Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Kata Prabowo: Bukan Membangun Bangsa, Tapi Mentransformasikan 

Kata Prabowo: Bukan Membangun Bangsa, Tapi Mentransformasikan 

  • account_circle Ija Suntana, Guru Besar UIN Bandung
  • calendar_month Jumat, 20 Mar 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG kanal31.com — Tulisan ini saya sarikan dari jawaban Prabowo Subianto dalam acara “Presiden Prabowo Menjawab”, yang disiarkan oleh TVRI Nasional tadi malam (19 Maret 2026). Saya menganggap penting paparan ini, sehingga perlu menuangkannya dalam tulisan sekalipun cukup pendek.

Selamat menyimak!

Jika realitas menunjukkan bahwa pembangunan tidak lagi otomatis menghasilkan mobilitas sosial, maka konsekuensinya jelas: tata kelola negara tidak bisa lagi bertumpu pada paradigma pembangunan, melainkan harus beralih pada paradigma transformasi.

Pembangunan cenderung menekankan ekspansi—menambah infrastruktur, memperbesar anggaran, memperluas program. Sementara transformasi menuntut perubahan mendasar—menggeser struktur ekonomi, memperbaiki cara kerja institusi, dan menata ulang relasi antara negara, pasar, dan masyarakat.

Perubahan paradigma ini bukan perkara teknokratis semata, melainkan soal keberanian politik. Transformasi selalu mengandung risiko: mengguncang zona nyaman, mengoreksi kebijakan lama, bahkan menabrak kepentingan yang sudah mapan. Karena itu, ia mensyaratkan kepemimpinan puncak negara yang tidak hanya administratif, tetapi juga visioner dan berani mengambil keputusan yang tidak populer dalam jangka pendek, namun strategis dalam jangka panjang. Tanpa keberanian ini, transformasi akan berhenti sebagai slogan, sementara praktik tata kelola tetap berjalan seperti biasa.

Namun, kepemimpinan puncak saja tidak cukup. Transformasi tidak bisa dijalankan oleh satu orang, bahkan oleh satu institusi. Ia membutuhkan kesiapan dan keselarasan seluruh aparatur negara. Birokrasi tidak lagi cukup bekerja dengan pola rutinitas dan kepatuhan prosedural, tetapi harus bergerak dengan orientasi hasil dan keberanian berinovasi. Aparatur negara dituntut menjadi agen perubahan, bukan sekadar pelaksana kebijakan. Ini berarti perubahan kultur kerja: dari yang hierarkis dan kaku menjadi adaptif, kolaboratif, dan responsif terhadap dinamika sosial-ekonomi.

Di titik ini, kita sering terjebak pada harapan berlebih kepada negara—seolah transformasi adalah proyek yang bisa diselesaikan oleh pemerintah, bahkan oleh seorang presiden. Padahal, transformasi sejati selalu bersifat kolektif. Ia tidak hanya membutuhkan negara yang berubah, tetapi juga masyarakat yang bertransformasi. Rakyat tidak bisa lagi hanya menjadi objek kebijakan, tetapi harus menjadi subjek perubahan.

Dalam konteks ini, kelas menengah yang menyusut dan kelas terdidik yang menganggur harus membaca situasi sebagai panggilan untuk beradaptasi. Dunia kerja telah berubah, struktur ekonomi bergeser, dan kompetensi yang dibutuhkan tidak lagi sama dengan masa lalu. Karena itu, upaya untuk meningkatkan keterampilan, berinovasi, dan menciptakan nilai tambah tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada negara. Masyarakat harus aktif menjemput transformasinya sendiri—melalui kewirausahaan, pembelajaran berkelanjutan, dan keberanian keluar dari pola lama.

Dengan demikian, transformasi bangsa adalah kerja berjamaah. Negara menyediakan arah, regulasi, dan ekosistem. Birokrasi memastikan implementasi yang efektif dan adaptif. Sementara masyarakat mengisi ruang-ruang peluang dengan kreativitas dan kerja keras. Ketiganya tidak bisa berjalan sendiri-sendiri.

Jika negara bergerak tanpa masyarakat yang siap, kebijakan akan mandek. Jika masyarakat bergerak tanpa dukungan negara, potensi akan terhambat. Dan jika birokrasi tidak berubah, keduanya akan tersandera.

