Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Ekoteologi sebagai Suara Bumi yang Merintih

Ekoteologi sebagai Suara Bumi yang Merintih

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sabtu, 6 Des 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Catatan dari Rapat Kerja Nasional Forum Dekan Fakultas Ushuluddin PTKI Se-Indonesia

BANDUNG kanal31.com — Di awal Desember 2025, ketika para dekan Fakultas Ushuluddin dari seluruh Indonesia berkumpul di Bandung, bumi sedang berbicara dengan caranya yang paling getir. Di Sumatera dan Aceh, tanah yang dulu subur kini retak dan longsor. Sungai-sungai meluap menelan rumah dan ladang, seolah ingin mengingatkan manusia bahwa setiap tetes air memiliki ingatan, setiap aliran sungai memiliki batas kesabaran. Dari gelondongan kayu yang terbawa banjir dan bongkahan batu dan tanah yang menerjang, bumi bersuara lirih bukan dengan kata-kata, tetapi dengan jerit luka yang boleh jadi kitalah penyebabnya.

 

Bertempat di hotel Shakti, lahirlah Resolusi Shakti 2025 yang menghasilkan “delapan seruan” yang bukan sekadar dokumen kelembagaan, melainkan sebagai pernyataan iman bahwa bumi adalah bagian dari wahyu yang terlupakan. Fakultas Ushuluddin, pewaris ilmu-ilmu dasar agama, menatap kembali akar spiritual dari krisis ekologi, bahwa kerusakan alam tidak berawal dari alat, tetapi dari jiwa manusia yang kehilangan rasa sakral terhadap ciptaan.

 

Manusia sebagai Khalifah

Kita telah lama memperlakukan bumi seperti objek. Antroposentrisme modern mengajarkan bahwa alam hanyalah sumber daya, bukan saudara dalam keberadaan. Padahal, di dalam khazanah Islam, manusia disebut khalīfah bukan untuk menguasai, tetapi untuk menjaga. Khilāfah bukan lisensi untuk menundukkan bumi, melainkan amanah untuk merawat keseimbangannya (mīzān). Inilah makna terdalam dari seruan pertama Resolusi Shakti: dekonstruksi paradigma antroposentris. Kita dipanggil untuk kembali pada teologi yang menempatkan manusia sebagai penjaga, bukan predator dalam rantai kehidupan.

 

Namun, kesadaran tidak berhenti di tataran wacana. Resolusi kedua dan ketiga menyeru agar kampus menjadi laboratorium hidup ekoteologi, tempat ilmu dan praktik bersatu. Jaman menghendaki Fakultas Ushuluddin harus bertransformasi dari menara gading menjadi ladang yang menumbuhkan kesadaran ekologis. Kurikulum tidak lagi cukup mengajarkan ayat qauliyah semata, tetapi juga menafsirkan ayat kauniyah: bagaimana daun, batu, dan sungai berbicara tentang kebijaksanaan Tuhan.

 

Riset Ushuluddin

Tragedi di Sumatera dan Aceh menyingkap satu hal penting, bahwa pengetahuan tanpa empati akan gagal menyelamatkan bumi. Maka, riset Ushuluddin ke depan tidak boleh berhenti pada perdebatan terminologis atau tafsir tekstual, melainkan harus menjelma menjadi solusi konkret. Konsorsium riset lintas disiplin yang diusulkan bukan sekadar forum akademik, tetapi wadah untuk memadukan sains, teologi, dan aksi sosial, menghadirkan model kehidupan berkelanjutan yang bisa diterapkan dari pesantren hingga desa-desa di lereng gunung.

