Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Profesor Tanpa Pikiran

Profesor Tanpa Pikiran

  • account_circle Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang
  • calendar_month Sabtu, 2 Mei 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

MALANG kanal31.com — Kita sedang menyaksikan lahirnya satu jenis baru dalam dunia akademik, sosok yang tampak terhormat di atas kertas tetapi rapuh di dalam ruang pikirnya. Ia memiliki gelar tertinggi, daftar publikasi yang panjang, indeks sitasi yang mengesankan, dan posisi yang mapan di institusi. Semua syarat formal terpenuhi. Semua indikator administratif dilampaui. Tetapi ada satu hal yang diam-diam menghilang, kemampuan untuk berpikir secara mandiri.

 

Fenomena ini tidak lahir tiba-tiba. Ia tumbuh dari sistem yang sejak lama menukar kedalaman dengan kuantitas, menukar pergulatan intelektual dengan kecepatan produksi. Profesor tidak lagi dilihat sebagai puncak perjalanan keilmuan, melainkan sebagai target administratif yang harus dicapai. Jabatan menjadi tujuan, bukan konsekuensi dari ketekunan berpikir. Dan ketika jabatan menjadi tujuan, maka segala cara yang mempercepat pencapaiannya akan dianggap wajar.

 

Di titik inilah Research Automaton menemukan habitatnya yang paling subur. Sistem yang sudah lama menuntut output kini bertemu dengan teknologi yang mampu memproduksi output secara cepat dan masif. Kombinasi ini menghasilkan satu generasi akademisi yang produktif secara statistik, tetapi miskin secara intelektual. Mereka tidak lagi benar-benar meneliti, mereka mengelola proses produksi penelitian.

 

Topik dihasilkan dari prompt, bukan dari kegelisahan ilmiah. Tinjauan pustaka diringkas tanpa pernah benar-benar dibaca. Metodologi dipilih karena cocok secara teknis, bukan karena dipahami secara epistemologis. Analisis dilakukan dengan bantuan sistem yang hasilnya diterima tanpa perlawanan kritis. Tulisan dihasilkan dengan cepat, rapi, dan siap dikirim. Semua tampak profesional. Semua tampak ilmiah. Tetapi proses yang seharusnya membentuk peneliti tidak pernah benar-benar terjadi.

 

Lebih mengkhawatirkan lagi, banyak dari mereka tidak merasa ada yang salah. Sistem memberi penghargaan. Institusi memberi pengakuan. Negara memberi legitimasi. Gelar profesor diraih, pidato pengukuhan disampaikan, dan nama tercatat dalam sejarah birokrasi akademik. Semua berjalan sesuai prosedur. Tidak ada alarm yang berbunyi.

 

Padahal, yang sedang kita saksikan adalah pergeseran makna profesor itu sendiri. Dari sosok yang menjadi rujukan pemikiran menjadi sekadar pemegang jabatan struktural dalam sistem produksi pengetahuan. Profesor yang tidak lagi menjadi sumber gagasan, tetapi menjadi simpul dalam jaringan output. Profesor yang tidak lagi memimpin arah keilmuan, tetapi mengikuti arus metrik.

 

Dampaknya tidak berhenti pada individu. Ia menjalar ke generasi berikutnya. Mahasiswa doktoral dibimbing oleh mereka yang tidak pernah benar-benar mengalami proses berpikir yang utuh. Penelitian diwariskan sebagai prosedur, bukan sebagai pencarian. Keilmuan diajarkan sebagai teknik, bukan sebagai cara memahami dunia. Dalam jangka panjang, kita tidak hanya kehilangan kualitas profesor, tetapi kehilangan tradisi intelektual itu sendiri.

 

Fenomena ini diperparah oleh cognitive offloading yang semakin masif. Tugas-tugas berpikir dialihkan ke mesin, bukan karena tidak mampu, tetapi karena tidak lagi dianggap perlu. Membaca mendalam dianggap tidak efisien. Menulis dari nol dianggap membuang waktu. Berdebat secara konseptual dianggap tidak produktif. Semua yang lambat dianggap hambatan, padahal justru di situlah kualitas terbentuk.

 

Akibatnya, terjadi skill atrophy yang tidak terlihat dalam laporan kinerja. Kemampuan membaca melemah, kemampuan menulis menurun, dan kemampuan merumuskan pertanyaan penelitian menghilang. Yang tersisa adalah kemampuan mengoperasikan sistem, mengikuti template, dan memenuhi target. Akademisi berubah menjadi operator. Profesor berubah menjadi simbol.

 

Ada yang mencoba membenarkan kondisi ini dengan alasan bahwa zaman telah berubah. Teknologi berkembang. Cara kerja harus menyesuaikan. Argumen ini terdengar modern, tetapi sering kali menjadi pembenaran untuk kemalasan intelektual yang dibungkus efisiensi. Perubahan tidak selalu berarti kemajuan. Dalam banyak kasus, ia justru menutupi kemunduran yang tidak disadari.

 

Pertanyaan yang seharusnya diajukan oleh setiap profesor hari ini bukan berapa banyak artikel yang telah dipublikasikan, melainkan apakah ia masih mampu berpikir tanpa bantuan sistem. Apakah ia masih mampu membaca satu buku secara utuh dan menemukan sesuatu yang baru. Apakah ia masih mampu merumuskan pertanyaan yang tidak bisa dijawab dengan pencarian cepat. Apakah ia masih mampu menulis dari kegelisahan, bukan dari template.

