Jumat, 17 Jul 2026
light_mode
Trending Tags
Beranda » NETIZEN » Indonesia dan Modal Sejarah yang Tercampakkan

Indonesia dan Modal Sejarah yang Tercampakkan

  • account_circle Yudi Latif, Direktur Reform Institute
  • calendar_month Rab, 15 Jul 2026
  • comment 0 komentar

JAKARTA, kanal31.com — Saudaraku, ada bangsa yang miskin sumber daya, tetapi kaya ingatan. Ada pula bangsa yang kaya sejarah, tetapi hidup seolah tidak pernah belajar dari sejarahnya sendiri. Indonesia, sayangnya, terlalu sering menunjukkan gejala yang kedua.

 

Sebuah bangsa tidak hanya berdiri di atas kekuatan ekonomi, teknologi, atau militernya. Ada kekuatan lain yang sering tak terlihat, tetapi sangat menentukan: reputasi, kepercayaan, dan warisan sejarah. Dalam hubungan antarbangsa, itulah yang disebut sebagai historical capital—modal sejarah yang membuat sebuah negara memiliki daya pengaruh jauh melampaui ukuran materialnya.

 

Indonesia sesungguhnya memiliki modal sejarah yang luar biasa besar. Namun, modal itu sering tidak dirawat dengan kesadaran yang memadai.

 

Indonesia pernah memiliki rekam jejak historis terhormat sebagai suara utama bangsa-bangsa yang baru merdeka dan sebagai penggerak kesadaran tentang lahirnya dunia baru. Indonesia tampil sebagai pelopor dekolonisasi, tuan rumah Konferensi Asia-Afrika yang menyatukan bangsa-bangsa yang pernah tertindas, penggagas Gerakan Non-Blok yang menawarkan jalan di luar polarisasi kekuatan besar dunia, serta pengukuh kedaulatan maritim melalui Deklarasi Djuanda yang kemudian berkontribusi pada perkembangan hukum laut internasional.

 

Warisan itu adalah modal besar. Namun sejarah tidak pernah bekerja secara otomatis. Ia hanya menjadi kekuatan apabila dirawat dengan kesadaran, diterjemahkan menjadi diplomasi yang cerdas, dan diwujudkan melalui tindakan yang tepat pada momentum yang menentukan. Ironisnya, Indonesia justru kerap gagal mengubah kekayaan sejarah tersebut menjadi daya pengaruh. Bukan karena negeri ini kekurangan pengalaman dan reputasi, melainkan karena sering abai dalam merawat hubungan-hubungan yang dibangun oleh sejarah itu sendiri.

 

Pengabaian Modal Historis dalam Relasi dengan Afrika Selatan

 

Ketika Nelson Mandela wafat, dunia memberikan penghormatan luar biasa. Para pemimpin negara datang bukan hanya untuk melepas kepergian seorang tokoh besar, tetapi untuk menghormati perjuangan panjang melawan apartheid dan kolonialisme. Indonesia—yang memiliki hubungan moral dan historis yang sangat kuat dengan perjuangan Afrika Selatan—hanya mengutus pejabat setingkat menteri.

 

Masalahnya bukan semata tingkat kehadiran sebuah delegasi. Dalam diplomasi, simbol adalah pesan. Kehadiran seorang kepala negara atau kepala pemerintahan menunjukkan bagaimana sebuah bangsa memahami arti sebuah hubungan dan menghargai sebuah perjalanan sejarah.

 

Sebab hubungan Indonesia dengan Afrika Selatan bukanlah hubungan biasa. Ia dibangun oleh jejak panjang solidaritas, perjuangan melawan kolonialisme, dan keyakinan bahwa bangsa-bangsa yang pernah mengalami penindasan memiliki hak untuk berdiri sejajar dalam percaturan dunia.

 

Jauh sebelum dunia mengenal Nelson Mandela dan perjuangan anti-apartheid, jejak Nusantara telah hadir di Afrika Selatan melalui Syekh Yusuf al-Makassari, ulama dan pejuang asal Makassar yang dibuang oleh kolonial Belanda pada abad ke-17. Di tanah Afrika Selatan, ia dikenang sebagai simbol perlawanan terhadap penindasan dan menjadi bagian dari sejarah masyarakat setempat. Jejak Syekh Yusuf menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Afrika Selatan memiliki akar sejarah yang jauh lebih tua daripada hubungan diplomatik modern.

