Menang itu Bonus, Proses Kuncinya
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 8 jam yang lalu
- comment 0 komentar

MALANG, kanal31.com — Prestasi riset yang diraih siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 2 Kota Malang di berbagai kompetisi nasional tidak lahir dalam semalam. Di balik medali dan penghargaan yang terlihat publik, terdapat proses panjang yang dijalani para siswa, mulai dari manajemen waktu, pembinaan intensif, hingga kemampuan bertahan menghadapi berbagai tantangan selama kompetisi.
Hal itu disampaikan oleh Adyraka Gheysar Fawaz Ahmad, peraih medali emas bidang riset OMI 2025 dan Gaea Alexa Sulthana, peraih medali emas bidang riset lingkungan berkelanjutan 2025 yang diselenggarakan oleh SMA Progresif Bumi Sholawat dan ITS. Siswa dan alumni program riset sains MAN 2 Kota Malang yang aktif mengikuti berbagai ajang kompetisi riset tingkat nasional.
Menurut Raka, ketertarikannya pada dunia riset tumbuh sejak masih menempuh pendidikan di Madrasah Tsanawiyah (MTs). Saat diterima di MAN 2 Kota Malang melalui jalur prestasi, ia menemukan lingkungan yang semakin mendukung minat tersebut.
“Sejak awal kami melihat fasilitas dan program yang dimiliki madrasah sangat mendukung pengembangan riset. Itu membuat kami semakin termotivasi untuk berkembang,” ujarnya di Lab. Biologi MAN 2 Kota Malang, Jumat (5/6/2026).
Hal serupa dirasakan Gea. Baginya, salah satu kekuatan utama MAN 2 Kota Malang adalah lingkungan belajar yang kompetitif sekaligus suportif. “Melihat teman-teman yang memiliki semangat belajar tinggi membuat saya ikut terpacu untuk terus berkembang. Lingkungannya sangat mendukung dan mendorong kami untuk memberikan yang terbaik,” katanya.
Di tengah padatnya aktivitas akademik, organisasi, dan berbagai program pengembangan diri, keduanya mengaku harus memiliki kemampuan mengatur waktu yang baik. Menentukan skala prioritas menjadi kunci agar seluruh kegiatan dapat berjalan seimbang.
Raka mengungkapkan bahwa setiap tugas dan tanggung jawab selalu dipetakan berdasarkan tingkat urgensinya. Sementara Gea memanfaatkan berbagai aplikasi digital seperti kalender daring untuk membantu mengatur jadwal harian.
“Kesempatan yang tersedia di madrasah sangat banyak. Karena itu, kami harus pintar mengelola waktu agar semua bisa berjalan dengan baik,” ujar Gea.
Selain lingkungan yang kompetitif, dukungan madrasah juga menjadi faktor penting dalam perjalanan mereka. Laboratorium riset yang lengkap, ketersediaan bahan praktikum, hingga program karantina menjelang kompetisi menjadi bagian dari sistem pembinaan yang mereka rasakan secara langsung.
Menurut Raka, dukungan tidak hanya datang dari madrasah, tetapi juga dari keluarga yang terus memberikan motivasi ketika rasa lelah dan jenuh mulai muncul. “Kadang tantangan terbesar bukan lagi soal materi lomba, tetapi bagaimana menjaga energi dan semangat agar tetap konsisten selama proses berlangsung,” ungkapnya.
Sementara itu, Gea menilai masa karantina menjadi salah satu pengalaman paling berkesan. Selain mendapatkan pendampingan dari guru pembina, para peserta juga dibimbing oleh alumni dan kakak kelas yang telah memiliki pengalaman kompetisi.
Mereka berbagi berbagai strategi, mulai dari teknik presentasi, penyusunan bahan tayang, hingga cara menghadapi pertanyaan juri. “Kami belajar banyak dari pengalaman para alumni. Mereka membantu kami memahami hal-hal teknis yang sebelumnya tidak kami kuasai,” kata Gea.
Raka menambahkan, budaya berbagi ilmu antarangkatan menjadi salah satu kekuatan pembinaan riset di MAN 2 Kota Malang. Melalui proses tersebut, siswa yang awalnya belum memiliki pengalaman perlombaan dapat berkembang menjadi peserta yang siap bersaing di tingkat nasional.
Bagi keduanya, kemenangan bukanlah tujuan akhir dari sebuah kompetisi. Justru proses panjang yang dijalani selama persiapan menjadi pelajaran paling berharga yang akan terus mereka bawa dalam kehidupan.
“Orang biasanya hanya melihat saat kita menang. Padahal di balik itu ada banyak proses, tantangan, dan jatuh bangun yang harus dilewati,” ujar Raka.
Mereka pun mengajak para siswa madrasah di seluruh Indonesia untuk berani mencoba, menikmati setiap proses pembelajaran, dan tidak takut menghadapi kegagalan. “Nikmati prosesnya, karena kemenangan hanyalah bonus. Tetap semangat, terus belajar, dan jangan takut bermimpi besar,” pungkas mereka.
- Penulis: Tim Redaksi
- Sumber: Rilis Kemenag

Saat ini belum ada komentar