Facebook vs Instagram, 2 Dunia yang Sama-sama Main Algoritma tapi Beda Cara
- account_circle Tim Redaksi
- calendar_month Ming, 2 Nov 2025
- comment 0 komentar

BANDUNG kanal31.com —
Anda suka mendengar jokes ini ? katanya: “Facebook buat emak-emak, Instagram buat anak muda”?
Nah, itu bukan sekadar candaan, tapi mencerminkan perbedaan yg nyata : bagaimana kedua platform ini bekerja.
Yang menarik, di balik perbedaannya, kedua platform ini sama-sama mengubah cara kita bersosial media.
1. Karakter Pengguna: “Kumpulan Keluarga” vs “Pameran Gaya Hidup”
· Facebook ibarat reuni keluarga besar. Di sini Anda terkoneksi dengan ibu, bapak, keponakan, tante, teman SMA, teman kuliah , atasan atau mantan atasan, (sang mantan juga 😃) yg dulu berpisah tak tahu khabar beritanya, tiba tiba bisa berkumpul dalam satu platform ini (sebelum ada WA)
· Instagram seperti walking di mall premium. Semua tampak sempurna – dari makanan, pakaian, sampai liburan. misalnya: Foto aesthetic di kafe kekinian, travel vlog ke LN atau OOTD (Outfit of the Day) yang serba matching.
Juga ajang pameran para influencer dan selebgram yg meng endorse beragam produk. Atau tiba tiba org ‘biasa’ menjadi selebgram dengan jutaan follower
2. Cara Algorithm Bekerja: “Si Penyebar Gosip” vs “Tukang Rekomendasi”
Algorithm kedua platform itu memang dirancang berbeda:
– Algorithm Facebook seperti teman yang suka nyebar gosip. Dia memperhatikan: Grup mana yang sering Anda kunjungi? Konten seperti apa yang bikin Anda komentar panjang? Link mana yang sering Anda klik?
Contoh: Karena sekali saja Anda komentar tentang “politik”, feed akan dipenuhi konten politik dari berbagai sumber, termasuk yang tidak Anda ikuti.
– Algorithm Instagram berperan seperti stylist pribadi yang: Memperhatikan berapa lama Anda melihat sebuah Reels ?
Melacak konten seperti apa yang sering Anda save atau share? Menganalisis akun-akun serupa yang Anda follow?
Contoh: Setelah Anda mencari teknik renang atau diet yang baik, , Explore Page akan penuh dengan konten makanan sehat dan workout video.
3. Permasalahan yang muncul: “Hoax” vs “Kecemasan Sosial”
Kedua platform juga memiliki efek negatif yg berbeda:
· Di Facebook, masalah utamanya informasi yang terdistorsi:
Contoh: Video rekayasa AI tentang peristiwa politik yang tidak pernah terjadi bisa viral dan dipercaya karena datang dari grup “terpercaya”.
· Di Instagram, masalah besarnya realitas yang terdistorsi:
Contoh: Filter wajah yang sempurna membuat remaja merasa tidak percaya diri dengan penampilan aslinya, memicu anxiety dan body image issues.
Sebenarnya tersedia solusi untuk menangkal hal itu :
· Untuk Facebook: menggunakan fitur “Snooze” dan “Unfollow” secara aktif – seperti membersihkan rumah dari barang yang tidak diperlukan.
· Untuk Instagram: membuat “kantong aman” dengan hanya memfollow akun-akun yang menampilkan realitas, bukan ilusi.
Contoh: Follow akun yang menunjukkan kehidupan sehari-hari yang normal, bukan hanya highlight sempurna.
Namun demikian, ada kecenderungan sebagian besar (70% ) pengguna media sosial tidak menyadari bagaimana algoritma memengaruhi apa yang mereka lihat. Padahal, memahami ini adalah kunci untuk menggunakan media sosial dengan sehat.
Kedua platform memang dirancang untuk membuat ketagihan, tapi pengguna punya kekuatan untuk:
1). Memahami bahwa yang dilihat di media sosial adalah versi realitas yang sudah diseleksi algoritma
2). Bersikap proaktif dalam mengatur feed sesuai kebutuhan
Hidup yang tampak sempurna di media sosial seringkali tidak sempurna dalam kenyataan. Jadilah Pengguna seharusnya lebih melek digital : bisa menikmati manfaat media sosial tanpa terjebak dalam efek negatifnya.
Bagaimanapun, kita yang harus mengendalikan teknologi, bukan sebaliknya.
Ida Farida Ch, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
- Penulis: Tim Redaksi

Saat ini belum ada komentar