Karena itu, yang dibutuhkan hari ini adalah kesadaran kolektif bahwa kita sedang berada di persimpangan. Melanjutkan pola pembangunan lama hanya akan memperdalam ketimpangan dan memperlemah struktur sosial. Sebaliknya, memilih jalan transformasi berarti bersedia berubah secara bersama-sama—negara, aparatur, dan rakyat.

Transformasi bukan proyek satu periode, bukan pula agenda satu pemimpin. Ia adalah gerakan bersama yang menuntut konsistensi, keberanian, dan partisipasi luas.

Ija Suntana, Guru Besar Ilmu Hukum Tata Negara UIN Bandung 

 

  • Penulis: Ija Suntana, Guru Besar UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Jelang Ujian SSE UM-PTKIN 2022, Ini Harus Dipersiapkan Peserta

    Jelang Ujian SSE UM-PTKIN 2022, Ini Harus Dipersiapkan Peserta

    • calendar_month Senin, 6 Jun 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-SEMARANG Pendaftaran Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (UM-PTKIN) 2022 sudah ditutup. Panitia akan menggelar uji coba pelaksanaan ujian secara daring. “Saat ini tengah dilakukan persiapan ujian secara online lewat Aplikasi  SSE,” terang Ketua Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru PTKIN 2022, Imam Taufiq, di Semarang, Senin (6/6/2022). Menurutnya, seleksi UM-PTKIN 2022 digelar berbasis IT. […]

  • Menjadi Muslim di Era Algoritma

    Menjadi Muslim di Era Algoritma

    • calendar_month Rabu, 18 Mar 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Hari ini kita hidup dalam dunia yang tampak memberi kebebasan tanpa batas, tetapi sebenarnya sangat terkurasi. Setiap kali kita membuka media sosial, kita merasa sedang memilih apa yang ingin kita lihat. Kita merasa menjadi pengendali atas informasi yang masuk ke dalam hidup kita.   Namun sering kali yang terjadi justru sebaliknya. Kitalah yang […]

  • Baik-Buruk Indonesia

    Baik-Buruk Indonesia

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Saudaraku, di negeri yang lahir dari laut dan letusan gunung, angin membawa doa dari seribu bahasa, dan hujan jatuh seperti ingatan nenek moyang yang tak pernah selesai diceritakan. Indonesia adalah sawah yang memantulkan langit, jalan kecil dengan warung kopi yang tetap hidup meski listrik padam dan dompet paspasan. Ia rumah bagi tangan-tangan […]

  • 5 Tips Aman dan Nyaman Berkendara Saat Musim Hujan

    5 Tips Aman dan Nyaman Berkendara Saat Musim Hujan

    • calendar_month Kamis, 2 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Musim hujan sering menghadirkan tantangan tersendiri bagi para pengendara. Jalan licin, jarak pandang terbatas, hingga genangan air dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Karena itu, diperlukan kewaspadaan ekstra agar perjalanan tetap aman, nyaman, dan selamat sampai tujuan. Berikut 5 tips yang bisa diterapkan:   1. Periksa Kondisi Kendaraan Sebelum Berangkat Pastikan ban dalam kondisi baik […]

  • Rektor UIN Bandung Rawan Gugatan Hukum?

    Rektor UIN Bandung Rawan Gugatan Hukum?

    • calendar_month Rabu, 5 Apr 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    kanal31.com- Masa jabatan Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung berakhir pada 23 Juli 2023. Prof Mahmud, yang saat menjabat Rektor UIN Bandung, dipastikan tidak lagi mencalonkan karena periode saat ini adalah periode ke-2. Kendati begitu, hingga saat ini belum ada tanda-tanda pihak UIN Bandung melakukan persiapan Pemilihan Rektor untuk periode 2023-2027. Bahkan […]

  • Upacara HUT ke-79 RI di IKN: Menag Doakan Nusantara Baru Indonesia Maju Terwujud

    Upacara HUT ke-79 RI di IKN: Menag Doakan Nusantara Baru Indonesia Maju Terwujud

    • calendar_month Minggu, 18 Agt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (PENAJAM) — Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas didaulat membacakan doa dalam Upacara Peringatan HUT ke-79 Republik Indonesia, yang digelar perdana di Ibu Kota Nusantara (IKN). Dalam upacara yang dipimpin Presiden Joko Widodo ini, Menag berdoa agar cita-cita Nusantara Baru Indonesia Maju dapat terwujud tanpa rintangan. “Bimbing dan pandu kami melewati masa-masa peralihan ini, agar […]

expand_less