Mengapa Banyak Civil Society Merasa Dikhianati oleh Rocky Gerung?
- account_circle Denny JA, Konsultan Politik, Penulis, Sastrawan, Peneliti, dan Pengusaha
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tentang Hak Seorang Intelektual Publik Memilih Posisi
JAKARTA kanal31.com — Ada saat ketika seseorang tidak kehilangan suaranya, tetapi kehilangan tempat dari mana suara itu dipercaya. Perubahan beberapa meter dapat terasa seperti perjalanan sangat jauh.
Itulah drama seorang pengkritik ketika memasuki Istana. Pintu yang terbuka baginya mungkin sama, tetapi bagi sebagian pengikutnya, lanskap moral mendadak berubah.
Rocky Gerung kini berdiri di persimpangan itu. Bukan kecerdasannya yang terutama sedang diuji. Bukan pula hak politiknya. Yang dipersoalkan adalah kepercayaan.
Kepercayaan tumbuh ketika perkataan menemukan rumahnya dalam tindakan. Ketika keduanya terlihat berpisah, publik bertanya: apa yang berubah pada orang yang dahulu mereka dengarkan?
-000-
Selama bertahun-tahun, Rocky memperoleh tempat istimewa dalam percakapan publik. Ia bukan sekadar komentator politik. Ia menjadi simbol keberanian mempertanyakan kekuasaan.
Bahasanya tajam. Metafornya menggigit. Ia mampu mengubah filsafat rumit menjadi percakapan warung kopi, lalu membuat percakapan warung kopi terasa filosofis.
Bagi sebagian civil society, Rocky menjadi suara yang mengatakan apa yang mereka sendiri ingin katakan ketika berhadapan dengan kekuasaan yang dianggap terlalu dominan.
Lalu, pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto melantiknya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden. Rocky mengatakan dirinya hanya berpindah dari luar ke dalam.
Kalimat itu sederhana. Tetapi pertanyaan besar bersembunyi di dalam kesederhanaannya: benarkah berpindah dari luar kekuasaan ke dalam kekuasaan hanya soal lokasi?
Lima suara dari lingkungan kritis memperlihatkan kegelisahan itu. Sebagian bahkan telah tumbuh sebelum kursi Wantimpres resmi didudukinya.
Lima nama tentu bukan seluruh civil society. Tetapi mereka berasal dari lingkaran yang selama ini paling dekat dengan dunia kritik tempat Rocky dibesarkan.
Feri Amsari membawa publik kepada memori Rocky sendiri. Ia mengunggah percakapan lama ketika Rocky ditanya bagaimana jika suatu hari tawaran jabatan datang.
Rocky ketika itu mengatakan tawaran tersebut akan ditolaknya. Setelah ia menerima Wantimpres, rekaman lama itu memperoleh kehidupan politik yang sama sekali baru.
Ubedilah Badrun bahkan sudah melontarkan kritik sejak pertengahan September. Ia menilai pembelaan Rocky terhadap gagasan sosialisme Prabowo menunjukkan perubahan posisi politik Rocky.
Ubedilah menggunakan ungkapan sangat keras, menyebut Rocky sebagai “antek Prabowo”. Itu tentu penilaian politik Ubedilah, bukan fakta yang dengan sendirinya telah terbukti.
Laode M. Syarif juga melontarkan sindiran setelah perdebatan Rocky dengan Feri mengenai keterlibatan tentara dalam pertanian dan persoalan militerisasi ruang sipil.
“Konsisten cerdas itu ternyata mahal,” tulis mantan Wakil Ketua KPK tersebut, sebelum melanjutkan sindirannya bahwa seseorang akhirnya dapat menjadi “dungu” juga.
Zainal Arifin Mochtar memilih bahasa lebih reflektif. Ia mengingatkan bahwa manusia berubah. Bahkan tulisan akademik mencantumkan tahun pada catatan kaki karena pemikiran seseorang dapat berubah.
