Mengagumi Ulama dan Artisme
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Kam, 22 Jan 2026
- comment 0 komentar

BANDUNG Kanal31.com — Mengagumi seorang ulama tanpa ulama itu pernah benar-benar menyadarkan kita secara pribadi, adalah artisme, yaitu psikologi kekaguman yang tak ada bedanya dengan mengagumi sosok, tokoh atau artis pada umumnya.
Pertama, ulama itu bukan untuk dikagumi tapi diserap ilmunya dan diamalkan sebisanya. Bila tak ada yang bisa diserap ilmunya sesuai minat dan kapasitas kita menerimanya, cari ulama lain.
Kedua, ulama itu untuk didengar nasehatnya, terutama nasehat yang menyadarkan kita secara pribadi, yaitu menyadarkan kesalahan-kesalahan kita atau memberi solusi konkrit atas masalah kita.
Bila tak begitu, pengaruh ulama pada kita hanyalah fenomena artisme. Bila kita bertengkar dengan orang-kelompok lain sesama umat soal emosi dukungan pada seorang ulama , itu adalah pertengkaran pemujaan artisme.
Ketiga, ulama itu bukan untuk dicari mana yang menguatkan pendapat kita kemudian kita jadi menyukainya. Itu artinya, ulama dijadikan penguat kelompokisme, ashabiyah bahkan fanatisme. Tapi sukailah ulama karena ia memberikan kita ilmu dan pemahaman baru tentang sesuatu yang lebih benar dan mencerahkan. Dan ini hanya akan dirasakan bila kita mampu membebaskan diri dulu dari semua pengelompokkan pemahaman, karena yang kita cari hanya satu: Kebenaran!!
Moeflich Hasbullah, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar