Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Derrida: Menyusuri Jejak yang Tak Pernah Selesai

Derrida: Menyusuri Jejak yang Tak Pernah Selesai

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 14 Sep 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG Kanal31.com — Dalam setiap kata yang kita ucapkan, dan pada setiap makna yang kita yakini hadir secara utuh, mungkin sebenarnya ada celah yang tak kita sadari dan kita luput mengamatinya –sebuah ruang dimana makna justru menghindar, menunda kehadirannya. Di sanalah, barangkali, Jacques Derrida menunggu. Bukan sebagai penjaga pintu kebenaran, tapi sebagai penanya yang setia, yang dengan sabar menggugah kesadaran kita untuk tidak cepat-cepat merasa puas dan selesai dengan pemahaman.

 

Pemikiran Derrida adalah ajakan untuk mengendap sejenak, di antara yang terang dan yang samar, antara yang diucap dan yang tersisa. Ia hendak mengguncang keyakinan kita pada makna yang stabil dan utuh. Ia mengguyahkan kepercayaan lama kita bahwa bahasa mampu merepresentasikan bahkan menjinakkan kenyataan.

 

Bagi Derrida, tidak ada makna yang hadir sepenuhnya, seutuhnya –ia selalu datang tertunda, berbeda, dan terserak dalam jaringan kata-kata yang saling menandai, saling menghindari. Ia menyebut ini sebagai différance, sebuah istilah yang tidak ingin selesai dalam arti, karena sejak awal memang dimaksudkan untuk menolak keutuhan dan kesempurnaan makna.

 

Derrida tidak menghancurkan teks, melainkan menyimak dan mendengarkan apa yang tersembunyi di balik teks, apa yang mungkin ditekan oleh struktur, oleh budaya, oleh warisan metafisika Barat yang selalu mendewakan pusat, asal, dan kehadiran. Ia menyusuri jejak-jejak makna yang tersembunyi di pinggir, yang terpinggirkan, yang terdiam.

 

Dalam oposisi-oposisi biner seperti laki-laki/perempuan, rasional/irasional, Barat/Timur, ia menemukan praktek kekuasaan yang bekerja secara halus seolah tak terdeteks, menempatkan satu di atas yang lain, dan menyebut itu sebagai “kebenaran”. Tapi kebenaran macam apa yang lahir dari ketimpangan?

 

Dengan dekonstruksi, Derrida mengajak kita untuk membuat “tanda kurung” dengan menunda penghakiman. Dekonstruksi tak sekadar membongkar, tetapi mengajak kita untuk membaca ulang, meraba kemungkinan-kemungkinan baru dalam teks dan dalam cara kita melihat dunia. Ini bukan sekadar proyek akademik, melainkan sikap hidup: bahwa makna tidak pernah bisa mutlak, dan bahwa setiap kehadiran selalu membawa bayangan dari ketidakhadiran.

 

Ada yang menganggap pemikirannya rumit, bahkan membingungkan. Tapi barangkali kebingungan itu bukan kegagalan, melainkan pintu untuk kerendahan hati –untuk mengakui bahwa kita tidak selalu tahu, dan bahwa mungkin tidak ada satu pun cara tunggal untuk memahami apa pun.

 

Di dunia yang sering tergesa-gesa dalam menyimpulkan, Derrida dengan dekontruksinya menawarkan sikap dan ketekunan untuk meragukan. Dalam dunia yang gemar memberi label, ia membujuk bahkan mengajak kita untuk mendengar yang tak terdengar, melihat yang tersembunyi, membaca yang tersirat.