Jokowi dapat berubah. Yusril dapat berubah. Rocky juga dapat berubah. Zainal bahkan mengingatkan publik agar tidak memberikan kepercayaan mutlak kepada dirinya sendiri.
Setelah pelantikan, nadanya mengeras. Ia menyebut Rocky seorang sofis. Sofis” dalam kritik sehari-hari berarti orang yang pandai menyusun argumen untuk memenangkan perdebatan, meskipun argumennya menyesatkan atau mengabaikan kebenaran.
Andi Sinulingga menyerang dari wilayah argumentasi kebijakan. Ia mempertanyakan penalaran Rocky mengenai pembiayaan Koperasi Desa dan penggunaan uang negara untuk membangun koperasi.
Andi mengembalikan kosakata favorit Rocky kepadanya: orang yang sering menyebut pihak lain dungu harus siap ketika waktu membuat istilah itu diarahkan kembali kepadanya.
Lima suara itu tidak membuktikan Rocky telah berkhianat. Kritik bukan bukti. Kekecewaan bukan pengadilan. Tetapi semuanya merekam sesuatu yang nyata: perubahan persepsi.
-000-
Saya mencoba menyelami hal ini. Mengapa terjadi perubahan persepsi yang radikal di kalangan yang dulu merasa seperjuangan dan diwakili Rocky Gerung.
Pertama, terjadi retaknya kontrak moral yang tidak pernah ditandatangani. Inilah, menurut saya, sumber emosional paling dalam dari kekecewaan tersebut.
Intelektual publik tidak dipilih melalui pemilu. Tidak ada surat pengangkatan dari masyarakat. Tetapi pengaruhnya lahir dari sesuatu yang bahkan lebih rapuh: kepercayaan.
Orang mendengarkan Rocky karena menganggap ia memiliki kemewahan yang tidak selalu dimiliki pejabat: kebebasan mengatakan sesuatu tanpa takut kehilangan jabatan pemerintahan.
Dari sanalah lahir kontrak moral tak tertulis. Masyarakat tidak memiliki Rocky. Namun sebagian masyarakat menitipkan kegelisahannya kepada suara yang dianggap bebas tersebut.
Ketika posisi berubah, kontrak itu tidak otomatis batal. Tetapi syarat-syaratnya berubah. Publik mempunyai hak yang sama besarnya untuk mengevaluasi kembali kepercayaan yang pernah diberikan.
Di sinilah ucapan lama Rocky menjadi penting. Manusia tentu boleh berubah pikiran. Justru manusia rasional harus boleh mengubah pikirannya ketika keadaan berubah.
Namun semakin eksplisit janji masa lalu, semakin besar kewajiban moral menjelaskan perubahan. Yang terutama dibutuhkan bukan permintaan maaf, melainkan argumentasi.
-000-
Kedua, independensi bukan hanya keadaan pikiran. Independensi juga merupakan keadaan kelembagaan. Inilah persoalan yang sering hilang dalam pembelaan terhadap perpindahan posisi Rocky.
Rocky mengatakan dirinya cuma berpindah dari luar ke dalam. Sikap dan pandangannya, katanya, tetap sama. Klaim tersebut patut memperoleh kesempatan untuk dibuktikan.
Tetapi seseorang dapat memiliki pikiran merdeka sambil memasuki struktur yang menciptakan insentif baru. Institusi tidak hanya bekerja melalui perintah. Ia juga bekerja melalui kedekatan.
Wantimpres berada dalam struktur kekuasaan pemerintahan dan bertugas memberikan nasihat serta pertimbangan kepada Presiden. Secara kelembagaan, posisinya berbeda dari pengamat independen.
Kini ada akses yang perlu dijaga. Ada hubungan kerja. Ada kepercayaan Presiden. Ada pula konsekuensi kelembagaan dari setiap kata yang diucapkan.
Semua itu tidak membuktikan Rocky akan kehilangan independensi. Tetapi semuanya membuat independensinya kini memerlukan pembuktian lebih berat daripada ketika ia masih berada di luar.