 

Bagi calon profesor, pertanyaan yang lebih keras perlu diajukan. Apakah jabatan itu benar-benar layak diperjuangkan jika proses menuju ke sana tidak membentuk keilmuan yang utuh. Apakah gelar itu masih bermakna jika diraih melalui percepatan yang mengorbankan kedalaman. Apakah ingin dikenal sebagai profesor, atau ingin menjadi pemikir.

 

Jika tren ini terus dibiarkan, kita akan memiliki banyak profesor, tetapi sedikit pemikir. Kita akan memiliki banyak publikasi, tetapi sedikit gagasan. Kita akan memiliki sistem akademik yang sibuk, tetapi tidak produktif dalam arti yang sebenarnya.

 

Sebuah bangsa tidak kehilangan arah karena kekurangan gelar. Ia kehilangan arah ketika gelar tidak lagi mencerminkan kapasitas berpikir.

 

Dan mungkin, tanpa kita sadari, kita sedang menuju ke sana.

 

 

  • Penulis: Syahiduz Zaman, Dosen UIN Malang

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Luar Biasa! Jurnal Studi Islam Ulumuna UIN Mataram Terindeks Scopus

    Luar Biasa! Jurnal Studi Islam Ulumuna UIN Mataram Terindeks Scopus

    • calendar_month Kamis, 21 Jul 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Satu lagi jurnal Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) yang terindeks di Scopus. Adalah Ulumuna, Jurnal Studi Islam yang diterbitkan oleh Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram ini terindeks di Scopus per tanggal 20 Juli 2022. Dengan itu, otomatis Ulumuna memperoleh kenaikan status akreditasi ke Sinta 1, yang sebelumnya Sinta 2. Saat ini, sudah ada […]

  • Puluhan Mahasiswa Geruduk Kampus FU, Permasalahkan “Betis” di Kelas Fenomenologi Agama

    Puluhan Mahasiswa Geruduk Kampus FU, Permasalahkan “Betis” di Kelas Fenomenologi Agama

    • calendar_month Rabu, 7 Okt 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com — Suasana di Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Sunan Gunung Djati Bandung mendadak panas pada Selasa sore (6/10/2026). Puluhan mahasiswa yang menggeruduk gedung fakultas, bersenjatakan poster dan lembar pernyataan sikap. Aksi massa ini menyuarakan desakan keras atas dugaan pelecehan seksual verbal dan pemaksaan jual beli e-book oleh oknum dosen. Aksi yang dikomandoi oleh Ketua […]

  • Batas Usia Perkawinan: Antara Kepatuhan Hukum dan Ikhtiar Membangun Keluarga Sakinah

    Batas Usia Perkawinan: Antara Kepatuhan Hukum dan Ikhtiar Membangun Keluarga Sakinah

    • calendar_month Minggu, 6 Sep 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    Oleh: Dr. Wahyu Abdul Jafar, M.HI (Dosen Fakultas Syariah UIN Jurai Siwo Lampung) Perkawinan sering kali dipandang sebagai persoalan hati: ketika dua orang sudah merasa cocok, saling mencintai, dan siap hidup bersama, mengapa harus menunggu? PERTANYAAN semacam ini cukup sering muncul ketika masyarakat berhadapan dengan persoalan batas usia perkawinan. Apalagi di sebagian lingkungan, menikah pada […]

  • Kemerosotan Pemimpin

    Kemerosotan Pemimpin

    • calendar_month Jumat, 14 Agt 2026
    • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
    • 0Komentar

    JAKARTA, kanal31.com — Saudaraku, republik ini mula-mula dibangun oleh manusia yang menjadikan pengetahuan, integritas, dan kesederhanaan sebagai tiang pengabdian. Dari reruntuhan kolonialisme, mereka melahirkan Pancasila, Konstitusi, persatuan, serta martabat Indonesia di panggung dunia.   Mereka berbeda pandangan, tetapi yang dipertarungkan terutama gagasan, bukan pembagian kekuasaan. Conflict of ideas lebih kuat daripada conflict of interests. Mereka boleh […]

  • Ліцензування та Регулювання в Megapari Casino

    Ліцензування та Регулювання в Megapari Casino

    • calendar_month Kamis, 8 Okt 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    Що таке ліцензування і чому воно важливе для гравців у шарах онлайн-казино? Для Megapari casino це не просто документ – це гарантія етики, справедливості і безпеки. Якщо вас цікавлять детальніше регуляторні вимоги, наведемо приклад: «М©Пари.com.ua» пропонує звіт про свої ліцензії. Багато гравців перевіряють, чи відповідно Megapari casino до правил, тому ми підготували докладний огляд з […]

  • Integrasi Ilmu, dari Epistemologi ke Evaluasi Kebijakan Akademik 

    Integrasi Ilmu, dari Epistemologi ke Evaluasi Kebijakan Akademik 

    • calendar_month Selasa, 3 Mar 2026
    • account_circle Suwendi, Dosen Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Transformasi kelembagaan dari IAIN ke UIN merupakan langkah strategis untuk melahirkan lulusan perguruan tinggi keagamaan Islam (PTKI) yang memiliki kompetensi agamawan yang ilmuwan atau ilmuwan yang agamawan. Dua kompetensi sekaligus, ahli agama dan ahli ilmu pengetahuan, terekonstruksi dalam kebijakan transformasi lembaga ini. Inilah sesungguhnya di antara alasan lahirnya PP 46 tahun 2019 tentang […]

expand_less