Jumat, 17 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Setelah Sekolah Negeri Sepi

Setelah Sekolah Negeri Sepi

  • account_circle Elfindri, Guru Besar FEB UNAND
  • calendar_month 11 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

PADANG, kanal31.com — Minggu ini kami turunkan tulisan PTN Pukat Harimau. Isinya “student body” PTN tidak mencerminkan niat untuk hasilkan mutu, sekalian PTN jadi satuan tugas baru mencari duit pemasukan negara. Ini telah berimplikasi pada penetapan penarikan UKT dari dana masyarakat.

 

Kondisi ini membawa kesulitan akses mendapatkan jenjang PT yang berarti bagi anak-anak yang berasal dari keluarga 60 persen berpenghasilan ke bawah.

 

Ternyata tulisan itu mendapat tanggapan oleh salah satu mantan mahasiswa saya, Wiko Saputra, menggelitik beliau mengomentari kenapa sekolah dasar negeri mulai ditinggal siswanya?

 

Jika pada jenjang PT “government failure”nya semakin terlihat, pada jenjang pendidikan dasar, fenomenanya juga sama, sama-sama terindikasi kegagalan fungsi pemerintah.

 

Saya akan mulai analisis dan jawab pertanyaan itu, kenapa jenjang pendidikan dasar sekolahnya mulai ditinggal masyarakat.

 

Pilihan Dukungan Negara

 

Memang kita sebuah negara yang bercita-cita tinggi, mau hasilkan Indonesia Emas. Mau ciptakan inovasi oleh SDMnya. Memang sesuatu cita-cita tinggi, yang perlu disertai dengan pembiayaan oleh negara dan masyarakat yang juga tinggi. Dilakukan dengan konsisten dan terfokus.

 

Pilihan akan penguatan mutu pendidikan merupakan alternatif dengan pilihan lain, misalnya makanan begizi gratis (MBG). Pada garis kurva indifferent, posisi equilibriumnya dimana? Jika investasi pemerintah termasuk tinggi pada pendidikan, maka pilihannya mengurangi pembiayaan makanan bergizi.

 

Demikian sebaliknya. Jika pilihannya dominan MBG, maka dipastikan kita tidak akan hasilkan SDM yang diharapkan, dipastikan ekonomi tidak akan tumbuh 8 persen, dan inovasi sangat minim dihasilkan. Kita akan selalu dibodohi bangsa lain, tidak akan mampu atasi persoalan bangsa.

 

Dari statistik dukungan negara untuk sektor pendidikan, Indonesia memang berada pada level yang rendah “apa adanya”, sebesar 1.3 persen dari GNP untuk membiayai pendidikan. Ini dialokasikan untuk 40 persen penduduk usia hingga 24 tahun.

 

Setelah kita bandingkan, ternyata negara yang setara ekonomi dan kemajuan dengan kita, pembiayaan pendidikannya sudah mencapai 2-4 persen, negara-negara maju bahkan telah melebihi 5 persen dari GNP.

 

Alokasi yang begitu minim menyisakan sistem dimana digunakan 70 persennya untuk gaji guru yang telah memiliki status pendidik, sementara masih begitu banyak proporsi guru yang statusnya honorarium dan telah bertugas cukup lama pada pendidikan diselenggarakan oleh negeri dan swasta, pemerintah tidak membiayai keberadaan mereka.

 

Dukungan Rumah Tangga

 

Sepertinya budaya mengirim anak sekolah masih bertumpu pada “tugas pemerintah”, artinya rumah tangga kontribusinya dalam membiayai anak masih rendah. Kata-kata “wajib belajar”, sepertinya membentuk sikap masyarakat bahwa anak mereka pendidikannya dibiayai oleh pemerintah. Jadi mengharap kontribusi dukungan masyarakat untuk pendidikan anak sesuatu yang belum populer. Pilihan rumah tangga bahkan cenderung ada sepanjang anaknya sekolah, mutunya seperti apa masyarakat tidak terlalu risau.