Kemerdekaan intelektual tidak cukup diukur dari perasaan seseorang tentang dirinya sendiri. Ia terlihat ketika prinsip berbenturan dengan kepentingan, lalu seseorang bersedia menanggung harga dari prinsipnya.
-000-
Ketiga, suara publik berpotensi berubah menjadi bisikan kekuasaan. Ini mungkin pertukaran paling mahal ketika seorang intelektual publik memasuki lingkungan pemerintahan.
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden mengatur bahwa isi nasihat dan pertimbangan kepada Presiden tidak boleh disebarluaskan. Ada wilayah kerahasiaan institusional yang harus dijaga.
Kritik publik bekerja dengan cara sebaliknya. Ia harus terdengar. Argumennya dapat diuji, dibantah, dikembangkan, bahkan ditertawakan. Demokrasi tumbuh dari keterbukaan semacam itu.
Nasihat tertutup mungkin jauh lebih efektif. Satu kalimat di ruang Presiden terkadang dapat mengubah kebijakan lebih cepat daripada seratus pidato di ruang publik.
Rocky sendiri menyebut salah satu perannya ialah mengolah persepsi publik supaya sama dengan persepsi Presiden. Di sinilah kegelisahan itu menemukan alamatnya: kini siapa menerjemahkan siapa?
Ada pula harga demokratisnya. Masyarakat tidak selalu mengetahui apakah nasihat itu diberikan, seberapa keras disampaikan, dan apakah kekuasaan sungguh bersedia mendengarnya.
Bagi pengikut Rocky, rasanya seperti melihat sebuah lampu dipindahkan dari halaman menuju ruang dalam Istana. Ruangan di dalam mungkin menjadi lebih terang.
Namun pertanyaan mereka sederhana: apakah orang-orang yang tetap berdiri di luar pagar masih mendapatkan cahaya yang selama ini menerangi mereka?
-000-
Kontra-argumen terhadap seluruh kritik tersebut sangat kuat. Tanpa kontra-argumen ini, kritik terhadap Rocky justru berisiko berubah menjadi dogma baru yang tidak liberal.
Mengapa seorang pengkritik harus selamanya berada di luar? Mengapa seorang intelektual hanya dianggap murni selama tangannya tidak pernah menyentuh mesin pemerintahan?
Sejarah justru memperlihatkan sebaliknya. Václav Havel adalah penulis dan pembangkang komunis sebelum akhirnya memimpin Cekoslowakia dan kemudian menjadi Presiden Republik Ceko.
Lech Wałęsa berangkat dari galangan kapal Gdańsk, memimpin gerakan Solidarność melawan rezim komunis, lalu menjadi Presiden Polandia. Perlawanan akhirnya memasuki negara.
Fernando Henrique Cardoso bahkan lebih menarik. Ia sosiolog terkemuka, akademisi, dan penentang kediktatoran militer Brasil sebelum masuk politik dan akhirnya menjadi presiden.
Cardoso tidak berhenti menjadi intelektual ketika memasuki pemerintahan. Ia membawa pengetahuan akademiknya ke arena tempat teori harus berhadapan langsung dengan keterbatasan kenyataan.
Tetapi ada perbedaan penting. Havel, Wałęsa, dan Cardoso masuk dengan mandat sendiri. Rocky masuk sebagai penasihat yang kursinya diberikan Presiden. Jarak kritis menjadi lebih sulit dijaga.
Meski demikian, memasuki kekuasaan bukanlah pengkhianatan. Bahkan dalam keadaan tertentu, menolak masuk kekuasaan dapat menjadi kemewahan moral yang tidak menghasilkan perubahan konkret.
Seorang dokter tidak kehilangan integritas karena memasuki ruang operasi. Ia kehilangan integritas jika mulai menutupi kesalahan di meja bedah. Demikian pula intelektual ketika memasuki ruang pengambilan keputusan.