 

Lebih jauh, pendampingan komunitas dan filantropi ekologis yang diikrarkan dalam resolusi keempat menjadi jembatan antara ilmu dan laku. Fakultas Ushuluddin dipanggil untuk turun ke bumi, bukan hanya berbicara tentang surga. Di desa-desa yang kehilangan hutan, di pesisir yang dihantam banjir rob, para ulama dan akademisi diharapkan hadir bukan sebagai pengkhotbah, melainkan sebagai penyembuh luka ekologi. Filantropi dalam semangat ini bukan sekadar memberi, melainkan menumbuhkan kesadaran dan kemandirian ekologis, sebuah sadaqah jariyah untuk bumi.

 

Aliansi Strategis

Dalam dunia yang terfragmentasi oleh kepentingan, Resolusi Shakti menyerukan aliansi strategis lintas sektor. Alam tidak mengenal batas agama, suku, atau bangsa, maka merawatnya pun harus dilakukan lintas sekat. Inilah panggilan spiritual sekaligus sosial untuk bersinergi dengan komunitas adat, seniman, aktivis muda, lembaga lintas iman, hingga pemerintah. Alam adalah rumah bersama, dan bencana ekologis adalah bencana iman jika kita diam.

 

Di balik itu, muncul gagasan besar: transisi menuju ekonomi regeneratif berbasis nilai Islam. Krisis ekologi sesungguhnya berakar pada kerakusan ekonomi ekstraktif yang menafikan keberkahan (barakah) dan keseimbangan. Fakultas Ushuluddin melalui rapat kerja ini mengingatkan bahwa keberlimpahan sejati tidak lahir dari akumulasi, tetapi dari kebercukupan yang adil (kafā’ah). Dalam paradigma Islam, ekonomi yang merusak bumi adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat Allah.

 

Gerakan ini tidak akan kuat tanpa ruang partisipasi. Karena itu, resolusi ketujuh menyerukan pembentukan platform digital terbuka untuk gerakan ekoteologi. Di era digital, dakwah ekologis harus melintasi batas geografis. Ruang maya bisa menjadi majelis zikir baru, tempat berbagi pengetahuan, praktik, dan inspirasi untuk hidup yang lebih ramah terhadap bumi.

 

Kampanye Global Ekoteologi

Dan akhirnya, kampanye global ekoteologi Islam Indonesia adalah puncak dari seluruh ikhtiar ini. Dunia sedang mencari arah spiritual baru di tengah krisis iklim global. Indonesia, dengan warisan Islam Nusantaranya yang moderat dan penuh kasih, memiliki peran historis untuk menunjukkan bahwa ekoteologi Islam bukan sekadar teori, melainkan jalan hidup yang memelihara bumi sebagaimana kita memelihara iman.

 

Ketika banjir merendam rumah-rumah di Aceh dan longsor menelan jalan-jalan di Sumatera, bumi tidak sedang menghukum, tetapi sedang mengingatkan. Ia mengajak manusia untuk kembali mendengar. Resolusi Shakti 2025 adalah bentuk jawaban kolektif dari para pewaris ilmu ketuhanan terhadap jeritan itu. Ia bukan sekadar seruan administratif, melainkan ikrar spiritual, bahwa mencintai Allah berarti mencintai bumi-Nya.

 

Kini, saat air mulai surut dan lumpur masih menempel di dinding rumah warga, Fakultas Ushuluddin se-Indonesia berkomitmen menapaki jalan baru, jalan yang menghubungkan ilmu, iman, dan alam. Karena sesungguhnya, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia, supaya Allah memperlihatkan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).

 

Mungkin inilah saatnya kita kembali, tidak sekadar ke masjid, tetapi ke bumi yang telah kita sakiti. Dari Bandung, dari pertemuan para dekan fakultas Ushuluddin se-Indonesia, sebuah tekad lahir: ilmu Ushuluddin bukan hanya untuk memahami Tuhan, tetapi juga untuk menyembuhkan dunia yang Tuhan titipkan. Allahu a’lam.