 

Berabad-abad kemudian, hubungan sejarah itu menemukan bentuk politiknya melalui Konferensi Asia-Afrika di Bandung pada 1955. Afrika Selatan yang saat itu masih berada di bawah rezim apartheid memang tidak hadir sebagai negara peserta, tetapi perjuangan rakyat Afrika Selatan hadir melalui perwakilan African National Congress (ANC), organisasi yang kemudian menjadi kendaraan utama perjuangan Nelson Mandela.

 

Bandung memberikan legitimasi moral bagi perjuangan melawan kolonialisme, rasisme, dan penindasan. Semangat Bandung kemudian menjadi salah satu sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa yang memperjuangkan kemerdekaan dan kesetaraan.

 

Indonesia termasuk negara yang konsisten menentang apartheid. Sikap tersebut bukan sekadar pilihan politik luar negeri, tetapi bagian dari identitas Indonesia sebagai bangsa yang lahir dari pengalaman kolonialisme.

 

Karena itu, penghormatan kepada Mandela seharusnya memiliki arti khusus bagi Indonesia. Yang dihormati bukan hanya seorang pemimpin besar Afrika Selatan, tetapi juga sejarah panjang solidaritas yang ikut membentuk reputasi Indonesia di dunia.

 

Pengabaian Modal Historis dalam Relasi dengan Iran

 

Gejala serupa kembali terlihat ketika dunia memberikan penghormatan menjelang prosesi pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Banyak negara mengirim kepala pemerintahan atau utusan tingkat tinggi. Indonesia pada awalnya hanya berencana mengirim duta besar, lalu kemudian secara terlambat memutuskan mengirim pejabat setingkat menteri.

 

Masalahnya bukan semata siapa yang hadir. Masalahnya adalah apakah Indonesia masih memahami nilai strategis dari hubungan-hubungan yang dibangun oleh sejarah.

 

Sebab Indonesia dan Iran memiliki pertalian historis yang erat dan panjang.

 

Hubungan keduanya tidak pernah sekadar hubungan bilateral biasa. Iran merupakan salah satu negara yang hadir dalam Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, sebuah forum yang menjadi tonggak kebangkitan bangsa-bangsa Asia dan Afrika dalam menentang kolonialisme serta memperjuangkan kedaulatan.

 

Indonesia dan Iran juga sama-sama menjadi bagian dari Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) sejak organisasi tersebut berdiri pada 1969. Dalam perkembangannya, Iran turut aktif dalam Gerakan Non-Blok setelah Revolusi Iran 1979.

 

Pertalian sejarah itu menunjukkan bahwa hubungan Indonesia dan Iran dibangun bukan hanya oleh kepentingan praktis sesaat, tetapi oleh pengalaman sejarah yang mempertemukan bangsa-bangsa yang memiliki semangat kedaulatan dan keinginan untuk berdiri sejajar dalam tata dunia internasional.

 

Bagi Indonesia, hubungan dengan Iran juga memiliki arti strategis. Indonesia adalah negara dengan populasi Muslim Sunni terbesar di dunia, sementara Iran merupakan negara dengan populasi Muslim Syiah terbesar di dunia sekaligus pusat utama peradaban Syiah global. Karena itu, hubungan yang baik antara Indonesia dan Iran memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar hubungan bilateral. Hal itu dapat menjadi salah satu jembatan penting untuk membangun dialog, saling pengertian, dan harmoni di tengah keberagaman dunia Islam—sebuah kontribusi yang pada akhirnya bisa berdampak penting bagi upaya menciptakan perdamaian dunia.

 

Jika Indonesia ingin memainkan peran lebih besar dalam dunia Islam, Iran merupakan salah satu simpul penting yang tidak dapat diabaikan.

 

Selama ini dunia Islam sering diasosiasikan dengan dunia Arab. Namun realitas demografis menunjukkan bahwa kekuatan populasi Muslim terbesar dunia saat ini justru berada di luar kawasan tersebut—di negara-negara seperti Indonesia, Pakistan, India, Bangladesh, Nigeria, Mesir, Iran, dan Turki. Banyak dari negara-negara tersebut memiliki sejarah keterhubungan dengan kebangkitan Asia-Afrika dan perjuangan negara-negara berkembang.

 

Di sinilah peluang Indonesia berada: menjadi jembatan antara Asia dan Afrika, antara dunia Islam dan dunia berkembang, serta antara kepentingan regional dan tata dunia global.

