Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Jangan Sederhanakan Kepemimpinan Menjadi Soal Identitas Sempit

Jangan Sederhanakan Kepemimpinan Menjadi Soal Identitas Sempit

  • account_circle Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN SGD Bandung, Ketua KBNU UIN SGD Bandung
  • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG, kanal31.com — Setiap kali kursi kepemimpinan menjadi perbincangan. Perdebatan terlalu cepat berbelok pada pertanyaan “siapa”, sementara pertanyaan “mengapa ia layak” justru hampir selalu tercecer.

Ada semacam “godaan” menjadikan identitas sebagai jawaban atas persoalan yang jauh lebih rumit. Laki-laki atau perempuan, muda atau senior, dari kelompok ini atau kelompok itu, seakan cukup menjadi alasan untuk menilai seseorang pantas memimpin.

Cara berpikir itu mungkin memudahkan diskusi publik, tetapi ia sekaligus mengerdilkan makna kepemimpinan.

Dalam konteks wacana mengenai kemungkinan perempuan memimpin di PTKIN misalnya, persoalannya bukan terletak pada boleh atau tidak bolehnya seorang perempuan menjadi rektor. Kesempatan untuk memimpin adalah hak yang tidak boleh dibatasi oleh jenis kelamin.

Namun, kesetaraan kesempatan tidak identik dengan penyederhanaan “ukuran” kepemimpinan. Jika argumen utama yang dibangun berhenti pada fakta bahwa sudah saatnya perempuan memimpin, kita sedang memindahkan titik berat pembahasan dari kualitas menuju hal yang bersifat simbol. Kampus semestinya menjadi ruang pertama yang menolak penyederhanaan seperti itu.

Pemimpin pada dasarnya tidak serta-merta lahir. Ia dibentuk, ditempa, dan diuji oleh waktu. Tidak serta-merta sesederhana “menunjuk” seseorang. Mungkin proses dalam menentukannya dan menunjuknya bisa beragam secara teknis.

Ada yang memiliki karisma sebagai anugerah sehingga lebih mudah memperoleh kepercayaan. Akan tetapi, karisma hanyalah modal awal dan satu dari sekian variabel lain. Ia bukan jaminan bahwa seseorang mampu mengelola sebuah institusi yang kompleks.

Kepemimpinan lahir dari perjumpaan antara pengalaman, keluasan berpikir, keteguhan moral, kemampuan mengelola manusia, serta keberanian mengambil keputusan ketika berbagai kepentingan saling bertabrakan.

Karena itu, kepemimpinan tidak semestinya dilekatkan pada identitas tertentu. Ia tidak otomatis berada di tangan pucuk partai misalnya, tidak ditentukan oleh kekayaan atau kemiskinan, tidak diwariskan oleh garis keturunan, tidak ditentukan dengan kedekatan pada politik kekuasaan dan tidak pula ditentukan oleh jenis kelamin.

Semua itu hanya latar belakang sosial dan menjadi satu dari sebagian variabel bertaut. Yang menentukan kualitas seorang pemimpin adalah sejauh mana ia mampu mengemban amanah dan menghadirkan kemaslahatan bagi entitas yang dipimpinnya.

Lebih dari itu, kepemimpinan, sejak awal yang sudah diutarakan bahwa ia tidak pernah berdiri di ruang hampa. Ia lahir dari kompleksitas politik, negosiasi kepentingan, dinamika kelembagaan, dan kehendak kolektif.

Namun kompleksitas itu tidak boleh dijadikan legitimasi yang bersifat otoriter. Tidak setiap keputusan politik otomatis memiliki legitimasi moral. Tidak setiap hasil prosedural identik dengan kelayakan substantif.

Politik memang menentukan siapa yang naik ke panggung, tetapi kualitas kepemimpinanlah yang menentukan apakah ia layak tetap berada di atas panggung. Karena itu, akal sehat publik tidak boleh berhenti bekerja hanya karena sebuah proses telah selesai secara administratif.

Bagi sebuah Universitas Islam Negeri, ukuran kepemimpinan bahkan lebih berat daripada sekadar kecakapan birokrasi.

Walhasil menjadi pemimpin itu “tidak serta-merta”. UIN bukan hanya sekadar institusi pendidikan tinggi, tetapi juga ruang persemaian tradisi keilmuan Islam. Karena itu, seorang rektor misalnya, tidak cukup menjadi administrator yang ulung. Ia harus menjadi representasi citra akademik dan moral yang dihormati sivitas akademika.

