Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Dari Keraguan Menuju Kepastian

Dari Keraguan Menuju Kepastian

  • account_circle Tim Redaksi
  • calendar_month Minggu, 28 Sep 2025
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG kanal31.com — Ketika dunia lama sedang runtuh dan dunia baru tengah mencari pijakan, lahirlah seorang pemikir yang kemudian disebut sebagai Bapak Filsafat Modern, Rene Descartes (1596- 1650).

 

Pemikiran Descartes tumbuh di tengah situasi Eropa sedang berada dalam masa transisi besar: sebuah dunia lama yang berakar pada otoritas Gereja dan filsafat skolastik Aristotelian mulai retak, sementara dunia baru yang ditandai oleh lahirnya sains modern mulai mencari bentuknya.

 

Secara sosial, Eropa masih sangat religius. Gereja Katolik, meski kekuasaannya mulai diguncang oleh Reformasi Protestan (abad ke-16), tetap menjadi institusi yang kuat dan dominan. Otoritas keagamaan mengatur bukan hanya kehidupan spiritual, tetapi juga kehidupan intelektual.

 

Universitas-universitas masih mengajarkan Aristotelianisme yang dilembagakan, di mana filsafat dipadukan dengan teologi dalam kerangka skolastik. Pengetahuan dianggap sebagai turunan dari otoritas dan tradisi, bukan hasil pencarian bebas.

 

Namun, pada saat yang sama, Eropa juga sedang diguncang oleh revolusi ilmu pengetahuan. Tokoh-tokoh seperti Copernicus, Kepler, dan Galileo memperkenalkan pandangan baru tentang kosmos yang mengguncang pandangan tradisional Gereja. Pandangan geosentris Aristoteles-Ptolemaios runtuh, digantikan oleh model heliosentris yang menempatkan matahari sebagai pusat tata surya. Penemuan-penemuan ini tidak hanya mengubah cara pandang manusia tentang alam, tetapi juga menumbuhkan keyakinan bahwa pengetahuan bisa dicapai melalui akal dan observasi, bukan semata dari otoritas.

 

Di ranah politik, Eropa dilanda ketegangan besar, salah satunya Perang Tiga Puluh Tahun (1618–1648), sebuah konflik panjang yang bermula dari perbedaan agama tetapi berkembang menjadi perebutan kekuasaan politik. Situasi ini menciptakan rasa gelisah dan ketidakpastian. Dalam konteks sosial semacam inilah Descartes tampil dan memilih jalan yang radikal: ia meragukan segalanya.

 

Dubito Ergo

 

Bagi Descartes, keraguan bukanlah akhir, melainkan pintu menuju kepastian. Ia menyebutnya sebagai keraguan metodis, suatu jalan yang dengan sadar ia pilih untuk menyingkirkan semua yang rapuh, semua yang hanya tampak pasti di permukaan, tetapi ternyata keropos di dasar. Keraguan baginya bukan penyakit jiwa yang melumpuhkan, melainkan sebuah alat bedah tajam untuk memisahkan yang sejati dari yang semu. Yang murni dari yang palsu. Ia menolak berhenti pada kebiasaan, pada dogma, pada otoritas masa lalu yang selama berabad-abad dianggap sebagai kebenaran tak tergugat.

 

Descartes, yang semenjak kecil dikenal rapuh secara fisik. Sering sakit-sakitan dan nyaris tidak pernah benar-benar sehat, menginginkan sebuah fondasi yang tidak bisa diguncang oleh siapa pun, tidak pula oleh waktu. Maka, seluruh keyakinan yang diwariskan oleh tradisi, seluruh pengetahuan yang ia peroleh dari indra, seluruh ajaran yang ia serap dari sekolah-sekolah filsafat ia letakkan di meja bedah keraguan. Descartes sungguh mengerti, bahwa indra bisa saja menipu, logika bisa menjerumuskan ke arah yang salah, bahkan mimpi pun sering mengecoh sebagai kenyataan.

 

Dan di tengah proses panjang keraguan itu, Descartes menemukan bahwa ada satu hal yang mustahil diragukan: “kenyataan bahwa dirinya sedang meragukan”! Meragukan adalah bentuk berpikir, dan berpikir adalah tanda adanya subjek yang berpikir. Maka, meski segala sesuatu ia singkirkan, ia tidak bisa menyingkirkan dirinya sendiri sebagai kesadaran yang sedang melakukan proses itu. Inilah titik kepastian pertama yang tak mungkin digoyahkan oleh siapa pun: “Dubito ergo. Cogito, ergo Sum” (Aku meragukan, Aku berpikir, maka aku ada.)

