Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Antara Hasrat, Cinta dan Rasa yang Tertindas 

Antara Hasrat, Cinta dan Rasa yang Tertindas 

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Rabu, 16 Apr 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG kanal31.com — Tak sedikit orang berpura-pura kaget ketika mendengar kabar perselingkuhan bos dengan sekretarisnya, atasan dengan bawahannya, dokter dengan perawatnya, dosen dengan mahasiswanya, ustadz dengan santrinya dll, seolah itu tragedi besar yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Padahal, fenomena itu bukan perkara hitam-putih, bukan pula semata-mata soal moral atau aib agama, melainkan tentang dinamika manusia yang sedang mencari tempat bagi hasratnya yang dibungkam oleh norma, tapi terus bergejolak dalam tubuh dan batin.

Mari kita bicara jujur. Perempuan berusia muda, gadis berstatus sekretaris, ibu muda sebagai karyawati atau guru, mahasiswi yang sedang mekar, itu semua berada di usia biologis yang sedang hangat, usia gejolak syahwat tak bisa dibungkam hanya dengan dalil. Di sisi lain, banyaknya pria berusia matang, memiliki posisi kuasa sekaligus daya tarik tertentu: stabil secara finansial, matang secara verbal, dan punya otoritas intelektual yang menarik. Kombinasi antara hasrat dan kekaguman adalah bahan bakar paling mudah untuk menyalakan api relasi yang lebih intim dari sekadar hubungan kerja atau urusan akademik.

Tapi ini bukan hanya soal usia dan hasrat, ini juga tentang struktur sosial dan budaya yang memenjarakan gejolak hasrat. Laki-laki diberi naluri berpoligami oleh fitrahnya, oleh biologisnya, tapi di saat yang sama dihantam oleh sistem monogami yang menjadikan keinginan lebih dari satu dianggap buruk. Ketika keinginan itu muncul, masyarakat langsung mencap: tidak setia, tak bermoral, atau doyan perempuan. Padahal, yang sering tak disadari: justru karena tak ada saluran yang sah dan sehat bagi hasrat itu, ia mencari jalannya sendiri secara diam-diam.

Banyak istri yang mencintai suaminya tapi tak sanggup memahami kompleksitas biologis dan psikologis lelaki. Ketika suaminya gelisah dan mulai terdistraksi oleh pesona lain, mereka menganggap itu bentuk pengkhianatan, bukan kegelisahan eksistensial. Sementara di luar sana, perempuan muda hadir dengan semangat mengagumi, menyimak, memberi perhatian—hal-hal yang jarang lagi diterima lelaki di rumahnya yang sunyi dan penuh tuntutan.

Lalu muncullah peristiwa: tempat kerja jadi pertemuan rutin, kantor jadi ruang curhat, konsultasi akademik berubah jadi pelarian emosional, dan sebelum sadar, keduanya sudah larut dalam relasi yang tak lagi netral. Kita bisa marah, bisa mencaci, tapi kita juga bisa menyelami lebih dalam—bahwa ini bukan sekadar dosa, tapi juga jeritan jiwa yang tak punya ruang untuk menyalurkan fitrahnya secara manusiawi dan dewasa.

Banyak yang pura-pura alim mengharamkan poligami atas nama kesetiaan, padahal di belakang layar mereka menyimpan dua-tiga relasi diam-diam. Poligami yang seharusnya menjadi pintu syar’i untuk menyelamatkan syahwat justru dipenjara oleh stigma dan hukum sosial yang munafik. Maka ketika pintu halal ditutup, jalan haram pun dibuka oleh represi dan ketakutan terhadap omongan orang.

Fenomena ini bukan hanya soal moral individu, tapi juga tentang sistem sosial yang gagal memberi ruang aman bagi manusia untuk menjadi dirinya sendiri, mencintai tanpa merasa berdosa, dan jujur pada kerumitannya sendiri. Pria matang dan perempuan muda sering jadi korban dari represi sosial terhadap hasrat, bukan semata-mata pelaku kebejatan.

Tak perlu cepat menghakimi. Sebab dalam tubuh tiap manusia, ada kegelisahan yang tak selalu bisa diceritakan. Dalam batin tiap lelaki, ada pergulatan antara cinta yang ingin suci dan hasrat yang ingin hidup. Mungkin yang perlu kita lakukan bukan menghukum, tapi menciptakan ruang perbincangan yang jujur dan berani—tentang seksualitas, cinta, poligami, dan kemanusiaan.