 

Mungkin, Derrida tidak memberikan jawaban pasti dan memuaskan. Tapi justru di situlah nilainya: ia mengajarkan kita seni bertanya. Dan bukankah dalam setiap pertanyaan yang sungguh-sungguh, kita sebenarnya sedang mendekati sesuatu yang lebih jujur dari sekadar jawaban? Allahu a’lam

Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengungkap Penyebab Mundurnya Gubernur BI, Benarkah Alasan Pribadi

    Mengungkap Penyebab Mundurnya Gubernur BI, Benarkah Alasan Pribadi

    • calendar_month Senin, 27 Jul 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR, kanal31.com — Kita lanjutkan kisah mundurnya Gubernur BI, Pak Perry. Mundurnya karena alasan pribadi. Benarkah demikian? Mari kita ungkap sambil seruput Koptagul, wak! Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia. Suratnya dikirim 25 Juli 2026. Presiden Prabowo menerimanya sehari kemudian. Senin, 27 Juli 2026, diumumkan resmi. Padahal masa jabatan beliau masih sampai 2028. Alasannya? […]

  • Tak Sekadar Ormawa, MAHAPEKA Jadi Rumah Tempat Pulang

    Tak Sekadar Ormawa, MAHAPEKA Jadi Rumah Tempat Pulang

    • calendar_month Selasa, 18 Feb 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Kegiatan pendidikan dan pelatihan dasar (Diklatsar)  bagi kader muda MAHAPEKA (Mahasiswa Pencinta Kelestarian Alam) UIN Bandung tiada lain bertujuan mengembangkan pemahaman, keterampilan, dan integritas sebagai pecinta alam yang disiplin. Demikian penegasan Kasubtim Pranata Humas Bagian Kemahasiswaan UIN SGD Bandung, Muhammad Helmi Kahfi –mewakili Wakil Rektor III Prof. Husnul Qodim– saat penutupan Diklatsar XXXIX […]

  • Tumbuhkan Budaya Literasi Generasi Alfa Jadi Fokus Kajian UI

    Tumbuhkan Budaya Literasi Generasi Alfa Jadi Fokus Kajian UI

    • calendar_month Selasa, 31 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Berdasarkan survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) yang dirilis Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) pada 2019, Indonesia termasuk dalam 10 negara dengan tingkat literasi paling rendah. Menurut Duta Baca Indonesia, Gol A Gong, budaya literasi menurun pada generasi muda karena kurangnya koleksi buku dan jumlah penulisnya. Dari 273 juta […]

  • Tips Menulis di Jurnal Internasional Scopus Ala Bang Idham

    Tips Menulis di Jurnal Internasional Scopus Ala Bang Idham

    • calendar_month Kamis, 11 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Prestasi membanggakan ditorehkan Idhamsyah Eka Putra, seorang dosen di Universitas Persada Indonesia YAI (UPI). Pria yang akrab disapa bang Idham, ini memperoleh penghargaan bergengsi dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai Insan Indonesia yang Mempublikasikan Tulisan di Jurnal Terindeks Scopus Secara Berturut-turut dan Terlama, yaitu selama 10 tahun, dari 2013-2022. Tak main-main, tercatat sampai […]

  • Selamat! UIN Mataram Unggul, Lahir Duta-duta Kelas Menulis FUSA

    Selamat! UIN Mataram Unggul, Lahir Duta-duta Kelas Menulis FUSA

    • calendar_month Jumat, 6 Sep 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Mataram) — Sivitas akademik UIN Mataram tengah berbahagia. Pasalnya, universitas terkemuka ini baru saja meraih akreditasi unggul hari Selasa, 3 September 2024.     Prof. Dr. H. Masnun, M. Ag., Rektor UIN Mataram mengungkapkan capaian akreditasi unggul. “Kami meraih anugerah peringkat unggul akreditasi institusi sebagai capain kinerja seluruh sivitas akademik,” ungkapnya kepada Tim Kelas […]

  • Farhan: Soal Kuliner dan Budaya, Kota Bandung Perlu Belajar dari Thailand

    Farhan: Soal Kuliner dan Budaya, Kota Bandung Perlu Belajar dari Thailand

    • calendar_month Minggu, 27 Apr 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com– Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, bertekad membawa kuliner dan budaya Kota Bandung lebih dikenal di tingkat internasional. Ia menilai, Bandung perlu belajar dari Thailand, yang berhasil membuat kuliner nasionalnya mendunia. Hal tersebut disampaikan Farhan dalam acara Gastrodiplomacy Journey: Immersive Culinary Experiences of Indonesia and Thailand yang digelar di Pendopo Kota Bandung, Minggu (27/4/2025). […]

expand_less