Menghidupkan Ecopedagogy: Strategi Pesantren dalam Pelestarian Lingkungan
- account_circle Maslani, Dosen S2 PAI UIN Bandung
- calendar_month 2 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANDUNG kanal31.com — Kerusakan lingkungan akibat penambangan emas yang eksploitatif, pencemaran, dan pemanasan global bukan hanya persoalan ekologis, tetapi juga cerminan lemahnya kesadaran sosial masyarakat.
Ketika alam dieksploitasi tanpa batas, yang terancam bukan hanya lingkungan, melainkan juga kehidupan sosial dan kesejahteraan bersama. Di tengah situasi ini, lembaga pendidikan seperti pesantren dituntut untuk mengambil peran nyata: membangun kesadaran ekologis yang tidak berhenti pada wacana, tetapi hadir dalam praktik kehidupan sehari-hari.
Pertanyaannya, bagaimana pesantren menerjemahkan ajaran agama menjadi aksi nyata untuk menjaga lingkungan?
Penelitian etnografi kualitatif terhadap tiga pesantren. Pesantren Biharul Ulum Agroekologi Bogor, Pesantren Daarul Falah Bogor, dan Pesantren Ath-Thoriq Garut berusaha menjawabnya. Melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian ini menggambarkan tradisi yang tumbuh di masyarakat pesantren dalam pelestarian lingkungan.
Penelitian mengenai praktik lingkungan di tiga pesantren, yaitu PBUA di Bogor, PDF di Bogor, dan PAT di Garut, telah mengungkap temuan-temuan yang menarik. Ketiga institusi tersebut secara aktif menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui pendekatan pedagogis yang dikenal sebagai ekopedagogi.
Strategi pendidikan ini mencakup berbagai kegiatan, mulai dari pemilihan cermat bibit unggul, prosedur penanaman, praktik pemupukan, hingga tahap panen hasil pertanian.
Selain inisiatif pertanian tersebut, pesantren-pesantren ini juga melakukan upaya pelestarian lingkungan melalui kegiatan peternakan, yang meliputi pemeliharaan ayam, kambing, sapi, dan ikan.
Esensi ekopedagogi, yang berakar kuat pada ajaran Al-Qur’an dan Hadis, disampaikan secara efektif melalui pembelajaran tatap muka, diskusi mendalam, dan bimbingan praktik langsung di lapangan.
Pendekatan ekopedagogis yang selaras erat dengan ajaran Islam ini tidak hanya menegaskan komitmen institusi-institusi tersebut dalam menanamkan nilai-nilai pelestarian lingkungan, tetapi juga menyoroti pendekatan holistik dan komprehensif dalam menumbuhkan kesadaran ekologis di kalangan para santri.
Temuan-temuan tersebut dipaparkan secara lebih rinci pada bagian ini. Hasilnya menunjukkan bahwa pesantren tidak hanya mengajarkan teologi, tetapi juga menanamkan etika ekologis melalui pendekatan praktis. Inilah wajah pesantren sebagai agen perubahan: merawat iman sekaligus merawat bumi.
Ecopedagogi di ketiga pesantren tersebut berakar pada Al-Qur’an dan Hadis. Ajaran itu tidak berhenti di ruang kelas, tetapi dihidupkan melalui tatap muka, didalami dalam ruang-ruang diskusi, dan dipraktikkan langsung di lapangan secara terjadwal.
Dengan begitu, pembelajaran agama tidak sekadar menjadi pengetahuan, melainkan tumbuh menjadi kesadaran dan kebiasaan santri dalam menjaga lingkungan. Pendekatan ekopedagogi di tiga pesantren di Indonesia ini menunjukkan bahwa pembelajaran Al-Qur’an dan Hadis telah menginspirasi santri untuk terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan hidup dengan segala dimensinya.
Inilah bukti bahwa pesantren mampu merawat tradisi keilmuan sekaligus menjawab tantangan ekologis zaman ini.
Dr. H. Maslani., M.Ag, Dosen Program Studi Magister (S2) Pendidikan Agama Islam (PAI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Penulis: Maslani, Dosen S2 PAI UIN Bandung
