Breaking News:
Beranda » NETIZEN » Kuliah Gratis: Mutunya Atau Hanya Aksesnya?

Kuliah Gratis: Mutunya Atau Hanya Aksesnya?

  • account_circle Muhammad Ishom, Rektor UIN SMH Banten
  • calendar_month Minggu, 11 Okt 2026
  • comment 0 komentar
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANTEN kanal31.com — Rencana pemerintah menggratiskan pendidikan negeri hingga perguruan tinggi menandai perubahan penting dalam politik pembiayaan pendidikan Indonesia. Gagasan ini bukan sekadar menghapus Uang Kuliah Tunggal (UKT), tetapi menyentuh pertanyaan yang lebih mendasar: siapa yang membiayai perguruan tinggi, bagaimana dana disalurkan, siapa yang berhak memperoleh pembebasan, dan bagaimana mutu pendidikan dipertahankan?

Pemerintah sendiri seperti diberitakan di dalam wabsite kemenristekdikti telah mengkaji kebutuhan pembiayaan, termasuk UKT, Iuran Pengembangan Institusi (IPI) pada jalur mandiri, serta sumber pendapatan lain perguruan tinggi negeri. Karena itu, kapasitas fiskal dan tahapan penerapan menjadi bagian penting dari desain kebijakan.

Pengalaman negara berkembang menunjukkan bahwa kuliah gratis memiliki lebih dari satu model. Argentina, misalnya, menempatkan pendidikan tinggi publik sebagai bagian dari hak pendidikan. Pendidikan sarjana pada institusi negeri pada dasarnya gratis bagi warga negara dan penduduk permanen.

Model ini menunjukkan bahwa pembebasan biaya kuliah dapat dirancang sebagai hak kewargaan, bukan sekadar program beasiswa. Namun, pendidikan gratis tidak menghapus kebutuhan pembiayaan universitas. Negara tetap harus menjamin tersedianya dana untuk dosen, fasilitas, penelitian, dan pelayanan akademik.

Brasil memperlihatkan model serupa. Prinsip “gratuidade do ensino público em estabelecimentos oficiais” menempatkan pendidikan publik pada institusi resmi sebagai layanan tanpa pungutan kepada mahasiswa. Konsekuensinya, pembiayaan universitas menjadi bagian dari tanggung jawab publik.

Bagi Indonesia, pengalaman ini menggeser pertanyaan dari “berapa UKT mahasiswa?” menjadi “berapa biaya sebenarnya untuk menghasilkan lulusan bermutu dan berapa bagian yang harus ditanggung negara?”

Afrika Selatan menawarkan pendekatan berbeda. Melalui National Student Financial Aid Scheme (NSFAS), pemerintah memberikan dukungan pembiayaan kepada mahasiswa dari keluarga miskin dan kelas pekerja yang memenuhi kriteria. Bantuan tidak hanya mencakup biaya pendidikan, tetapi juga kebutuhan seperti akomodasi, transportasi, dan bahan pembelajaran.

Namun, pengalaman tersebut memperlihatkan persoalan administrasi dan keterbatasan anggaran. Pada 2025, pemerintah bahkan mengidentifikasi kekurangan pendanaan NSFAS sekitar R10,06 miliar untuk universitas. Artinya, semakin luas cakupan pendidikan gratis, semakin besar pula tuntutan terhadap kemampuan fiskal dan tata kelola pembiayaannya.

Pengalaman ketiga negara tersebut dapat dibaca sebagai tiga pilihan bagi Indonesia: Pertama, model universal seperti Argentina dan Brasil. Kedua, model afirmatif seperti Afrika Selatan. Atau ketiga, model kombinasi, yakni negara membiayai kebutuhan dasar pendidikan seluruh mahasiswa, sementara mahasiswa kurang mampu memperoleh pembebasan dan bantuan tambahan. Pilihan terakhir menjadi relevan karena karakter perguruan tinggi Indonesia sangat beragam.

Persoalan tersebut semakin penting ketika dikaitkan dengan PTN-BLU dan PTN-BH. Pada PTN-BLU, penghapusan UKT akan meningkatkan kebutuhan pembiayaan negara. Pemerintah perlu memiliki formula yang menghitung biaya pendidikan per mahasiswa berdasarkan rumpun ilmu, fasilitas, kebutuhan pembelajaran, dan capaian kinerja. Dengan demikian, penghapusan UKT tidak berubah menjadi kekurangan dana operasional.

PTN-BH membutuhkan desain yang lebih kompleks. Otonomi yang lebih luas membuat pembiayaannya tidak hanya bersumber dari pemerintah, tetapi juga dari masyarakat dan berbagai sumber pendapatan institusi.

Jika UKT dihapus, pemerintah perlu menentukan apakah seluruh pendapatan pendidikan akan diganti atau hanya sebagian. Penggantian penuh berpotensi mengubah pola otonomi finansial, sementara penggantian sebagian menuntut PTN-BH mempertahankan diversifikasi sumber pendapatan. Karena itu, kuliah gratis sebaiknya dipahami sebagai reformasi sistem pembiayaan pendidikan, bukan sekadar kebijakan menghapus UKT.

Sedikitnya empat hal perlu dirancang bersamaan: (1) formula biaya pendidikan per mahasiswa, (2) jaminan pembiayaan negara kepada PTN, (3) bantuan biaya hidup bagi mahasiswa kurang mampu, serta (4) indikator mutu dan akuntabilitas.

