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 1 Labuhanbatu Utara. Ia menciptakan inovasi unik dan ramah lingkungan dengan membuat taman mini di depan ruangan perpustakaan MTsN 1 Labuhanbatu Utara.   Dilansir dari Kemenag, Selasa (23/9/2025), Ernita bercerita bahwa perubahan besar dapat dimulai dari langkah kecil, seperti memanfaatkan limbah plastik […]

  • Dedi Mulyadi Beberkan Seluruh Penasehat Pemdaprov Jabar Bekerja Sukarela Tanpa Biaya

    Dedi Mulyadi Beberkan Seluruh Penasehat Pemdaprov Jabar Bekerja Sukarela Tanpa Biaya

    • calendar_month Kamis, 20 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, menegaskan seluruh tenaga penasehat di lingkungan Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat akan bekerja secara sukarela tanpa menerima honorarium. Kebijakan ini ditegaskannya usai dilantik sebagai Gubernur Jabar di Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (20/2/2025). Pernyataan ini sekaligus menanggapi keinginan mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Susi Pudjiastuti, yang bersedia menjadi […]

  • Sains Buktikan Bulan Menjauhi Bumi Layaknya Keterangan Alquran

    Sains Buktikan Bulan Menjauhi Bumi Layaknya Keterangan Alquran

    • calendar_month Selasa, 19 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Sains telah membuktikan bahwa Bulan bergerak menjauhi Bumi, hal ini layaknya keterangan dalam Alquran. Disebutkan, pada akhirnya Bulan akan meledak. Dirangkum dari buku ‘Sains dalam Alquran’ karya Nadiah Thayyarah dijelaskan, jika penelitian-penelitian astronomis telah membuktikan bahwa Bulan terus-menerus menjauh dari Bumi. Pakar astronomi mengatakan, Bulan yang berjarak 300 ribu kilometer dari Bumi terus menjauh, […]

  • Membaca Konstelasi Pemilihan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya 

    Membaca Konstelasi Pemilihan Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya 

    • calendar_month Minggu, 2 Agt 2026
    • account_circle Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
    • 0Komentar

    SURABAYA, kanal31.com — Pemilihan rektor di perguruan tinggi bukan sekadar proses administratif untuk menentukan siapa yang akan memimpin kampus empat tahun ke depan. Di baliknya terdapat pertarungan gagasan, rekam jejak akademik, kepemimpinan birokrasi, jaringan kelembagaan, bahkan dinamika politik yang tidak selalu tampak di permukaan. Hal itu juga terlihat pada kontestasi pemilihan Rektor UIN Sunan Ampel (UINSA) […]

  • Bakal Guncang UGM, Dua Tim Debat Hukum UIN Bandung Tembus Final Arena Argumentasi RDK 1447 H

    Bakal Guncang UGM, Dua Tim Debat Hukum UIN Bandung Tembus Final Arena Argumentasi RDK 1447 H

    • calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com – Panggung debat hukum nasional kembali dikejutkan oleh taring tajam delegasi dari Kota Kembang. Lembaga Kajian dan Debat Mahasiswa (LKDM) Ilmu Hukum, Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sukses meloloskan dua tim sekaligus ke babak final ajang bergengsi Arena Argumentasi Ramadhan di Kampus (RDK) 1447 H di Universitas Gadjah […]

  • Ribuan Jamaah Al Ma’soem Peringati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

    Ribuan Jamaah Al Ma’soem Peringati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW

    • calendar_month Jumat, 31 Jan 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    SUMEDANG, kanal31.com– Ribuan siswa SMP, SMA, mahasiswa Ma’soem University, serta karyawan dan staf Yayasan Al Ma’soem Bandung mengikuti peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 1446 Hijriyah di Dome Al Ma’soem Jalan Raya Cileunyi No 22 Desa Cipacing Kecamatan Jatinangor Kabupaten Sumedang, Jumat (31/1/2025). Ketua Yayasan Al Ma’soem Bandung, Prof. H. Ceppy Nasahi Ma’soem mengatakan […]

expand_less