 

Ketika Modal Sejarah Menjadi Penentu Diplomasi

 

Indonesia pernah membuktikan sendiri nilai dari modal sejarah tersebut.

 

Ketika hasil Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) mengenai Papua dibahas dalam Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa pada 1969, Indonesia menghadapi tantangan diplomatik yang tidak ringan.

 

Delegasi Ghana mengusulkan agar pembahasan ditunda hingga 1975 agar rakyat Papua diberi kesempatan kembali menyatakan pendapat. Mereka mempersoalkan mekanisme musyawarah dalam Pepera dan mengkhawatirkan mekanisme tersebut dapat menjadi preseden yang digunakan oleh rezim apartheid.

 

Dalam forum itu, tampil suara dari negara-negara yang memahami perjalanan sejarah Indonesia.

 

Delegasi Aljazair, M’hammed Yazid—tokoh Front de Libération Nationale (FLN) dan salah seorang diplomat utama perjuangan kemerdekaan Aljazair—mengingatkan bahwa semangat Bandung adalah semangat pembebasan bangsa-bangsa dari kolonialisme, penindasan dan perlawanan terhadap apartheid. Mengasosiasikan Indonesia dengan apartheid berarti mengabaikan sejarah panjang perjuangan Asia-Afrika.

 

Pernyataan Yazid mendapat dukungan dari negara-negara yang terhubung dengan Indonesia melalui semangat Konferensi Asia-Afrika dan Gerakan Non-Blok.

 

Hasilnya sangat menentukan: 84 negara mendukung pencatatan hasil Pepera, 30 negara memilih abstain, dan tidak satu pun negara memberikan suara menolak.

 

Indonesia memperoleh kemenangan diplomatik bukan hanya karena argumentasi hukum, tetapi juga karena memiliki tabungan kepercayaan yang dibangun melalui sejarah.

 

Itulah historical capital.

 

Jangan Biarkan Sejarah Kehilangan Makna

 

Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki sejarah panjang. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu memahami arti sejarahnya dan mengubahnya menjadi kekuatan.

 

Indonesia tidak kekurangan modal sejarah. Yang sering kurang adalah kesadaran untuk merawatnya.

 

Dunia pernah mengenal Indonesia sebagai suara penting dari bangsa-bangsa yang baru merdeka. Indonesia pernah menjadi tempat lahirnya gagasan besar tentang kesetaraan, solidaritas, dan kedaulatan bangsa-bangsa.

 

Namun reputasi tidak diwariskan secara otomatis. Ia harus terus dibangun melalui tindakan nyata. Setiap momentum diplomasi adalah kesempatan untuk menunjukkan apakah sebuah negara masih memahami tempatnya dalam sejarah.

 

Pemerintah Indonesia perlu menyadari bahwa diplomasi bukan hanya tentang perhitungan jangka pendek, angka perdagangan, atau pertemuan formal. Diplomasi juga tentang ingatan. Tentang siapa yang pernah berdiri bersama kita ketika kita membutuhkan dukungan. Tentang siapa yang memiliki hubungan sejarah dengan perjalanan bangsa kita.

 

Bangsa-bangsa lain menjaga simbol dan sejarah mereka karena mereka memahami bahwa keduanya adalah sumber pengaruh. Mereka tahu bahwa sebuah kehadiran dapat menyampaikan pesan yang tidak bisa digantikan oleh dokumen diplomatik mana pun.

 

Indonesia memiliki warisan yang tidak dimiliki banyak negara: pengalaman sebagai bangsa yang pernah dijajah, keberanian memimpin solidaritas Asia-Afrika, dan reputasi sebagai salah satu suara moral Dunia Selatan.

 

Jangan sampai modal sebesar itu hilang bukan karena direbut oleh bangsa lain, tetapi karena kita sendiri lupa nilainya.

 

Sejarah tidak hanya untuk dikenang.

 

Sejarah adalah kekuatan.

 

Dan negara yang gagal menghormati sejarahnya sendiri, perlahan-lahan akan kehilangan kemampuan untuk membangun masa depannya.