Tradisi intelektual Islam menawarkan kerangka yang menarik untuk membaca persoalan ini. Para ulama klasik tidak sekadar mengangkat diskusi ini dan bertanya “siapa yang berhak” memimpin, melainkan “siapa yang paling layak” memimpin. Dalam semangat itu, kepemimpinan dapat dipahami melalui tiga kualitas: afqah, afshah, dan ashlah.

Afqah menunjuk pada kedalaman ilmu dan keluasan pemahaman. Dalam konteks PTKIN, ia bukan sekadar kemampuan menguasai disiplin keilmuan tertentu dan bergelar guru besar. Lebih lagi ia perlu kecakapan keilmuan Islam, kemampuan menjadikan ilmu sebagai dasar kebijakan.

Rektor ideal adalah sosok yang menghadirkan kewibawaan akademik, sehingga kepemimpinannya lahir dari penghormatan terhadap ilmu, bukan sekadar penghormatan terhadap jabatan.

Di sini ke-“kyai”-an merupakan representasi sebuah makna pendidikan tinggi Islam. Bukan sebagai simbol kultural yang melekat pada pakaian atau gelar, melainkan sebagai habitus intelektual: keluasan ilmu, kerendahan hati, keteladanan akhlak, dan kemampuan membaca zaman.

Kampus Islam membutuhkan seorang intelektual yang di dalam dirinya menubuh watak seorang kiai, bukan hanya sekadar akademisi an-sich yang kebetulan memahami administrasi.

Tetapi ilmu yang dalam tidak cukup apabila tidak mampu menjelma menjadi komunikasi yang menjernihkan. Karena itu diperlukan sifat afshah: kemampuan menyampaikan gagasan secara terang, merawat dialog, menjembatani perbedaan, dan membangun kepercayaan.

Universitas tidak dipimpin melalui instruksi semata, melainkan melalui percakapan akademik yang sehat. Seorang rektor harus mampu menghidupkan tradisi itu.

Pada akhirnya, seluruh kualitas tersebut bermuara pada ashlah—yang paling membawa kemaslahatan bagi institusi. Para ulama seperti al-Mawardi ketika membahas imamah tidak meletakkan kepemimpinan sebagai hak seseorang, melainkan sebagai “amanah” yang harus diberikan kepada orang yang paling mampu menjaga kemaslahatan umat sesuai konteks zamannya.

Maka, ukuran “yang terbaik” tidak pernah lahir dari identitas, tetapi dari perpaduan integritas, kompetensi, kebijaksanaan, dan kemampuan membaca kebutuhan zaman. Di sisi lain, Ibn Khaldun menyatakan bahwa kekuasaan bertahan karena kepercayaan dan kohesi sosial, bukan semata karena legalitas.

Dalam bahasa modern, legitimasi bukan hanya soal prosedur, melainkan juga soal penerimaan yang lahir dari civitas akademika kampus yang menjadi penerimaan dan kepercayaan sosial.

Maka, pertanyaan yang seharusnya diajukan bukanlah: “Apakah sudah saatnya perempuan menjadi rektor?” atau “Haruskah laki-laki yang tetap memimpin?” Pertanyaan yang lebih tepat adalah: siapakah yang paling afqah, paling afshah, dan paling ashlah untuk memimpin UIN hari ini?

Siapa yang memiliki keluasan ilmu, kewibawaan kharismatik kyai, kecakapan mengelola institusi, kebijaksanaan merawat keberagaman sivitas akademik, serta visi membawa UIN tetap berakar pada tradisi keilmuan Islam sekaligus mampu menjawab tantangan masa depan?

Bukankah secara historis hampir seluruh PTKIN di Indonesia lahir dari kegelisahan para kyai yang berasal dari pesantren untuk berkolaborasi dengan Negara agar merumuskan sebuah lembaga yang mampu menempa dan menciptakan semacam santri par-excelence, dalam arti, menjadi santri yang memiliki keluasan dan keluwesan intelektual-akademia, dan intelektual akademia yang tetap berpegang teguh untuk memiliki akhlak seorang santri.

Kampus akan kehilangan marwahnya ketika kepemimpinan dipersempit menjadi kemenangan identitas. Sebaliknya, kampus akan menjaga kehormatannya apabila memilih pemimpin melalui ukuran-ukuran yang lahir dari merit, ilmu, akhlak, dan kemaslahatan.

Sebab sejarah tidak pernah mencatat seorang pemimpin hanya karena ia dari kalangan bangsawan atau rakyat, dari laki-laki atau perempuan, dan ukuran-ukuran identitas lainnya. Sejarah mencatat mereka yang meninggalkan jejak keilmuan, kebijaksanaan, dan keberanian memperbaiki institusi yang dipimpinnya.