 

Bahkan potensi alokasi pengeluaran rumah tangga ada, mereka salah menggunakannya. Anggaran rumah tangga tersedot untuk keperluan beli rokok, cicilan hutang untuk membeli sepeda motor dan BBM, dan voucher HP. Pengeluaran itu tidak banyak mendukung keperluan anak-anak agar mereka kelak berprestasi, seperti untuk beli buku dan teaching aids.

 

Sekolah Negeri Sepi

 

Dalam perjalanan waktu, semakin berkurangnya angka kelahiran per rumah tangga, ada perubahan pilihan yang terjadi pada rumah tangga dalam investasi anak. Untuk kelompok menengah dan kaya, maka mereka cenderung memasukan anak pada sekolah swasta yang dianggap populer dan bermutu di kawasan tempat tinggal mereka.

 

Sekolah-sekolah itu baik berasrama, yang lagi tren seperti Pesantren, atau sekolah SD swasta yang fasilitas sekolahnya dibuat sedemikian rupa menarik bagi keluarga menengah ke atas.

 

Ini membawa konsekuensi dimana rata-rata Rombongan Belajar (Rombel) di masing-masing sekolah sekarang sudah tidak efisien lagi, mengingat jumlah gaji yang disediakan guru untuk membayar semakin banyak guru.

 

Persoalan kemudian terjadi tidak merata distribusi guru, distribusi tidak seimbang ini baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

 

Guru-guru di negeri, yang direkrut terutama tamatan sekolah keguruan, mengikuti regulasi pemerintah.

 

Fungsi utama mereka sebenarnya terutama mampu manfasilitasi siswa belajar agar semakin mau membaca, semakin tertarik pada pelajaran Matematika dan Sains. Fungsi-fungsi pedagogi seperti itu tidak banyak diperoleh kendatipun mereka ikut ketentuan mesti memperoleh tambahan pendidikan yang diselenggarakan oleh lembaga pedagogi.

 

Guru di swasta biasa lebih banyak tidak ikut persyaratan negara, banyak mereka yang justru direkrut dari jurusan yang bukan dari tamatan guru, namun memiliki kecerdasan ilmu yang baik, dan ketekunan dalam menemukan inovasi pembelajaran.

 

Amalgamasi Baru

 

Saya belum mendengar bagaimana Kementrian Pendidikan Dasar dan Menengah mengatasi masalah berkurangnya pilihan masyarakat terhadap sekolah negeri ini.

 

Setidaknya ada tiga yang paling strategis. Pertama adalah perlu perencanaan amalgamasi “penggabungan” beberapa satuan pendidikan. Ini memerlukan persiapan dan perhitungan yang matang. Karena menyangkut redistribusi guru dan hajat hidup murid.

 

Kedua sudah saatnya pemerintah melakukan piloting bagaimana guru negeri ditugaskan untuk mendukung pendidikan yang diselenggarakan oleh swasta. Pengalaman penempatan dosen negeri di PTS sangat membantu yayasan penyelenggara pendidikan tinggi. Bisa jadi untuk jenjang pendidikan dasar dan menengah juga demikian.

 

Ketiga asesmen ulang terhadap eksistensi guru. Mana kapasitas kurang, distribusi tidak seimbang, dedikasi kurang, dan yang tidak cocok agar dilakukan penyisipan ulang.

 

Sekolah-sekolah di bawah Kementrian Agama atau Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah banyak juga yang asal jadi, mereka telah mampu mengatasi masalah pemerataan, namun dari sisi kualitas merugikan masa depan generasi sekarang.

 

Pilihan ini mesti sesegera mungkin diselesaikan, dan koreksi kegagalan pemerintah pun bisa teratasi.

