Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Ini Aman Nggak?

Ini Aman Nggak?

  • account_circle Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
  • calendar_month Selasa, 8 Sep 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MALANG, kanal31.com — Jam makan siang di sebuah sekolah. Kotak MBG baru saja dibagikan. Anak-anak membuka tutupnya, sebagian langsung makan, sebagian sibuk membandingkan lauk dengan teman di sebelahnya.

 

Seorang siswa justru memandangi kotak makanannya agak lama.

 

“Ini aman nggak?”

 

Pertanyaan sederhana. Tapi saya kira, kalau pertanyaan itu mulai muncul semakin sering di sekolah-sekolah, pemerintah punya alasan untuk waspada.

 

Belakangan ini berita tentang dugaan keracunan setelah mengonsumsi MBG kembali bermunculan. Di Jombang, ratusan siswa dan guru mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan yang dibagikan melalui program tersebut. Setelah kejadian itu, muncul penolakan karena sebagian siswa masih mengalami trauma.

 

Kita tentu perlu hati-hati. Sakit setelah makan belum otomatis membuktikan bahwa makanan tersebut penyebabnya. Setiap kasus harus diperiksa. Begitu juga dengan foto dan video yang beredar di media sosial. Tidak semuanya bisa langsung dipercaya.

 

Tetapi anak-anak tidak hidup berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium.

 

Kalau seorang siswa melihat temannya muntah setelah makan, lalu malamnya melihat video kejadian serupa dari daerah lain, sangat mungkin ia menjadi takut ketika kotak MBG kembali dibagikan. Ia tidak perlu memahami bagaimana makanan diproduksi atau bagaimana sampel diperiksa. Pengalaman yang dilihatnya sudah cukup untuk membuatnya berpikir dua kali.

 

Orang tua pun begitu.

 

Sekarang hampir setiap kejadian bisa sampai ke rumah sebelum anak pulang sekolah. Foto makanan masuk ke grup WhatsApp. Video beredar di TikTok. Ada yang kemudian membagikannya lagi ke Facebook atau Instagram. Cerita yang awalnya terjadi di satu sekolah tiba-tiba diketahui oleh orang tua di daerah lain.

 

Di masa lalu, sebuah persoalan makanan mungkin hanya menjadi urusan kepala sekolah, guru, dan wali murid. Sekarang siswa sendiri bisa menjadi orang pertama yang mendokumentasikan kejadian tersebut.

 

Satu foto belum tentu berarti banyak. Tetapi kalau beberapa hari kemudian muncul foto lain dari tempat berbeda, lalu disusul video dan kesaksian orang tua, orang mulai membandingkan.

 

“Di sekolah anak saya juga pernah begitu.”

 

“Anak saya pernah bilang makanannya dingin.”

 

“Di sekolah kami kemarin datangnya terlambat.”

 

Belum tentu semuanya berhubungan. Bahkan mungkin sebagian memang tidak ada hubungannya sama sekali. Tetapi media sosial punya kebiasaan mengumpulkan cerita yang terpisah ke dalam satu percakapan besar.

 

Itulah yang menurut saya menarik.

 

Kita sekarang bisa membayangkan kemungkinan penolakan MBG berkembang bukan karena ada satu organisasi yang menggerakkannya, melainkan karena sekolah-sekolah saling melihat.

 

Sebuah sekolah menghentikan sementara pembagian makanan karena siswanya trauma. Berita mengenai keputusan itu muncul. Kepala sekolah di daerah lain membacanya. Pada saat yang sama beberapa orang tua di sekolahnya sendiri mulai mengeluh.

 

Mereka kemudian bertanya, apakah sekolah mereka juga boleh melakukan hal yang sama?

 

BGN sendiri telah menyatakan bahwa sekolah yang menolak MBG tidak akan dipaksa. Secara praktis, kebijakan itu bisa dipahami. Tidak ada gunanya mengirim makanan kepada siswa yang memang tidak mau mengonsumsinya.

 

Namun setiap keputusan seperti itu mempunyai efek lain.

