Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Resonansi Sa’i

Resonansi Sa’i

  • account_circle Tatang Astarudin, Pengasuh Pesantren Universal Al-Islamy Kota Bandung
  • calendar_month Senin, 30 Mar 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MAKKAH kanal31.com — Di antara Shafa dan Marwah, jamaah haji dan umroh berjalan. Kadang melangkah tenang, kadang berlari kecil. Gerak itu sederhana, jaraknya tidak panjang, tetapi maknanya melampaui dimensi ruang dan waktu.

Sa‘i bukan sekadar perpindahan fisik dari satu bukit ke bukit lain. Namun ia adalah ajaran tentang teologi ikhtiar— bahwa hidup harus terus bergerak, doa harus berjalan bersama gerak usaha. Usaha adalah ibadah. Gerak adalah tanda tidak “menyerah”.

Landasan utama sa‘i terdapat dalam firman Allah Swt dalam al-Qur’an :

إِنَّ الصَّفَا وَالْمَرْوَةَ مِن شَعَائِرِ اللَّهِ ۖ فَمَنْ حَجَّ الْبَيْتَ أَوِ اعْتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِ أَن يَطَّوَّفَ بِهِمَا ۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيْرًا فَإِنَّ اللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syi‘ar Allah. Maka barang siapa berhaji ke Baitullah atau berumrah, tidak ada dosa baginya untuk bersa‘i antara keduanya…” (QS. Al-Baqarah: 158)

Ayat ini turun untuk meluruskan kegelisahan sebagian sahabat yang merasa keberatan melakukan sa‘i karena pada masa jahiliyah terdapat praktik kesyirikan di sekitar dua bukit tersebut. Allah menegaskan bahwa Shafa dan Marwah adalah min sya‘a’irillah—bagian dari simbol-simbol agung agama-Nya.

Dengan demikian, sa‘i bukan tradisi budaya, melainkan syariat ilahiah yang memiliki akar wahyu.

Rasulullah SAW melaksanakan sa‘i dalam haji dan umrahnya, beliau bersabda:

اسْعَوْا فَإِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْيَ

“Bersa‘ilah kalian, karena sesungguhnya Allah telah mewajibkan atas kalian sa‘i.” (HR. Ahmad).

Dalam riwayat lain, ketika mendekati Shafa, Nabi SAW membaca ayat di atas, lalu memulai dari Shafa seraya bertakbir dan berdoa. Beliau melakukan tujuh kali perjalanan, dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah.

Praktik ini menjadi dasar bahwa sa‘i adalah bagian integral dari manasik haji dan umrah, dengan tata cara yang bersifat tauqifi (berdasarkan tuntunan wahyu, bukan kreasi manusia).

**

Para ulama berbeda pendapat tentang status hukum sa‘i, tetapi mayoritas bersepakat bahwa ia adalah rukun dalam haji dan umrah.

Imam Nawawi menegaskan dalam karyanya : Al-Majmu‘ bahwa sa‘i merupakan rukun haji dan umrah menurut mazhab Syafi‘i, sehingga tidak sah ibadah tanpa melaksanakannya.

Demikian pula Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni menyatakan bahwa sa‘i adalah rukun menurut mayoritas sahabat dan tabi‘in.

Sementara sebagian ulama Hanafiyah mengkategorikannya sebagai wajib, namun tetap menegaskan bahwa meninggalkannya mengharuskan dam (denda).

Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kedudukan penting sa‘i dalam struktur manasik.

Dimensi terdalam sejarah sa‘i tidak bisa dilepaskan dari kisah Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS ketika ditinggalkan di lembah tandus Makkah bersama bayi Ismail, ia tidak hanya pasrah. Namun berusaha, berlari, antara Shafa dan Marwah, mencari air.

Gerak itu bukan bentuk keputusasaan, melainkan ekspresi tawakkal aktif—keyakinan kepada Allah yang disertai usaha maksimal. Dari tujuh kali lari itulah, Allah menghadirkan mukjizat air Zamzam.

