Selasa, 5 Mei 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Yang Kecewa Pada Prabowo Pasti Tak Suka Membaca Ini

Yang Kecewa Pada Prabowo Pasti Tak Suka Membaca Ini

  • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
  • calendar_month 22 jam yang lalu
  • comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com — Saya ingin menjelaskan psikologi Presiden Prabowo. Bukan membelanya tapi menjelaskan. Setuju atau tidak, terserah, bebas. Saya mengajak untuk memahami, bukan sekadar memuncratkan kekesalan dan kemarahan. Atau karena mengkritiknya dengan pedas lalu kita merasa sudah hebat dan jadi pahlawan rakyat. Prabowo sudah banyak sekali menerima kritik, dihujat, dilecehkan dll. Gak masalah itu hak rakyat.

 

Kepemimpinan Prabowo banyak masalah, itu jelas. Soal Board of Peace yang sekarang sudah mereda, soal masih terpenjara oleh Jokowi, soal kabinet gemuk, soal reshuffle tak menarik dan tak bermakna, daan … terutama soal MBG. MBG adalah ilusinya sebagai pemimpin negara yang ingin memajukan rakyat tapi tampaknya tanpa konsultasi maslahat tidaknya dan tanpa rencana yang matang. Program emosional dirinya yang sistemnya belum disiapkan, tapi harus jalan. Sisi lain, mari kita memahaminya dengan akal sehat, bukan sekedar menyalahkan dan menghujatnya.

 

Para Pengkritik Harus Meluruskan Niat

 

Kritik pada pemerintah itu hanya teguran, peringatan, bukan harus dituruti. Adalah hak pemerintah mendengarnya atau tidak. Negara besar harus mendengar setiap kritik dari rakyatnya di televisi dan media sosial, itu bukan masalah sederhana. Itu realitas politik. Kalau Anda pun jadi penguasa sebuah negara besar, hasil jerih payak pengorbanan mahal politik, sama juga akan begitu. Kalau kritiknya benar, pemerintah sendiri yang akan merasakan akibat dari kesalahannya tak mau mendengar kritik.

 

Kemudian nasehat. Saiful Mujani menyebut “Prabowo susah mendengar nasehat, satu-satunya cara ya diturunkan.” Itu mah bukan nasehat tapi maksa. Kok nasehat maksa? Yang namanya nasehat itu tidak memaksa, hanya menyampaikan. Kalau “karena susah nerima nasehat, ya gulingkan,” itu namanya sipil otoriter. Kalau intelektual yang memberi nasehatnya, itu intelektual otoriter. Kalau dia jadi penguasa, kemungkinan akan jadi penguasa otoriter juga. Kita harus mampu otokritik bukan hanya kritik keluar.

 

Psikologi Kekuasaan Prabowo

 

Kondisi pemerintahan sekarang yang banyak masalah adalah konsekuensi logis dari kondisi negeri yang sebabnya kompleks sejak era Jokowi, tak bisa hanya menyalahkan presiden terpilih. Tapi mengkritik adalah hak konstitusional rakyat, ya lakukan terus sebagai penyeimbang. Kritiknya jangan memaksa untuk didengar apalagi harus dituruti. Nanti kecewa sendiri. Santai saja, jadi kita rileks, akal sehat terjaga. Yang penting unek-unek sudah disampaikan. Mengeluarkan unek-unek itu sehat.

 

Tapi yang terbaik adalah, kalau mau, rakyat introspeksi menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa mau nerima serangan bansos? Mengapa suara mau dibeli dengan 100 ribu perak? Negeri kacau balau begini, harus diakui, semuanya berawal dari terpilihnya Jokowi selama 2 periode, 10 tahun. Siapa yang memilihnya? Rakyat. Rakyat kan direkayasa dan suaranya dibeli oleh kaum berduit alias oligarki!! Ya mengapa memilih dan mengagungkan demokrasi? Demokrasi di negeri yang mayoritas rakyatnya miskin dan pendidikannya rendah, ya begini. Tak perlu menyalahkan siapa-siapa.

 

Prabowo jelas mutunya lebih dari Jokowi, dalam banyak hal. Tapi dia persiden sial. Terpilihnya harus melalui pengaruh Jokowi dan oligarki, akhirnya tak bisa tegas pada Jokowi dan Jokowinya pun masih kuat pengaruhnya yang dia siapkan sejak lama. Prabowo pun harus rela berdampingan dengan fufufafa, padahal awalnya Prabowo menolak. Mengapa Prabowo mau? Realitas politiknya harus begitu. Antara ambisi, cita-cita memajukan bangsa dan nasionalisme sebagai jendral patriot, bercampur menjadi adonan yang dilematis: Dia harus naik melalui Jokowi. Pedih memang. Kalau tak di endorse Jokowi? Dua kali kalah men!!