 

Sekolah yang sebelumnya menganggap penolakan sebagai sesuatu yang tidak mungkin sekarang tahu bahwa pilihan tersebut tersedia. Orang tua juga mengetahui hal yang sama. Kalau kemudian terjadi masalah di sekolah mereka, keputusan untuk menolak sementara menjadi lebih mudah dipertimbangkan.

 

Tidak perlu ada rapat nasional.

 

Tidak perlu ada satu tokoh yang mengajak semua orang.

 

Cukup ada satu sekolah yang mengambil keputusan, lalu sekolah lain melihatnya.

 

Apakah ini berarti gerakan penolakan MBG akan membesar? Belum tentu. Saya kira terlalu dini untuk menyimpulkan demikian. Kita membutuhkan data yang lebih jelas: berapa sekolah yang menolak, apa alasan mereka, berapa lama penolakan berlangsung, dan apakah mereka kembali menerima MBG setelah persoalannya selesai.

 

Media sosial juga bisa menipu kita mengenai ukuran sebuah fenomena. Satu video yang ditonton jutaan kali belum tentu berarti jutaan orang menolak MBG. Algoritma memang senang membuat sesuatu terlihat besar.

 

Tetapi pemerintah juga tidak boleh memakai alasan tersebut untuk mengabaikan keluhan.

 

Kalau ada makanan yang benar-benar bermasalah, selidiki. Kalau ada siswa yang sakit, cari penyebabnya. Kalau ada informasi palsu, luruskan dengan bukti. Yang dibutuhkan masyarakat bukan sekadar pernyataan bahwa MBG aman, melainkan informasi yang memungkinkan mereka memahami mengapa sebuah makanan dinyatakan aman.

 

Ini semakin penting karena program MBG dijalankan dalam skala yang sangat besar. Semakin banyak makanan yang diproduksi dan dikirim setiap hari, semakin besar pula kemungkinan terjadi kesalahan di suatu tempat. Yang membedakan zaman sekarang adalah kesalahan tersebut hampir pasti memiliki kamera yang mengarah kepadanya.

 

Seorang siswa bisa memotret makanannya.

 

Seorang ibu bisa mengunggahnya.

 

Orang lain bisa menyimpan dan membagikannya.

 

Kemudian sebuah kejadian lokal berubah menjadi cerita nasional.

 

Saya tidak sedang mengatakan bahwa semua MBG buruk. Juga tidak sedang mengatakan bahwa setiap penolakan berarti program ini gagal. Justru program sebesar ini perlu dinilai berdasarkan data dan kejadian nyata, bukan berdasarkan kepanikan di media sosial.

 

Tetapi ada satu hal yang menurut saya sulit diabaikan: anak-anak adalah pihak yang harus memakan makanan tersebut.

 

Mereka tidak ikut menentukan siapa pemasoknya. Mereka tidak tahu bagaimana makanan itu dimasak. Mereka hanya menerima kotak makan siang dan memutuskan apakah isinya akan masuk ke mulut mereka.

 

Kalau mereka mulai bertanya, “Ini aman nggak?”, pertanyaan itu seharusnya didengar.

 

Bukan karena setiap rasa takut pasti benar, tetapi karena ketakutan tersebut bisa memengaruhi perilaku. Anak bisa menolak makan. Orang tua bisa keberatan. Sekolah bisa mengambil keputusan sendiri. Dan ketika keputusan seperti itu muncul di beberapa tempat lalu semuanya terdokumentasi di media sosial, persoalannya dapat bergerak lebih cepat daripada yang kita kira.

 

Mungkin tidak akan menjadi gerakan besar.

 

Mungkin juga hanya gelombang kecil yang segera hilang setelah sistem diperbaiki.

 

Kita belum tahu.

 

Tetapi kalau saya berada di posisi pemerintah, saya akan mulai memperhatikan pertanyaan sederhana tadi.

 

“Ini aman nggak?”

 

Sebab kalau pertanyaan itu hanya muncul dari satu anak, mungkin tidak banyak masalah.

 

Kalau mulai terdengar di banyak sekolah, saya kira sudah waktunya berhenti menganggapnya sebagai pertanyaan biasa.