Sa‘i hari ini adalah semacam re-enactment spiritual dari peristiwa tersebut. Setiap jamaah yang melangkah di antara dua bukit itu sedang menghidupkan kembali pelajaran agung bahwa pertolongan Allah sering datang setelah ikhtiar serius dan tulus.

Ibn Taymiyyah menjelaskan bahwa manasik haji mengandung dimensi dzikrullah dan ittiba‘ (mengikuti jejak para nabi). Sa‘i adalah simbol mengikuti jejak Siti Hajar dalam kepasrahan yang aktif.

Sa‘i berbeda dari thawaf. Jika thawaf adalah gerak melingkar mengitari pusat tauhid, maka sa‘i adalah gerak linear—bolak-balik. Ia menggambarkan realitas hidup bahwa usaha yang kadang terasa berulang, bahkan melelahkan.

Dalam kehidupan, sering kali kita merasa sudah “berlari” namun belum melihat hasil. Sa‘i mengajarkan bahwa keberhasilan tidak selalu datang pada putaran pertama. Siti Hajar tidak berhenti pada langkah kedua atau ketiga. Ia terus bergerak hingga tujuh kali.

Angka tujuh dalam manasik melambangkan kesempurnaan ikhtiar. Seakan-akan Allah mengajarkan: sempurnakan usaha, lalu serahkan hasilnya kepada-Ku.

Sa‘i juga menegaskan kesetaraan. Tidak ada kelas sosial di antara Shafa dan Marwah. Semua bergerak dalam arus yang sama. Semua membawa harapan pribadi, tetapi dalam ruang kolektif penghambaan.

Abu Hamid al-Ghazali dalam refleksi spiritualnya menjelaskan bahwa gerak sa‘i melambangkan kegelisahan hati seorang hamba yang mencari rahmat Allah. Dari kegelisahan itulah lahir keikhlasan.

Sa‘i adalah metafora eksistensial: manusia adalah makhluk yang selalu “mencari”—mencari rezeki, makna, ketenangan. Namun Islam mengajarkan bahwa pencarian itu harus berada dalam orbit ketaatan.

Salah satu pelajaran terbesar sa‘i adalah keseimbangan antara tawakkal dan usaha. Siti Hajar tidak berkata, “Jika Allah menghendaki air, pasti akan datang.” Ia berlari. Tetapi ia juga tidak mengandalkan kekuatannya semata. Ia yakin Allah Maha melihat usaha hamba-Nya.

Inilah sintesis teologi Islam: usaha maksimal, dan hati tetap bersandar kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Sa‘i mengoreksi dua ekstrem: fatalisme tanpa usaha dan materialisme tanpa doa. Ia adalah jalan tengah yang memadukan keduanya.

***

Sa‘i bukan sekadar ritual yang dilakukan di Masjidil Haram. Ia adalah paradigma hidup. Setiap orang memiliki “Shafa” dan “Marwah”-nya sendiri. Ruang antara harapan dan kenyataan, antara doa dan jawaban.

Ketika seorang muslim menyelesaikan tujuh putaran sa‘i, ia tidak hanya menuntaskan rukun ibadah. Ia sedang memperbarui keyakinannya bahwa setiap usaha yang dilakukan karena Allah tidak akan sia-sia.

Allah SWT berfirman dalam al-Qur’an:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).

Ayat ini seakan menjadi resonansi makna sa‘i bahwa kehidupan adalah perjalanan usaha, dan Allah adalah tujuan akhirnya.

Semoga ketika kita berjalan antara Shafa dan Marwah, kita tidak hanya menggerakkan kaki, tetapi juga menggerakkan kesadaran—bahwa setiap langkah hidup adalah sa‘i menuju ridha-Nya. Wallahu’alam.