 

Ungkapan ini bisa terdengar sederhana, tetapi di dalamnya terkandung sebuah revolusi besar, manusia menemukan dirinya sebagai pusat pengetahuan, sebagai landasan bagi seluruh bangunan filsafat yang akan dibangun sesudahnya. Di sini, eksistensi tidak lagi bergantung pada dunia luar atau pengakuan orang lain, melainkan pada kesadaran diri yang tak bisa dihapuskan. Dengan itu, Descartes telah menyalakan api baru dalam sejarah pemikiran: bahwa kepastian sejati justru lahir dari keberanian untuk meragukan.

 

Kesadaran Eksistensial

 

Namun, cogito bukan sekadar rumus logis yang menjadi fondasi filsafat. Ia adalah sebuah kesadaran eksistensial yang dalam, bahwa keberadaan kita tidak pertama-tama ditentukan oleh apa yang kita miliki, oleh kedudukan yang kita tempati, atau oleh pengakuan orang lain, melainkan oleh kesadaran diri yang tak bisa diganggu gugat. “Aku berpikir, maka aku ada” berarti bahwa dalam sepi sekalipun, ketika segala hal di luar runtuh, kita tetap menemukan kepastian di dalam diri: selama kita masih berpikir, selama kita masih sadar, kita masih ada.

 

Di sinilah pesan Descartes menjadi relevan hingga hari ini. Dunia modern yang lahir dari warisannya adalah dunia yang penuh dengan keraguan: keraguan terhadap tradisi, terhadap institusi, bahkan terhadap makna hidup itu sendiri. Namun, dari keraguan itulah manusia belajar berdiri di atas kakinya sendiri, menemukan pijakan bukan di luar, melainkan di dalam. Cogito adalah peringatan halus bahwa kepastian sejati tidak bisa diberikan oleh dunia luar, tetapi harus lahir dari kedalaman diri.

 

Lebih jauh lagi, cogito menyingkap bahwa manusia adalah makhluk kesadaran, dan kesadaran itu adalah sumber kebebasan. Sebab hanya makhluk yang sadar akan dirinya yang dapat memilih, menimbang, dan menentukan arah hidupnya. Tanpa kesadaran itu, kita hanyalah bagian dari mekanisme dunia, bergerak tanpa tahu ke mana, terombang-ambing tanpa kendali. Tetapi dengan kesadaran, kita menyadari keberadaan kita, dan dari situ lahirlah tanggung jawab, bahwa kita bukan hanya ada, melainkan dipanggil untuk memberi makna pada keberadaan itu.

 

Dengan demikian, cogito Descartes bukan sekadar landasan bagi filsafat modern, melainkan juga cermin eksistensial bagi kita. Ia mengajarkan bahwa keraguan bisa menjadi jalan, kesadaran adalah kepastian, dan keberadaan sejati bukanlah sekadar “hidup” di dunia, melainkan hadir dalam kesadaran penuh atas diri. Dari titik ini, manusia modern bisa belajar, bahwa “berpikir adalah tanda kita ada, tetapi memberi makna pada pikiran adalah tanda kita sungguh hidup”.

 

Realitas yang Terbelah

 

Namun, penemuan itu tidak berhenti pada kesadaran diri. Descartes juga membelah realitas menjadi dua: res cogitans (substansi berpikir, yakni jiwa, pikiran, kesadaran); dan res extensa (substansi yang dapat diukur, yakni dunia material, ruang, dan benda). Pemisahan ini di kemudian hari menjadi dasar cara pandang modern terhadap dunia: bahwa alam dapat dipelajari, dipetakan, dihitung, dan dikuasai oleh hukum-hukum mekanistik, sementara kesadaran manusia tetap menjadi misteri yang tak bisa direduksi hanya pada materi.

 

Di sinilah pengaruh Descartes bagi lahirnya rasionalisme modern menjadi nyata. Ia memberikan manusia kepercayaan baru bahwa akal adalah kompas utama pengetahuan. Rasionalitas bukan sekadar alat, melainkan cahaya yang menyingkap kebenaran. Dari tangannya lahir gagasan tentang metode deduktif, tentang kejelasan (clarity) dan distingsi (distinctness) sebagai tanda-tanda kebenaran. Semua ini bukan hanya mengubah filsafat, melainkan juga menjadi fondasi bagi ilmu pengetahuan modern yang kita kenal sekarang.

 

Para penerusnya seperti Spinoza dan Leibniz mengembangkan lebih jauh semangat rasionalisme ini: keyakinan bahwa dengan akal, manusia mampu menyingkap hukum-hukum semesta dan bahkan mendekati kebenaran universal. Meski kemudian muncul tantangan dari empirisisme (yang menekankan pengalaman inderawi) warisan Descartes tetap menjadi tiang penyangga peradaban modern.

 

Dan jika kita berhenti sejenak untuk merenungkan, kita akan melihat betapa ungkapan “Cogito, ergo sum” bukan sekadar batu loncatan sejarah filsafat, melainkan juga cermin bagi kehidupan kita hari ini. Di tengah dunia yang penuh keraguan, banjir informasi, dan pergulatan identitas, Descartes mengingatkan, “yang paling mendasar bukanlah apa yang orang lain katakan, bukan pula apa yang dunia tetapkan, melainkan kepastian yang kita temukan dalam kesadaran diri”. Selama kita berpikir, kita ada. Selama kita sadar, kita memiliki pijakan.

