Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Cinta dan Benci Indonesia

Cinta dan Benci Indonesia

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, kanal31.com — Saudaraku, ada negeri yang dicintai dengan pelukan, tetapi ada pula negeri yang dicintai dengan kemarahan. Indonesia hari ini sedang menyaksikan wajah cinta yang kedua: cinta yang tercurah dalam nada benci.

Banyak orang membenci “Indonesia” justru karena sangat mencintainya. Mereka tidak membenci tanah air yang dipijak, rumah bersama yang menyimpan jejak leluhur, merajut keragaman, dan menaungi harapan anak-anak negeri.

Yang mereka muak adalah wajah kekuasaan yang mengatasnamakan Indonesia: ketidakadilan yang diberi pakaian hukum, kebohongan yang dipoles menjadi kebijakan, korupsi yang menikam amanah dan masa depan, serta kesewenang-wenangan yang berlindung di balik jabatan.

Mereka marah karena masih berharap. Mereka kecewa karena masih peduli. Sebab seseorang hanya bisa terluka oleh sesuatu yang ia cintai.

Cinta dan benci sering kali berasal dari sumber yang sama: keterikatan yang dalam. Keduanya seperti dua arus dari sungai yang sama. Cinta ingin merawat, benci ingin mengguncang. Cinta memeluk luka, benci kadang menusuk luka agar nanahnya terkuak. Dalam diri manusia, keduanya berdekatan dalam denyut biokimiawi perasaan: getaran energi yang sama, arah yang berbeda.

Karena itu, tidak semua kebencian adalah ketiadaan cinta. Ada kebencian yang lahir dari cinta yang kecewa.

Lawan dari cinta bukanlah benci. Lawan cinta adalah masa bodoh.

Orang yang membenci masih menoleh. Ia masih peduli pada apa yang terjadi di rumahnya. Ia masih terganggu ketika melihat dinding retak dan atap bocor. Ia masih ingin memperbaiki sesuatu yang rusak. Tetapi orang yang masa bodoh tidak lagi merasa perlu melakukan apa pun. Ia membiarkan semuanya runtuh karena tidak ada lagi ikatan batin yang membuatnya gelisah.

Maka, ketika ada suara yang berkata kepada mereka yang kecewa, “kalau tidak suka, silakan pergi ke negeri lain,” ada sesuatu yang luput dipahami: cinta kepada sebuah bangsa tidak diukur dari seberapa sering seseorang memuji, melainkan dari seberapa dalam seseorang merasa bertanggung jawab.

Kritik bukan tanda seseorang ingin meninggalkan negerinya. Kegelisahan bukan bukti hilangnya cinta. Kadang justru sebaliknya: kemarahan adalah bentuk keterlibatan.

Sebuah bangsa tidak menjadi lebih baik dengan membungkam mereka yang menunjukkan retakannya. Ia menjadi lebih kuat ketika warganya berani melihat kerusakan dan berusaha memperbaikinya.

Indonesia bukan milik pemerintah yang sedang berkuasa. Indonesia adalah warisan bersama. Pemerintah datang dan pergi, tetapi bangsa tetap tinggal. Mencintai Indonesia tidak berarti membenarkan semua tindakan mereka yang berbicara atas nama Indonesia.

Cinta kepada tanah air bukanlah kemampuan untuk selalu berkata “baik-baik saja”. Kadang cinta adalah keberanian untuk berkata: ada yang salah, ada yang terluka, ada yang harus diperbaiki.

Indonesia adalah paradoks yang hidup: negeri dengan keindahan yang menakjubkan dan persoalan yang melelahkan; bangsa yang kaya dengan kebijaksanaan tetapi sering miskin dalam keteladanan; masyarakat yang penuh gotong royong tetapi masih tercengkeram keserakahan dan ketidakadilan.

Kita marah karena kita peduli. Kita kecewa karena kita berharap. Kita mengkritik karena kita masih merasa memiliki.

Sebuah bangsa tidak kehilangan masa depannya karena warganya marah. Ia kehilangan masa depan ketika warganya tidak lagi merasa apa-apa.

Indonesia tidak akan hancur oleh mereka yang marah karena masih mencintainya. Sebab kemarahan yang lahir dari kepedulian adalah tanda bahwa hati bangsa masih menyala. Yang lebih mengkhawatirkan adalah ketika anak-anak negeri ini tidak lagi marah pada penyimpangan, tidak lagi gelisah melihat ketidakadilan, dan tidak lagi merasa bahwa Indonesia adalah rumah bersama yang harus dijaga.

