Breaking News:
Beranda » BEWARA » Menghidupkan Kembali Legenda Java Preanger: Bagaimana Kopi Bandung Selatan Mengguncang Dunia dan Gerakkan Ekonomi Rp70 M

Menghidupkan Kembali Legenda Java Preanger: Bagaimana Kopi Bandung Selatan Mengguncang Dunia dan Gerakkan Ekonomi Rp70 M

  • account_circle Sungkawa Abdisunda
  • calendar_month Senin, 25 Mei 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG, kanal31.com – Bagi masyarakat urban saat ini, menyesap secangkir kopi di kafe estetik telah menjadi gaya hidup (lifestyle) yang tak terpisahkan. Namun, tak banyak yang tahu bahwa geliat kebangkitan kopi Arabika yang hari ini kita nikmati di Jawa Barat sesungguhnya lahir dari tangan dingin masyarakat dan rimbunnya hutan Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Bandung Selatan.

Lewat konsistensi selama lebih dari dua dekade, kawasan ini sukses memicu kembali kejayaan kopi Priangan yang sempat meredup sejak zaman kolonial.

Kisah sukses ini tidak terjadi dalam semalam. Mewakili Administratur Perhutani KPH Bandung Selatan Lily Kurnia Asih, KSS Komunikasi Perusahaan Ujang Halimudin —atau yang akrab disapa Uje— menceritakan bahwa riwayat hijau ini dimulai pascareformasi di awal tahun 2000-an. Saat itu, Perhutani tengah gencar mencari formula ideal untuk program agroforestry (tumpang sari).

“Tahun 2000 kami mencoba menanam banyak hal; mulai dari murbei untuk ulat sutra, rumput gajah, terong kori, jeruk, hingga kopi. Namun, sejarah mencatat sejak tahun 2007, kopilah yang paling menunjukkan taringnya,” kenang Uje saat ditemui di Bandung, Senin (25/05/2026).

Berbagai varietas unggulan seperti Lini S, Sigala Rutang, hingga Timtim ditanam dan dirawat. Hasilnya? Bandung Selatan menjelma menjadi ‘mekah’ studi banding bagi KPH-KPH lain di seluruh Pulau Jawa. Semangat budidaya ini pun menular cepat ke wilayah lain di Jawa Barat, seperti Garut dan Ciamis.

Simbiosis Mutu: Hutan Lestari, Dompet Petani Terisi

Dari total 55 ribu hektar lebih kawasan hutan yang dikelola KPH Bandung Selatan, sekitar 3.200 hektar di antaranya kini disulap menjadi hamparan kebun kopi yang subur. Proyek ini melibatkan kolaborasi masif dengan masyarakat lokal yang tergabung dalam 111 Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH).

Bukan sekadar urusan bisnis, Uje menegaskan budidaya kopi di bawah tegakan pohon hutan ini berhasil menyentuh tiga aspek krusial sekaligus: Ekologi, Ekonomi, dan Sosial.

“Secara ekologi, kopi memiliki akar tunggang yang kuat, menjadikannya tanaman konservasi yang sangat ampuh menahan erosi di lahan miring. Di sisi lain, secara sosial-ekonomi, komoditas ini berhasil menjadi motor penggerak utama kesejahteraan masyarakat desa hutan,” papar Uje.

Efek ekonominya pun tidak main-main. Perputaran uang dari panen kopi ceri Arabika gelondongan di kawasan ini diestimasikan menembus angka Rp70 miliar per musim (dengan asumsi harga rata-rata Rp15.000/kg).

Angka fantastis ini diprediksi akan terus meroket seiring meningkatnya literasi pascapandemi bagi para petani. Kini, mereka tidak lagi sekadar menjual buah ceri mentah, melainkan sudah mampu mengolahnya menjadi greenbean (biji kopi kering) yang memiliki nilai tawar jauh lebih tinggi di pasar regional maupun internasional.

Wangi Sejarah yang Mendunia

Kopi dari tanah Bandung Selatan -khususnya kawasan Ciwidey, Pangalengan, Banjaran, Ciparay, hingga Gunung Halu- memang memiliki karakteristik rasa (flavor profile) dan aroma yang unik. Bahkan, merujuk data Bappeda Jawa Barat, kopi Arabika yang ditanam di kaki Gunung Malabar, Pangalengan, sukses menyabet gelar Juara Pertama dalam festival kopi dunia di Atlanta, Amerika Serikat, beberapa waktu lalu.

Prestasi ini menjadi pembuktian bahwa cita rasa legendaris Java Preanger belum punah. Pada abad ke-17, VOC pernah memaksakan sistem Preangerstelsel (tanam paksa kopi) di pegunungan Priangan karena aromanya yang begitu digilai bangsawan Eropa. Hari ini, aroma yang sama kembali hadir, namun dibawa dengan semangat kemandirian petani lokal dan pengelolaan hutan yang berkelanjutan.