  • Penulis: Prof. Dr. H. Dudang Gojali, M.Ag., Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN SGD Bandung, Ketua KBNU UIN SGD Bandung

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Al-Munqidz Minal Muslim wa Syiah 

    Al-Munqidz Minal Muslim wa Syiah 

    • calendar_month Minggu, 31 Mei 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    (Kekacauan Berpikir tentang Muslim dan Syiah) BANDUNG kanal31.com — Menyebut Muslim atau bukan Muslim itu harus jelas. Caranya, tentukan kategorinya atau konteksnya. Dalam kategeori atau konteks apa kita bicara atau menyebut Muslim? Kategori akidah, madzhab fiqh, politik atau sosiologis?   Madzhab pun macam-macam bisa dirinci lagi. Ada madzhab aqidah, madzhab fiqih dan madzhab pemikiran.   Kalau […]

  • Agus Akmaludin, Kualitas Tidak Akan Pernah Tertukar

    Agus Akmaludin, Kualitas Tidak Akan Pernah Tertukar

    • calendar_month Kamis, 18 Agt 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Namanya Agus Akmaludin, urang Cicalengka Kabupaten Bandung, dulu mahasiswa saya beberapa semester. Di kelasnya, paling dewasa dan paling pintar. Ada 2 orang, satu lagi Ari Ganjar, yang melakukan penelitian sangat serius tentang ulama Sunda abad-19 di Cimahi, yang memiliki ajaran tasawufnya sendiri. Lokasi pesantren rintisan ulama itu diabadikan menjadi Jalan Pesantren, di Cibabat Cimahi. […]

  • Obin dan Andini Terpilih Jadi Duta Mahasiswa Berprestasi FSH UIN Bandung

    Obin dan Andini Terpilih Jadi Duta Mahasiswa Berprestasi FSH UIN Bandung

    • calendar_month Selasa, 24 Des 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG, KANAL31.COM — Sebanyak 96 mahasiswa berprestasi Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menerima Penghargaan Appreciation Day 2024. Obin Kuswandi (Jurusan Perbandingan Madzhab dan Hukum) dan Andini Putri Irawan (Jurusan Ilmu Hukum) didaulat menjadi duta mahasiswa berprestasi FSH. Acara yang diinisiasi oleh lembaga Pembinaan dan Promosi Mahasiswa Unggul (P2MU) ini bertujuan […]

  • Keren! MAN 2 Kota Bandung Ditunjuk sebagai Pilot Project Kurikulum Berbasis Cinta oleh Kemenag RI

    Keren! MAN 2 Kota Bandung Ditunjuk sebagai Pilot Project Kurikulum Berbasis Cinta oleh Kemenag RI

    • calendar_month Senin, 5 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Jenderal Pendidikan Islam menggagas penerapan Kurikulum Berbasis Cinta(KBC) untuk satuan pendidikan madrasah di seluruh Indonesia. Inisiatif ini bertujuan menanamkan nilai cinta kepada Tuhan, sesama manusia, lingkungan, dan bangsa sejak usia dini, sebagai bagian dari penguatan pendidikan agama dan keagamaan. Sebagai langkah awal implementasi, Direktorat Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, […]

  • Cara Deteksi Typo dalam Karya Ilmiah

    Cara Deteksi Typo dalam Karya Ilmiah

    • calendar_month Minggu, 17 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    Karya ilmiah tidak boleh ada typo atau kesalahan teknis penulisan. Di dalam penulisan skripsi atau tugas akhir, kesalahan teknis penulisan bukan bagian dosen pembimbing, melainkan tugas penulis untuk menghindari, mencermati, dan memperbaikinya. Saat ini, era konten sehingga dosen pembimbing lebih fokus melihat konten meliputi kedalaman isi. Apabila naskah karya ilmiah ditemukan banyak kesalahan teknis dalam […]

  • KDM, UIN Bandung Punya Peran Strategis Ciptakan Jabar Istimewa

    KDM, UIN Bandung Punya Peran Strategis Ciptakan Jabar Istimewa

    • calendar_month Selasa, 23 Sep 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi (KDM) menegaskan, proses pembangunan daerah menuju Jawa Barat Istimewa tidak lepas dari peran strategis perguruan tinggi. Khususnya dalam menerapkan nilai-nilai kearifan lokal Sunda — silih asah, silih asih, dan silih asuh. Nilai-nilai ini menjadi landasan dalam membentuk masyarakat yang berkarakter, berkeadilan, dan berkelanjutan. Penegasan KDM itu disampaikan […]

expand_less