Sabtu, 18 Apr 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Kata Prabowo: Bukan Membangun Bangsa, Tapi Mentransformasikan 

Kata Prabowo: Bukan Membangun Bangsa, Tapi Mentransformasikan 

  • account_circle Ija Suntana, Guru Besar UIN Bandung
  • calendar_month Jum, 20 Mar 2026
  • comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com — Tulisan ini saya sarikan dari jawaban Prabowo Subianto dalam acara “Presiden Prabowo Menjawab”, yang disiarkan oleh TVRI Nasional tadi malam (19 Maret 2026). Saya menganggap penting paparan ini, sehingga perlu menuangkannya dalam tulisan sekalipun cukup pendek.

Selamat menyimak!

Jika realitas menunjukkan bahwa pembangunan tidak lagi otomatis menghasilkan mobilitas sosial, maka konsekuensinya jelas: tata kelola negara tidak bisa lagi bertumpu pada paradigma pembangunan, melainkan harus beralih pada paradigma transformasi.

Pembangunan cenderung menekankan ekspansi—menambah infrastruktur, memperbesar anggaran, memperluas program. Sementara transformasi menuntut perubahan mendasar—menggeser struktur ekonomi, memperbaiki cara kerja institusi, dan menata ulang relasi antara negara, pasar, dan masyarakat.

Perubahan paradigma ini bukan perkara teknokratis semata, melainkan soal keberanian politik. Transformasi selalu mengandung risiko: mengguncang zona nyaman, mengoreksi kebijakan lama, bahkan menabrak kepentingan yang sudah mapan. Karena itu, ia mensyaratkan kepemimpinan puncak negara yang tidak hanya administratif, tetapi juga visioner dan berani mengambil keputusan yang tidak populer dalam jangka pendek, namun strategis dalam jangka panjang. Tanpa keberanian ini, transformasi akan berhenti sebagai slogan, sementara praktik tata kelola tetap berjalan seperti biasa.

Namun, kepemimpinan puncak saja tidak cukup. Transformasi tidak bisa dijalankan oleh satu orang, bahkan oleh satu institusi. Ia membutuhkan kesiapan dan keselarasan seluruh aparatur negara. Birokrasi tidak lagi cukup bekerja dengan pola rutinitas dan kepatuhan prosedural, tetapi harus bergerak dengan orientasi hasil dan keberanian berinovasi. Aparatur negara dituntut menjadi agen perubahan, bukan sekadar pelaksana kebijakan. Ini berarti perubahan kultur kerja: dari yang hierarkis dan kaku menjadi adaptif, kolaboratif, dan responsif terhadap dinamika sosial-ekonomi.

Di titik ini, kita sering terjebak pada harapan berlebih kepada negara—seolah transformasi adalah proyek yang bisa diselesaikan oleh pemerintah, bahkan oleh seorang presiden. Padahal, transformasi sejati selalu bersifat kolektif. Ia tidak hanya membutuhkan negara yang berubah, tetapi juga masyarakat yang bertransformasi. Rakyat tidak bisa lagi hanya menjadi objek kebijakan, tetapi harus menjadi subjek perubahan.

Dalam konteks ini, kelas menengah yang menyusut dan kelas terdidik yang menganggur harus membaca situasi sebagai panggilan untuk beradaptasi. Dunia kerja telah berubah, struktur ekonomi bergeser, dan kompetensi yang dibutuhkan tidak lagi sama dengan masa lalu. Karena itu, upaya untuk meningkatkan keterampilan, berinovasi, dan menciptakan nilai tambah tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada negara. Masyarakat harus aktif menjemput transformasinya sendiri—melalui kewirausahaan, pembelajaran berkelanjutan, dan keberanian keluar dari pola lama.

Dengan demikian, transformasi bangsa adalah kerja berjamaah. Negara menyediakan arah, regulasi, dan ekosistem. Birokrasi memastikan implementasi yang efektif dan adaptif. Sementara masyarakat mengisi ruang-ruang peluang dengan kreativitas dan kerja keras. Ketiganya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Jika negara bergerak tanpa masyarakat yang siap, kebijakan akan mandek. Jika masyarakat bergerak tanpa dukungan negara, potensi akan terhambat. Dan jika birokrasi tidak berubah, keduanya akan tersandera.

Karena itu, yang dibutuhkan hari ini adalah kesadaran kolektif bahwa kita sedang berada di persimpangan. Melanjutkan pola pembangunan lama hanya akan memperdalam ketimpangan dan memperlemah struktur sosial. Sebaliknya, memilih jalan transformasi berarti bersedia berubah secara bersama-sama—negara, aparatur, dan rakyat.

Transformasi bukan proyek satu periode, bukan pula agenda satu pemimpin. Ia adalah gerakan bersama yang menuntut konsistensi, keberanian, dan partisipasi luas.