 

Makkah Al-Mukarromah

Menjelang Ashar, 02 Ramadhan 1447

Tatang Astarudin, Tour Leader Kloter 151. Pengasuh Pesantren Universal Al-Islamy Kota Bandung

  • Penulis: Tatang Astarudin, Pengasuh Pesantren Universal Al-Islamy Kota Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Selamat! 53 Peserta Masuk Tahap Verifikasi Faktual Kepustakaan Islam Award

    Selamat! 53 Peserta Masuk Tahap Verifikasi Faktual Kepustakaan Islam Award

    • calendar_month Minggu, 3 Nov 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (JAKARTA) — Kementerian Agama (Kemenag) tengah melakukan seleksi tahap kedua berupa verifikasi faktual dan wawancara bagi 53 peserta Kepustakaan Islam Award 2024 yang telah dinyatakan lulus seleksi administrasi tahap pertama. Seleksi ini berlangsung sejak 20 Oktober hingga 11 November 2024. “Verifikasi faktual dilakukan untuk kategori Perpustakaan Masjid dan Pegiat Literasi. Sementara itu, kategori Penulis Buku […]

  • Sekda Jabar: SPMB 2025 Berjalan Lancar dan Servernya Stabil

    Sekda Jabar: SPMB 2025 Berjalan Lancar dan Servernya Stabil

    • calendar_month Jumat, 13 Jun 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Pemerintah Daerah Provinsi Jawa Barat memastikan bahwa proses Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun 2025 Tahap 1 berjalan lancar, serta sistem dan servernya stabil. “Sistem dan server SPMB 2025 dalam kondisi stabil dan aman. Meskipun ada gangguan teknis yang sempat terjadi di hari kedua, itu merupakan kendala bersifat lokal, bukan sistemik, dan telah […]

  • MMR UIN Bandung Bahas Stabilitas Keamanan Pasca-Pemilu, Strategis TNI-Polri dan Perspektif Keislaman

    MMR UIN Bandung Bahas Stabilitas Keamanan Pasca-Pemilu, Strategis TNI-Polri dan Perspektif Keislaman

    • calendar_month Kamis, 12 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM BANDUNG — Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali menjadi tuan rumah diskusi Madrasah Malam Raboan (MMR), kali ini mengusung tema “Stabilitas Keamanan Pasca-Pemilu” Rabu (11/12/2024). Acara yang berlangsung secara interaktif ini menghadirkan sejumlah akademisi, mahasiswa, dan tokoh penting, dengan jumlah peserta mencapai 35 orang. Diskusi dimulai pukul 16.00 WIB dengan sesi pembukaan yang […]

  • UIN Jakarta Gelar Bedah Buku, Ekoteologi Manifestasi Fungsi Kekhalifahan Manusia

    UIN Jakarta Gelar Bedah Buku, Ekoteologi Manifestasi Fungsi Kekhalifahan Manusia

    • calendar_month Kamis, 11 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Ekoteologi merupakan upaya manusia dalam menjaga alam semesta sebagai manifestasi teologis atas posisinya sebagai khalifah. Allah mengamanahi manusia sebagai khalifah, yang tidak hanya berkewajiban membangun harmoni antar sesama manusia, tetapi juga manusia dengan alam lingkungannya. Oleh karenanya, alam harus diperlakukan dengan baik, sehingga keberlangsungan alam dan kemanusiaan juga terjamin dengan semestinya. Hal […]

  • Bdmbet Casinos Bästa Gratisbonus Utan Insättning

    Bdmbet Casinos Bästa Gratisbonus Utan Insättning

    • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    Auto-generated post_excerpt

  • Dari Semangat Kelas Menulis Melahirkan 4 Jurnal

    Dari Semangat Kelas Menulis Melahirkan 4 Jurnal

    • calendar_month Senin, 15 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    Wahyudin Darmalaksana, Kelas Menulis Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung SPI-BANDUNG Kelas Menulis adalah sebuah unit di Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Kelas Menulis berdiri secara resmi tanggal 26 Mei 2020 berdasarkan Surat Keputusan Dekan. Pendirian Kelas Menulis mendapat inspirasi dari keberadaan Writing Center yang menjamur di berbagai pendidikan tinggi dunia. Ia […]

expand_less