  • Penulis: Yudi Latif, Direktur Reform Institute

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kokohkan Harmoni Budaya, Masjid Al Jabbar Siap Jadi Pusat Studi Islam

    Kokohkan Harmoni Budaya, Masjid Al Jabbar Siap Jadi Pusat Studi Islam

    • calendar_month Kam, 1 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — Masjid Raya Al Jabbar yang terletak di Jalan Cimincrang Nomor 14, Kecamatan Gedebage, Kota Bandung, semakin memperkokoh eksistensinya sebagai sentra pendidikan Islam di wilayah Jawa Barat. Hal ini dipertegas oleh Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi, dalam sambutan tertulisnya, yang mengharapkan masjid tersebut bertransformasi menjadi pusat pembelajaran Islam yang inklusif dan memberi pencerahan, sekaligus […]

  • Alumni UIN Bandung Miliki Pondasi Kuat untuk Hidup Sukses

    Alumni UIN Bandung Miliki Pondasi Kuat untuk Hidup Sukses

    • calendar_month Sab, 23 Agu 2025
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com– Rektor UIN Sunan Gunung Djati Bandung Prof. Rosihon Anwar mengingatkan para alumni bahwa perjalanan hidup ke depan itu tidak mudah, karena tantangannya sangat berat dengan cangihnya ilmu dan teknologi. Bagi lulusan UIN Bandung, hal itu seyogianya tidak khawatir, karena kampus sudah melatih kemandirian, berpikir kritis, dan membangun pondasi kuat untuk hidup sukses Peringatan […]

  • Gandeng Muamalat Institute, UIN Bandung Cetak Lulusan Ekonomi Syariah Siap Kerja dan Berkah

    Gandeng Muamalat Institute, UIN Bandung Cetak Lulusan Ekonomi Syariah Siap Kerja dan Berkah

    • calendar_month Rab, 24 Jun 2026
    • account_circle Sungkawa Abdisunda
    • 0Komentar

    BANDUNG, kanal31.com – Program Studi (Prodi) Ekonomi Syariah kini bukan lagi sekadar jalur alternatif. Seiring meroketnya kesadaran masyarakat terhadap produk halal dan kebutuhan industri yang kian tinggi, jurusan ini telah menjelma menjadi jalur utama menuju karier masa depan yang sangat menjanjikan. Merespons peluang emas ini, Prodi Ekonomi Syariah UIN Sunan Gunung Djati Bandung resmi menggandeng […]

  • Dosen UGM Kembangkan Metode Pemetaan Padang Lamun

    Dosen UGM Kembangkan Metode Pemetaan Padang Lamun

    • calendar_month Sel, 19 Apr 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPI-YOGYAKARTA Dosen Departemen Sains Informasi Geografi, Fakultas Geografi UGM, Dr. Pramaditya Wicaksono, M.Sc.,dan tim mengembangkan metode pengolahan data pengindraan jauh untuk memetakan padang lamun secara akurat, efektif, dan efisien. Pengembangan teknologi tersebut berawal dari keprihatinan Pramaditya akan belum optimalnya pengelolaan padang lamun Indonesia. Padang lamun merupakan salah satu ekosistem karbon biru (blue carbon) di wilayah […]

  • Yang Kecewa Pada Prabowo Pasti Tak Suka Membaca Ini

    Yang Kecewa Pada Prabowo Pasti Tak Suka Membaca Ini

    • calendar_month Sen, 4 Mei 2026
    • account_circle Moeflich Hasbullah, Dosen UIN Bandung
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Saya ingin menjelaskan psikologi Presiden Prabowo. Bukan membelanya tapi menjelaskan. Setuju atau tidak, terserah, bebas. Saya mengajak untuk memahami, bukan sekadar memuncratkan kekesalan dan kemarahan. Atau karena mengkritiknya dengan pedas lalu kita merasa sudah hebat dan jadi pahlawan rakyat. Prabowo sudah banyak sekali menerima kritik, dihujat, dilecehkan dll. Gak masalah itu hak rakyat. […]

  • Ponpes Berkedok Tahfiz Quran Berubah Jadi Tempat Predator Anak, Digeruduk Warga Pati 

    Ponpes Berkedok Tahfiz Quran Berubah Jadi Tempat Predator Anak, Digeruduk Warga Pati 

    • calendar_month Ming, 3 Mei 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR kanal31.com — Belum hilang kisah Syekh Ahmad Al Misry, pendakwah Mesir yang dulu dipuja-puja sebagai juri hafiz Indonesia, simbol “keislaman murni”. Jadi tersangka karena predator anak. Hari ini, bayang-bayang suci itu hancur lebur digantikan realita berdarah. Hal serupa terjadi di Ponpes Ndholo Kusumo, Tlogosari, Tlogowungu, Pati, sebuah lembaga berkedok tahfiz Qur’an justru menjadi rumah jagal […]

expand_less