Ija Suntana, Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara UIN Bandung 

 

  • Penulis: Ija Suntana, Guru Besar UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Moderasi Beragama Solusi Atasi Masalah Geopolitik

    Moderasi Beragama Solusi Atasi Masalah Geopolitik

    • calendar_month Kam, 8 Agu 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (ACEH) — Penguatan Moderasi Beragama terus dilakukan di berbagai lini, termasuk diplomasi internasional. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyampaikan bahwa Moderasi Beragama dapat menjadi solusi atas ketidakpastian geopolitik global saat ini. Pernyataan ini disampaikan Staf Ahli Menteri Luar Negeri RI Bidang Hubungan Antarlembaga Muhsin Syihab saat menjadi narasumber dalam Diskusi Terbuka di UIN Ar-Raniry, Banda […]

  • Selamat! 1.562 Peserta Lulus Uji Kompetensi Calon Mahasiswa Al Azhar Mesir 2024

    Selamat! 1.562 Peserta Lulus Uji Kompetensi Calon Mahasiswa Al Azhar Mesir 2024

    • calendar_month Ming, 28 Jul 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — JAKARTA — Kementerian Agama telah mengumumkan hasil akhir Uji Kompetensi (Ikhtibar Tashfiyah atau Tahdid Mustawa) Calon Mahasiswa Universitas Al Azhar Mesir 2024. Total ada lebih 1.500 calon mahasiswa yang dinyatakan lulus pada uji kompetensi tahun ini. Uji Kompetensi dilaksanakan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama RI bekerja sama dengan Markaz Syekh Zayed li Ta’lim […]

  • Rakernas ASIKOPTI Periode 2023-2026 : Pentingnya Sinergi dan Kolaborasi Perguruan Tinggi Islam

    Rakernas ASIKOPTI Periode 2023-2026 : Pentingnya Sinergi dan Kolaborasi Perguruan Tinggi Islam

    • calendar_month Jum, 14 Jun 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM — Asosiasi Ilmu Komunikasi Perguruan Tinggi Islam (ASIKOPTI) sukses menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) di Shakti Hotel, Kamis (13/6/2024). Acara yang dipimpin oleh Dr. Rika Lusri Virga, M.A. ini mengusung agenda penting berupa pembahasan dan penetapan program kerja ASIKOPTI untuk periode 2023-2026. Dalam RAKERNAS ini, ASIKOPTI menetapkan beberapa program kerja strategis yang terbagi dalam […]

  • Perkuat Tata Kelola JDIH, UIN Bandung Kunjungi Biro Hukum Kemenag RI

    Perkuat Tata Kelola JDIH, UIN Bandung Kunjungi Biro Hukum Kemenag RI

    • calendar_month Jum, 19 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Suasana diskusi hangat mewarnai kunjungan studi tiru pengelolaan Jaringan Dokumentasi dan Informasi Hukum (JDIH) yang dilakukan Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung ke Biro Hukum dan Kerja Sama Luar Negeri (BKSLN) Kementerian Agama Republik Indonesia, Rabu (17/12/2025). Rombongan UIN Bandung dipimpin oleh Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Prof. Dr. H. Fauzan […]

  • Perjuangkan Moderasi Beragama, LHS Terima Anugerah Doktor Kehormatan di UIN Jakarta

    Perjuangkan Moderasi Beragama, LHS Terima Anugerah Doktor Kehormatan di UIN Jakarta

    • calendar_month Sel, 31 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA UIN Jakarta menganugerahkan gelar Doktor Kehormatan atau Doctor Honoris Causa (Dr H.C.) bidang Pengkajian Islam Peminatan Moderasi Beragama kepada Menteri Agama RI 2009-2014, KH Lukman Hakim Saifuddin (LHS). Gelar ini diberikan atas dedikasi keilmuan dan kontribusi Lukman yang dilakukan secara konsisten hingga kini. Penganugerahan Doktor Kehormatan sendiri dilakukan dalam sidang senat terbuka di Gedung […]

  • Top! Baru Semester I, Mahasiswa UIN Jakarta Terbitkan 3 Buku dan Puluhan Artikel Jurnal

    Top! Baru Semester I, Mahasiswa UIN Jakarta Terbitkan 3 Buku dan Puluhan Artikel Jurnal

    • calendar_month Ming, 9 Mar 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com –Mahasiswa Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta sejak awal kuliah dilatih untuk produktif menulis. Hasilnya, mahasiswa semester I tahun akademik 2024/2025 telah menghasilkan tiga buku ber-ISBN, 18 artikel yang disubmit ke jurnal terakreditasi Sinta, dan ratusan opini yang terbit pada sejumlah portal media online. Ketiga buku tersebut berjudul “Modernisasi, Teknologi, dan Islam”, […]

expand_less