MBG: Mobil Berat Menuruni Jurang
- account_circle Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
- calendar_month Rabu, 14 Okt 2026
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MALANG, kanal31.com —ย Bayangkan sebuah mobil angkut bermuatan hasil bumi sedang menuruni jalan pegunungan yang terjal. Muatannya penuh, lajunya semakin kencang, sementara di kanan-kiri jalan terbentang jurang yang menganga. Beberapa petugas berusaha mengamankan perjalanan. Mereka berlari, memberi aba-aba, bahkan berusaha mengendalikan laju kendaraan. Masalahnya, mobil terlalu berat, turunan terlalu curam, dan kemampuan rem tidak sebanding dengan beban serta kecepatan kendaraan. Dalam situasi seperti itu, kecelakaan bukan lagi sekadar kemungkinan yang bisa diabaikan.
Bagi saya, gambaran itu cukup menjelaskan persoalan mendasar program Makan Bergizi Gratis (MBG). Tujuannya baik. Anak-anak membutuhkan asupan gizi yang memadai agar tumbuh sehat dan dapat belajar dengan optimal. Persoalannya bukan terletak pada tujuan tersebut, melainkan pada cara mewujudkannya, kapasitas pelaksanaannya, serta kesiapan sistem yang menopang program berskala besar ini.
Program sebesar MBG bukan pekerjaan membagikan makanan semata. Ada rantai pasok bahan pangan, dapur penyedia, tenaga pengolah, standar kebersihan, distribusi, pengawasan mutu, pembiayaan, hingga mekanisme evaluasi. Setiap mata rantai memiliki risiko. Satu bagian yang gagal dapat memengaruhi keseluruhan proses. Makanan yang terlambat, kualitas bahan yang buruk, pengolahan yang tidak higienis, atau pengawasan yang lemah bukan persoalan sepele ketika program menyangkut jutaan penerima manfaat.
Di sinilah persoalan kebijakan publik sering muncul: ambisi bergerak lebih cepat daripada kapasitas sistem. Target besar ditetapkan, pelaksanaan dikebut, anggaran digelontorkan, dan keberhasilan seolah diukur dari seberapa cepat program menjangkau masyarakat. Padahal, kecepatan bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Program publik juga harus dinilai dari kualitas layanan, keamanan, efisiensi biaya, pemerataan manfaat, dan kemampuannya bertahan dalam jangka panjang.
Kita tentu tidak boleh menganggap setiap persoalan sebagai bukti bahwa MBG harus dihentikan. Itu kesimpulan yang terlalu tergesa-gesa. Sebaliknya, kita juga tidak boleh menganggap kritik sebagai upaya menggagalkan program hanya karena program tersebut membawa tujuan yang mulia. Niat baik tidak otomatis menghasilkan tata kelola yang baik. Kebijakan yang bermanfaat pun tetap harus diuji, dikritik, dan diperbaiki.
Bayangkan jika mobil yang melaju kencang itu mengalami masalah. Apakah solusinya cukup dengan menambah petugas pengawal? Tentu tidak. Kita perlu memeriksa kondisi kendaraan, menghitung kapasitas muatan, menguji rem, memetakan kemiringan jalan, dan menentukan kecepatan yang aman. Jika diperlukan, kendaraan harus diperlambat, sebagian muatan dikurangi, atau perjalanan dihentikan sementara untuk perbaikan.
Logika yang sama semestinya berlaku pada MBG. Pemerintah perlu memastikan kapasitas dapur dan distribusi benar-benar memadai, standar keamanan pangan diterapkan secara konsisten, pengawasan independen berjalan, serta setiap insiden ditangani secara terbuka. Perluasan program sebaiknya mengikuti bukti bahwa sistem mampu bekerja dengan aman, bukan semata-mata mengikuti target administratif dan tekanan politik.
Yang lebih penting, evaluasi tidak boleh berhenti pada pertanyaan siapa yang harus disalahkan ketika terjadi masalah. Pertanyaan yang lebih mendasar adalah mengapa sistem memungkinkan masalah itu terjadi. Jika penyebabnya bersifat struktural, mengganti petugas tanpa memperbaiki sistem hanya akan mengulang persoalan yang sama dengan orang yang berbeda.
Pemerintah tentu memiliki tanggung jawab untuk memastikan program berjalan. Namun, tanggung jawab itu tidak berarti harus memaksakan laju pelaksanaan ketika kapasitas belum siap. Keberanian pemimpin bukan hanya kemampuan meluncurkan program besar, melainkan juga kesediaan mengoreksi keputusan ketika kenyataan menunjukkan adanya risiko.
MBG membawa harapan bagi perbaikan gizi anak-anak Indonesia. Harapan itu layak diperjuangkan dengan sungguh-sungguh. Justru karena tujuannya penting, keselamatan penerima manfaat, kualitas pelaksanaan, dan akuntabilitas penggunaan anggaran tidak boleh dikorbankan demi kecepatan.
Jangan sampai kita terlalu sibuk mengagumi tujuan perjalanan, tetapi lupa memeriksa kendaraan yang mengantarkan kita ke sana. Sebab, ketika mobil sudah meluncur deras menuju turunan, pertanyaan terpenting bukan lagi seberapa cepat kita tiba, melainkan apakah kita masih mampu mengendalikan arah dan kecepatannya.
Kebijakan yang baik bukan kebijakan yang paling cepat melaju, melainkan kebijakan yang mampu mencapai tujuan tanpa mempertaruhkan keselamatan orang-orang yang seharusnya dilindungi.
—
Bagaimana? Apakah saya sudah cocok jadi WANTIMPRES? ๐คฃ
- Penulis: Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
