Selasa, 2 Jun 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Ekoteologi sebagai Suara Bumi yang Merintih

Ekoteologi sebagai Suara Bumi yang Merintih

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Sab, 6 Des 2025
  • comment 0 komentar

Catatan dari Rapat Kerja Nasional Forum Dekan Fakultas Ushuluddin PTKI Se-Indonesia

BANDUNG kanal31.com — Di awal Desember 2025, ketika para dekan Fakultas Ushuluddin dari seluruh Indonesia berkumpul di Bandung, bumi sedang berbicara dengan caranya yang paling getir. Di Sumatera dan Aceh, tanah yang dulu subur kini retak dan longsor. Sungai-sungai meluap menelan rumah dan ladang, seolah ingin mengingatkan manusia bahwa setiap tetes air memiliki ingatan, setiap aliran sungai memiliki batas kesabaran. Dari gelondongan kayu yang terbawa banjir dan bongkahan batu dan tanah yang menerjang, bumi bersuara lirih bukan dengan kata-kata, tetapi dengan jerit luka yang boleh jadi kitalah penyebabnya.

 

Bertempat di hotel Shakti, lahirlah Resolusi Shakti 2025 yang menghasilkan “delapan seruan” yang bukan sekadar dokumen kelembagaan, melainkan sebagai pernyataan iman bahwa bumi adalah bagian dari wahyu yang terlupakan. Fakultas Ushuluddin, pewaris ilmu-ilmu dasar agama, menatap kembali akar spiritual dari krisis ekologi, bahwa kerusakan alam tidak berawal dari alat, tetapi dari jiwa manusia yang kehilangan rasa sakral terhadap ciptaan.

 

Manusia sebagai Khalifah

Kita telah lama memperlakukan bumi seperti objek. Antroposentrisme modern mengajarkan bahwa alam hanyalah sumber daya, bukan saudara dalam keberadaan. Padahal, di dalam khazanah Islam, manusia disebut khalīfah bukan untuk menguasai, tetapi untuk menjaga. Khilāfah bukan lisensi untuk menundukkan bumi, melainkan amanah untuk merawat keseimbangannya (mīzān). Inilah makna terdalam dari seruan pertama Resolusi Shakti: dekonstruksi paradigma antroposentris. Kita dipanggil untuk kembali pada teologi yang menempatkan manusia sebagai penjaga, bukan predator dalam rantai kehidupan.

 

Namun, kesadaran tidak berhenti di tataran wacana. Resolusi kedua dan ketiga menyeru agar kampus menjadi laboratorium hidup ekoteologi, tempat ilmu dan praktik bersatu. Jaman menghendaki Fakultas Ushuluddin harus bertransformasi dari menara gading menjadi ladang yang menumbuhkan kesadaran ekologis. Kurikulum tidak lagi cukup mengajarkan ayat qauliyah semata, tetapi juga menafsirkan ayat kauniyah: bagaimana daun, batu, dan sungai berbicara tentang kebijaksanaan Tuhan.

 

Riset Ushuluddin

Tragedi di Sumatera dan Aceh menyingkap satu hal penting, bahwa pengetahuan tanpa empati akan gagal menyelamatkan bumi. Maka, riset Ushuluddin ke depan tidak boleh berhenti pada perdebatan terminologis atau tafsir tekstual, melainkan harus menjelma menjadi solusi konkret. Konsorsium riset lintas disiplin yang diusulkan bukan sekadar forum akademik, tetapi wadah untuk memadukan sains, teologi, dan aksi sosial, menghadirkan model kehidupan berkelanjutan yang bisa diterapkan dari pesantren hingga desa-desa di lereng gunung.

 

Lebih jauh, pendampingan komunitas dan filantropi ekologis yang diikrarkan dalam resolusi keempat menjadi jembatan antara ilmu dan laku. Fakultas Ushuluddin dipanggil untuk turun ke bumi, bukan hanya berbicara tentang surga. Di desa-desa yang kehilangan hutan, di pesisir yang dihantam banjir rob, para ulama dan akademisi diharapkan hadir bukan sebagai pengkhotbah, melainkan sebagai penyembuh luka ekologi. Filantropi dalam semangat ini bukan sekadar memberi, melainkan menumbuhkan kesadaran dan kemandirian ekologis, sebuah sadaqah jariyah untuk bumi.

