Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Manusia, Media, atau AI

Manusia, Media, atau AI

  • account_circle Khoiruddin Muchtar, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung
  • calendar_month Senin, 17 Agt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Siapa Menulis Cerita Kemerdekaan Kita?

BANDUNG, kanal31.com — Setiap bulan Agustus, ada satu pemandangan yang hampir selalu berulang: bendera merah putih menghiasi jalan, gang, kantor, sekolah, bahkan rumah-rumah, yang pemiliknya kadang lupa membayar iuran kebersihan.

Begitu juga di media sosial, foto bendera bermunculan, video lomba makan kerupuk beredar, anak-anak berlari mengejar balon, orang-orang dewasa sibuk menjadi panitia sekaligus fotografer, dan warga yang lain sibuk memegang telepon genggam.

Dulu, orang berlomba memanjat pinang, pada saat sekarang, banyak yang berlomba mendapatkan likes, kalau dulu hadiah lomba berupa piring, kipas angin, atau sembako, sekarang hadiah tambahannya adalah videonya masuk FYP, begitulah potret kemerdekaan mulai berubah.

Sebenarnya kita masih mengibarkan bendera yang sama, menyanyikan lagu kebangsaan yang sama, dan mengenang sejarah yang sama, akan tetapi cara kita menceritakan kemerdekaan telah berubah secara drastis.

Pada masa lalu, cerita kemerdekaan ditulis dalam sejarah, disampaikan melalui pidato, kini cerita itu juga diproduksi melalui kamera telepon genggam, TikTok, Instagram, YouTube, portal berita, mesin pencari, dan yang semakin spektakuler adalah kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

Dari situlah kemudian muncul pertanyaan menarik, siapa sebenarnya yang sedang menulis cerita kemerdekaan kita? Manusia, media, atau AI?

Ketika Algoritma Menentukan Nasionalisme

Kemerdekaan pada dasarnya bukan hanya peristiwa sejarah. Kemerdekaan adalah sebuah narasi, kita mengingat 17 Agustus 1945 bukan semata-mata karena tanggal itu tercatat dalam kalender, melainkan karena masyarakat Indonesia terus menceritakannya dari generasi ke generasi.

Dalam kajian komunikasi, realitas sosial tidak hadir begitu saja, akan tetapi realitas dikonstruksi sehingga memperoleh makna melalui proses komunikasi, apa yang kita anggap penting, heroik, menyentuh, bahkan lucu, sering kali dipengaruhi oleh bagaimana sesuatu dikisahkan, sehingga Media memiliki peran besar dalam proses tersebut.

Dulu, media massa memiliki kekuasaan besar untuk menentukan cerita apa yang layak diketahui publik. Surat kabar, radio, televisi, dan buku menjadi semacam “penjaga gawang” informasi, mereka memilih peristiwa mana yang diberitakan, tokoh mana yang akan ditampilkan, dan sudut pandang mana yang dianggap penting.

Saat ini, gerbang itu telah terbuka lebar. Setiap orang bisa menjadi ‘wartawan’ bagi dirinya sendiri. Sebuah video sederhana tentang upacara kemerdekaan di kampung dapat ditonton jutaan orang. Seorang anak yang membaca puisi perjuangan dapat menjadi viral. Bahkan lomba panjat pinang yang berlangsung di sebuah desa terpencil pun bisa mendadak menjadi tontonan nasional.

Inilah demokratisasi komunikasi, namun, demokratisasi juga membawa persoalan baru: ketika semua orang dapat bercerita, siapa yang menentukan cerita mana yang paling dipercaya? Jawabannya semakin sering bukan manusia, melainkan algoritma.

Semua orang diberi kebebasan untuk memilih apa yang ingin ditonton, akan tetapi pilihan itu tidak sepenuhnya netral. Di balik itu, ada algoritma yang senantiasa mempelajari perilaku pengguna, tayangan apa yang ditonton, berapa lama terhenti pada sebuah video, apa yang disukai, dikomentari, dibagikan, bahkan apa yang telah kita lewati. Dampak cerita yang kita lihat bisa berbeda dengan cerita kemerdekaan yang dilihat orang lain.

Seseorang mungkin sering melihat video sejarah perjuangan, ada yang melihat konten lomba 17 Agustus, yang lain lagi melihat meme politik dengan latar belakang bendera merah putih. Semua merasa sedang melihat “Indonesia”, tetapi Indonesia yang muncul di layar mereka bisa sangat berbeda. Seperti itulah persoalan komunikasi digital menjadi penting. Algoritma bukan sekadar saluran komunikasi, namun mulai menjadi aktor yang ikut menentukan visibilitas sebuah pesan.

Cerita yang menarik, emosional, lucu, kontroversial, dan mudah dibagikan cenderung memperoleh perhatian lebih besar, dampaknya nasionalisme berpotensi mengikuti logika perhatian. Bendera dibuat semenarik mungkin, sejarah dibuat singkat, pidato harus dibuat Reel, pahlawan harus menjadi konten, bahkan tayangan perjuangan kemerdekaan harus bersaing dengan joget, kuliner, gosip selebritas, dan video kucing yang entah mengapa selalu berhasil mendapatkan jutaan penonton.

