Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Private Marriage atau Intimate Wedding

Private Marriage atau Intimate Wedding

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Senin, 9 Jun 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG Kanal31.com — Sekitar 2 tahun lalu saya terkesan oleh sebuah pernikahan tetangga, alumni Fakultas Syariah UIN Bandung, S2-nya di Manajemen ITB dan baru keterima kerja di Pertamina, Jakarta. Pernikahannya sederhana dan terasa nyaman. Undangan hanya keluarga dan tetangga dekat, acaranya pun sederhana, tak ada kemeriahan apalagi kemewahan. Antar tetangga, makan walimahan sambil ngobrol bercengkrama akrab. Bawah sadar saya mengatakan, saya ingin anak saya menikah seperti itu.

Sebulan yang lalu, saya tertarik dengan sebuah video Tiktok yang katanya viral. Ada pasangan nikah “cuek”: Datang berdua ka KUA, nikah disitu, diantar dua pihak keluarga, setelah nikah di KUA dan sah sebagai suami istri, tapi setelah nikah keduanya langsung pada pulang ke rumahnya masing-masing dan langsung tidur siang. Gak ada persiapan “riweuh” (ribet), gak ada harus langsung serumah, gak biaya mahal dan acara melelahkan. Bagi mereka berdua, nikah itu sederhana, yang tak sederhana adalah gengsi dan pestanya.

Dua minggu yang lalu, saya baru mendengar ada istilah “private marriage” atau “intimate wedding” yang konon lagi ngetren, yaitu pernikahan sederhana hanya dihadiri oleh keluarga inti, tetangga dekat dan teman-teman dekat dari kedua mempelai, jumlah undangan 50-100 orang.

Private marriage atau intimate wedding, tentu saja adalah sebuah pernikahan visioner: Pasangan menikah lebih memikirkan pasca pernikahan untuk memulai berumah tangga dengan biaya yang berhasil dikumpulkan ketimbang menghabiskan biaya besar untuk gengsi, apalagi setelahnya meninggalkan hutang. Konon, yang meninggalkan hutang setelah nikah itu banyak.

Hari ini, tadi pagi, tak menyangka, saya hadir ke sebuah intimate wedding teman saya di Grand Sharon Residence, Cipamokolan, Jl. Soekarno Hatta Bandung. Acara pernikahan berlangsung hanya dari jam 7 – 10 pagi. Selesai. Pernikahannya di Masjid Al-Mujahadah. Setelah akad dan sah, yang hadir dibagi kantong bagus berisi nasi kotak dan sovenir di halaman masjid. Saya datang jam setengah 10, tenyata sudah selesai.

Ngobrol di halaman masjid dengan kedua orang mempelai wanita, saya tanya banyak hal tentang pernikahan yang sederhana itu dalam suasana nyaman, gak ramai, gak panas, gak ada pesta, gak ada musik apalagi berisik, jumlah tamu sekitar 200 orang dan sebagian besar sudah pada pulang, jam 10 sudah selesai.

Di halaman masjid itu masih ada sedikit keramaian keluarga sekitar 30 orang. Tak ada dekorasi, gak ada kembang atau bunga-bunga, tak ada foto-foto pre-munding, tak ada ucapan selamat datang, tak ada EO, tak ada sewa gedung dan tak ada katering. Saya terus terang terkesan oleh kenyamanan suasana sederhananya padahal Grand Sharon adalah perumahan elit. Saya tanya keinginan siapa intimate weddingnya? “Ya anak saya sendiri,” kata si Ibu, “dan sesuai keinginan saya juga.”

Ke tetangganya, dalam sebuah pengajian rutin, si ibu sudah mengumumkan akan menikahkan anaknya dan mohon maaf gak bisa mengundang semuanya. “Hanya yang sekitar rumah, yang akrab, Pak RT dan Pak RW. Plus teman-teman dekat di kantor saya. Sudah itu aja.” katanya. ” Kalau diundang semua nanti terlalu banyak. Intinya kan sah secara agama, semua keluarga tahu, tetangga dekat dan teman-teman dekat tahu anak saya menikah. Kan begitu. “Bener Bu,” saya membenarkan.