 

Aliansi Strategis

Dalam dunia yang terfragmentasi oleh kepentingan, Resolusi Shakti menyerukan aliansi strategis lintas sektor. Alam tidak mengenal batas agama, suku, atau bangsa, maka merawatnya pun harus dilakukan lintas sekat. Inilah panggilan spiritual sekaligus sosial untuk bersinergi dengan komunitas adat, seniman, aktivis muda, lembaga lintas iman, hingga pemerintah. Alam adalah rumah bersama, dan bencana ekologis adalah bencana iman jika kita diam.

 

Di balik itu, muncul gagasan besar: transisi menuju ekonomi regeneratif berbasis nilai Islam. Krisis ekologi sesungguhnya berakar pada kerakusan ekonomi ekstraktif yang menafikan keberkahan (barakah) dan keseimbangan. Fakultas Ushuluddin melalui rapat kerja ini mengingatkan bahwa keberlimpahan sejati tidak lahir dari akumulasi, tetapi dari kebercukupan yang adil (kafā’ah). Dalam paradigma Islam, ekonomi yang merusak bumi adalah bentuk kekufuran terhadap nikmat Allah.

 

Gerakan ini tidak akan kuat tanpa ruang partisipasi. Karena itu, resolusi ketujuh menyerukan pembentukan platform digital terbuka untuk gerakan ekoteologi. Di era digital, dakwah ekologis harus melintasi batas geografis. Ruang maya bisa menjadi majelis zikir baru, tempat berbagi pengetahuan, praktik, dan inspirasi untuk hidup yang lebih ramah terhadap bumi.

 

Kampanye Global Ekoteologi

Dan akhirnya, kampanye global ekoteologi Islam Indonesia adalah puncak dari seluruh ikhtiar ini. Dunia sedang mencari arah spiritual baru di tengah krisis iklim global. Indonesia, dengan warisan Islam Nusantaranya yang moderat dan penuh kasih, memiliki peran historis untuk menunjukkan bahwa ekoteologi Islam bukan sekadar teori, melainkan jalan hidup yang memelihara bumi sebagaimana kita memelihara iman.

 

Ketika banjir merendam rumah-rumah di Aceh dan longsor menelan jalan-jalan di Sumatera, bumi tidak sedang menghukum, tetapi sedang mengingatkan. Ia mengajak manusia untuk kembali mendengar. Resolusi Shakti 2025 adalah bentuk jawaban kolektif dari para pewaris ilmu ketuhanan terhadap jeritan itu. Ia bukan sekadar seruan administratif, melainkan ikrar spiritual, bahwa mencintai Allah berarti mencintai bumi-Nya.

 

Kini, saat air mulai surut dan lumpur masih menempel di dinding rumah warga, Fakultas Ushuluddin se-Indonesia berkomitmen menapaki jalan baru, jalan yang menghubungkan ilmu, iman, dan alam. Karena sesungguhnya, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia, supaya Allah memperlihatkan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali.” (QS. Ar-Rum: 41).

 

Mungkin inilah saatnya kita kembali, tidak sekadar ke masjid, tetapi ke bumi yang telah kita sakiti. Dari Bandung, dari pertemuan para dekan fakultas Ushuluddin se-Indonesia, sebuah tekad lahir: ilmu Ushuluddin bukan hanya untuk memahami Tuhan, tetapi juga untuk menyembuhkan dunia yang Tuhan titipkan. Allahu a’lam.