Pertanyaannya, apakah ini buruk? Sebenarnya tidak selalu buruk, media digital justru dapat membuat sejarah lebih dekat dengan generasi muda. Anak-anak yang mungkin malas membaca buku sejarah selama 300 halaman bisa tertarik memahami perjuangan kemerdekaan melalui video berdurasi satu menit. Persoalannya bukan pada medianya, akan tetapi pada kedalaman makna yang dibawanya.

AI Boleh Menulis, Ingatan Tetap Milik Manusia

Kini kita memasuki babak yang lebih menarik, jika media sosial memungkinkan setiap orang menjadi produsen konten, AI sebagai mesin memungkinkan ikut memproduksi cerita. Kita meminta AI untuk menulis pidato kemerdekaan, membuat puisi tentang perjuangan bangsa Indonesia, menghasilkan ilustrasi suasana Proklamasi, merangkum sejarah perjuangan, bahkan membantu membuat video perayaan 17 Agustus.

Bayangkan seorang anak berkata kepada AI: “Buatkan pidato kemerdekaan yang menyentuh, lucu, dan cocok untuk anak muda.”, beberapa detik kemudian, pidato pun selesai, tidak ada kertas kusut, tidak ada coretan, tidak ada teman yang mengingatkan. Bro, ini pidatonya terlalu serius.” Itu semuanya sangat praktis.

Namun dari situ kita perlu berhenti sejenak. AI dapat membantu menulis cerita kemerdekaan, tetapi AI tidak mengalami kemerdekaan. AI tidak pernah merasakan takut ketika perang, tidak pernah kehilangan keluarga dalam perjuangan, tidak pernah menyaksikan bendera merah putih dikibarkan untuk pertama kalinya. AI tidak memiliki memori biologis, pengalaman sosial, atau luka sejarah seperti manusia. Karena itu, AI dapat menyusun narasi tentang kemerdekaan, tetapi makna kemerdekaan tetap harus berasal dari pengalaman dan refleksi manusia.

Tantangan terbesar era AI bukan semata-mata apakah mesin dapat menulis lebih cepat daripada manusia, mesin memang bisa. Namun permasalahan yang lebih serius Adalah: apakah manusia masih mau berpikir ketika mesin sudah dapat menuliskan pikirannya?

Literasi Digital dan Nasionalisme Baru

Kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada upacara, unggahan bendera, atau poster digital bertuliskan “Dirgahayu Republik Indonesia”. Kemerdekaan juga berarti kebebasan untuk berpikir, bertanya, berbeda pendapat, memeriksa informasi, dan menentukan sendiri apa yang layak dipercaya. Dalam konteks ini, literasi digital menjadi bagian dari nasionalisme baru.

Kita perlu mengajarkan generasi muda, bahwasanya tidak semua yang viral adalah benar, tidak semua gambar yang tampak nyata benar-benar pernah terjadi, tidak semua tulisan yang rapi lahir dari pengalaman manusia, dan tidak semua jawaban AI layak dipercaya tanpa pemeriksaan.

Jika dulu para pejuang meempertahankan kemerdekaan dengan senjata, generasi sekarang memiliki medan perjuangan yang berbeda yaitu; informasi dan pertempuran itu terjadi di layar-layar media.

Kemerdekaan yang Harus Tetap Ditulis Manusia

Pada akhirnya, manusia, media, algoritma, dan AI akan terus hidup berdampingan dalam membentuk cerita Indonesia. Media akan terus memilih dan mengemas realitas, algoritma akan terus menentukan apa yang muncul di hadapan kita. AI akan semakin pintar menghasilkan teks, gambar, suara, dan video.

Akan tetapi ada sesuatu yang tidak boleh kita serahkan sepenuhnya kepada mesin yaitu hak untuk menentukan makna kemerdekaan kita sendiri. Kemerdekaan bukan sekadar cerita yang harus dibuat menarik, kemerdekaan adalah pengalaman sejarah yang harus dipahami, dirawat, dan diwariskan.

Mungkin kelak AI dapat membuat video Proklamasi yang jauh lebih dramatis, dan mungkin dapat menghasilkan suara pahlawan yang terdengar sangat meyakinkan,. Bahkan mungkin suatu hari AI mampu membuat simulasi 17 Agustus 1945 yang begitu realistis, sehingga kita merasa benar-benar hadir dalam acara tersebut.

Akan tetapi ketika layar dimatikan, pertanyaan paling penting tetap berada di tangan manusia: untuk apa kita merdeka? Jika pertanyaan itu masih mampu kita ajukan, ini artinya kemerdekaan belum kehilangan maknanya, teknologi boleh menulis ulang cara kita bercerita tentang Indonesia, algoritma boleh memilih apa yang kita lihat, dan AI boleh membantu menyusun kata-kata, akan tetapi cerita tentang kemerdekaan Indonesia seharusnya tetap ditulis oleh manusia yang memahami harga sebuah kemerdekaan.