 

Prabowo tentu banyak kelemahannya, harus terus dikontrol walaupun beban di pundaknya berat. Susah nerima kritik? Jokowi dan Prabowo adalah realitas pilihan rakyat. Kritik saja terus sebagai hak konstitusional tapi kritiknya yang tulus, tetap pelihara daya kritis, ketajaman dan keberanian. Sisi lain, sisakan juga untuk memahami dilemanya. Tak perlu membela lah, cukup memahami. Itu baru rakyat yang cerdas. Jadi kritiknya murni dengan pikiran dan akal sehat, bukan dari kebencian, tidak semata-mata emosi dan teriak mayah-mayah …

 

The invisible power dan grand design di belakang Jokowilah yang masih berkuasa yang harus disadari sebagai problem utama akibat salah arah bangsa, dan kesadaran rakyatlah yang harus dibangkitkan terus sebagai PR bersama. Jadi, tak perlu kecewa amat pada Prabowo, tak perlu juga banyak berharap. Biasa-biasa saja. Supaya hati tenang, jiwa tentram. Salam akal sehat! 😊☕🚬

  • Penulis: Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Bakal Guncang UGM, Dua Tim Debat Hukum UIN Bandung Tembus Final Arena Argumentasi RDK 1447 H

    Bakal Guncang UGM, Dua Tim Debat Hukum UIN Bandung Tembus Final Arena Argumentasi RDK 1447 H

    • calendar_month Kam, 26 Feb 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com – Panggung debat hukum nasional kembali dikejutkan oleh taring tajam delegasi dari Kota Kembang. Lembaga Kajian dan Debat Mahasiswa (LKDM) Ilmu Hukum, Fakultas Syari’ah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, sukses meloloskan dua tim sekaligus ke babak final ajang bergengsi Arena Argumentasi Ramadhan di Kampus (RDK) 1447 H di Universitas Gadjah […]

  • Jelang Muludan, Aplikasi KESAN Rilis Fitur Maulid

    Jelang Muludan, Aplikasi KESAN Rilis Fitur Maulid

    • calendar_month Sel, 4 Okt 2022
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Menyambut Maulid Nabi Muhammad, aplikasi Islami KESAN resmi meluncurkan fitur Maulid pada Senin (03/10/2022). Dengan hadirnya fitur tersebut, umat Islam tidak hanya dapat dengan mudah membaca ragam maulid, tetapi juga mendengarkan lantunannya. CEO Aplikasi KESAN Hamdan Hamedan menjelaskan bahwa tingginya animo membaca maulid menjadi alasan dikembangkannya fitur ini. Terlebih lagi, umat Islam di Indonesia […]

  • Gerakan Mahasiswa Mengabdi Desa di Tanjungwangi, Cara Jitu PIAUD UIN Bandung Bangun Karakter dan Didik Anak Hebat

    Gerakan Mahasiswa Mengabdi Desa di Tanjungwangi, Cara Jitu PIAUD UIN Bandung Bangun Karakter dan Didik Anak Hebat

    • calendar_month Sel, 5 Agu 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Semangat pengabdian kepada masyarakat terus digaungkan oleh mahasiswa jurusan Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Melalui program bertajuk Gerakan Mahasiswa Mengabdi Desa (GEMES), mereka hadir di Desa Tanjungwangi, Kecamatan Cicalengka, Kabupaten Bandung, untuk menyemai manfaat dan membangun kolaborasi bersama masyarakat. Kegiatan yang […]

  • Dari Keraguan Menuju Kepastian

    Dari Keraguan Menuju Kepastian

    • calendar_month Ming, 28 Sep 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Ketika dunia lama sedang runtuh dan dunia baru tengah mencari pijakan, lahirlah seorang pemikir yang kemudian disebut sebagai Bapak Filsafat Modern, Rene Descartes (1596- 1650).   Pemikiran Descartes tumbuh di tengah situasi Eropa sedang berada dalam masa transisi besar: sebuah dunia lama yang berakar pada otoritas Gereja dan filsafat skolastik Aristotelian mulai […]

  • Ajaran Islam

    Ajaran Islam

    • calendar_month Rab, 28 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Ajaran Islam itu makin diejek maki kuat, makin direndahkan makin bersinar, makin dihina makin maju, makin dilecehkan makin berkembang, makin dihambat pengikutnya makin banyak. Mengapa begitu? Sederhana.   Agama kebenaran yang diturunkan Tuhan untuk menyelamatkan hidup manusia, malah diejek oleh manusia sendiri. Kasih sayang Tuhan untuk menyelamatkan manusia, diejek oleh yang akan […]

  • Jangan Lupa Bersyukur kepada Allah, Berbakti kepada Orangtua

    Jangan Lupa Bersyukur kepada Allah, Berbakti kepada Orangtua

    • calendar_month Jum, 14 Feb 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com— Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. H. Dedi Supriadi, M.Hum mengingatkan para alumninya agar tidak lupa bersyukur kepada Allah SWT dan berhidmat kepada orangtua, atas kelancaran dan kemudahan dalam menyelesaikan studi di FAH hingga bisa menyandang gelar sarjana. Demikian Dr. Dedi saat melepas alumni (calon wisudawan), di […]

expand_less