Sabtu, 18 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Kata Prabowo: Bukan Membangun Bangsa, Tapi Mentransformasikan 

Kata Prabowo: Bukan Membangun Bangsa, Tapi Mentransformasikan 

  • account_circle Ija Suntana, Guru Besar UIN Bandung
  • calendar_month Jum, 20 Mar 2026
  • comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com — Tulisan ini saya sarikan dari jawaban Prabowo Subianto dalam acara “Presiden Prabowo Menjawab”, yang disiarkan oleh TVRI Nasional tadi malam (19 Maret 2026). Saya menganggap penting paparan ini, sehingga perlu menuangkannya dalam tulisan sekalipun cukup pendek.

Selamat menyimak!

Jika realitas menunjukkan bahwa pembangunan tidak lagi otomatis menghasilkan mobilitas sosial, maka konsekuensinya jelas: tata kelola negara tidak bisa lagi bertumpu pada paradigma pembangunan, melainkan harus beralih pada paradigma transformasi.

Pembangunan cenderung menekankan ekspansi—menambah infrastruktur, memperbesar anggaran, memperluas program. Sementara transformasi menuntut perubahan mendasar—menggeser struktur ekonomi, memperbaiki cara kerja institusi, dan menata ulang relasi antara negara, pasar, dan masyarakat.

Perubahan paradigma ini bukan perkara teknokratis semata, melainkan soal keberanian politik. Transformasi selalu mengandung risiko: mengguncang zona nyaman, mengoreksi kebijakan lama, bahkan menabrak kepentingan yang sudah mapan. Karena itu, ia mensyaratkan kepemimpinan puncak negara yang tidak hanya administratif, tetapi juga visioner dan berani mengambil keputusan yang tidak populer dalam jangka pendek, namun strategis dalam jangka panjang. Tanpa keberanian ini, transformasi akan berhenti sebagai slogan, sementara praktik tata kelola tetap berjalan seperti biasa.

Namun, kepemimpinan puncak saja tidak cukup. Transformasi tidak bisa dijalankan oleh satu orang, bahkan oleh satu institusi. Ia membutuhkan kesiapan dan keselarasan seluruh aparatur negara. Birokrasi tidak lagi cukup bekerja dengan pola rutinitas dan kepatuhan prosedural, tetapi harus bergerak dengan orientasi hasil dan keberanian berinovasi. Aparatur negara dituntut menjadi agen perubahan, bukan sekadar pelaksana kebijakan. Ini berarti perubahan kultur kerja: dari yang hierarkis dan kaku menjadi adaptif, kolaboratif, dan responsif terhadap dinamika sosial-ekonomi.

Di titik ini, kita sering terjebak pada harapan berlebih kepada negara—seolah transformasi adalah proyek yang bisa diselesaikan oleh pemerintah, bahkan oleh seorang presiden. Padahal, transformasi sejati selalu bersifat kolektif. Ia tidak hanya membutuhkan negara yang berubah, tetapi juga masyarakat yang bertransformasi. Rakyat tidak bisa lagi hanya menjadi objek kebijakan, tetapi harus menjadi subjek perubahan.

Dalam konteks ini, kelas menengah yang menyusut dan kelas terdidik yang menganggur harus membaca situasi sebagai panggilan untuk beradaptasi. Dunia kerja telah berubah, struktur ekonomi bergeser, dan kompetensi yang dibutuhkan tidak lagi sama dengan masa lalu. Karena itu, upaya untuk meningkatkan keterampilan, berinovasi, dan menciptakan nilai tambah tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada negara. Masyarakat harus aktif menjemput transformasinya sendiri—melalui kewirausahaan, pembelajaran berkelanjutan, dan keberanian keluar dari pola lama.

Dengan demikian, transformasi bangsa adalah kerja berjamaah. Negara menyediakan arah, regulasi, dan ekosistem. Birokrasi memastikan implementasi yang efektif dan adaptif. Sementara masyarakat mengisi ruang-ruang peluang dengan kreativitas dan kerja keras. Ketiganya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Jika negara bergerak tanpa masyarakat yang siap, kebijakan akan mandek. Jika masyarakat bergerak tanpa dukungan negara, potensi akan terhambat. Dan jika birokrasi tidak berubah, keduanya akan tersandera.

Karena itu, yang dibutuhkan hari ini adalah kesadaran kolektif bahwa kita sedang berada di persimpangan. Melanjutkan pola pembangunan lama hanya akan memperdalam ketimpangan dan memperlemah struktur sosial. Sebaliknya, memilih jalan transformasi berarti bersedia berubah secara bersama-sama—negara, aparatur, dan rakyat.