Pertanyaan akhirnya bukan semata apakah mahasiswa membayar kuliah, melainkan siapa yang membiayai pendidikan, berapa biaya riilnya, dan bagaimana memastikan pembiayaan tersebut menghasilkan pendidikan bermutu.

Dalam konteks Indinesia, tantangannya adalah memastikan kuliah gratis tidak berujung pada kekurangan dana PTN, menyempitnya otonomi PTN-BH, ketergantungan berlebihan PTN-BLU pada APBN, atau penurunan mutu pendidikan. Semoga tantangan-tantangan itu sudah dipertimbangkan masak-masak oleh pemerintah.

 

  • Penulis: Muhammad Ishom, Rektor UIN SMH Banten

Rekomendasi Untuk Anda

  • Terkuak, AGPAI Akui Tarik Biaya PPG dari Rp5 Juta jadi Rp6 Juta

    Terkuak, AGPAI Akui Tarik Biaya PPG dari Rp5 Juta jadi Rp6 Juta

    • calendar_month Rabu, 6 Nov 2024
    • account_circle Jun
    • 0Komentar

    kanal31.com– Teka-teki soal biaya Pendidikan Profesi Guru (PPG) dari Rp.5 juta rupiah menjadi Rp6 juta mulai menemui titik terang. Asosiasi Guru Pendidikan Agama Islam (AGPAI) Kabupaten Ciamis melalui ketuanya Angga Yogantara mengakui bahwa penambahan biaya PPG tersebut dilakukan oleh organisasi yang dia pimpin. Angga beralasan, penambahan biaya PPG yang ditetapkan Sekjen Kemenag itu dilakukan berdasarkan […]

  • Sa’ad bin Abi Waqqash, Sang Pembuka Gerbang Persia

    Sa’ad bin Abi Waqqash, Sang Pembuka Gerbang Persia

    • calendar_month Rabu, 11 Mar 2026
    • account_circle Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar
    • 0Komentar

    KALBAR kanal31.com — Tulisan ke-28 Edisi Ramadan. Kisah sahabat kali ini, tentang komandan perang yang cerdas. Dalam keadaan sakit ia memimpin perang untuk menaklukkan imperium raksasa. Dialah sang pembuka gerbang Persia. Nikmati narasinya sambil seruput Koptagul, wak!   Sejarah kadang punya cara unik menertawakan manusia. Di satu sisi, banyak tokoh modern sibuk mengukur kehebatan lewat jumlah […]

  • Gus Yahya: Tidak Cukup Jadikan NU sebagai Organisasi Canggih, Tapi Kuat dan Beradab

    Gus Yahya: Tidak Cukup Jadikan NU sebagai Organisasi Canggih, Tapi Kuat dan Beradab

    • calendar_month Jumat, 10 Mar 2023
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    KANAL31.COM Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf menegaskan bahwa tidak cukup hanya menjadikan NU sebagai organisasi yang canggih. Sebab, hal tersebut barangkali hanya bisa dinikmati oleh elite saja. Karenanya, perlu pemikiran untuk membangun peradaban untuk masa depan. Hal demikian bisa lebih dinikmati kemaslahatannya di semua elemen masyarakat yang lebih luas. […]

  • Top! Peluncuran 2 Buku Tandai Dies Natalis ke-65 UIN Jakarta

    Top! Peluncuran 2 Buku Tandai Dies Natalis ke-65 UIN Jakarta

    • calendar_month Sabtu, 21 Mei 2022
    • account_circle Admin Kanal31
    • 0Komentar

    SPi-JAKARTA UIN Jakarta menggelar perayaan Dies Natalis ke-65 dengan meluncurkan dua buah buku. Satu buku di antaranya merupakan kado bagi para guru besar yang berkiprah di bidang keilmuan masing-masing. “Buku tentang 65 guru besar jumlahnya disesuaikan dengan usia UIN Jakarta yang ke-65 tahun,” kata Rektor UIN Jakarta Amany Lubis dalam sambutannya di Gedung Auditorium Harun […]

  • Rahmatan Lil Alamin Pilar Integrasi Ilmu dan Agama ala UIN Bandung

    Rahmatan Lil Alamin Pilar Integrasi Ilmu dan Agama ala UIN Bandung

    • calendar_month Kamis, 1 Mei 2025
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Konsorsium Wahyu Memandu Ilmu (WMI) kembali menggelar Forum Group Discussion (FGD) sebagai bagian dari rangkaian diskusi ilmiah dalam rangka memperkuat arah dan prinsip keilmuan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Gunung Djati Bandung. Kegiatan ini berlangsung di Ruang Rapat Pimpinan (Rapim) lantai 2 Gedung Pascasarjana UIN Bandung. Forum yang mengangkat tema Paradigma Rahmatan Lil […]

  • Lantik Rifqi Ali Mubarok, Perindo Targetkan Kuasai Jabar di Pemilu 2029

    Lantik Rifqi Ali Mubarok, Perindo Targetkan Kuasai Jabar di Pemilu 2029

    • calendar_month Minggu, 26 Apr 2026
    • account_circle Tim Redaksi
    • 0Komentar

    BANDUNG kanal31.com — Partai Perindo menegaskan posisi Jawa Barat sebagai pusat strategis perjuangan politik menuju Pemilu 2029. Dengan jumlah pemilih mencapai 35,9 juta jiwa, provinsi ini dinilai bukan sekadar target elektoral, melainkan fondasi utama dalam membangun kekuatan politik nasional. Penegasan tersebut disampaikan dalam pelantikan Ketua DPW Partai Perindo Jawa Barat yang digelar di Bandung, Minggu […]

expand_less