Dosen Peraih Nobel Lebih Banyak Mikir dan Neliti, Bukan Isi Aplikasi
- account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
- calendar_month 6 jam yang lalu
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KALBAR kanal31.com — Masih cerita Nobel Prize, ilmuwan negeri ini masih menjadi penonton. Kapan mereka bisa mendapatkan hadiah paling bergengsi di dunia itu. Mari kita ungkap sambil seruput Koptagul, wak!
Anne L’Huillier sedang mengajar di Universitas Lund, Swedia, ketika telepon berdering. Kabar dari Stockholm, ia meraih Nobel Fisika 2023! Reaksinya? Cuma bilang, “Oh,” lalu melanjutkan mengajar. Kalem betul. Kalau dosen Indonesia ditelepon panitia Nobel, mungkin langsung menjawab, “Sebentar, Pak, saya sedang mengejar deadline SISTER, BKD, dan e-Kinerja. Nobel bisa menunggu, aplikasi tidak!”
Mario Vargas Llosa, peraih Nobel Sastra 2010, lima hari setelah pengumuman sudah kembali mengajar di Princeton. Dosen Indonesia? Lima hari bisa habis mengurus honor nyangkut tiga bulan. Surat kurang stempel, tanda tangan belum lengkap, operator minta revisi. Honor akhirnya cair, nilainya cukup untuk membeli kopi sambil menangisi nasib pendidikan.
Francis Halzen disebut peraih Nobel Fisika 2026, masih menulis proposal riset pada usia 82 tahun. Avram Hershko, peraih Nobel Kimia 2004, masih rajin bereksperimen di laboratorium. Mereka mengejar ilmu. Dosen Indonesia mengejar pejabat memegang tanda tangan. Bedanya tipis. Mereka memburu penemuan, kita memburu orang sedang dinas luar.
Survei Kompas 2025 mencatat dosen PTN bekerja rata-rata 69,64 jam per minggu, jauh di atas standar 40 jam. Rinciannya, mengajar 20,71 jam, meneliti 16,68 jam, pengabdian 9,54 jam, dan administrasi 11,43 jam. Hampir dua belas jam seminggu habis untuk administrasi! Kalau ada Nobel Mengisi Formulir, Indonesia bukan sekadar juara. Kita bisa mengirim delegasi khusus untuk mengisi formulir pendaftaran Nobel itu sendiri.
Aplikasinya pun ramai seperti pasar malam. Ada SISTER, PDDikti, Sinta, Garuda, e-Kinerja, Dapodik, ditambah aplikasi kampus yang singkatannya lebih rumit dari judul disertasi. Data sama dimasukkan berulang kali. Server tumbang, isi ulang. Sistem diperbarui, isi ulang. Operator berganti, isi ulang lagi. Dosen akhirnya menjadi makhluk langka, manusia yang hafal password lebih banyak dari teori keilmuannya.
Lalu datanglah sesembahan akademik bernama Scopus. Sebagian dosen rela merogoh jutaan hingga puluhan juta rupiah demi publikasi. Risiko jurnal predator dan publikasi bermasalah mengintai. Uang sudah ditransfer, jurnal ternyata kehilangan indeks. Artikel entah ke mana, sementara kampus terus menagih bukti. Grup WA dosen pun berubah menjadi loket pengaduan, “Ada kontak Scopus murah, cepat, dan tidak bikin dompet masuk ICU?”
Scopus penting, tetapi bukan Tuhan akademik. Artikel terindeks tidak otomatis bermutu. Jangan sampai penelitian dilakukan bukan untuk menjawab masalah masyarakat, melainkan demi mengejar angka kredit. Ilmu menjadi kendaraan, indeks menjadi tujuan, sedangkan akal sehat duduk di halte menunggu jemputan.
Profesor seharusnya punya waktu mengajar, membimbing, meneliti, dan berdiskusi. Namun, ketika administrasi menelan waktu, mahasiswa bisa berakhir dengan petuah sakti, “Silakan baca modul sendiri.” Dosen sibuk mengunggah berkas, mahasiswa sibuk mencari jawaban, ilmu sibuk menunggu giliran.
Pendidikan tinggi tidak akan maju hanya dengan menambah aplikasi, borang, rapat, dan target publikasi. Administrasi harus memudahkan, bukan menyandera. Penelitian perlu pendanaan, bukan sekadar tuntutan.
Dosen dibayar untuk mengembangkan ilmu, bukan mengembangkan kesabaran menghadapi server. Jangan-jangan Nobel Indonesia sebenarnya sudah lahir, tetapi masih tertahan karena berkas pengusulannya belum mendapat tanda tangan basah. Penemunya sudah siap mengguncang dunia, operatornya masih bilang, “Mohon unggah ulang, Pak!”
“Jadi, kapan ada dosen kita meraih hadiah Nobel, Bang?”
“Entahlah ye, wak. Yang penting artikel terbit di Scopus.” Ups
Foto Ai hanya ilustrasi
Rosadi Jamani
- Penulis: Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