  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Asyiknya Toleransi dan Doa Lintas Agama

    Asyiknya Toleransi dan Doa Lintas Agama

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    YOGYAKARTA Kanal31.com — Minggu pagi (4/1/2026) di Kulon Progo, lazimnya diisi hiruk-pikuk aktivitas warga. Namun, ada pemandangan berbeda hari ini. Ratusan ASN dan warga berkumpul untuk ikut “Jalan Sehat Kerukunan & Senam Ceria” dalam rangka Hari Amal Bakti (HAB) ke-80 Kementerian Agama. Jelang dimulai, suasana mendadak berubah syahdu. Ratusan pasang mata tertunduk, dan kebisingan berganti […]

  • Selamat! UIN Sumatera Utara Terakreditasi Unggul dari BAN-PT

    Selamat! UIN Sumatera Utara Terakreditasi Unggul dari BAN-PT

    • calendar_month Sabtu, 19 Okt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Medan) — Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UIN-SU) terus menorehkan prestasi. Setelah melalui perjuangan dan upaya panjang , UIN-SU Medan berhasil meraih akreditasi Perguran Tinggi (APT) dengan predikat ‘Unggul’ dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Predikat akreditasi unggul untuk Institusi ini tertuang dalam Surat Keputusan (SK) BAN-PT Nomor: 1936/SK/BAN-PT/AK/PT/X/2024, yang diterbitkan pada Sabtu 19 […]

  • Dari Segi Jumlah Melampaui Malaysia dan Singapura, Tingkat Sitasi Jurnal Indonesia Masih Rendah

    Dari Segi Jumlah Melampaui Malaysia dan Singapura, Tingkat Sitasi Jurnal Indonesia Masih Rendah

    • calendar_month Kamis, 21 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-YOGYAKARTA Plt Direktur Riset Teknologi dan Pengabdian kepada Masyarakat Kemendikbudristek, Teuku Faisal Fathani mengatakan, Indonesia kini memiliki 14.000 jurnal. Ada 7.000 jurnal yang sudah dievaluasi dan meraih Sinta 6 sampai Sinta 1. 115 jurnal sudah terindeks scopus dan 180 jurnal yang menuju scopus internasional. Ia menekankan, Kemendikbudristek sudah banyak pula mengadakan coaching klinik dan workshop […]

  • Asyik! Cabang Universitas Al-Azhar dan Jordan University Akan Dibuka di Indonesia

    Asyik! Cabang Universitas Al-Azhar dan Jordan University Akan Dibuka di Indonesia

    • calendar_month Rabu, 18 Jun 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengabarkan rencana kerja sama internasional, termasuk pembukaan cabang Universitas Al-Azhar Cairo dan Jordan University di Indonesia sepulangnya ke tanah air dari perjalan dari tanah suci. Hal ini disampaikan Menag dalam sambutan di Universitas PTIQ Jakarta Ma’had Al-Qur’an dalam rangka haflatul wada’ Mahasantri Ma’had Al-Qur’an Universitas PTIQ Jakarta tahun […]

  • 6 Pegiat Kreatif Kota Bandung Raih Co-Working Space Award 2024

    6 Pegiat Kreatif Kota Bandung Raih Co-Working Space Award 2024

    • calendar_month Selasa, 10 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM, BANDUNG — Sebanyak enam pegiat kreatif Kota Bandung meraih penghargaan bergengsi dalam ajang Co-Working Space (CWS) Award 2024 yang berlangsung di Grand Aquila Bandung, Selasa (10/12/2024). Java Candle Art dinobatkan sebagai Juara 1, disusul Adesha di posisi Juara 2, dan Kebunnya Aki & Nin sebagai Juara 3. Penghargaan Juara Favorit diberikan kepada Saung Rajut, […]

  • Prof. Dwi Hendratmo Widyantoro: Guru Besar Keahlian Informatika ITB

    Prof. Dwi Hendratmo Widyantoro: Guru Besar Keahlian Informatika ITB

    • calendar_month Rabu, 21 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAl31.COM Keluarga besar Institut Teknologi Bandung berduka atas berpulangnya Guru Besar Prof. Ir. Dwi Hendratmo Widyantoro, M.Sc., Ph.D. Beliau wafat Minggu, 18 September 2022 sekitar pukul 23.00 di RS Borromeus Bandung. Kepergian almarhum membawa duka cita yang sangat mendalam terutama bagi civitas akademika di Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB. Beliau merupakan Guru Besar […]

expand_less