Transformasi bukan proyek satu periode, bukan pula agenda satu pemimpin. Ia adalah gerakan bersama yang menuntut konsistensi, keberanian, dan partisipasi luas.

Ija Suntana, Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara UIN Bandung 

 

  • Penulis: Ija Suntana, Guru Besar UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Sekecil Apa pun Musibah

    Sekecil Apa pun Musibah

    • calendar_month Sab, 4 Jan 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, KANAL31.COM — Sekecil apa pun musibah pasti ada hikmah. Bahkan agama Islam (sebuah riwayat) menyebutkan sebagai penggugur dosa. Kira-kira dosa apa yang digugurkan dengan musibah? Ini perlu digali kembali dan ditemukan relevansinya. Jumat pagi berangkat menuju tempat kerja. Sampai di perempatan Mochammad Toha Kota Bandung. Karena lampu merah, motor pun direm. Tak disangka ban […]

  • Inilah Dimsum Inmons: Dari Hobi Jadi Hoki

    Inilah Dimsum Inmons: Dari Hobi Jadi Hoki

    • calendar_month Sen, 15 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    Banyak kisah orang yang menapaki kesuksesannya dari hobi. Hal itu juga yang dialami oleh Ani Andryani. Hobi berkuliner dan memasak membawanya menjadi pengusaha sukses.   Ani adalah pemilik Dimsum Inmons yang berada di Gang Sartika No.38, Jalan Asep Berlian Cicadas Kota Bandung.   Ia mengisahkan awal perjalanannya dari penggemar kuliner hingga akhirnya menjadi pengusaha.   […]

  • Elektabilitas Kang Emil sebagai Cawapres 2024 Duduki Posisi Teratas

    Elektabilitas Kang Emil sebagai Cawapres 2024 Duduki Posisi Teratas

    • calendar_month Sab, 29 Okt 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Litbang Kompas merilis hasil survei elektabilitas tokoh-tokoh yang namanya masuk bursa wakil presiden (wapres) 2024. Hasilnya, Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil menduduki posisi teratas.   Dikutip dari Litbang Kompas, Rabu (26/10/2022), survei bersifat periodik dengan metode wawancara tatap muka random sampling. Survei digelar sejak 24 September hingga 7 Oktober, di mana jumlah respondennya sebanyak 1.200 […]

  • Yuk Ikutan Beasiswa Cendekia Baznas 2024

    Yuk Ikutan Beasiswa Cendekia Baznas 2024

    • calendar_month Rab, 31 Jul 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — Beasiswa Cendekia BAZNAS merupakan program BAZNAS yang memiliki tugas menyediakan dana pendidikan demi terjaminnya keberlangsungan program pendidikan sebagai pertanggungjawaban antar generasi dan menyiapkan generasi penerus bangsa yang memiliki kedalaman ilmu pengetahuan, akhlak yang luhur, unggul dan berdaya saing. Untuk itu, Kami mengundang mahasiswa UIN Maulana Malik Ibrahim Malang yang memenuhi kriteria untuk mendaftar […]

  • Prof. Dudang: FEBI UIN SGD Cetak Calon Pemimpin Kompeten Bidang Ekbis, Berkarakter, dan Berintegritas

    Prof. Dudang: FEBI UIN SGD Cetak Calon Pemimpin Kompeten Bidang Ekbis, Berkarakter, dan Berintegritas

    • calendar_month Jum, 30 Agu 2024
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag mengucapkan selamat datang dan bergabung kepada mahasiswa baru di fakultas yang mendidik insan kompeten bidang ekonomi dan bisnis (ekbis), berkarakter, bermoral, dan berintegritas tinggi. Hal itu disampaikan Prof. Dudang saat membuka acara Pengenalan Budaya Akademik […]

  • Inilah Strategi Unpad Susun Artikel Ilmiah untuk Publikasi di Jurnal Bereputasi

    Inilah Strategi Unpad Susun Artikel Ilmiah untuk Publikasi di Jurnal Bereputasi

    • calendar_month Sab, 23 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-SUMEDANG Publikasi di jurnal internasional bereputasi merupakan kewajiban bagi dosen, peneliti, dan mahasiswa Doktor. Kendati demikian, masih banyak akademisi yang kesulitan untuk menulis artikel ilmiah yang siap dipublikasikan di jurnal. Penulisan artikel yang tidak sesuai akan mudah ditolak untuk dipublikasikan. Dosen Departemen Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran Dr. Adiatma Siregar menjelaskan, publikasi merupakan […]

expand_less