 

Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Selamat! Jurnal Pendidikan Islam UIN Bandung Terindeks Scopus

    Selamat! Jurnal Pendidikan Islam UIN Bandung Terindeks Scopus

    • calendar_month Jumat, 29 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG  Satu lagi publikasi ilmiah binaan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam yang menunjukkan peningkatan prestasi di tingkat dunia. Jurnal Pendidikan Islam yang diterbitkan oleh Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, kini tercatat sebagai jurnal internasional bereputasi dan terakreditasi pada Sinta-1, per 27 Juli 2022. Seminggu sebelumnya, tepatnya 20 Juli 2022, Jurnal Ulumuna yang […]

  • Diprediksi, hanya 10 Gubes yang Berani Nyalon Rektor UIN Bandung

    Diprediksi, hanya 10 Gubes yang Berani Nyalon Rektor UIN Bandung

    • calendar_month Kamis, 26 Jan 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 17Komentar

    BANDUNG, kanal31.com— UIN Sunan Gunung Djati Bandung memiliki 55 Guru Besar (profesor). Mereka pemegang otoritas tertinggi di bidang akademik, karena perannya sebagai motor penggerak berbagai aktivitas di kampus. Mereka juga menjadi ikon universitas karena kontribusinya dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, sehingga performa lembaganya menjadi bergengsi dan bereputasi. Karena perannya yang istimewa, wajar kalau ada regulasi yang […]

  • Penyuluh Lintas Agama Garda Terdepan Toleransi

    Penyuluh Lintas Agama Garda Terdepan Toleransi

    • calendar_month Rabu, 13 Agt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA kanal31.com — Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan pentingnya kolaborasi penyuluh lintas agama dalam menjaga ekosistem toleransi yang rukun hingga ke akar rumput. Hal ini ia sampaikan dalam rapat rutin bersama Pejabat dan Staf Ahli Kementerian Agama di Kantor Kemenag, Jakarta Pusat. Menag menilai, tantangan kerukunan umat beragama di era digital semakin kompleks. Isu yang […]

  • Membumikan Ekoteologi: UIN Bandung Lepas 6.770 Mahasiswa KKN 2026 hingga ke 8 Negara

    Membumikan Ekoteologi: UIN Bandung Lepas 6.770 Mahasiswa KKN 2026 hingga ke 8 Negara

    • calendar_month Senin, 20 Jul 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — UIN Sunan Gunung Djati Bandung kembali mengukuhkan komitmennya dalam mengabdi kepada masyarakat. Mengusung tema “Membumikan Ekoteologi Berbasis Rahmatan lil Alamin,” kampus berbasis Islam ini resmi melepas 6.770 mahasiswa peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2026 untuk menyebar kebermanfaatan, mulai dari pelosok Nusantara hingga ke delapan negara di dunia. Acara pelepasan digelar secara hibrida […]

  • Sekjen Kemenag Monitor Uji Pengetahuan PPG di UIN Bandung

    Sekjen Kemenag Monitor Uji Pengetahuan PPG di UIN Bandung

    • calendar_month Senin, 4 Nov 2024
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG,kanal31.com– Sebanyak total 15.247 guru binaan Kementerian Agama (Kemenag) mengikuti Ujian Pengetahuan Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang digelar Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Sabtu (02/11/2024). UP PPG yang digelar secara daring dan dipusatkan pada 10 Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK). Ke-10 LPTK tersebut adalah UIN Alauddin Makassar, UIN Mataram, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Raden […]

  • Media dan Pesantren 

    Media dan Pesantren 

    • calendar_month Jumat, 17 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com –Ketika melihat tayangan “Xpose Uncensored” di Trans7 yang memicu kontroversi dan kegaduhan di media sosial, sebagai santri, saya geram, marah, tidak terima, sosok Kiai yang sangat dimuliakan di kalangan pesantren, dinarasikan secara tidak proporsional dan direndahkan dengan intonasi dan diksi suara bernada sinis negatif. Saya menduga, orang-orang yang berada di belakang program tersebut […]

expand_less