Kamis, 9 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Profesor Tanpa Pikiran

Profesor Tanpa Pikiran

  • account_circle Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
  • calendar_month Sab, 2 Mei 2026
  • comment 0 komentar

MALANG kanal31.com — Kita sedang menyaksikan lahirnya satu jenis baru dalam dunia akademik, sosok yang tampak terhormat di atas kertas tetapi rapuh di dalam ruang pikirnya. Ia memiliki gelar tertinggi, daftar publikasi yang panjang, indeks sitasi yang mengesankan, dan posisi yang mapan di institusi. Semua syarat formal terpenuhi. Semua indikator administratif dilampaui. Tetapi ada satu hal yang diam-diam menghilang, kemampuan untuk berpikir secara mandiri.

 

Fenomena ini tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari sistem yang sejak lama menukar kedalaman dengan kuantitas, menukar pergulatan intelektual dengan kecepatan produksi. Profesor tidak lagi dilihat sebagai puncak perjalanan keilmuan, melainkan sebagai target administratif yang harus dicapai. Jabatan menjadi tujuan, bukan konsekuensi dari ketekunan berpikir. Dan ketika jabatan menjadi tujuan, maka segala cara yang mempercepat pencapaiannya akan dianggap wajar.

 

Di titik inilah Research Automaton menemukan habitatnya yang paling subur. Sistem yang sudah lama menuntut output kini bertemu dengan teknologi yang mampu memproduksi output secara cepat dan masif. Kombinasi ini menghasilkan satu generasi akademisi yang produktif secara statistik, tetapi miskin secara intelektual. Mereka tidak lagi benar-benar meneliti, mereka mengelola proses produksi penelitian.

 

Topik dihasilkan dari prompt, bukan dari kegelisahan ilmiah. Tinjauan pustaka diringkas tanpa pernah benar-benar dibaca. Metodologi dipilih karena cocok secara teknis, bukan karena dipahami secara epistemologis. Analisis dilakukan dengan bantuan sistem yang hasilnya diterima tanpa perlawanan kritis. Tulisan dihasilkan dengan cepat, rapi, dan siap dikirim. Semua tampak profesional. Semua tampak ilmiah. Tetapi proses yang seharusnya membentuk peneliti tidak pernah benar-benar terjadi.

 

Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak dari mereka tidak merasa ada yang salah. Sistem memberi penghargaan. Institusi memberi pengakuan. Negara memberi legitimasi. Gelar profesor diraih, pidato pengukuhan disampaikan, dan nama tercatat dalam sejarah birokrasi akademik. Semua berjalan sesuai prosedur. Tidak ada alarm yang berbunyi.

 

Padahal, yang sedang kita saksikan adalah pergeseran makna profesor itu sendiri. Dari sosok yang menjadi rujukan pemikiran menjadi sekadar pemegang jabatan struktural dalam sistem produksi pengetahuan. Profesor yang tidak lagi menjadi sumber gagasan, tetapi menjadi simpul dalam jaringan output. Profesor yang tidak lagi memimpin arah keilmuan, tetapi mengikuti arus metrik.

 

Dampaknya tidak berhenti pada individu. Ia menjalar ke generasi berikutnya. Mahasiswa doktoral dibimbing oleh mereka yang tidak pernah benar-benar mengalami proses berpikir yang utuh. Penelitian diwariskan sebagai prosedur, bukan sebagai pencarian. Keilmuan diajarkan sebagai teknik, bukan sebagai cara memahami dunia. Dalam jangka panjang, kita tidak hanya kehilangan kualitas profesor, tetapi kehilangan tradisi intelektual itu sendiri.

 

Fenomena ini diperparah oleh cognitive offloading yang semakin masif. Tugas-tugas berpikir dialihkan ke mesin, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak lagi dianggap perlu. Membaca mendalam dianggap tidak efisien. Menulis dari nol dianggap membuang waktu. Berdebat secara konseptual dianggap tidak produktif. Semua yang lambat dianggap hambatan, padahal justru di situlah kualitas terbentuk.

 

Akibatnya, terjadi skill atrophy yang tidak terlihat dalam laporan kinerja. Kemampuan membaca melemah, kemampuan menulis menurun, dan kemampuan merumuskan pertanyaan penelitian menghilang. Yang tersisa adalah kemampuan mengoperasikan sistem, mengikuti template, dan memenuhi target. Akademisi berubah menjadi operator. Profesor berubah menjadi simbol.

 

Ada yang mencoba membenarkan kondisi ini dengan alasan bahwa zaman telah berubah. Teknologi berkembang. Cara kerja harus menyesuaikan. Argumen ini terdengar modern, tetapi sering kali menjadi pembenaran untuk kemalasan intelektual yang dibungkus efisiensi. Perubahan tidak selalu berarti kemajuan. Dalam banyak kasus, ia justru menutupi kemunduran yang tidak disadari.

 

Pertanyaan yang seharusnya diajukan oleh setiap profesor hari ini bukan berapa banyak artikel yang telah dipublikasikan, melainkan apakah ia masih mampu berpikir tanpa bantuan sistem. Apakah ia masih mampu membaca satu buku secara utuh dan menemukan sesuatu yang baru. Apakah ia masih mampu merumuskan pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan pencarian cepat. Apakah ia masih mampu menulis dari kegelisahan, bukan dari template.

