Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Kabinet Konoha

Kabinet Konoha

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month 16 jam yang lalu
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA, kanal31.com — Presiden mengganti menteri seperti mengganti bidak catur yang dianggap salah langkah. Satu dicopot, satu dipanggil; yang kemarin dipuji, hari ini disingkirkan. Bahkan Purbaya—yang sebelumnya digemakan seolah jawaban atas krisis fiskal—ikut terseret dalam arus pergantian.

Begitulah pemerintahan ini bekerja: bukan dengan peta yang jelas, melainkan tambal sulam; bukan dengan kompas yang mantap, melainkan firasat.

Menteri boleh berganti, kursi berpindah tangan, wajah baru membawa janji lama. Tetapi kekacauan tak ikut berganti. Ia menetap di dalam sistem. Sebab persoalannya bukan semata siapa yang duduk di kursi, melainkan ke mana kursi itu diarahkan.

Agenda dan mimpinya besar, tetapi integritas, konsistensi, dan kapasitas direktifnya rendah.

Lebih problematis, lingkaran dalam kekuasaan hidup dalam kultur “asal bapak senang”: kabar buruk disaring, kritik diperlunak, keberhasilan dibesar-besarkan, kegagalan dicarikan pembenaran. Pemimpin akhirnya bukan kekurangan informasi, melainkan kekurangan kebenaran yang sampai.

Dalam situasi demikian, kebijakan menjadi seni menebak kehendak. Loyalitas lebih mudah dihitung daripada kompetensi; kesalahan hari ini dikoreksi besok tanpa pernah menjadi pelajaran. Pemerintahan tampak sibuk, tetapi negara kehilangan tujuan yang terang.

Pemerintahan pun menyerupai kapal dengan terlalu banyak tangan di kemudi. Semua ingin menentukan arah, tetapi tak jelas siapa memastikan tujuan.

Padahal pemerintahan yang baik bukan yang paling banyak menggagas, melainkan yang mampu menjadikan keputusan sebagai garis haluan, kekuasaan sebagai kapasitas etis, dan kebijakan sebagai pedoman utuh.

Jika sumber masalah berada pada cara negara diarahkan dan dikelola, mengganti menteri hanya memindahkan kursi. Pertunjukannya tetap sama.

Setiap kali susunan kabinet berganti, seolah negara ikut diperbarui. Padahal yang berubah hanya wajah, sementara cara kekuasaan bekerja tetap sama.

Pemimpin negara memerlukan keberanian mendengar kebenaran, keteguhan menjaga arah, dan kecakapan mengubah keputusan menjadi kenyataan.

Jika tidak, pergantian kabinet hanyalah cara mahal untuk mengulang kekacauan yang sama—dengan wajah berbeda.

  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Rekomendasi Untuk Anda

  • Luar Biasa! Mahasiswa Ushuluddin UIN Bandung Semakin Moncer

    Luar Biasa! Mahasiswa Ushuluddin UIN Bandung Semakin Moncer

    • calendar_month Selasa, 19 Des 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (BANDUNG) — Muhammad Daffa mahasiswa Jurusan Ilmu Hadits Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung kembali menorehkan prestasi. Kali ini, artikel ilmiah yang dia tulis di semester akhir berjudul “Tracing The Nation’s Indentity Through The Diversity of Content and Language of Ancient Manuscripts of Sumedang Larang Palace,” sukses menembus ketatnya persaingan […]

  • 3 Buku Keren soal Bandung

    3 Buku Keren soal Bandung

    • calendar_month Senin, 26 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Tepat hari ini, Minggu 25 September 2022, Kota Bandung menginjak usia ke-212 tahun yang mengangkat tema ‘Bangkit Bersama untuk Bandung Juara’. Wali Kota Bandung, Yana Mulyana mengajak seluruh masyarakat Kota Bandung untuk memperkokoh ketahanan masyarakat, dalam menuntaskan pandemi dan memulihkan kehidupan ekonomi.   Salah satu cara mengokohkan ketahanan masyarakat dengan giat membaca, terutama buku-buku […]

  • Rembuk Merah Putih Cara FKPT Jabar Wujudkan Pemuda Cerdas, Kritis, dan Cinta Tanah Air

    Rembuk Merah Putih Cara FKPT Jabar Wujudkan Pemuda Cerdas, Kritis, dan Cinta Tanah Air

    • calendar_month Minggu, 16 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Jawa Barat menyelenggarakan “Rembuk Merah Putih” bertema “Mewujudkan Pemuda Cerdas, Kritis, dan Cinta Tanah Air” pada Jumat, 14 November 2025, di Pendopo Kota Bandung mulai pukul 08.00 sampai 15.00 WIB Pemuda Pilar Pencegahan Terorisme Kegiatan ini bertujuan mendorong generasi muda menjadi agen perubahan yang mampu melahirkan gagasan kreatif […]

  • Relasi Agama dan Negara

    Relasi Agama dan Negara

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Husein Muhammad, pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Fikr Cirebon
    • 0Komentar

    CIREBON, kanal31.com –Kemarin di hadapan audien acara bedah buku Qanun Asasi NU, karya Ibu hj. Dr. Lelly Leiliyyah , isteri K.H. Andul Hakim Mahfuzh, atau Gus Kikin, pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, dengan moderatator Gus Nas, di PP. Kebon Jambu, asuhan Ibu Ny. Masriyah Amva, aku menyampaikan ini. Dalam situasi kehidupan berbangsa dan bernegara seperti sekarang […]

  • Luar Biasa Ramai Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua

    Luar Biasa Ramai Peringatan 666 Tahun Masuknya Islam di Tanah Papua

    • calendar_month Minggu, 9 Agt 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR, kanal31.com — Saya beruntung pernah diundang Wagub Papua Barat Daya, Ahmad Nausrau. Di provinsi yang terkenal dengan Raja Ampatnya saya bisa melihat Islam secara langsung. Negeri secara ras berbeda dengan umumnya rakyat Indonesia sedang memperingati 666 tahun masuknya Islam di Bumi Cenderawasih. Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   Kalau sejarah Papua itu noken, maka […]

  • Peneliti BRIN: Indonesia Butuh Database Kuat Terkait Agama dan Kepercayaan

    Peneliti BRIN: Indonesia Butuh Database Kuat Terkait Agama dan Kepercayaan

    • calendar_month Minggu, 17 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SIP-JAKARTA Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan, Sosial, dan Humaniora Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ahmad Najib Burhani menyayangkan, bahwa data-data yang dimiliki 6 agama di Indonesia memiliki informasi yang tidak lengkap. Hal ini menjadi salah satu sebab munculnya prejudice stereotype, stigma tentang berbagai hal di luar enam agama di Indonesia. “Awal saya membuat proposal, kita […]

expand_less