Rocky dapat mengajukan pembelaan yang masuk akal: mengapa terus berteriak dari luar pagar jika tersedia kesempatan membisikkan koreksi langsung kepada Presiden?
Ia juga menegaskan Wantimpres mempunyai kedudukan etis, bukan teknis, termasuk membaca ekses kebijakan dan memberikan pertimbangan mengenai arah kebijakan pemerintah.
Pembelaan itu sah. Bahkan penting. Tetapi justru karena sah, ukuran pembuktiannya menjadi sederhana: apakah akses baru tersebut menghasilkan keberanian yang lebih efektif?
Masuk Istana tidak dengan sendirinya bermasalah. Persoalan baru muncul jika kedekatan kepada kekuasaan membuat standar moral terhadap kekuasaan menjadi lebih lunak daripada sebelumnya.
Karena itu, sejarah Havel, Wałęsa, dan Cardoso tidak membebaskan Rocky dari pertanyaan. Sejarah mereka justru menyediakan ukuran untuk menilai pilihan Rocky.
Yang menentukan bukan apakah seorang intelektual berada di luar atau di dalam kekuasaan. Yang menentukan adalah apa yang terjadi pada nuraninya setelah berpindah.
Namun analogi itu memiliki batas. Havel dan Wałęsa memasuki kekuasaan dengan mandat gerakan rakyat. Rocky masuk melalui penunjukan Presiden.
Perbedaan itu penting. Semakin dekat seorang intelektual kepada kekuasaan, semakin besar kewajibannya membuktikan bahwa akses tidak berubah menjadi ketergantungan.
-000-
Dua buku klasik membantu membawa perdebatan ini melampaui Rocky Gerung, menuju pertanyaan universal mengenai hubungan intelektual, kekuasaan, kebenaran, dan tanggung jawab moral.
The Treason of the Intellectuals, Julien Benda. Buku klasik ini pertama kali terbit pada 1927 dan kemudian hadir dalam berbagai edisi serta terjemahan baru.
Benda memperingatkan bahaya ketika kaum intelektual meninggalkan nilai universal demi gairah politik, kepentingan kelompok, nasionalisme, ataupun kedekatan dengan kekuasaan.
Benda tidak meminta intelektual steril dari politik. Persoalan muncul ketika kebenaran mulai disesuaikan dengan kepentingan politik yang sedang ingin dibela.
Buku ini relevan bagi Rocky sekaligus para pengkritiknya. Loyalitas kepada oposisi dapat membutakan intelektual, sama seperti loyalitas kepada pemerintah dapat membutakannya.
Ukuran akhirnya bukan posisi politik seseorang. Ukurannya adalah keberanian menerapkan standar kebenaran yang sama kepada kawan, lawan, oposisi, ataupun penguasa yang memberinya jabatan.
-000-
Representations of the Intellectual, Edward W. Said. Buku berdasarkan Reith Lectures 1993 ini menggambarkan intelektual sebagai sosok yang mempertahankan keberanian berbicara kepada kekuasaan.
Bagi Said, intelektual harus memelihara skeptisisme terhadap ortodoksi, privilese, nasionalisme, bahkan terhadap institusi yang menyediakan kenyamanan bagi kehidupan profesionalnya sendiri.
Namun Said tidak menawarkan romantisme sederhana tentang intelektual yang harus selamanya menyendiri. Tantangannya justru mempertahankan jarak kritis sambil tetap terlibat dalam persoalan dunia.
Dari Said kita memperoleh ukuran penting bagi Rocky. Yang perlu ditanyakan adalah kepada siapa keberanian intelektualnya diarahkan ketika risiko pribadi meningkat, bukan di mana kursinya berada.
Berbicara keras ketika berada di luar kekuasaan relatif mudah. Ujian lebih berat datang ketika kebenaran harus disampaikan kepada orang yang menentukan kedudukan kita sendiri.