Dan jangan lupa, Tuhan Maha Tahu keruwetan hati kita. Kadang, yang kita sebut sebagai dosa adalah teriakan sunyi dari jiwa yang lama tak dimengerti. Huh!!

Moeflich H. Hart, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung. 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Apakah DNA Bisa Membaca Tabir Takdir Manusia?

    Apakah DNA Bisa Membaca Tabir Takdir Manusia?

    • calendar_month Jumat, 9 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — DNA (Deoxyribonucleic Acid) dipandang sebagai cetak biru biologis manusia dengan takdir hidup. DNA ini memengaruhi kecenderungan fisik, intelektual, dan emosional seseorang. Kemajuan ilmu genetika telah membawa manusia kepada pemahaman bahwa DNA memiliki peran penting. DNA dapat menentukan berbagai aspek potensi kecerdasan, risiko penyakit, hingga sifat kepribadian. Pertanyaan utama yang diajukan adalah sejauh mana […]

  • 6 Larangan Saat Haid yang Harus Diketahui Muslimah

    6 Larangan Saat Haid yang Harus Diketahui Muslimah

    • calendar_month Selasa, 6 Sep 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Larangan yang harus ditaati dan diketahui wanita muslimah merupakan keharusan yang dipelajari agar tidak berdosa. Penetapan ini dilakukan agar wanita muslimah bisa memunculkan batasan-batasan ibadah yang sekaligus menjadi gugurnya kewajiban salat, menjalankan puasa, berhubungan suami istri dan sebagainya. Meskipun ada batasan dan larangan yang harus ditaati saat haid, bukan berarti wanita muslimah kehilangan pahala saat […]

  • Cirebon Permata Tersembunyi!

    Cirebon Permata Tersembunyi!

    • calendar_month Jumat, 29 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Sebastian adalah perencana kota asal Belgia. Dia ditugaskan Uni Eropa untuk membantu Kawasan Rebana dalam hal nature based solution (NBS). Orangnya santai, dan kata anak muda sekarang mah dia itu kalcer (culture) banget. Diajak makan empal gentong, sangat menikmati. Diajak makan sate di Stasiun Hall Bandung, juga begitu.   Kami ajak dia keliling […]

  • Ayo Bangun Desa Sadar Hukum: Kolaborasi Pendidikan dan Pemerintah

    Ayo Bangun Desa Sadar Hukum: Kolaborasi Pendidikan dan Pemerintah

    • calendar_month Senin, 24 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    GARUT, kanal31.com  — Ketua Program Studi Hukum Pidana Islam (HPI), Fakultas Syariah dan Hukum (FSH), UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Muhamad Kholid, SH, MH menegaskan pentingnya kolaborasi antara Lembaga Pendidikan dan Pemerintah Desa, terutama dalam meningkatkan pemahaman hukum masyarakat melalui pendekatan edukatif dan dialogis. Penegasan itu disampaikan dalam acara Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) “Penguatan […]

  • Jaksa Tak Siap, Keadilan Tertunda

    Jaksa Tak Siap, Keadilan Tertunda

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com – Sidang perkara dugaan pencemaran nama baik dan pelanggaran Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) dengan terdakwa Ferry Marjani dan Rizki Restu Ramdhani di Pengadilan Negeri Bandung, Kamis (2/7/2026), ditunda.   Agenda sidang yang semula dijadwalkan pembacaan tuntutan urung dilaksanakan setelah Jaksa Penuntut Umum (JPU) meminta penundaan karena surat tuntutan belum siap. […]

  • Indahnya Natal di Kota Bandung yang Merangkul Perbedaan

    Indahnya Natal di Kota Bandung yang Merangkul Perbedaan

    • calendar_month Jumat, 26 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Pagi Natal, Kamis (25/12/2025), Gereja Kristen Indonesia (GKI) Kebon Jati Bandung perlahan dipenuhi jemaat. Ada langkah-langkah kecil anak yang digandeng orang tuanya. Ada senyum para lansia yang datang lebih awal dan sapaan hangat antarwarga yang sudah saling mengenal bertahun-tahun. Di halaman gereja, petugas dan warga sekitar berdiri menyapa jemaat dengan ramah. Tidak […]

expand_less