Mengapa Intimate Wedding?

Secara sosiologis, kemunculan private atau intimate wedding adalah gejala rasionalisasi masyarakat yang cara berpikirnya kini semakin rasional, atau warasisasi dari budaya kapitalistik, budaya pesta, budaya gemerlap dan budaya hingar-bingar dari sebuah acara sakral bernama pernikahan. Kapitalisme sudah lama mengintip pesta pernikahan sebagai peluang bisnis, hasilnya kemewahan menjadi sebuah tradisi. Getirnya, banyak yang memaksakan diri dan berpikir pendek karena terbawa arus dan gengsi: Pernikahan mahal dan setelahnya morat-marit menghabiskan modal atau bahkan meninggalkan hutang.

Selain pernikahan visioner dari masyarakat waras, private dan intimate wedding, juga adalah gejala makin sadarnya orang pada ajaran agama: Pernikahan itu yang penting sah secara syariat agama, lalu keluarga, tetangga dan teman-teman dekat tahu. Itu saja, cukup. Tak perlu biaya besar dan kemewahan. Buat apa gengsi dan kemewahan dipentingkan tapi usia pernikahannya tak berlangsung lama: 1-3 tahun cerai lagi karena tak pada dewasa, tak sanggup mengatasi perbedaan dan gejolak badai rumah tangga, karena kurangnya pendidikan agama keduanya. Banyak orang malu dengan pernikahannya yang “wah,” mahal, tapi ternyata tak berusia lama, cerai lagi.

Nikah menurut Islam

“Ya Rasulallah,” kata Ali bin Thalib suatu saat kepada gurunya dan sosok yang paling dihormati dan digaungkan dalam hidupnya, Nabi Muhammad SAW, “aku ingin meminang putrimu Fatimah Az-Zahra sebagai istriku, bila engkau izinkan,” begitulah kira-kira pinta Ali sambil senyum mesem. Rasulullah SAW tersenyum memahami gejolak hati dan niat suci pemuda shaleh, cerdas dan terpercaya yang termasuk Assabiqunal Awwalun (golongan awal yang masuk Islam) itu. “Baiklah, apa yang kau punya untuk menikahi putriku wahai Ali?” Ali cuma bisa tersenyum malu: “Gak punya apa-apa ya Rasulallah, kecuali hanya cincin besi di jariku ini.” “Ya sudah, itu saja sebagai maharnya (mas kawin).” Ali pun diterima sebagai menantu Rasulullah SAW dan menjadi suaminya putri tercinta Nabi SAW, Fatimah Az-Zahra, putri penghuni surga.

Kisah yang saya gambarkan intinya itu, adalah ajaran pernikahan dalam Islam: Niat suci, menjalankan syariat, mahar sesanggupnya, umumkan ke keluarga terdekat, teman-teman dekat dan tetangga. Nikah itu suci, sakral dan ibadah, tak ada hubungannya dengan kemewahan dunia. Nikah itu sederhana dan murah, tapi berat tanggung jawabnya. Yang mahal itu gengsi, citra, kemewahan, gaya hidup dan budaya.

Private marriage atau intimate wedding adalah, selain gejala sadar masyarakat modern, juga fenomena berpikir yang semakin rasional dan substantif, dan perlawanan atas budaya hingar-bingar dan kemewahan yang menjenuhkan yang mengeringkan hati dan jiwa.

Selamat menjadi Muslim yang rasional, cerdas, visioner dan diridhai Allah!***

 

Moeflich H. Hart, Dosen Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

 

 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Top! Tim UMM Sabet Juara Kontes Robot Puspresnas 2022

    Top! Tim UMM Sabet Juara Kontes Robot Puspresnas 2022

    • calendar_month Senin, 20 Jun 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-MALANG Kabar gembira kembali datang dari Tim Robot Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Mereka mampu merengkuh juara 2 pada Kontes Robot Indonesia 2022 Regional Wilayah II yang dilaksanakan pada 11-13 Juni 2022 secara daring. Tim kebanggaan UMM ini berhasil meraih kemenangan pada kategori Kontes Robot SAR (KRSRI) yang diselenggarakan oleh Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas), Kementerian […]