  • Penulis: Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prof Bambang Qomaruzzaman: Idulfitri Tangkas Intoleransi dan Ekstremisme

    Prof Bambang Qomaruzzaman: Idulfitri Tangkas Intoleransi dan Ekstremisme

    • calendar_month Kamis, 27 Apr 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Guru Besar Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Bambang Qomaruzzaman, mengatakan Idulfitri merupakan proses spiritual untuk kembali terlahir menjadi insan fitri yang suci dan bebas dari kebencian, intoleransi, dan ekstremisme. Idulfitri berarti kembali menyadari tugas seorang Mukmin untuk dunia kehidupan ini, bukan untuk kelompoknya, untuk seluruh alam. “Sebagai pengelola, manusia mendapatkan […]

  • Inilah Strategi Menjadikan Karya Publikasi Masuk Indeks Scopus Ala UII

    Inilah Strategi Menjadikan Karya Publikasi Masuk Indeks Scopus Ala UII

    • calendar_month Senin, 18 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-YOGYAKARTA Selama ini jurnal internasional dimonopoli oleh pemikiran dan wacana yang dominan barat. Padahal penyeimbang wacana dari pemikiran ketimuran juga penting. Pemikiran dan wacana akademik ‘timur’ harus juga bisa menjadi referensi wacana akademik global. Wacana timur sudah barang tentu bisa juga menjadi referensi yang andal bagi pengembangan keilmuan. Bagaimana strategi agar de-westernisasi jurnal dapat dilakukan? […]

  • Inilah Kisah Guru Besar Sastra Arab Kembangkan Ilmu Perpustakaan

    Inilah Kisah Guru Besar Sastra Arab Kembangkan Ilmu Perpustakaan

    • calendar_month Kamis, 22 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Dr. Anis Masruri, S.Ag, SIP, M.Si, Dosen Prodi Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merupakan salah satu perguruan tinggi yang menyelenggarakan program studi ilmu perpustakaan hampir di seluruh jenjang pendidikan, mulai dari pendidikan vokasi (D-3) maupun pendidikan kesarjanaan, mulai dari S-1, S-2, sampai dengan S-3. […]

  • Perkuat Tradisi Akademik, Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Gelar Diseminasi Hasil Riset Dosen

    Perkuat Tradisi Akademik, Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta Gelar Diseminasi Hasil Riset Dosen

    • calendar_month Jumat, 5 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    TANGERANG SELATAN kanal31.com — Sekolah Pascasarjana (SPs) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menggelar Seminar Nasional Diseminasi Hasil Riset Dosen di Auditorium Prof. Dr. Suwito, M.A, Kampus 2 UIN Jakarta, Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Kamis (4/12/2025). Kegiatan ini menjadi ruang bagi para dosen untuk mempresentasikan hasil penelitian terbaru sekaligus memperkuat tradisi akademik di lingkungan kampus. Direktur SPs UIN […]

  • Luar Biasa! 8.000 Pelajar Daftar Program Beasiswa Santri Berprestasi 2024

    Luar Biasa! 8.000 Pelajar Daftar Program Beasiswa Santri Berprestasi 2024

    • calendar_month Senin, 29 Jul 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (JAKARTA) — Program Beasiswa Santri Berprestasi (PBSB) 2024 banjir peminat. Total ada 8.000 santri ikut mendaftar selama periode 3 – 13 Juli 2024. Mereka berasal dari berbagai pesantren yang tersebar di seluruh Indonesia. Pada tahap awal, panitia melakukan seleksi administrasi. Berkas pendaftaran yang diunggah para santri melalui website diverifikasi. Proses ini untuk memastikan seluruh berkas […]

  • Ayo Jadikan Basmalah Pedoman Hidup, Apa Maksudnya?

    Ayo Jadikan Basmalah Pedoman Hidup, Apa Maksudnya?

    • calendar_month Sabtu, 8 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    PALANGKARAYA kanal31.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak umat Islam untuk menjadikan basmalah atau bacaan Bismillahirrahmanirrahim sebagai pedoman hidup dalam setiap aktivitas, serta memperkuat kepatuhan terhadap ajaran syariat. Pesan ini disampaikan Menag saat menjadi khatib Salat Jumat di Masjid Raya Darussalam Palangka Raya.   “Jangan pernah kita meninggalkan salat Jumat tiga kali berturut-turut tanpa alasan […]

expand_less