 

Radea Juli A. Hambali, Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menag: Santri Sekarang Harus Teruskan Perjuangan

    Menag: Santri Sekarang Harus Teruskan Perjuangan

    • calendar_month Sel, 22 Okt 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAl31.COM (Jakarta) — Menteri Agama RI Nasaruddin Umar menjadi pembina pada Apel Santri 2024. Menag mengharap santri masa kini meneruskan perjuangan para pendahulu yang telah berjuang demi kemerdekaan dan keutuhan bangsa Indonesia. Apel yang digelar di Tugu Proklamasi, Jakarta, Selasa (22/10/2024), ini dihadiri Wakil Menteri Agama Muhammad Syafi’i, Anggota Komisi VIII DPR RI Marwan Dasopang, sejumlah […]

  • Selamat! Kemenag Sabet Penghargaan di Ajang 5th Indonesia PR Summit 2024

    Selamat! Kemenag Sabet Penghargaan di Ajang 5th Indonesia PR Summit 2024

    • calendar_month Sab, 10 Agu 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (JAKARTA) — Kementerian Agama meraih penghargaan Most Popular Government Institution 2024. Penghargaan yang diberikan dalam acara 5 th Indonesia PR Summit 2024 ini diterima Kepala Biro Humas Data dan Informasi (Karo HDI) Sekretariat Jenderal Kementerian Agama Akhmad Fauzin di Jakarta. “Alhamdulillah, ini menjadi kabar baik bagi segenap keluarga besar Kementerian Agama. Ini sekaligus jadi […]

  • Merawat Semesta dengan Cinta, Inilah Makna dan Filosofi Logo Hari Guru Nasional 2025

    Merawat Semesta dengan Cinta, Inilah Makna dan Filosofi Logo Hari Guru Nasional 2025

    • calendar_month Jum, 14 Nov 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    CIREBON kanal31.com — Peringatan Hari Guru Nasional (HGN) 2025 mengusung tema besar “Merawat Semesta dengan Cinta.” Tema ini bukan hanya seruan simbolik, melainkan refleksi mendalam atas filosofi pendidikan yang berakar pada kesadaran spiritual, ekologis, dan kemanusiaan. Menurut Menteri Agama Nasaruddin Umar, tema ini menggambarkan peran guru sebagai penjaga keseimbangan antara ilmu dan iman, antara pengetahuan dan kebijaksanaan. “Guru […]

  • Prof Jamil: Alquran itu Memerintahkan Kita untuk Baca

    Prof Jamil: Alquran itu Memerintahkan Kita untuk Baca

    • calendar_month Rab, 20 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-SEMARANG Peringatan Nuzulul Qur’an diperingati setiap tanggal 17 bulan Ramadhan. UIN Walisongo pun menggelar peringatanan Nuzulul Qur’an secara rutin dengan mengundang Prof. Dr. Abdul Jamil, M.A sebagai penceramah utama. Peringatan Nuzulul Quran diinisiasi oleh Badan Amalan Islam (BAI) UIN Walisongo. Kegiatan dipusatkan secara lansung di Gedung Rektorat Lantai 4, Selasa (19/4/2022). “Format Nuzulul Qur’an itu […]

  • Mendukbangga Wihaji: Keluarga Adalah Madrasah Utama Menuju Indonesia Emas 2045

    Mendukbangga Wihaji: Keluarga Adalah Madrasah Utama Menuju Indonesia Emas 2045

    • calendar_month Kam, 9 Apr 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN, Dr. Wihaji menegaskan, kunci utama transformasi Indonesia menuju negara maju pada 2045 tidak terletak pada gedung-gedung pencakar langit, melainkan pada ketahanan 74.092.313 keluarga Indonesia. Penegasan itu disampaikan Wihaji pada kuliah umum yang digelar Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, diikuti 2.000 mahasiswa dan […]

  • 12 Perguruan Tinggi Negeri Keren di Bandung, Sejarah Beserta Lokasi Kampusnya

    12 Perguruan Tinggi Negeri Keren di Bandung, Sejarah Beserta Lokasi Kampusnya

    • calendar_month Sel, 4 Okt 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Bandung memang salah satu kota dengan berbagai perguruan tinggi bahkan dikenal sebagai kota pendidikan. Oleh karena itu tidak jarang para lulusan SMA memilih Bandung sebagai tempat menimba ilmu lagi. Banyak universitas negeri di Bandung yang bisa Anda pilih, mulai dari universitas, institut, sekolah tinggi dan politeknik. Melansir dari laman Kontan berikut 12 daftar universitas […]

expand_less