Ini Alasannya Indonesia Berpotensi Jadi Epicentrum Peradaban Dunia Islam Baru
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month 11 jam yang lalu
- comment 0 komentar

JAKARTA, kanal31.com — Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk bertransformasi menjadi epicentrum baru bagi peradaban modern dunia Islam. Menurut Menteri Agama, Nasaruddin Umar, pandangan strategis tersebut berlandaskan pada beberapa faktor keunggulan domestik yang terdata stabil di tengah dinamika geopolitik global.
Faktor utama yang mendasari optimisme ini adalah ketahanan makroekonomi nasional yang sangat kuat. Di saat kawasan Timur Tengah kerap mengalami ketidakpastian akibat konflik berkepanjangan, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat konsisten berada di angka 5 persen didukung tingkat inflasi yang rendah dan terkendali.
“Maka itu banyak sekali ekspektasi ke depan ini membayangkan Indonesia itu akan menjadi kekuatan baru munculnya peradaban baru, bukan lagi di Timur Tengah tetapi ini tuh akan pindah ke Indonesia yang akan datang. Pemikiran yang tenang itu hanya akan bisa lahir di dalam negara yang tenang, yang stabilitas ekonominya kuat,” urai Menag saat sesi press conference setelah pembukaan Seminar Nasional IKA PTKIN, Selasa (14/7/2026).
Menag menambahkan, faktor pendukung lainnya melingkupi karakteristik umat Islam di Indonesia yang dikenal sangat moderat, tingginya jaminan hak asasi manusia, stabilitas politik dalam negeri yang aman, serta pemanfaatan bonus demografi yang optimal.
Guna mengawal peluang lompatan peradaban ini, kualitas serta kapasitas keilmuan jajaran alumni PTKIN dipastikan harus mengalami transformasi besar. Menag menyerukan adanya reorientasi kompetensi agar para alumni tidak hanya mahir dalam khazanah keagamaan klasik, melainkan juga compatible dengan sains modern.
“Kita sebagai alumni UIN harus punya kesadaran geopolitik yang tinggi juga. Kita jangan hanya mahir membaca kitab kuning, tetapi kitab putih juga. Tidak compatible sebagai alumni UIN kalau kita tidak perlu menguasai situasi regional dan nasional kita,” tegas Menag saat menjadi keynote speaker.
Sehubungan dengan itu, lembaga pendidikan keagamaan di bawah Kemenag diarahkan untuk melahirkan lebih banyak inovator dan penemu riset baru. Kedaulatan sebagai produsen ilmu pengetahuan ini dapat dicapai melalui keterpaduan antara perintah belajar (iqra’) dan nilai ketuhanan (bismi rabbik), berkaca pada era keemasan Islam (The Golden Age of Islam).
“Kalau Indonesia ingin menjadi epicentrum peradaban dunia modern, maka tidak ada cara lain kita harus melahirkan seribu BJ Habibie di Indonesia. Selama ini kita hanya melahirkan ahli bismillahirrahmanirrahim, padahal Nabi dan abad 6 sampai 13 itu yang lahir pada waktu itu adalah generasi iqra’,” pungkas Menag saat menyampaikan materi di hadapan peserta seminar.
- Penulis: Tim Redaksi
- Sumber: Rilis Kemenag

Saat ini belum ada komentar