Sebagai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) di sektor kehutanan, Perhutani melihat potensi emas ini sebagai peluang besar untuk terus mendongkrak pendapatan perusahaan sekaligus ekonomi kerakyatan.

“Kami optimistis, perusahaan akan terus berkomitmen agar peluang emas agroforestry kopi ini dikelola dengan jauh lebih baik dan modern, demi kejayaan hutan dan kesejahteraan masyarakat yang menjaganya,” tutup Uje optimis. (ydi)

 

  • Penulis: Sungkawa Abdisunda

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Top! Mahasiswa UIN Bandung Sabet 2 Penghargaan Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Garut Tahun 2023 

    Top! Mahasiswa UIN Bandung Sabet 2 Penghargaan Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Garut Tahun 2023 

    • calendar_month Jumat, 1 Des 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM – (Bandung) Dede Restu, Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Sunan Gunung Djati, Bandung berhasil meraih 2 piala bergengsi dalam perhelatan Pasanggiri Mojang Jajaka Kabupaten Garut 2023 yang digelar di Hotel Harmoni, Cipanas, Garut, Kamis (23/11/2023). Ia menyabet juara kategori Best Enterpreneur dan Jajaka Kameumeut. Restu mengungkapkan bahwa perjuangan dan kerja kerasnya selama […]

  • Guru Besar Pelita Peradaban yang Menerangi Arah Bangsa

    Guru Besar Pelita Peradaban yang Menerangi Arah Bangsa

    • calendar_month Jumat, 10 Apr 2026
    • account_circle A. Rusdina Guru Besar UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Di tengah dinamika global yang terus berubah, termasuk konflik sosial dan ketegangan geopolitik, peran pendidikan tinggi menjadi semakin strategis. Pengukuhan Guru Besar tidak lagi dapat dimaknai sebagai seremoni akademik semata, tetapi sebagai momentum penguatan peran kampus dalam membangun peradaban. Namun, tantangan muncul ketika gelar akademik belum sepenuhnya bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang berdampak. […]

  • Rocky Gerung Tidak Berubah 

    Rocky Gerung Tidak Berubah 

    • calendar_month Jumat, 2 Okt 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

      Kritikus bukan berarti harus selalu mengkritik. Pemikir bebas tidak harus mengikuti selera publik. BANDUNG kanal31.com — Ada sesuatu yang menarik dari kegaduhan terakhir tentang Rocky Gerung. Selama bertahun-tahun Rocky dikenal sebagai salah satu suara paling tajam dalam mengkritik kekuasaan. Ia menjadi semacam ikon kritik: setiap kali pemerintah melakukan sesuatu, publik menunggu apa yang akan dikatakannya. […]

  • Terbuka Kesempatan Beasiswa S2 – S3 bagi Mahasiswa Perempuan

    Terbuka Kesempatan Beasiswa S2 – S3 bagi Mahasiswa Perempuan

    • calendar_month Rabu, 10 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    DEPOK kanal31.com –Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Sekretariat Jenderal, Kementerian Agama membuka kesempatan bagi mahasiswa perempuan untuk mendapatkan Beasiswa Indonesia Bangkit (BIB). Hal itu dikatakan Kepala Puspenma Ruchman Basori, pada Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Institut Ilmu Al-Quran Jakarta, di Hall Asrama Mahasiswa IIQ Jakarta, Parung. “Jangan lama-lama kuliah di IIQ […]

  • Hikmah Silaturahmi Idul Fitri: Perspektif Psikologis-Religius

    Hikmah Silaturahmi Idul Fitri: Perspektif Psikologis-Religius

    • calendar_month Sabtu, 28 Mar 2026
    • account_circle S. Miharja, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Idul Fitri merupakan momentum spiritual yang menandai keberhasilan umat Islam dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Dimensi penting dari Idul Fitri adalah silaturahmi, yaitu mempererat hubungan kekerabatan, memperbaiki komunikasi sosial, serta membangun kembali harmoni kehidupan. Dalam perspektif akademik, silaturahmi tidak hanya dipahami sebagai tradisi budaya, tetapi sebagai mekanisme penguatan struktur sosial, kesejahteraan psikologis, dan internalisasi […]

  • 4 Cara Menulis Jurnal Untuk Publikasi di SCOPUS & SINTA

    4 Cara Menulis Jurnal Untuk Publikasi di SCOPUS & SINTA

    • calendar_month Jumat, 12 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Bagi sebagian dosen, menulis jurnal bukan hal yang mudah dilakukan. Hal ini karena membuat jurnal harus dengan sistematis. Sehingga susunan setiap bab harus berurutan serta menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca. Bahkan, untuk melakukan penelitian sendiri membutuhkan waktu yang tidak sedikit. “Sebagai seorang peneliti, untuk membuat jurnal, kita harus experiment selama satu, dua […]

expand_less