Itulah bentuk kemerdekaan yang paling penting di zaman algoritma, yaitu merdeka dari keharusan mempercayai apapun yang muncul di layar-layar media. Wallahualam bishawab

  • Penulis: Khoiruddin Muchtar, Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tok! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    Tok! Pemerintah Tetapkan 1 Ramadan 1447 H Jatuh pada 19 Februari 2026

    • calendar_month Selasa, 17 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    JAKARTA Kanal31.com — Pemerintah menetapkan 1 Ramadan 1447 H/2026 M jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Penetapan ini didasarkan pada hasil Sidang Isbat (penetapan) 1 Ramadan 1447 H yang dipimpin Menteri Agama Nasaruddin Umar di Hotel Borobudur, Jakarta, Selasa (17/2/2026).   “Sidang Isbat menyepakati bahwa 1 Ramadan 1447 Hijriah jatuh pada hari Kamis, 19 Februari […]

  • Bahas Hukum Ketenagakerjaan, Cara UIN Bandung Tanggapi Putusan MK Nomor: 168/PUU-XXI/2023

    Bahas Hukum Ketenagakerjaan, Cara UIN Bandung Tanggapi Putusan MK Nomor: 168/PUU-XXI/2023

    • calendar_month Sabtu, 16 Nov 2024
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM, BANDUNG – Jurusan Ilmu Hukum Fakultas Syariah dan Hukum (FSH) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menyelenggarakan studium generale dengan tema “Aspek Hukum Ketenagakerjaan dalam Undang-Undang Cipta Kerja Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor: 168/PUU-XXI/2023” di Aula Utama FSH. Acara ini bertujuan memperdalam pemahaman mahasiswa mengenai aspek hukum ketenagakerjaan, terutama terkait perubahan-perubahan yang diatur setelah putusan […]

  • Memaknai Kata-kata Zahra di Saat RK – Atalia Proses Cerai

    Memaknai Kata-kata Zahra di Saat RK – Atalia Proses Cerai

    • calendar_month Minggu, 28 Des 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KALBAR Kanal31.com — Ketika ayah dan ibu sudah tidak ada lagi aura kasih, anak selalu menjadi korban. Begitulah yang dirasakan oleh Zahra, anak dari Ridwan Kamil dan Atalia Praratya. Ia menulis puisi mencurahkan isi hatinya. Simak ungkapan hati Zahra sambil seruput Koptagul, wak!   Ada kata-kata yang lahir bukan dari pikiran, melainkan dari reruntuhan batin. Ia […]

  • G.E. Moore dan Jebakan ‘Pepesan Kosong’ dalam Resolusi Bernegara Kita

    G.E. Moore dan Jebakan ‘Pepesan Kosong’ dalam Resolusi Bernegara Kita

    • calendar_month Selasa, 6 Jan 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG Kanal31.com — “APA resolusimu di tahun 2026?” Seorang dosen bertanya dalam sebuah forum diskusi kecil beberapa saat sebelum pergantian tahun 2025 ke 2026. Orang-orang serentak menjawab dengan beragam rencana, agenda, atau program yang sangat personal. Saya tidak lantas ikut menjawab. Saya memilih berhati-hati dan menimbang: apakah pertanyaan itu memang membutuhkan jawaban segera, atau jangan-jangan, pertanyaan […]

  • Prof Bambang Qomaruzzaman: Idulfitri Tangkas Intoleransi dan Ekstremisme

    Prof Bambang Qomaruzzaman: Idulfitri Tangkas Intoleransi dan Ekstremisme

    • calendar_month Kamis, 27 Apr 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM-Guru Besar Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung, Bambang Qomaruzzaman, mengatakan Idulfitri merupakan proses spiritual untuk kembali terlahir menjadi insan fitri yang suci dan bebas dari kebencian, intoleransi, dan ekstremisme. Idulfitri berarti kembali menyadari tugas seorang Mukmin untuk dunia kehidupan ini, bukan untuk kelompoknya, untuk seluruh alam. “Sebagai pengelola, manusia mendapatkan […]

  • Rapat Kerja FTK UIN Bandung 2026 Bahas Pendidikan Masa Depan dengan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

    Rapat Kerja FTK UIN Bandung 2026 Bahas Pendidikan Masa Depan dengan Nilai Rahmatan Lil ‘Alamin

    • calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    CIANJUR Kanal31.com — Dalam upaya memperkuat kualitas mutu pendidikan, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan (FTK) UIN Sunan Gunung Djati Bandung menggelar Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 bertajuk “Menavigasi Pendidikan Masa Depan dalam Membangun Peradaban Berbasis Nilai Rahmatan lil ‘Alamin” yang berlangsung di Hotel Horison, Cianjur selama tiga hari, Kamis–Sabtu (29–31/1/2026). Raker dibuka secara resmi oleh Rektor UIN […]

expand_less