Gibran Mau Dimakzulkan, Tiba-tiba Muncul Pasukan Berani Mati Jokowi
- account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
- calendar_month Senin, 12 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KALBAR kanal31.com — Polemik ijazah Gibran sedang menuju pemakzulan. Di tengah situasi panas itu, tiba-tiba muncul kelompok menamakan diri “Pasukan Berani Mati Jokowi” di bawah komando, Sukodigdo Wardoyo. Pengakuannya, bisa kerahkan jutaan orang untuk menghadang upaya melengserkan Gibran dari kursi Wapres. Wow..! Simak narasinya sambil seruput Koptagul, wak!
Di tengah polemik ijazah Gibran dan wacana pemakzulan, muncullah pasukan misterius ini. Katanya, jutaan orang siap dikerahkan jika Gibran dimakzulkan. Jutaan, wak! Bukan 20 orang, bukan 20.000, tetapi jutaan!
Kalau benar turun semua, Jakarta bukan lagi ibu kota, melainkan tempat parkir manusia. Monas bisa tenggelam, tukang cilok naik pangkat jadi panglima, sementara pedagang nasi bungkus mendadak menjadi kontraktor logistik pertahanan.
Masalahnya, siapa Sukodigdo Wardoyo? Sejak September 2024, namanya sudah bikin netizen menggaruk kepala sampai ketombe mengajukan pengunduran diri. Aktivis 98 mengaku tidak kenal, mantan relawan Jokowi tidak kenal, Direktur INSIGHT menyebut sosoknya tampaknya fiktif, Ade Armando juga menyebutnya cerita fiktif.
Google dibongkar, media sosial disisir, jejak digital dikejar sampai ke ujung dunia. Hasilnya? Kosong melompong. Orangnya entah di mana, pasukannya jutaan. Ini manusia atau paket internet? Makin dicari, makin tidak ditemukan, tetapi kuotanya terus bertambah.
Padahal, pada 2024, kelompok ini pernah mengklaim bakal mendatangkan 20.000 pasukan ke Jakarta pada 22 September untuk menjaga Jokowi dan keluarganya dari “anasir jahat”.
Habib Rizieq sampai mengingatkan umat agar mengasah golok. Amien Rais mempertanyakan siapa pendana utamanya. Media sibuk meliput, netizen menunggu, Jakarta seolah bersiap menyambut film Avengers: Versi Nasi Bungkus.
Lalu, tibalah hari H. Tugu Proklamasi sepi. Patung Kuda sepi. Pasukan 20.000 orang menghilang entah ke dimensi mana. Yang datang cuma angin, debu, dan mungkin tukang cilok yang kecewa karena dagangannya tidak laku.
Video bebek berlarian sempat diberi narasi seolah menggambarkan pasukan tersebut. Bebek pun ikut terseret politik nasional. Kasihan, mereka tidak punya KTP untuk membantah.
Ada pula video penangkapan orang bersenjata celurit yang dikaitkan dengan pasukan itu. Faktanya, informasi tersebut hoaks. Mereka ternyata gangster Sanggong di Sidoarjo yang ditangkap polisi karena hendak tawuran, dengan 13 orang di antaranya masih di bawah umur.
Dua tahun berlalu, mitosnya bangkit lagi. Dulu 20.000 orang, sekarang jutaan! Pertumbuhan pasukannya mengalahkan perusahaan rintisan yang mendapat suntikan modal triliunan rupiah. Kalau pertumbuhan penduduk Indonesia secepat itu, BPS cukup menghitung satu orang, lalu mengalikannya sejuta.
Di X, netizen langsung berpesta. Ada menyebut pasukan itu bakal bubar kalau disambit nasi bungkus karena semuanya berebut makan. Ada mengoreksi namanya menjadi “Pasukan Berani Jokowi Mati”. Ada menyebut mereka zombie. Ada pula menyindir, yang ada bukan pasukan berani mati, melainkan pasukan berani karena dibayar.
Nasi bungkus memang senjata pamungkas. Ancaman perang saudara bisa berubah menjadi rapat koordinasi konsumsi. Panglima belum memberi aba-aba, prajurit sudah bertanya, “Ayamnya dapat semua, kan?”
Sementara itu, Jokowi menanggapi wacana pemakzulan dengan tenang: “Silakan ikuti mekanisme demokrasi sesuai dengan konstitusi.”
Tidak ada komando perang, tidak ada instruksi mengasah bambu runcing. Jokowi bicara mekanisme demokrasi, orang lain malah mengumumkan jutaan pasukan. Ibarat pemilik rumah menyuruh tamu mengikuti aturan, tetangga sebelah malah mengancam mendatangkan satu provinsi.
Kalau pasukannya memang ada, tunjukkan organisasinya, penanggung jawabnya, dan bagaimana mobilisasinya. Polemik ijazah, persyaratan pencalonan, serta pemakzulan seharusnya diselesaikan lewat bukti dan mekanisme konstitusional, bukan adu banyak-banyakan tentara gaib.
Jangan-jangan pasukannya masih latihan di dimensi lain, menunggu transfer uang transportasi, atau sedang antre mengambil nasbung karet satu atau karet dua. Tapi, kalau itu memang ada, siap-siap gelar tikar lagi. Ngapai, Bang? Nobar lagi, ups.
Foto Ai hanya ilustrasi
- Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