-000-
Ada alasan personal mengapa perdebatan seperti ini terasa penting. Dalam perjalanan panjang berjumpa dunia gagasan dan dunia kekuasaan, keduanya selalu mempunyai godaan berbeda.
Dunia gagasan menggoda seseorang merasa paling benar. Dunia kekuasaan menggoda seseorang merasa paling penting. Keduanya dapat mengubah manusia tanpa disadarinya sendiri.
Sebagai konsultan politik, saya pernah ikut mendampingi beberapa kandidat presiden. Saya belajar bahwa kedekatan dengan pusat keputusan memang membuka peluang perubahan. Banyak hal hanya dapat diselesaikan dari dalam ruang itu.
Tetapi akses juga mempunyai gravitasi. Perlahan, tanpa suara, seseorang dapat mulai memahami kekuasaan terlalu baik, lalu berhenti memahami mereka yang terkena akibat kekuasaan.
Karena itulah seorang intelektual di dalam kekuasaan membutuhkan lebih banyak cermin, bukan lebih sedikit. Kritik dari sahabat justru harus diperlakukan sebagai alarm.
Dalam pengertian itu, Feri, Ubedilah, Laode, Zainal, dan Andi tidak perlu diposisikan sebagai hakim yang sudah menentukan kesalahan Rocky.
Mereka lebih berguna dibaca sebagai alarm. Sebagian berbunyi kasar. Sebagian mungkin berlebihan. Tetapi sebuah alarm tidak menjatuhkan vonis. Ia meminta kita memeriksa.
-000-
Rocky berhak berubah. Bahkan ia berhak menyimpulkan bahwa pandangannya dahulu keliru. Kebebasan berpikir menjadi palsu apabila manusia diwajibkan menjadi tawanan kalimat masa lalunya.
Civil society mempunyai hak yang sama. Mereka boleh kecewa. Mereka boleh menarik kepercayaan. Mereka boleh meminta penjelasan atas jarak antara perkataan kemarin dan tindakan hari ini.
Di sinilah demokrasi seharusnya menjadi dewasa. Kita tidak perlu menciptakan santo dari pengkritik kekuasaan, lalu merasa dunia runtuh ketika sang santo ternyata manusia.
Zainal Arifin Mochtar memberi pengingat yang relevan: manusia berubah. Karena itulah gagasan dan institusi seharusnya lebih kita percaya daripada kultus terhadap individu.
Maka jangan buru-buru menyebut Rocky pengkhianat. Berikan posisi barunya waktu untuk menghasilkan bukti. Tetapi jangan pula mematikan pertanyaan hanya karena Rocky kini berada di dalam.
Ujian sesungguhnya datang ketika pemerintah mengambil langkah yang bertentangan dengan prinsip yang selama ini dibelanya. Pada saat itulah publik akan menunggu.
Apakah Rocky masih menggunakan ukuran yang sama? Apakah keberanian yang dahulu diarahkan kepada kekuasaan lama juga diarahkan kepada kekuasaan yang kini memberinya tempat?
Jika jawabannya ya, sejarah mungkin mencatat perpindahan Rocky bukan sebagai penyerahan diri, melainkan eksperimen berani membawa kritik dari jalanan menuju ruang keputusan.
Jika jawabannya tidak, publik memperoleh alasan lebih kuat untuk kecewa.
Pada akhirnya, persoalannya bukan Rocky memasuki Istana. Persoalannya adalah apakah suatu hari Istana justru memasuki Rocky.
Jakarta, 4 Oktober 2026
REFERENSI
Julien Benda. The Treason of the Intellectuals. Karya asli terbit 1927. Transaction Publishers, 2007. Edisi terjemahan baru oleh David Broder, Eris, 2021.
Edward W. Said. Representations of the Intellectual: The 1993 Reith Lectures. Pantheon Books, 1994. Edisi Vintage Books, 1996.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden.
- Penulis: Denny JA, Konsultan Politik, Penulis, Sastrawan, Peneliti, dan Pengusaha