  • Perdana, Writing Sprint Digagas Kelas Menulis FUAD IAIN KENDARI

    Perdana, Writing Sprint Digagas Kelas Menulis FUAD IAIN KENDARI

    • calendar_month Jumat, 1 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-KENDARI Hari ini Jum’at, (01/07/2022) Pukul 13.30 WITA di Kelas Menulis Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Dakwah (FUAD) IAIN Kendari akan berlangsung praktis penulisan artikel ilmiah secara offline. Mahasiswa sebanyak 50 Orang serentak akan melakukan praktik penguatan skills (keterampilan) academic writing. Pelatihan ini akan menerapkan strategi writing sprints melalui […]

  • Tingkatkan Mobilitas Pengguna Kursi Roda dengan Kuroli, Inovasi KK Fisika Instrumentasi dan Komputasi

    Tingkatkan Mobilitas Pengguna Kursi Roda dengan Kuroli, Inovasi KK Fisika Instrumentasi dan Komputasi

    • calendar_month Selasa, 31 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG Mengamati kelemahan kursi roda konvensional di Indonesia yang menguras tenaga dan sulit dioperasikan secara mandiri, serta terbatasnya kursi roda elektrik karena harus diimpor dan mahal, tim Kelompok Keilmuan Fisika Instrumentasi dan Komputasi merancang Kursi Roda Listrik (Kuroli), sebuah alat bantu mobilitas yang aman dan terjangkau bagi para pengguna kursi roda. Dr. Nina Siti Aminah […]

  • Pegiat Literasi dan Penulis, Yuk Ikutan Kepustakaan Islam Award 2024. Simak Baik-baik Ketentuannya!

    Pegiat Literasi dan Penulis, Yuk Ikutan Kepustakaan Islam Award 2024. Simak Baik-baik Ketentuannya!

    • calendar_month Jumat, 20 Sep 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Jakarta) — Kementerian Agama (Kemenag) membuka pendaftaran Kepustakaan Islam Award 2024. Penghargaan ini digelar untuk mendorong pertumbuhan ekosistem literasi, terutama bagi penulis, aktivis literasi, serta penerbit buku keagamaan. “Penghargaan ini dilatarbelakangi oleh keinginan kuat untuk memajukan literasi Islam di Indonesia, khususnya di kalangan praktisi kepustakaan, pegiat literasi dan penulis yang berperan dalam pengembangan kepustakaan Islam,” […]

  • Relasi Agama dan Negara

    Relasi Agama dan Negara

    • calendar_month Senin, 13 Jul 2026
    • account_circle Husein Muhammad, pengasuh Pondok Pesantren Dar Al-Fikr Cirebon
    • 0Komentar

    CIREBON, kanal31.com –Kemarin di hadapan audien acara bedah buku Qanun Asasi NU, karya Ibu hj. Dr. Lelly Leiliyyah , isteri K.H. Andul Hakim Mahfuzh, atau Gus Kikin, pengasuh Pesantren Tebuireng, Jombang, dengan moderatator Gus Nas, di PP. Kebon Jambu, asuhan Ibu Ny. Masriyah Amva, aku menyampaikan ini. Dalam situasi kehidupan berbangsa dan bernegara seperti sekarang […]

  • Ini Tips Hadapi Insecure dari Psikologi UGM, Acintya Ratna Priwati

    Ini Tips Hadapi Insecure dari Psikologi UGM, Acintya Ratna Priwati

    • calendar_month Sabtu, 16 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-YOGYAKARTA Dosen Fakultas Psikologi UGM, Acintya Ratna Priwati, S.Psi., M.A., menjelaskan insecure merupakan perasaan tidak mampu, kurang percaya diri, disertai dengan ketidakpastian dan kecemasaan akan tujuan, kemampuan maupun hubungan dengan orang lain. “Insecurity ini bisa muncul dalam berbagai bentuk yang secara umum terkait dengan perasaan ditolak, tidak dicintai, merasa terisolasi dan lainnya,” terangnya melalui rilis […]

expand_less