 

Bagi calon profesor, pertanyaan yang lebih keras perlu diajukan. Apakah jabatan itu benar-benar layak diperjuangkan jika proses menuju ke sana tidak membentuk keilmuan yang utuh. Apakah gelar itu masih bermakna jika diraih melalui percepatan yang mengorbankan kedalaman. Apakah ingin dikenal sebagai profesor, atau ingin menjadi pemikir.

 

Jika tren ini terus dibiarkan, kita akan memiliki banyak profesor, tetapi sedikit pemikir. Kita akan memiliki banyak publikasi, tetapi sedikit gagasan. Kita akan memiliki sistem akademik yang sibuk, tetapi tidak produktif dalam arti yang sebenarnya.

 

Sebuah bangsa tidak kehilangan arah karena kekurangan gelar. Ia kehilangan arah ketika gelar tidak lagi mencerminkan kapasitas berpikir.

 

Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sedang menuju ke sana.

 

 

  • Penulis: Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Menag, Pesantren Pilar Peradaban Bangsa

    Menag, Pesantren Pilar Peradaban Bangsa

    • calendar_month Kam, 16 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com –Menteri Agama Nasaruddin Umar menyebut pondok pesantren sebagai lembaga yang telah mengabdikan diri untuk membangun peradaban bangsa selama berabad-abad lamanya. Hal tersebut ia sampaikan saat menjadi narasumber utama dalam kegiatan Dialog Interaktif dan Podcast bersama Pro 3 Radio Republik Indonesia (RRI) secara virtual. Dialog ini membahas peran strategis Program Prioritas (Protas) Kementerian Agama […]

  • Roadshow Multifinance Syariah : Sarana Literasi & Inklusi Keuangan di Sektor Jasa Sukses Digelar PD MES Kabupaten Cianjur

    Roadshow Multifinance Syariah : Sarana Literasi & Inklusi Keuangan di Sektor Jasa Sukses Digelar PD MES Kabupaten Cianjur

    • calendar_month Sab, 13 Jul 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (Cianjur) — Pengurus Daerah Masyarakat Ekonomi Syariah (PD-MES) Kabupaten Cianjur mengelar acara Roadshow Multy Finance Syariah bertajuk Pembiayaan Syariah Lebih Mahal, Emang Iya! yang berlangsung di Grand Bydel Hotel, Kamis, (11/7/2024). Roadshow ini menghadirkan empat pembicara yang kompeten di bidangnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK), diwakili oleh ibu Sri Wahyuni, SH dari OJK Perwakilan Jawa […]

  • Agustus 2022, UIN Bandung Siap Gelar PESONA I PTKN

    Agustus 2022, UIN Bandung Siap Gelar PESONA I PTKN

    • calendar_month Kam, 9 Jun 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-BANDUNG Kesiapan UIN Sunan Gunung Djati Bandung dalam menyelenggarakan Pekan Seni dan Olahraga Nasional (PESONA) I Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) Tahun 2022 sudah mencapai 70% (tujuh puluh persen). Hal tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Rektor III Bidang Kemahasiswaan dan Alumni, Prof. Dr. H. Ah. Fathonih, M. Ag., Kamis (09/06/2022). Sebagaimana diketahui UIN Sunan Gunung […]

  • Terus Bergerak Bersama untuk Tempuh Jalan Jauh

    Terus Bergerak Bersama untuk Tempuh Jalan Jauh

    • calendar_month Sen, 20 Jun 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    Wahyudin Darmalaksana, Kelas Menulis UIN Sunan Gunung Djati Bandung SPI-BANDUNG Bagiku esok sangat bermakna. Sebab, pasti dijumpai hal-hal baru yang bukan kemarin. Meskipun hari-hari seperti berlangsung sama saja, namun jelas berbeda. Di esok hari yang sudah pasti usia bertambah. Walaupun matahari dan malam seperti kemarin, begitu bertambah hari umur terus berkurang. Sesungguhnya apa yang kucari, kebahagiaan? […]

  • 5 Rekomendasi Situs Jurnal Ilmiah yang Bisa Diakses Gratis

    5 Rekomendasi Situs Jurnal Ilmiah yang Bisa Diakses Gratis

    • calendar_month Kam, 7 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Apakah Anda sedang mengerjakan karya tulis ilmiah? Tentunya Anda membutuhkan jurnal ilmiah sebagai referensi. Apa saja situs jurnal ilmiah yang dapat Anda akses? Dalam membuat karya tulis ilmiah, tentunya Anda memerlukan jurnal ilmiah yang nantinya dijadikan sebagai referensi. Tujuannya agar data atau informasi dalam karya ilmiah akurat dan kredibel. Saat ini, banyak situs jurnal ilmiah yang bisa diakses […]

  • Akuntansi Syari’ah UIN Bandung Gelar Seminar Kewirausahaan dan Olimpiade Nasional

    Akuntansi Syari’ah UIN Bandung Gelar Seminar Kewirausahaan dan Olimpiade Nasional

    • calendar_month Rab, 15 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Akuntansi Syari’ah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI) UIN Sunan Gunung Djati Bandung, menggelar Seminar Kewirausahaan dan Olimpiade Nasional Akuntansi dalam rangkaian kegiatan SPECTRA 2026 yang berlangsung di Aula Abjan Soelaeman, Selasa (14/4/2026). Seminar menghadirkan Dzulfikar Malik sebagai narasumber dengan materi bertajuk “Digital Brand Playbook: Strategi Branding Digital, […]

expand_less