  • Penulis: Elfindri, Guru Besar FEB UNAND

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Saatnya Umat Beragama Jaga Bumi dari Krisis Lingkungan

    Saatnya Umat Beragama Jaga Bumi dari Krisis Lingkungan

    • calendar_month Sel, 27 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Dalam muzakarah bertajuk “Resolusi Umat: Penanggulangan Bencana dengan Ekoteologi” di Masjid Istiqlal Jakarta, Menteri Agama Nasaruddin Umar menyampaikan “Peran agama dalam menghadapi krisis lingkungan”. Kegiatan ini juga dihadiri perwakilan BNPB, BMKG, akademisi, serta pegiat lingkungan. Muzakarah ini menjadi forum refleksi keagamaan sekaligus konsolidasi gagasan lintas sektor dalam merumuskan peran agama menghadapi bencana alam. […]

  • Mahasiswa SPI harus Melek dan Mahir Gunakan Sumber Sejarah Digital

    Mahasiswa SPI harus Melek dan Mahir Gunakan Sumber Sejarah Digital

    • calendar_month Rab, 22 Okt 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Ketua Jurusan Sejarah Peradaban Islam, Fakuktas Adab dan Humaniora (FAH), UIN Bandung, Agus Permana, M.Ag mengharapkan mahasiswanya memahami perubahan besar dalam kesejarahan di Era Digital sekarang ini. Bagi mahasiswa, digitalisasi sejarah dapat membuka peluang baru untuk menghidupkan kembali masa lalu, sekaligus bisa dijadikan referensi untuk kepentingan akademik(sarana belajar atau penelitian). Agus menyampaikan hal […]

  • Kejahatan Finansial Digital dan Urgensi Literasi Keuangan Syariah

    Kejahatan Finansial Digital dan Urgensi Literasi Keuangan Syariah

    • calendar_month Sen, 11 Mei 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Literasi keuangan syariah menjadi kebutuhan penting bagi generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan meningkatnya berbagai modus kejahatan finansial. Pemahaman tentang pengelolaan keuangan yang sehat, prinsip-prinsip ekonomi syariah, hingga kewaspadaan terhadap penipuan digital dinilai menjadi bekal utama dalam membangun kesadaran finansial yang cerdas, aman, dan berkelanjutan. Hal ini menjadi fokus dalam […]

  • Mantap! Menag Sabet GATRA Award 2023 sebagai Tokoh Transformasi Digital Layanan Keagamaan

    Mantap! Menag Sabet GATRA Award 2023 sebagai Tokoh Transformasi Digital Layanan Keagamaan

    • calendar_month Ming, 19 Nov 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM  Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas meraih Gatra Award 2023 Kategori Teknologi. Menag dinilai mampu menerapkan transformasi digital di lingkungan Kementerian Agama melalui aplikasi Pusaka Super Apps. Melalui GATRA Award, Menag Yaqut dinilai sebagai sosok inspiratif dalam inovasi dan transformasi digital layanan keagamaan. Penghargaan diserahkan oleh Dewan Redaksi Gatra kepada Sekretaris Jenderal Kementerian Agama Nizar […]

  • UIN Bandung Gelar Kuliah Umum “Ekoteologi sebagai Warisan Kultural Milik Bersama”

    UIN Bandung Gelar Kuliah Umum “Ekoteologi sebagai Warisan Kultural Milik Bersama”

    • calendar_month Sel, 9 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Program Studi (S1) Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung bekerja sama dengan Esoterika Fellowship Program menyelenggarakan Kuliah Umum bertema “Ekoteologi sebagai Warisan Kultural Milik Bersama”. Kegiatan berlangsung di Aula Fakultas Ushuluddin Kampus 2, Senin (8/12/2025). Ketua Prodi SAA, Dr. Ilim Abdul Halim, MA menjelaskan acara diawali dengan doa […]

  • Program Inkubator Wirausaha LPDB-KUMKM Jadi Solusi Permudah UMKM Raih Investor

    Program Inkubator Wirausaha LPDB-KUMKM Jadi Solusi Permudah UMKM Raih Investor

    • calendar_month Rab, 17 Agu 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Program Inkubator Wirausaha Lembaga Pengelola Dana Bergulir Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (LPDB-KUMKM) memberikan kemudahan bagi pelaku UMKM dalam mendapatkan investor. Program ini merupakan implementasi pendampingan dari LPDB-KUMKM dalam menginkubasi Koperasi dan UMKM untuk meningkatkan daya saing, tata kelola manajemen bisnis, pemasaran, maupun akses permodalan atau pendanaan. Salah satu kegiatan dalam program ini […]

expand_less