 

Descartes, dengan seluruh keterbatasannya, telah menanamkan benih kesadaran modern, bahwa manusia adalah pusat dari pencarian pengetahuan, dan akal adalah jembatan menuju terang. Ia tidak hanya membangun sebuah sistem filsafat, tetapi juga menyodorkan cermin di mana kita melihat keberadaan kita sendiri. Sebuah cermin yang, hingga hari ini, masih memantulkan pertanyaan yang sama, apakah kita sungguh-sungguh berpikir?! Allahu a’lam bi Showab.

Radea Juli A. Hambali Wakil Dekan III Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung 

  • Penulis: Tim Redaksi

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 5 Tips Menembus Scopus

    5 Tips Menembus Scopus

    • calendar_month Selasa, 16 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-JAKARTA Baik bagi mahasiswa maupun dosen, bisa memublikasikan jurnal yang terindeks oleh Scopus merupakan sebuah prestasi tersendiri. Namun, untuk bisa membuat jurnal yang tembus Scopus bukan hal yang mudah. Ada banyak langkah termasuk revisi yang mungkin harus kamu lalui untuk membuat jurnal yang kamu tulis dimuat. Seperti yang kita ketahui, ada banyak sekali jurnal yang […]

  • Selamat! Mahasiswa UIN Bandung Raih 1st Runner Up Kompetisi Call for Paper International Hajj Fund Forum BPKH RI 2025

    Selamat! Mahasiswa UIN Bandung Raih 1st Runner Up Kompetisi Call for Paper International Hajj Fund Forum BPKH RI 2025

    • calendar_month Senin, 27 Okt 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com – Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Danial Muhammad Wirdyansyah, mahasiswa semester 5 Program Studi Manajemen Keuangan Syariah (MKS), Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam (FEBI), berhasil meraih 1st Runner Up dalam ajang Call for Paper International Hajj Fund Forum BPKH RI 2025. Danial berkompetisi bersama dua rekannya, Hapid […]

  • Dosen UIN Bandung Dukung Wacana Rektor Perempuan, Tapi Nilai Faktor Kultur Tak Bisa Diabaikan

    Dosen UIN Bandung Dukung Wacana Rektor Perempuan, Tapi Nilai Faktor Kultur Tak Bisa Diabaikan

    • calendar_month Senin, 6 Jul 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, Kanal31.com– Wacana Menteri Agama RI, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, agar Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung dipimpin oleh seorang rektor perempuan terus mendapat respons dari kalangan sivitas akademika. Salah satu dukungan datang dari dosen Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Dr. Mochammad Alfan, M.A. Kepada Kanal31.com, Alfan menyatakan sepakat dengan gagasan […]

  • Yang Mahal dari Iran

    Yang Mahal dari Iran

    • calendar_month Rabu, 8 Apr 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com   Yang mahal dari Iran, yang dunia Islam Sunni harus belajar menghadapi Barat adalah harga diri dan percaya dirinya. Itu memang butuh modal, dan Iran memilikinya karena kepemimpinan negaranya yang bener dan hebat sejak Imam Khomeini menggulingkan Syah Reza Pahlevi, presiden boneka Amerika Serikat 1979, hingga kemarin Sayyed Ali Khamenei dan sekarang putranya […]

  • Dalam Setahun, OJK Terima 2.688 Aduan External Cloud

    Dalam Setahun, OJK Terima 2.688 Aduan External Cloud

    • calendar_month Jumat, 7 Feb 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    JAKARTA, kanal31.com– Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan telah menerima 2.688 aduan yang berkaitan dengan external cloud di sektor jasa keuangan, mulai dari periode Januari 2024 sampai Januari 2025. Deputi Direktur Pelayanan Konsumen dan Pemeriksaan Pengaduan Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Arwan Hasibuan memaparkan, salah satu bentuk external cloud yang sering diadukan oleh […]

  • Top! Mahasiwa UIN Jember Raih Medali Emas Rapid Chess Competition pada Seiba International Festival

    Top! Mahasiwa UIN Jember Raih Medali Emas Rapid Chess Competition pada Seiba International Festival

    • calendar_month Kamis, 26 Sep 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM (PADANG) — Mahasiswa program studi Hukum Tata Negara Fakultas Syariah Universitas Islam Kiai Haji Ahmad Shiddiq (UIN KHAS) Jember Saifullah Yusuf Hamzah meraih juara pertama 2nd Seiba International Festival di UIN Imam Bonjol Padang. Prestasi Saifullah Yusuf Hamzah ini menyumbang perolehan medali emas untuk kontingan UIN KHAS Jember untuk cabang rapid chees competition. Seiba International Festival diikuti perwakilan […]

expand_less